Untukmu, Pastor Casali Otello SX…

TEMAN SATU KAMPUNG

Saya tahu sedikit saja tentang P. Casali, bahwa ia berasal dari keluarga yg cukup berada. Ayahnya dikenal sebagai tuan tanah. Setelah lulus  SD Casali tinggalkan kampung untuk sekolah lanjutan di Sassuolo, kota kecil 17 km dari kampung.

 Saya tidak  tahu kenapa ia masuk seminari diosesan, kemudian pindah ke Xaverian untuk SMU, dan apa yg mendorong dia meninggalkan kekayaan keluarga utk menjadi misionaris, itu pun saya tak tahu.  Mungkin sebab di seminari sering diundang misionaris yg berbicara tentang misi…

Waktu itu saya putera altar. Ia 4 tahun lebih tua. Waktu libur dari seminari ia suka melayani misa.

Sejak masuk seminari wajib pakai jubah seperti imam. Saya tertarik oleh pribadinya sehingga pada suatu saat saya pun masuk seminari dioseasan sampai menjadi imam. itu selama 3 tahun.

Kami imam projo berjumlah banyak, maka dihimbau oleh Paus untuk membantu misi di Afrika, Asia dan saya bergabung dengan xaverian karena paroki saya bertetangga. Dan setelah novisiat yang saya jalankan sebagai pastor, saya diutus ke Indonesia, dan di Indonesia saya kembali ketemu Casali.

P Otello Pancani, SX

 

SENYUMAN TERINDAH 

Aku mengenal pribadi Pastor Casali yang sederhana, tidak banyak tuntutan dalam perkerjaan berpribadi pendiam tapi berkarisma. Setiap kali beliau minta tolong sesuatu pekerjaan yang beliau butuh kan, beliau selalu bilang, “Terimakasih, maaf ibu aku telah merepotkanmu”

Dalam momen-momen tertentu beliau juga sering memberikan kejutan/memberikan kado yang menurutku sederhana tapi sangat luar biasa bermakna dalam kehidupan rohani ku.  Barang-barang itu selalu aku bungkus dengan rapi walaupun bungkusan itu pakai selembar koran dan pesannya jangan kasih tau siapa” Dalam kesempatan terakhir ini sungguh luar biasa,aku bisa menemani beliau mengantarkan ke Padang, menjenguknya, sampai menghantarnya ke peristirahatan terakhir.

Terimakasih Pastor atas semua pelayanan mu, terimakasih pula telah melibatkan aku dalam hidup pelayananmu

Selamat jalan, Pastor.. aku akan selalu mengenang mu

Pekanbaru Louis Yusuf

SEMANGAT MELURUSKAN SETIAP MASALAH

Sewaktu saya masih SMP, saya diminta guru belajar agama Islam karena di sekolah saya waktu itu tahun 1980, SMP 6 Rumbai – tidak ada guru Katolik.  Karena saya tidak mau, maka saya melapor ke orang tua saya yang langsung melapor ke Pastor Casali yang saat itu bertugas di Paroki St Maria. Pastor kemudian langsung melapor ke kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menindaklanjuti laporan seorang guru tentang tidak adanya guru agama Katolik.

Kenangan lainnya adalah pada saat saat Misa, waktu saya bertugas sebagai Misdinar di St Lusia Rumbai, dalam perjalanan bertemu Pastor yang liwat mengendari Vespa atau mobil Hardtop. Beliau langsung memberi tumpangan kepada saya.

Kemudian saat saya bertugas di seksi Pembangunan dan Harta Benda Gereja DPP St Paulus. Pada setiap kesempatan akan berkunjung ke stasi untuk urusan tanah, pastor selalu ingin ikut, namun beliau mengingat kondisi kesehatan beliau, saya tidak sampai hati mengajaknya. Namun ada suatu perjalanan ke Bukit Payung dan Kualu Tarai, saya mengajak Pastor, dan Pastor bersemangat sekali.

Rumbai, Bonifasius Lasambow

SAYANG ANAK-ANAK

Beberapakali ikut kunjungan pastor ke stasi-stasi, beberapa kali mendapat kunjungan bersama Pastor Casali, dan satu kendaraan. Beberapa kali kunjungan tersebut saya membawa anak, dan kami mengobrol sementara pastor mendengarkan dan kadang memberi komentar, tertawa, dan nimbrung. Pastor punya daya tarik tersendiri untuk anak-anak, dengan hanya bicara. Salah satu anakku agak kuper waktu bayinya, takut dengan orang lain, namun dengan Pastor Casali, ia mau memperhatikan dan senyum saat pastor ajak bicara.

Lain waktu di Pastoran, saat aku sedang urus sesuatu hal dengan Pastor Franco, tiga anakku kutinggalkan bermain di teras pastoran bersama Guido – anak koster-, dan Didi anak Bu Effen, Mereka berlima brisik diteras sementara Pastor membaca di ruang tamu. Selesai urusan aku minta maaf pada pastor untuk kebrisikan itu. Pastor tertawa, dan bilang “Senang mendengar mereka bermain.”

Lain waktu lagi, malam saat akan rapat, aku parkir di depan pastoran. Pastor Casali baru pulang dari liburan di Italia. Pastor memanggil, memintaku menunggu, dan memberikan bungkusan. “Ini untuk adik-adik.” Katanya.

Terimakasih pastor, untuk perhatian atas anak-anakku. Doakan semoga salah satu atau dua dari mereka juga menjadi Pastor.

Renata – Arengka Ujung

PEDULI KESUSAHAN ORANG LAIN

Pastor Cassali adalah pribadi yang hemat bicara dan menginginkan kita juga berbicara seperlunya, lebih menggunakan waktu kita untuk berdoa dibanding mengobrol tak menentu .

