Amoris Laetitia – Panduan Kasih dalam Keluarga

Paus Fransiskus menerbitkan Anjuran Apostolik terbaru, yang disebut Amoris Laetitia atau Sukacita Kasih. Dokumen itu menekankan pentingnya ikatan kasih sayang dalam membangun keluarga harmonis.

Amoris Laetitia adalah rangkuman dan keputusan pada dua Sinode Para Uskup sedunia tentang keluarga di Vatikan pada 2013 dan 2015.

Dua sinode itu membahas berbagai topik sensitif soal keluarga dan perkawinan. Misalnya, sikap Gereja terhadap pernikahan pasangan yang bercerai dan isu pernikahan lagi, juga peran perempuan dan kaum awam dalam Gereja.

Berdasarkan pertimbangan dua sinode itu, Amoris Laetitia diyakini sebagai jawaban sekaligus solusi kompromistis dalam menanggapi upaya kaum reformis.

Nilai-nilai dalam Amoris Laetitia adalah suara mayoritas peserta sinode yang melihat tantangan keluarga dan masalah-masalah yang dihadapi guna mencari solusi yang realistis.

Dokumen setebal 255 halaman yang terdiri dari 325 paragraf ini memuat nilai-nilai penting kekristenan, seperti penegasan Bapa Suci mengenai karakter dasar para rohaniwan. Bapa Suci berharap, pelayan pastoral harus setia mendampingi dan mengarahkan umat bertumbuh lebih baik. Cara yang ia tawarkan adalah pastoral kehadiran dan sikap belaskasih dalam pelayanan.

Ada juga ulasan tentang pernikahan dan keluarga. Paus secara khusus mengambil sikap tegas dan selalu berpijak pada hukum dan norma fundamental Gereja. Ia menghimbau keluarga perlu membangun ikatan kasih sayang yang kokoh di antara sesama anggota keluarga. Tujuannya, tak ada permusuhan dalam keluarga.

Paus menandaskan, Gereja Katolik hanya mengakui pernikahan antara laki-laki dan perempuan. “Tak ada dasar dalam rencana Tuhan bagi pernikahan sesama jenis,” demikian pernyataan Paus dalam Amoris Laetitia yang ditanda tanganinya 19 Maret 2016, pada Hari Perayaan St Yusuf.

Berikut adalah 10 seruan ini dalam anjuran apostolik itu:

  • Pertama, memahami setiap keluarga dan individu: Paus menekankan perlunya Gereja memahami setiap keluarga dan individu dengan segala kompleksitas mereka. Ia menegaskan, Gereja perlu bertemu mereka di mana mereka berada. Imam hendaknya menghindari penilaian-penilaian yang tidak mempertimbangkan kompleksitas dari berbagai situasi.
  • Kedua, pentingnya hati nurani: Paus menyatakan, hati nurani berperan penting dalam membuat keputusan moral.
  • Ketiga, terkait umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi: Menurut Paus, mereka perlu secara penuh diintegrasikan ke dalam Gereja. Mereka tidak diekskomunikasikan. Perlakuan demikian, kata dia, karena mereka masih bagian dari Gereja.
  • Keempat, sungguh-sungguh menjadi Kristiani: Paus mengajak semua anggota keluarga untuk secara baik menjalani kehidupan Kristiani. Seruan Paus ini banyak berisi tentang refleksi tentang Injil dan ajaran Gereja tentang cinta kasih, keluarga dan anak-anak.
  • Kelima, terkait orang yang hidup dalam dosa. Paus mengatakan, kita tidak seharusnya bicara lagi soal orang yang hidup dalam dosa. Menurutnya, tidak bisa sekedar mengatakan bahwa mereka yang hidup dalam situasi yang tidak wajar atau kondisi khusus seperti single mother perlu dimengerti, dihibur dan diterima.
  • Keenam, adaptasi dengan situasi setempat. Ia mengatakan, apa yang bisa dilakukan di satu tempat belum tentu bisa dilakukan di tempat lain. Setiap negara atau daerah bisa mencari solusi yang baik yang sesuai dengan kebudayaan dan peka terhadap tradisi dan kebutuhan setempat.
  • Ketujuh, posisi Gereja tegas soal perkawinan: Ajaran tradisional tentang perkawinan itu tegas, tapi Gereja hendaknya tidak membebani umat dengan ekspektasi yang tidak realistis. Para calon imam dan imam perlu dilatih dengan lebih baik untuk memahami kompleksitas kehidupan berkeluarga.
  • Kedelapan, pendidikan seks dan seksualitas: Anak-anak harus dididik soal seks dan seksualitas. Seks harus selalu dipahami sebagai berkah atas kehidupan baru.
  • Kesembilan, Gay dan lesbian hendaknya dihormati: Perkawinan sejenis tidak diperbolehkan, tapi Paus mengatakan bahwa ia ingin menegaskan kembali bahwa gay dan lesbian harus dihormati martabatnya dan diperlakukan dengan baik.
  • Kesepuluh, menerima semua orang: Gereja harus membantu keluarga dan mengerti ketidaksempurnaan mereka dan bahwa mereka dicintai Allah dan bisa membantu orang lain untuk mengalami kasih itu.

 

Sumber: Catholic News

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s