Mengenal lebih dekat dengan Diakon Gordianus Afri SX

 

MENCARI KEHENDAK ALLAH

Pengalaman panggilan saya bisa dirangkum dengan frase “Mencari Kehendak Allah”. Frase ini menjadi nyata dalam perjalanan sejak saya tertarik sampai menjadi seorang siswa seminari dan kemudian menjadi seorang Misionaris Xaverian.

Mencari mengandaikan sebuah pekerjaan yang belum selesai. Dan, pekerjaan inilah yang sebenarnya menggema dalam perjalanan saya. Sejak Pastor paroki mengajak saya untuk ikut tes masuk seminari menengah SMP, pencarian itu mulai dibuat. Benarkah saya terpanggil? Begitu pertanyaannya. Tidak saya jawab. Saya malah mengiyakan tawaran itu karena saya melihat dari sisi lainnya.

Figur pastor paroki bagi saya saat itu merupakan orang penting. Saking pentingnya, dia diterima dengan senyum ramah, makanan enak, dan semua pengorbanan diberikan padanya. Enak toh hidup sebagai seorang Romo, begitu hati kecil saya bergumam, setiap kali Mama saya menyediakan makanan untuk Romo paroki kami (sebut saja Romo A) yang hobi makan daging ayam.

Seperti kerinduan untuk menikmati santapan yang enak itu, ketertarikan lain adalah figur pastor paroki (sebut saja Romo B) yang menarik perhatian anak-anak. Saya termasuk di antara anak-anak yang senang mendengar cerita meski di sisi lain saya juga termasuk pemalu kalau disuruh menjawab pertanyaan. Betapa pun sederhananya, kebiasaan ini secara tidak langsung menanamkan hasrat dalam diri saya untuk masuk seminari.

Keinginan yang bersifat jasmani ini kiranya didukung oleh ‘makanan spiritual’ yang sesekali saya dan keluarga saya nikmati di rumah. Kadang-kadang kami berdoa Rosario bersama di luar jadwal Doa Giliran pada bulan Mei dan Oktober setiap tahun. Entah mengapa, doa sederhana itu selalu saya ingat sampai saat ini. Doa itu sekaligus mengingatkan saya akan Bapak saya yang tiba-tiba saja mengajak kami semua untuk berdoa Rosario. Satu per satu kami anak-anak mendapat giliran untuk mendaraskan doa Salam Maria. Dalam doa ini, Bapak dan Ibu saya adalah figur penting yang mendorong kami (bahkan ‘memaksa’ saat kami malas) untuk ikut berdoa. Dorongan dan paksaan itu masih saya rasakan saat ini saat saya juga tergoda untuk meninggalkan kebiasaan baik ini.

Semua ini tentu kiranya belum begitu jelas apalagi muncul saat usia saya masih di bawah 12 tahun. Meski belum jelas, saya pun tetap ikut tes masuk Seminari. Bapak saya mengantar saya ke tempat tes yang jaraknya puluhan kilometer dari rumah kami. Boleh jadi karena saya bergabung dengan puluhan siswa lainnya yang lebih hebat, keinginan saya pun tidak tercapai. Saya dinyatakan tidak lulus tes itu. Meski bukan hanya saya, keberhasilan teman-teman lainnya bagi saya memberi kesan tersendiri bagi saya. Mereka yang lulus—pikir saya—termasuk yang lebih hebat dari saya.

Kegagalan ini tidak membuat saya putus asa. Saya kemudian bersekolah di SMP negeri. Di sekolah ini, saya tidak memikirkan lagi keinginan untuk masuk seminari. Dari kelas 1 sampai menjelang akhir kelas 3. Entah ada apa saat itu, saya juga ingin coba lagi. Begitu dengar pengumuman untuk tes seminari SMA, saya langsung mengajukan pendaftaran. Bapak saya amat senang saat saya memberitahukan hal ini. Kami sekeluarga akhirnya senang saat saya dinyatakan lulus.

Keinginan saya untuk menjadi siswa Seminari pun tercapai. Setelah melengkapi semua persyaratan, saya bergabung dengan Seminari Menengah Yohanes Paulus II Labuan Bajo pada tahun 2002. Di sini, saya bertemu dengan banyak teman hebat lainnya. Ada juga kakak kelas dan para Pembina (para Frater TOP dan para Pastor SVD dan Projo Keuskupan Ruteng) seminari yang ikut membantu pertumbuhan dan perkembangan saya selanjutnya.

