40 hari – Mengenang Pastor Casali Otello, SX

Lahir di Castel Vecchio, Prignano Secchia, kota Modena-Italia pada 20 Desember 1934. Masuk Xaverian di kota S. Pietro in Vincoli-Ravenna pada 1 September 1954. Saat itu, beliau datang dari Seminari Keuskupan Reggio Emilia. Di kota ini, beliau mengikrarkan kaul pertama setelah menjalani masa Novisiat pada 12 September 1955. Tiga tahun kemudian, Pastor Casali SX menerima Rahmat Tahbisan di Parma, tepatnya pada 21 Desember 1958. Setelahnya, beliau melayani komunitas Xaverian di Pulau Sardegna (Macomer dan Cagliari) selama 6 tahun, dari 1959 sampai 1965.

Dari Italia, Pastor Otello SX dikirim ke Indonesia.

Perjalanan beliau menuju Indonesia menggunakan kapal laut. Berangkat dari Italia, melewati terusan Suez, Mesir dan sempat transit di sana menumpang bus melihat-lihat piramida, menumpang kapal laut lagi menuju pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Saat sampai kondisi Indonesia secara umum dan Jakarta secara khusus tidaklah kondusif sebab G30SPKI baru saja terjadi dan banyak huru hara sehingga suara tembakan terdengar dimana-mana. Keadaan yang tidak kondusif ini memaksa 3 misisonaris muda ini untuk menunggu kapal kira-kira 1 bulan lamanya di Jakarta, namun keadaan ini tidaklah menyurutkan semangat misionaris muda ini untuk meneruskan perjalanannya ke Teluk Bayur, Padang. Setibanya di Padang, Pastor Casali menetap sementara di pastoran lama Paroki Santo Fransiskus Asisi Padang Baru (sekarang sudah dirobohkan) bersama dua pastor lainnya  selama kurang lebih sebulan sebelum pindah ke biara. Saat itu Uskup Keuskupan Padang adalah Uskup Raimondo Cesare Bergamin,S.X.

Sebagai penugasan pertama tiga misionaris muda ini ditugaskan untuk belajar bahasa Indonesia. Tadinya proses pembelajaran ini dilakukan secara otodidak, namun kemudian seorang guru TK didatangkan, dan beliau bersama dua pastor lainnya belajar bahasa Indonesia. Pelajaran pertama adalah membaca Alkitab dalam Bahasa Indonesia. “Saya yang paling bodoh,” demikian kenang beliau. Setelah enam bulan, pelajaran dianggap selesai, beliau dikirim ke Pekanbaru, tepatnya tahun 1965. Gedung gereja sudah berdiri saat itu, dan Perayaan Ekaristi sudah dilakukan dalam Bahasa Indonesia, hanya masih dalam ejaan lama.

 Hampir seminggu sekali, beliau mengunjungi Rumah Tahanan Militer dimana dipenjarakan orang-orang yang dituduh sebagai antek PKI, seperti yang ditulis oleh seorang beksa tahanan dalam illustrasi tambahan dari buku “Riau Berdarah” terbitan HASTA MITRA Jakarta 2006. “…. Namun dari agama lain seperti Katolik, pastornya, yaitu Casali Otello Sx, seorang Italiano warga negara Indonesia, sangat rajin berkunjung setiap minggunya, sehingga kemudian berhasil mencetak Katolik baru, diantaranya anak Bunda Kanduang sendiri, orang Minang tulen menjadi pengikut Katolik.Demikian ditulis oleh pengarang.

Dua tahun kemudian, beliau dikirim ke Bagansapi-api. Di Bagansiapi-api, gedung Gereja sudah berdiri dari kayu sebagai warisan Misionaris Kapusin Belanda. Beliau diminta membantu di poliklinik selama tiga tahun, Tahun 1970 – setelah tiga tahun di Bagansiapi-api – beliau ditugaskan di Dumai, dan turut membangun Sekolah St Tarcisius yang sudah direncanakan oleh keuskupan jauh-jauh hari sebelum kedatangan beliau, namun belum terealisasi. Di Dumai beliau mengawali pelayanannya dengan hidup prihatin. Beliau menempati sebuah  dengan satu kamar kecil berperabot sebuah dipan, meja dan kursi kecil, serta lemari kecil. Hingga pada akhirnya dapat mempersembahkan kompleks Santo Tarcisius yang saat ini menjadi amat megah.

