Tong Phuoc Phuc – Malaikat tak bersayap bagi Bayi yang tidak diinginkan

Aborsi

Aborsi legal di vietnam, tingkat aborsi di vietnam terus meningkat dari tahun ke tahun, dan vietnam merupakan salah satu negara dengan tingkat aborsi tertinggi di dunia.

Hanya dengan membayar 50 dolar AS, atau sekitar Rp650.000, wanita di Vietnam sudah bisa melakukan aborsi, dan tidak dilakukan diam-diam. Memang, karena legal, aborsi menjadi hal yang lazim dilakukan di Vietnam. Tiap tahun  terjadi sekitar 1 juta praktik aborsi di negara berpenduduk 84 juta jiwa itu. Umumnya, bayi hasil aborsi dibuang sembarangan, dianggap sebagai limbah medis.

Data tahun 2009

Data tahun 2009

Ada seseorang pria berkewarganegaraan Vietnam, Tong Phuoc Phuc  namanya. Berawal ketika ia mengantarkan istrinya, Nguyen Thi Le Yen, ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan. Tiap kali mengantar sang istri, ia mengamati banyak wanita hamil yang keluar dari ruangan klinik bersalin, sudah melahirkan tapi tanpa membawa bayi. Butuh waktu beberapa lama bagi Tong untuk menyadari bahwa wanita-wanita hamil itu keluar dari klinik tanpa membawa bayi karena telah melakukan aborsi. Dengan diliputi rasa kecewa dan sedih, ia pun berjanji, jika persalinan istrinya yang memang sulit hamil itu berhasil, maka ia akan melakukan sesuatu: menguburkan bayi-bayi hasil aborsi.

Menguburkan Bayi

Setelah anak mereka lahir, tanpa malu  Tong pun mengunjungi beberapa rumah sakit dan klinik bersalin. Ia menawarkan diri untuk membersihkan dan mengubur bayi-bayi yang tidak sempat menghirup udara di dunia ini.

4373759_20160722080930 4373759_20160722080855

Makin lama, jumlah bayi yang harus dikubur pun  makin banyak, seakan tak terbendung, sementara lahan sangat terbatas. Halaman belakang rumahnya yang ia jadikan sebagai kuburan, tidak sanggup lagi menampung.

Beberapa tahun kemudian, Tong  membeli tanah seluas 11.000 meter persegi di dataran tinggi Hon Thom, Nha Trang, Provinsi Khanh Hoa. Uang sebesar 45 juta dong Vietnam (sekitar Rp26 juta) untuk pembelian tanah itu adalah hasil simpanannya.

Perluasan lahan pemakaman itu mesti ia lakukan, sebab ia melakukan penguburan tidak asal-asalan. Tiap bayi yang ia kubur mendapat batu nisan sendiri. “Pada tahun 2006-2007, saya menerima sekitar 30 janin hasil aborsi per hari,” ujarnya, sedih.

Tindakan Tong ini sempat dianggap aneh oleh beberapa pihak, bahkan istrinya sendiri. Apalagi,  karena ia harus membeli tanah dan mengorbankan puluhan juta uang miliknya. “Mereka mengatakan saya gila, tapi saya tidak menyerah. Yang saya lakukan ini  layak didapat  oleh bayi-bayi yang tak berdaya itu,” katanya.

Di tanah berpemandangan indah itu Tong menyusun kuburan dengan rapi sehingga terlihat menawan, layaknya seperti sebuah taman. Didominasi oleh warna merah, pink, dan kuning. Suasananya teduh, sama seperti Tong yang tenang, menyejukkan hati. “Setidaknya mereka bisa mendapat tempat peristirahatan yang layak dan dapat didoakan banyak orang,” ujarnya.

Pemakaman Bayi

Pemakaman Bayi

Tong berharap, dengan adanya kuburan itu para wanita di Vietnam tersentuh hatinya untuk tidak melakukan aborsi secara sembarangan, sesulit apa pun keadaan yang dihadapi.

Dirikan Panti Asuhan

Perbuatan baik Tong tersebar di seluruh penjuru Kota Nha Trang. Para wanita yang merasa telah melakukan aborsi pun kerap berkunjung di pemakaman yang dibuatnya. Mereka datang untuk memanjatkan doa.