Situasi kota Labuan Bajo-Flores yang panas rupanya ikut memengaruhi pertumbuhan saya. Saya kurang begitu pandai beradaptasi dengan lingkungan seminari. Mencari air untuk mandi adalah salah satu keahlian yang mesti dipelajari seketika. Kadang-kadang susah sekali. Banyak pos air di sekitar seminari tetapi siswa seminari begitu banyak. Ini yang membuat seringkali kami terlambat masuk kelas untuk belajar sore hari.

Situasi ini membuat saya tidak betah untuk belajar. Dipadukan dengan kemampuan otak saya yang pas-pasan, hasil belajar saya pun anjlok seketika. Masa  6 bulan di seminari rupanya sudah cukup bagi saya. Saya tidak bisa melanjutkan Pendidikan di seminari. Saya sendiri merasa gagal. Dari kegagalan, saya mencoba untuk bangkit dan melanjutkan sekolah saya di SMAK St Ignatius Loyola di kota yang sama. Saya tidak kehilangan teman-teman sebab kami sekolah di tempat ini dengan para siswa seminari.

Meski sulit, saya berhasil mengubah kegagalan ini menjadi sebuah titik tonggak untuk berjuang. Saya pikir, saya harus belajar lebih giat lagi. Saya tidak ingin gagal lagi untuk kedua kalinya di tempat ini. Motivasi untuk mengenal kemampuan diri saya pun makin tumbuh. Saya boleh bilang, motivasi ini berhasil menumbuhkan semangat belajar saya. Tidak tanggung-tanggung, di akhir kelas 2, saya memilih jurusan IPA. Jurusan ini identik dengan jurusan tersulit di sekolah kami. Saya memilihnya semata-mata untuk membuktikan pada diri saya dan teman-teman bahwa saya juga bisa bergabung di jurusan tersulit ini. Dengan ini, saya pun merasa bukan orang gagal lagi.

Keinginan ini dipadukan dengan bakat saya di bidang Matematika. Bersama bidang Fisika dan Kimia, mata pelajaran Matematika selalu menjadi favorit saya sejak kelas 1 dan kelas 2 SMA. Bakat ini boleh jadi diturunkan dari Bapak saya yang juga seorang Guru Matematika. Tetapi tentang ini, saya lebih cenderung mengingat kata-kata Mama saya.

“Kalau saya tidak bisa Matematika, tidak apa-apa. Tetapi, kalau kalian tidak bisa Matematika, kalian harus malu. Bapak kalian Guru Matematika. Dia juga mengajar bidang ini untuk kalian. Belajarlah agar kalian bisa, dan jangan membuat Bapak kalian yang Guru Matematika itu malu,” demikian Mama menasihati kami sebelum belajar malam.

Kata-kata sang Mama ini juga membuat saya terus belajar dengan rendah hati. Meski pada awalnya sulit, pada ujian akhir SMA, saya masuk 3 besar dalam kelompok nilai tertinggi di sekolah kami. Keberhasilan ini membuat saya makin yakin bahwa, tidak bisa menulis cerita dalam bahasa Indonesia bukanlah halangan untuk menyelesaikan SMA dengan baik.

Jurusan IPA sebenarnya bukanlah jurusan untuk siswa yang cenderung masuk biara. Di sekolah kami, sedikit sekali siswa IPA yang ikut tes masuk kongregasi yang datang mempromosikan panggilan di sekolah kami. Setelah ‘melihat dari jauh’ dan berkontak langsung dengan 2 Pastor Xaverian selama hampir 3 tahun, saya pun akhirnya ikut tes masuk kongregasi Xaverian.

Dua Pastor Xaverian ini (Pastor Rodolfo Ciroi SX dan Romo Andreas Sutiyo SX) adalah pintu masuk bagi saya untuk mengenal Serikat Xaverian. Meski jurusan IPA tidak meyakinkan, saya tetap ikut tes. Hitungannya waktu itu adalah sebagai percobaan menghadapi ujian masuk Universitas. Boleh jadi Tuhan menghendaki hal lain saat itu. Saya dinyatakan lulus. Hal yang mustahil bagi saya waktu itu. Kok bisa lulus, gumam saya dalam hati.