Dari Dumai, Pastor Casali dikirim kembali ke Pekanbaru dan melayani selama tujuh tahun lebih, sampai tahun 1982 dikirim kembali ke Padang.

Sebagai seorang imam, Pastor Casali bukanlah sosok yang tidak pernah merasa gundah dan galau. Pernah suatu masa Pastor Casali merasa tidak mampu lagi menjalankan penugasan imamatnya karena ketidakcocokan beliau bekerja dengan sesama imam lainnya. Pastor Casali  merasa sudah melakukan segala hal sesuai dengan kemampuan, namun masih dirasa kurang. Dalam kesedihannya, beliau mendapat penghiburan dari umat, yang walaupun beliau tidak pernah mengungkapkan rasa hati, beliau merasa umat begitu terbuka menerima beliau. Dalam pergumulannya, Serikat Xaverian memutuskan agar beliau dikirim kembali ke Italia, ditugaskan menjadi rektor di Komunitas Xaverian di kota Salerno, Italia Selatan.

Setelah merasa mampu dan siap, Pastor Casali kembali meninggalkan  Italia,untuk kembali ke Indonesia, dan ditugaskan di Paroki Keluarga Kudus,Pasaman. Disini imamatnya kembali menemukan sukacita.  Umat Katolik Pasaman rata-rata adalah umat transmigrasi Jawa sementara masyarakat mayoritas penduduk di Pasaman terkadang menjadi hambatan pelayanan pastoral. Sifat keras kepala Pastor Casali kembali muncul dikala menjelang malam natal, Ia tidak tahan untuk tidak memasang salib diatas bubungan gereja (sebelumnya gedung gereja tidak ada salibnya)  dan umat seolah tidak mau tahu . Kebandelannya untuk memasang salib ini membuat Bapak Camat terheran-heran. Kenangan manis lainnya selama bertugas di  Paroki Keluarga Kudus Pasaman adalah saat Pastor Casali tidak tahan untuk tidak bertindak saat banyak umatnya ditipu oleh oknum aparat pemerintahan. Kala itu, umat yang mayoritas transmigran jawa ini mendapatkan sejumlah lahan yang sebagai kompensasi  dari pemerintah karena  telah ikut serta dalam program transmigrasi. Namun proses pengurusan sertifikat tanahnya amat berbelit . Hingga muncullah oknum dari pemerintah  yang menjanjikan bisa mengeluarkan surat tanah asalkan diberikan sejumlah uang. Pastor Casali kesal sekali mengetahui banyak umatnya mau menyerahkan sejumlah uang yang mereka usahakan dengan jerih payah dan akhirnya menjadi korban penipuan. Hal ini didiamkan oleh umat, namun Pastor casali dengan sifat keras kepalanya itu tidak mau  tinggal diam. Ada rumor yang mengatakan bahwa arsip surat tanah itu masih disimpan di Kantor Bupati, maka Pastor Casali terus menerus mendatangi Kantor Bupati dan berusaha menemukan surat itu. Namun tidak ada pegawai kantor Bupati yang mau membantu. Maka pastor Casali mengancam bahwa beliau tidak akan beranjak dari sana sampai pegawai tersebut mau membuka laci-laci dan mencari surat tersebut. Namun pada akhirnya kenyataan berkata lain surat tersebut tidak ada di Kantor Bupati. Hal ini dilakukan berulang-ulang walaupun jarak tempuh paroki ke kantor itu cukup jauh dan jalannya sulit.

