KUNJUNGAN PUSAT MUSIK LITURGI JOGJAKARTA KE PEKANBARU

Jumat, 28-30 Juli 2017, di Paroki Santo Paulus berkumpul umat dari kring dan stasi-stasi, bahkan dari Paroki St Maria A Fatima yang tak lain dan tak bukan karena kedatangan dedengkotnya musik Liturgi yakni Bpk Paul Widyawan dan Romo Karl Edmund Prier SJ, yang adalah pengarang buku Madah Bakti yang kita pakai setiap hari Minggu / ibadat.

Kegiatan ini digawangi oleh Seksi Liturgi DPP St Paulus di penghujung masa bakti beliau, Bpk Paian Gultom, didukung oleh panitia pelatihan liturgi yang sengaja dibentuk untuk mengkoordinir kegiatan istimewa ini.

Dalam tiap sesi pelatihan, baik pengenalan akan musik liturgi samapai pelatihan dirigen, pelatihan organis dan juga secara langsung terjun latihan menyanyikan lagu-lagu latin yang rumit, yakni “Veni-Veni Emmanuel” dan “Panis Angelicus”, peserta dibimbing sedemikian rupa – bahkan sampai diuji cobakan -.

Seorang ibu dari Paroki St Maria – Ibu Irwana – merasa sungguh beruntung dapat mengikuti pelatihan ini. Lain lagi wakil dari Stasi St Agatha Kualu Tarai – Sdr. Ivo – yang sudah lama membaca nama Paul Widyawan dan Rm Prier di Madah Bakti, dan senang dapat kesempatan dibina langsung oleh pakarnya. Seorang remaja,- Apin – merasa beruntung mengikuti kegiatan ini saat umurnya masih muda, sehingga ia merasa akan lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan ini untuk mengasah kemampuannya.

Pastor Paroki – Pastor Franco Qualizza, SX menyampaikan, jika beliau disuruh berlatih bernyanyi selama setengah jam saja beliau akan merasa kapok, tapi dalam kegiatan ini, umat belajar menyanyi dari pagi sampai malam, sungguhlah suatu hal luar biasa, menuntut energi sekian banyak. Pastor juga terkesan dengan pasangan duo madah bakti ini, karena dengan ilmu yang demikian tinggi, mampu menyampaikan materi secara sederhana sehingga bisa diterima oleh seluruh peserta dan sungguh berharap semoga bisa dimanfaatkan. Beliau juga menekankan kembali apa yang selalu ditekankan oleh Rm Prier, bahwa selalu menempatkan musik sebagai “pelayan”, maka harus diperhatikan benar bahwa musik sifatnya hanya membantu dan bukan sesuatu yang harus ditampilkan atau ditonjolkan.

Romo Prier, dalam kesempatan pesan dan kesan berucap, “Saya senang datang kesini. Umat dari stasi-stasi yang jauh-jauh datang berkumpul adalah sebuah nilai plus.” Beliau juga merasa kurang waktu, “Kalian ini bukan main banyak pertanyaan, suatu hal yang tidak selalu ada,” ungkap beliau sehubungan dengan merasa kekurangan waktu.

Pesan beliau di akhir acara, bahwa tanah yang subur tidak cukup hanya benih dimasukan ke tanah, tapi harus ada perubahan. Demikian juga dengan pelatihan ini, bahwa pengetahuan ada tidak cukup hanya dilanjutkan, melainkan harus berani dirubah seiring dengan mendapatnya pengetahuan baru. (re)

Foto-foto bisa dilihat di Facebook Paroki Santo Paulus

 

 

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s