Dengan kesan mustahil, saya ikut tes berikutnya yakni wawancara. Kemustahilan ini makin besar saat saya diwawancari dua kali oleh kedua pastor Xaverian ini. Saya pikir, mungkin karena tidak punya keinginan yang kuat, saya dinyatakan masih ragu-ragu. Dan karena ragu-ragu, kedua pastor ini membuat dua kali tes wawancara dengan saya. Ini pikiran saya waktu itu. Lagi-lagi, Tuhan berkata lain, saya akhirnya dinyatakan lulus lagi.

Setelah melengkapi tes kesehatan fisik di Rumah Sakit St Rafael Cancar-Flores, saya bergabung dengan Serikat Xaverian di kota Yogyakarta pada tahun 2005. Di sini saya belajar banyak hal terutama tentang dunianya para Xaverian. Saya juga mengenal banyak Xaverian yang berkarya di Jogja, yang datang ke komunitas ini, dan juga para Xaverian Indonesia yang pulang cuti dari luar negeri. Meski banyak mengenal mereka dan karya mereka, saya tetap merasa belum begitu yakin untuk melanjutkan perjalanan panggilan saya.

Saya merasa, saya tidak punya pengalaman khusus di mana Tuhan memanggil saya untuk menjadi Imam Misionaris. Saat teman-teman yang lain menceritakan pengalaman rohani mereka, saya merasa kering karena tidak punya pengalaman khusus. Dalam kekeringan ini, saya menemukan air yang memuaskan kehausan rohani saya. Saya bertanya pada Pastor Vinio Corda SX (meninggal pada 2014 yang lalu) tentang tanda-tanda seseorang dipanggil untuk menjadi Imam.

Setelah mendengar semua pengalaman dan pegulatan saya, Pastor Corda menjawab, “Kalau tidak ada pengalaman khusus, jangan mencari-cari jawaban. Tidak ada tanda-tanda khusus bahwa seseorang terpanggil untuk menjadi Imam. Kamu mempunyai pengalaman seperti banyak orang lainnya. Dalam hal ini, kamu maju terus. Saya melihat kamu bisa berubah seiring dengan perjalanan hidupmu. Kamu akan merasa terpanggil, saat kamu berhasil melampaui kesulitan besar yang akan kamu hadapi dalam tapak-tapak perjalananmu selanjutnya. Jika tidak berhasil atau membuat kamu tidak bahagia, pulanglah karena ini boleh jadi bukan panggilan hidupmu.”

Jawaban ini menguatkan saya selanjutnya dan bahkan sampai hari ini. Saya tidak menemukan tanda khusus dalam kehidupan selanjutnya tetapi saya merasa dimampukan untuk mengatasi kesulitan saya. Tes untuk masuk Pranovosiat Xaverian di Jakarta pun menyatakan saya lulus. Dari sana terus ke Novisat. Kedua tahap ini dijalankan di Bintaro-Tangerang selama 2006-2008. Setelah menerima Kaul Pertama pada akhir masa Novisiat, saya mulai belajar Filsafat di Komunitas Xaverian Cempaka Putih Raya, Jakarta Pusat.

Pergulatan besar dan keras mulai dialami di komunitas ini. Dengan bantuan bimbingan Rohani dari Pastor Sandro Peccatti SX dan bimbingan dari Pastor Fernando Abis SX dan Pastor Matteo Rebbecchi SX yang saat itu menjadi Rektor, saya pun bisa menyelesaikan tahap pendidikan selama 4 tahun di sini. Hidup doa, studi, komunitas, dan kerasulan ditempa secara kuat di sini. Pendidikan di STF Driyarkara menjadi bekal yang kuat untuk merasul di antara anak-anak misdinar dan katekumen di beberapa paroki di Keuskupan Agung Jakarta. Ini juga membantu saat saya merasul di tengah ‘orang tak mampu’ di kawasan Utara Jakarta dan juga untuk berdialog dengan beberapa komunitas agama di Jakarta.