Suatu siang,  saat sedang berusaha menemukan surat tanah umatnya, dalam keadaan lapar dan sedih Pastor Casali merasa hampir putus asa.  Tiba-tiba ada yang seorang bapak memanggil. “Pastor, Pastor!” Ternyata seorang umat  Katolik  yang bekerja sebagai pegawai Pajak yang dulu pernah dikenalnya di Padang. Bapak tersebut bertanya apa yang sedang dilakukan pastor di Pasaman. Setelah menceritakan kronologis perkara yang sedang diusahakannya ini, Bapak tersebut menenangkan pastor, mengajak beliau makan, dan menjelaskan kepada pastor, bahwa setiap surat tanah dibuat empat rangkap. Selain di kantor bupati, ada juga surat di tempat lain. Bapak tersebut berjanji akan mencarikan dan akan segera menelpon pastor. Berselang beberapa lama surat tersebut ditemukan bapak tadi di kantor pajak, dan fotokopinya diberikan kepada Pastor. Dengan foto kopi tersebut, surat tanah dapat diurus kembali di kantor Agraria. Hal ini mendorong umat agar kompak menuntut haknya, sebab mereka selama ini sudah banyak terpecah. Umat didorong menggunakan fotokopi surat tanah itu untuk menuntut sertifikat tanah dari Kantor Agraria di Padang. Demikian diceritakan sendiri oleh Pastor Casali kepada Sdr. Kevin pada tanggal 25 Januari 2017 tepat pada Pesta Pertobatan Santo Paulus di ruang tamu  Pastoran St Paulus sebelum beliau terakhir kalinya dipindahkan ke Padang.

Dalam homili Bapa Uskup dalam Misa Requiem Pastor Casali, Monsiyur bercerita, bahwa pastor Casali adalah seorang “tuan tanah”. Dimanapun pastor bertugas, telah banyak tanah yang dibeli oleh pastor, baik atas permintaan bantuan dari keuskupan maupun atas inisiatf sendiri. Nampaknya pastor entah bagaimana caranya selalu memiliki uang untuk membeli tanah atau bertemu dengan orang-orang yang berniat membantu pastor untuk mendapatkan tanah yang diincarnya. Tak satupun dari tanah-tanah itu menjadi miliknya, semuanya diberikan kepada keuskupan, kepada Gereja. Begitu murah hatinya pastor, sampai pada suatu ketika di Pasaman dalam suatu perjalanan, beliau bertemu sekelompok petani yang membajak tanah untuk bertanam menggunakan cangkul. Beberapa waktu setelahnya, beliau memberikan sebuah traktor bagi komunitas petani tersebut. Kejadian itu sebelum beliau kemudian pindah dari pasaman. Pemberian tersebut ternyata tidak mendapat tanggapan baik dari kelompok lain tertentu, dan traktor tersebut harus diambil. Bapa Uskup sendirilah yang mengurus pengambilan traktor tersebut dan memberikannya kepada yang memerlukan tanpa sepengetahuan Pastor Casali demi menghormati kebaikan beliau.

Dari Pasaman, Pastor Casali dikirim ke Jakarta, ditugaskan di Skolastika melayani komunitas prokura, beberapa saat dikirim ke Jogjakarta bersama Pastor Franco Qualizza SX, kembali lagi ke Padang, dan tiba di Paroki Santo Fidelis Payakumbuh pada malam ulang tahun beliau bulan Desember 2006 dan bertugas di sana sampai tahun 2012. Selama di Payakumbuh beliau tinggal sendiri di Pastoran, namun  secara rohani masih tergabung dengan Komunitas Xaverian yang berpusat di Bukittinggi melayani 3 paroki  (Payakumbuh, Bukittinggi, Padang Panjang) dan 2 Stasi ( Stasi Panti dan Stasi Batu Sangkar). Dengan umur yang sudah memasuki 70an tahun, Pastor Casali kala itu masih amat gesit. Segala pekerjaan pertukangan dilakukan, dari memperbaiki atap Pastoran, membetulkan talang air Gereja, dan masih kuat mengemudi Jeep TAFT nya kemana-mana sendiri. Selain rutin melayani paroki-paroki dan stasi tetangga, sehari-hari Pastor Casali setia mengunjungi orang sakit membawakan komuni dari rumah ke rumah dengan berjalan kaki.  Terkadang ada pula umat yang anggota keluarganya non Katolik dan acuh terhadap kedatangan Pastor Casali, tetapi Pastor Casali tetap setia mendatangi umatnya satu persatu baik yang tua maupun yang muda. Salah satu umat yang rutin dikunjunginya adalah Alm. Gerry, seorang anak yang menderita kelumpuhan motorik sehingga tidak bisa melakukan aktivitas fisik tanpa dibantu. Perhatian Pastor Casali tampak jelas dengan mengajak serta anak-anak lainnya yang sebaya dengan Gerry datang dan ikut berdoa. Hingga saat-saat terakhir hidup Gerry-pun Pastor Casali dengan setia menemani dan mendoakan dengan cucuran air mata. Kekhasan misionaris italinya pun muncul manakala selesai melakukan kunjungan ke rumah-rumah orang sakit, anak-anak tadi akan menerima hadiah berupa benda-benda rohani kecil yang banyak disimpan dalam kamar Pastor Casali.

