Dari Pastor Paroki Untuk Seluruh Umat : Media Sosial

Salam dalam Kasih Kristus

Perkembangan teknologi digital yang amat pesat ini sadar atau tidak, mau tidak mau dengan sendirinya amat berpengaruh pada kesadaran manusia akan jati dirinya. Pada gilirannya pergeseran kesadaran akan jati diri manusia ini akan sangat besar pengaruhnya pada cara berpikirnya perilakunya, bahasanya dan tentu saja pilihan-pilihan  nilai dalam hidup.

Hari Komunikasi Sedunia jatuh pada Hari Minggu Paskah ke VII, 28 Mei 2017 dan akan dibacakan seruan Paus Fransiskus, “Mengkomunikasikan Harapan dan Kepercayaan pada masa kini” – pada hari tersebut. Kalau kita meninjau Pesan Paus untuk hari Komsos tahun-tahun lalu:

  • tahun 2016, “Komunikasi dan Kerahiman: Perjumpaan yang memerdekakan”,
  • tahun 2015, “Keluarga: Tempat intimewa perjumpaan dengan karunia kasih”
  • tahun 2014. “Komunikasi: Budaya perjumpaan sejati”
  • tahun 2013,” Jejaring Sosial: Pintu kebenaran dan iman, ruang baru untuk evangelisasi”

dan juga pesan Hari Komsos sedunia oleh Paus Emeritus Benediktus XVI:

  • tahun 2012,”Keheningan dan kata: sebuah jalan evangelisasi”
  • tahun 2011,” Kebenaran, pemakluman dan hidup otentik di zaman digital”
  • tahun 2010,” “Imam dan Pelayanan Pastoral di Dunia Digital: Media Baru demi Pelayanan Sabda”
  • tahun 2009,” Teknologi Baru, Relasi Baru: Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan”

Dari pesan-pesan tersebut, tampak jelas bahwa Gereja membuka tangan terhadap kemajuan era digital dan memandang kemajuan digital ini sebagai anugerah sarana. Hanya sarana, yang jangan sampai membuat ruang batin manusia dimana seharusnya Allah bersemanyam tertutup semakin sempit, semakin tidak peka.

Namun untuk menghadapi gencaran informasi, diperlukan nurani untuk menyaring dan menyerap. Namun untuk menyaring dan menyerap yang berguna dan yang baik bagi kita dan bagi sesama, kita perlu senantiasa membina hati nurani kita menurut nilai-nilai injili yang disampaikan kepada kita oleh Gereja.  Di jaman apapun, termasuk di era digital, manusia tetaplah pribadi yang mempunyai hati. Hati itu harus kita jaga dan bina sedemikian rupa sehingga kita sanggup menyaring yang terbaik demi kepentingan kita sendiri, dan sanggup pula menyalurkannya kepada sesama.  Tantangan paling besar di era digital dengan demikian adalah membinga hati nurani kita dan menemukan bahasa yang dapat menyentuh hati pribadi-pribadi jaman sekarang ini.

“Janganlah takut, sebab Aku ini menyertaimu.” (Yes 43: 5)

Pastoran St Paulus, 1 Mei 2017

P Franco Qualizza, SX

Pastor Paroki

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s