Pengalaman 4 tahun di sini merupakan bekal yang berarti dalam masa selanjutnya saat menjalani masa Tahun Orientasi Misioner di Wisma Xaverian Yogyakarta. Di komunitas ini, saya dibina dan sekaligus membina para Tunas Xaverian. Dalam pembinaan ini, saya juga belajar menjadi seorang Xaverian dalam keluarga kecil. Beda dengan komunitas Pendidikan FIlsafat yang jumlah anggotanya banyak dan terdiri atas para pastor dan frater.

Di Yogyakarta, saya juga mencicipi pengalaman menjadi formator yang memegang tanggung jawab besar. Saat semua pastor berada di luar komunitas untuk waktu tertentu, otomatis saya yang masih Frater mengambil alih tanggung jawab untuk komunitas. Tugas ini mewajibkan saya untuk melihat perkembangangan para Tunas dan juga relasi dengan sahabat kami yang bekerja di Wisma Xaverian Yogyakarta, mulai dari Bapak dan Ibu di dapur sampai dengan yang membantu di kebun dan halaman depan rumah.

Di sini saya belajar membina relasi yang baik dengan ‘para kolaborator’ di komunitas. Model kerja sama ini juga saya temukan di komunitas dengan para pastor dari Meksiko, Italia, Republik Demokratik Kongo, dan juga dengan para Tunas dari berbagai daerah di Indonesia. Singkatnya, di komunitas ini, saya mendapat pelajaran berharga tentang hidup berkomunitas internasional.

Suasana ini juga yang saya alami saat belajar Teologi di Komunitas Teologi Internasional Serikat Xaverian di kota Parma, Italia (2013-2017). Di sini, kesan internasionalitas ini makin besar. Komunitas kami memang menjadi lebih besar apalagi berdekatan dengan komunitas Rumah Induk Xaverian. Dengan besarnya komunitas ini, tantangan hidup berkomunitas juga makin besar. Bahasa adalah kendala utama di masa awal.

Kendala ini sedikit ringan karena sebelum saya, ada 4 frater Teologan Indonesia lainnya yang tiba di sini. Boleh dibilang merekalah yang membuat saya menjadi ‘anak emas’. Kalau ada pertanyaan atau kesan, saya bisa mengungkapkannya dalam Bahasa Indonesia. Para frater Indonesia lainnya akan menerjemahkannya ke dalam bahasa Italia. ini berlaku selama 10 bulan pertama.

Setelahnya, saya mulai mencoba mengekspresikan kemampuan bahasa yang sudah saya peajari. Sejak tahun kedua, saya juga mulai merasul di beberapa paroki. Di sinilah saya merasa bersyukur pada Tuhan karena saya bisa mendengar dan membagikan pengalaman dengan anak-anak dan remaja.

Pengalaman merasul ini membantu saya merefleksikan kehidupan saya selanjutnya. Menjelang acara Kaul Kekal pada November 2016 yang lalu, saya melihat bahwa panggilan saya belum begitu jelas. Tetapi yang jelas bagi saya adalah Tuhan selalu membimbing saya mengatasi kesulitan saya. Saya merasakan kehadiran-Nya lewat para pembina di rumah, para dosen di kampus, dan juga banyak orang lainnya di tempat kerasulan saya.

Saat Retret Agung pada sepanjang Juli 2015 di kota Bologna, Italia, saya menemukan begitu banyak rahmat dan anugerah yang saya terima dari Tuhan lewat banyak orang yang saya jumpai. Saya bersyukur atas semua ini terutama mulai dari kedua orang tua saya dan saudara-saudari saya di rumah. Bersama mereka, saya mengenal Iman Kristiani. Bersama keluarga Xaverian, saya bertumbuh dan berkembang dalam iman sampai merasakan pengalaman menjadi Sahabat Yesus. Seperti Santo Conforti, saya suka memandang Yesus yang tersalib. Pada titik tertentu, saya menyadari bahwa, bukan saya yang sedang memandang Yesus tetapi Yesus yang sedang memandang saya. Di sini, hanya satu yang Yesus minta yakni membiarkan diri dipandang oleh-Nya.