Pada tahun 2012 Pastor casali menyadari keterbatasan fisiknya terutama penyakit vertigonya amat menyulitkan kehidupannya, hal ini membuatnya memilih kembali ke biara induk Xaverian di Padang. Namun tidak lama berselang, godaan untuk kembali melayani datang dari lahan yang dulu dibelinya yakni di Paroki St Paulus Labuh Baru Pekanbaru. Kepindahan pastor ini bukan dalam rangka tugas, namun merupakan sebuah respon spontan saat mendengar rekan-rekan imam yang melayani di Paroki Santo Paulus Pekanbaru secara bersamaan baru di opname di RS Santa Maria. Atas kehendaknya sendiri beliau ingin tinggal di Pekanbaru membantu ketiga rekan imam yang saat itu baru memulihkan kondisi kesehatannya. Dalam perkembangan selanjutnya pastor Paroki, P. Franco Qualizza SX mengijinkan beliau tinggal di Paroki ini. Beliau membantu memberikan pelayanan Misa, Pelayanan Sakramen Orang Sakit, dan Pengakuan Dosa. Kemudian, berdasarkan surat Bapa Uskup – Pastor ditugaskan kembali secara resmi di Paroki St Paulus.

Kegembiraan Pastor Casali dapat melayani umat yang terus berkembang di Paroki St Paulus bukanlah tanpa sebab. Sebab dahulu beliau sendirilah yang merintis pembelihan lahan paroki ini. Pada tahun 1970-an Pastor Casali membeli lahan seluas 10 hektare di daerah yang kemudian menjadi Labuh Baru dan dilintasi Jalan Soekarno Hatta ini. Dengan mengendarai Vespa, beliau menembus hutan yang masih rimbun dan melewati jalan tikus yang masih berupa tanah. Maka saat benih yang ditanamnya dulu telah berkembang menjadi pohon yang rimbun dan berbuah lebat, beliau amat merasakan kegembiraan yang besar untuk melayaninya. Kepada Ibu Effen  Pastor Casali pernah berpesan agar seandainya beliau meninggal, jenazahnya dapat dikuburkan  di salah satu pojok taman ini – di paroki ini – sambil menunjuk salah satu kepada tanah tempat  tumpukan sampah di samping gerbang belakang pastoran.

Tahun 2016 pastor sempat kembali ke Padang, kembali lagi ke Pekanbaru dan beberapa kali dirawat di rumah sakit. Akhirnya, tanggal 8 Maret 2017, Pastor resmi kembali pindah untuk beristirahat di Biara Xaverian Padang. “Saya melihat masa depan saya di Padang gelap.” ucap Pastor Casali pada saat hari kepindahan beliau kepada para ibu  Effen yang mengantarnya, yang langsung mengompori pastor agar semangat.

Dua bulan setelah kepindahan dari Pekanbaru, di rumah sakit Yos Sudarso Padang, tanggal 10 Mei 2017 jam 10.55 waktu setempat, Pastor Casali Otello,SX pindah ke tempat baru, ke rumah Bapa.

~ ren
Sumber:
  1. Artikel biografi dari Missionaris Xaverian
  2. Homily Bapa Uskup
  3. Surat keputusan Keuskupan Padang tentang penugasan Pastor Casali SX
  4. Rekaman Wawancara Sdr Kevin Audrino Budiman – Umat Paroki St Maria Pekanbaru
  5. Buku “Riau Berdarah” terbitan HASTA MITRA Jakarta 2006

This slideshow requires JavaScript.

 

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s