Beliau juga penuh kasih, sangat peduli dengan kesusahan orang lain,  tidak mau merepotkan orang lain. Kami pernah berbeda pendapat masalah pelayanan ke warga yg sakit. Beliau membatasi agar dalam kunjungan ke orang yang sakit beliau cukup ditemani satu dua orang supaya yang punya rumah tidak sibuk mencarikan kursi. Rupanya beliau segan ketika melihat tuan rumah sibuk. Sementara kami berpendapat yang punya rumah lebih senang saat keluarganya yang sakit banyak yg mengunjungi dan mendoakan.

Beliau  ternyata jugg cinta pd anak-anak dan bisa bercanda dengan mereka.

Bersyukur sekali bisa menemani beliau untuk melaksanakan tugas pelayanan orang sakit, meskipun dengan kondisi kesehatan yg tidak prima lagi, namun semangatnya tetap luar biasa. Semangat pelayanan yg harus kita teladani. Selamat jalan Pastor..

Susi Herlina – Rumbai

KENANGAN SINGKAT

Cukup sulit bagi saya untuk menulis kenangan bersama pastor Casali..karena masih sedih mengingat begitu banyak kenangan yg kami kewati bersama di saat2 akhir usia beliau.
Mulai dari guntingin kuku kaki beliau sampe berdarah..tp beliau nggak marah (hehhe..maaf ya pastor) .., rapi kan jenggot n kumis beliau (hehheh..yang ini sempet buat  tangan saya tremor banget karena stress ..takut salah gunting).
Satu yg paling berkesan.. saat kami bawa ke padang ..saat di boarding room SSK II saya lihat beliat melamun..saya bertanya ‘apa yg sedang dipikirkan pastor ? Coba cerita’ … .beliau bilang “sulit bagi saya membayangkan bagaimana kehidupan saya nanti di Padang..masih gelap semua.’ Saya bilang..kenapa harus mengkhawatitkan sesuatu yg belum terjadi ?…pasti Tuhan akan mengirim malaikat2nya untuk membantu pastur…pastur harus bisa keluar dari zona nyaman…dan jangan takut pindah….saya ambil satu pernyataan pastur Pancani ‘ jangan membalut kepala kita dengan perban sebelum kepala kita pecah’…beliau tersenyum mendengarnya..

Semua kenangan tentang beliau begitu indah..terimakasih Tuhan…sudah memberikan kesempatan bertemu dan dekat dengan pastor Casali walau hanya terasa begitu singkat..semua kenangan menjadi begitu indah…jadilah pendoa bagi kami semua yg masih berziarah di sini.

Caoo e Grazie..

Effen Meiliana – Wilayah Pusat

SELALU BERUSAHA MANDIRI DAN INGIN MELAYANI

Perkenalan saya pertama dengan Pastor Casali adalah saat saya masih SMA, tepat tanggal 20 Desember 2006 saat beliau baru sampai di Payakumbuh tepat pada hari ulang tahunnya. Hubungan kami menjadi sangat akrab karena saat itu saya hampir menamatkan studi SMP dan banyak waktu kosong sehingga sehari-hari saya banyak datang ke pastoran dan ikut kemanapun Pastor Casali pergi.

25 Januari 2017, saat Pesta Pertobatan Santo Paulus, saya secara tidak sengaja mampir ke Paroki Labuh Baru, karena hujan akhirnya saya punya kesempatan berbicara panjang lebar dengan Pastor Casali hingga  ikut misa bersama. Kala itu saya membatin, kenapakah Pastor Casali berbau pesing? Tapi saya sungkan menanyakannya karena saya tahu benar dia seorang yang amat teratur dan menjaga kebersihan. Keesokan harinya saya datang kembali ke Paroki Santo Paulus, untuk kembali berbincang, disana beliau terbuka mengatakan bahwa gerakan motoriknya sudah amat terbatas. Akhirnya saya menawarkan diri untuk membantu Pastor Casali mandi. Akhirnya kembali lagi pengalaman sekian tahun lalu, dimana saya membantunya melewati hari-hari, kali ini untuk menjaga kebersihan badannya.  Hingga saat beliau dirawat di RS Santa Maria, saya menawarkan diri menemaninya saat malam hari. Interaksi kami menjadi interaksi anak dan bapak. Disana saya melihat bahwa Pastor Casali adalah orang yang bermotivasi tinggi. Dia berusaha mandiri setiap saat, berusaha tetap sedisiplin saat dia masih kuat.

30 April-1 Mei lalu , saya menyempatkan diri mengunjungi beliau di Biara Padang, bertepatan pula dengan perawat yang biasa menjaga beliau sedang cuti, maka saya menawarkan diri kembali membantu beliau. Beliau selalu membunyikan sebuah bel bila ia membutuhkan saya datang.

Pada tanggal 30 April jam 15.00 WIB, beliau membunyikan lonceng keras sekali. Saya spontan berlari menuju kamarnya, saat ditanyakan kenapa? Beliau menjawab: “Saya hanya ingin melihat wajahmu, karena saya tahu kamu mau pulang.” Keesokannya , kira-kira jam 15.00 beliau kembali membunyikan lonceng kuat-kuat, kali ini beliau beralasan, ingin mengatakan terima kasih.

Begitulah Pastor Casali, seorang yang dalam kelemahannyapun punya kekuatan luar biasa dalam mengungkapkan perasaannya. Saya menjadi saksi betapa Pastor Casali mempunyai semangat menjadi abdi Kristus, berusaha terus menjaga kodratnya sebagai pelayan yang hanya berharap mendapat upah yakni terus bisa melayani.

Kevin Audrino Budiman – Paroki St Maria Pekanbaru

 

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s