Pengalaman ini memang kadang tidak mudah. Bayangkan membiarkan diri dipandang oleh Yesus. Saya cenderung memandang Yesus. Jadi, kesannya seperti saya yang beraksi. Dengan ini, saya tidak membiarkan diri saya dipandang oleh Yesus. Di sinilah dibutuhkan sebuah pencarian yang tanpa henti.

Pencarian ini yang saya maksudkan dalam perjalanan panggilan saya. Setelah ditahbiskan menjadi Diakon pada Desember 2016 yang lalu, saya terus mencari ke mana Yesus ingin membawa saya. Pencarian ini bukan menjadi tugas pribadi. Pencarian ini lebih tepatnya menjadi sebuah relasi. Seperti tampak dalam tapak perjalanan saya, begitu banyak yang membantu saya. Muara dari semua ini adalah mendengarkan kehendak Yesus lewat mereka yang diutusnya ini.

Pada masa diakonat sejak Desember 2016 yang lalu, saya membangun relasi dengan banyak orang di 2 paroki di Keuskupan Parma. Satunya di Paroki Katedral Parma, lainnya di Paroki Sacre Stimmate di pinggiran kota Parma. Bagi saya, pengalaman ini amat berharga. Saya melihatnya selalu dalam kerangka sebuah pencarian.

Begitu indah kesannya, saat saya bisa berbagi dengan para pastor dan diakon di 2 paroki ini. Kebetulan di paroki ini, sudah ada 2 diakon tetap. Jadi, saat saya datang, saya hanya ikut membantu saja. Itulah sebabnya, saya datang setiap dua minggu. Kehadiran saya di sini memang bukan sebagai ‘diakon’ yang melayani secara langsung tetapi lebih tepatnya sebagai ‘figur katekis’ karena saya sedang mendampingi sekelompok anak-anak dan remaja di 2 paroki ini. Meski demikian, saya sungguh menikmati pelayanan saya sebagai diakon.

Melalui relasi yang indah ini, saya pun menyimpulkan bahwa, panggilan ini tidak berhenti di sini. Diakon bukan menjadi tapak terakhir sebelum menerima tahbisan Imamat. Saya cenderung tetap memaknai tapak diakonat ini sebagai sebuah pencarian yang tanpa henti. Dengan ini, saya pun menaruh perhatian sebesar-besarnya pada Kehendak Allah. Saya hanya alat yang Ia pakai. Sebagai alat, saya mengikuti perintah sang pemilik.

Dengan semangat pencarian ini, saya pun pada akhirnya siap diutus ke mana saja. Serikat Xaverian kiranya punya misi di beberapa negara. Saya siap diutus di mana saya dibutuhkan. Sebab, saya diutus bukan melaksanakan tugas saya tetapi untuk mencari ke mana Yesus membawa saya.

Demikian dan Terima Kasih.

Diakon Gordi Afri SX

===

AUTOBIOGRAFI

Nama           : Gordianus Afri

Panggilan      : Gordi

TTL              : Kotok, Manggarai-Flores, 15 Februari 1987

 

  • 1992-1999     : SDI Kotok dan SDI Golo Bombong, Manggarai Barat-Flores
  • 1999-2002    : SMPN 1 Macang Pacar, Manggarai Barat-Flores
  • 2002-2005    : SMAK St Ignatius Loyola, Labuan Bajo, Flores
  • 2005-2006    : Tunas Xaverian, Yogyakarta
  • 2006-2007    : Pranovisiat, Bintaro-Jakarta Selatan
  • 2007-2008    : Novisiat, Bintaro-Jakarta Selatan
  • 2008-2012    : Belajar FIlsafat di STF Driyarkara Jakarta
  • 2012-2013     : Tahun Orientasi Misioner di Wisma Xaverian Yogyakarta
  • 2013-2017     : Belajar Teologi dan tinggal di Komunitas Teologi Internasional Serikat   Xaverian, Parma-Italia
  • 5 Nov 2016            : Kaul Kekal dalam Serikat Xaverian di Santuario Conforti, Kota Parma
  • 4 Des 2016             : Tahbisan Diakon di Santuario Conforti, Kota Parma
  • Des 2016-Juni 2017 :  Masa Diakonat di Paroki Katedral Parma dan Paroki Sacre Stimmate, Keuskupan Parma

===

Cerita-cerita Menuju Pentahbisan

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s