Tak sedikit pula para wanita hamil datang kepadanya untuk berkonsultasi tentang kehamilan. Sebagian dari mereka dipaksa oleh orang tua atau mertua mereka untuk melakukan aborsi. Pada tahun 2004, Tong mulai menampung sejumlah wanita yang tidak mau melakukan aborsi di rumahnya. Tujuannya, agar dapat melahirkan anak mereka tanpa diganggu oleh keluarga.

Selain itu, sejumlah ibu datang kepadanya. Mereka meminta bantuan dan menitipkan bayi yang baru mereka lahirkan, sebab mereka tidak memiliki biaya untuk merawatnya. Tidak jarang pula ia datang menemui sejumlah wanita yang mengantre untuk melakukan aborsi di rumah sakit atau klinik.

“Saya membujuk mereka agar tidak melakukan aborsi. Beberapa dari mereka mendengar, dan saya ajak untuk tinggal di rumah saya,” ujarnya.

Sejak saat itu, Tong tidak hanya sebagai penggali kubur, tetapi ia menjadi seorang pahlawan bagi puluhan anak-anak yang ia adopsi. “Dengan segala kemampuan, saya ingin menyelamatkan nyawa mereka. Saya tidak ingin mengubur bayi-bayi tak bernyawa lebih banyak lagi,” katanya, tegas.

Tong mendirikan tempat penampungan khusus yang ia sebut Tong Phuoc Phuc Orphanage. Di panti asuhan ini, Tong membuka pintu kepada siapa pun wanita yang ingin menitipkan anaknya, atau tidak ingin melakukan aborsi.

Sebelum mengadopsi bayi, Tong mengajukan syarat kepada orang tua bayi. Yaitu, bila keuangan dan kondisi ekonomi orang tua bayi sudah lebih baik, maka mereka harus kembali mengambil sang buah hati dari asuhan Tong.

Uniknya, agar lebih mudah mengingat identitas  tiap anak, nama pertama  untuk  tiap bayi lak-laki adalah Vinh yang berarti kehormatan, sedangkan untuk anak perempuan adalah Tam yang berarti hati. Disusul oleh nama ibu kandung  tiap anak.

Hingga kini, Tong mengasuh sekitar 50 orang anak. Sebelumnya pernah mencapai 100 orang, tapi sebagian di antaranya sudah diambil kembali oleh orang tua mereka. “Tiap kali menguburkan bayi, terbayang oleh saya begitu indahnya bila mereka diberi kesempatan untuk lahir dan hidup di dunia ini. Mereka pasti bahagia, bermain dan pergi ke sekolah,” ungkapnya.

visit

Merawat dan membesarkan puluhan anak  tentu saja bukan hal mudah. Butuh biaya yang besar untuk menghidupi mereka. Dalam sebulan saja, ia membutuhkan uang sebesar 100 juta dong Vietnam (sekitar Rp50 juta) untuk membiayai wanita hamil dan anak-anak telantar.

Namun, Tong tidak  menyerah. Ia cukup terbantu dengan banyaknya donasi sejumlah orang dari berbagai negara, seperti Amerika Serikat. Tak selalu mengharapkan donasi,   ia juga melakukan usaha lain untuk mendapatkan uang. Ia beternak babi dan ayam untuk menambah penghasilan dari pekerjaan sebagai buruh konstruksi.

Ia pun mendapat bantuan tenaga dari para wanita yang baru melahirkan dan juga wanita yang sedang hamil. Merekalah yang membantu Tong untuk mencuci, memasak, dan juga menjaga anak-anak atau bayi-bayi yang diadopsinya. Sebelumnya, ia pernah menampung sebanyak 35 wanita yang memilih untuk merawat anaknya di panti asuhan milik Tong.

oph

Sejumlah relawan datang silih berganti untuk mengajari anak-anak  usia TK, sedangkan yang lebih tua telah mendapatkan pendidikan yang layak di sekolah formal. Tidak hanya saat menjadi penggali kubur, saat mulai menampung wanita hamil dan anak-anak telantar pun ia mendapat cemooh dari masyarakat. Namun, karena niatnya baik, semangatnya tidak pernah surut. “Saya melihat cinta dan rasa syukur di mata   anak-anak itu,” kata Tong, senang.

Pujian yang disampaikan oleh Presiden Vietnam (2006-2011), Nguyen Minh Triet, cukup membuat hati Tong senang. Nguyen mengatakan bahwa Tong adalah pria sejati. Di tengah ekonomi yang begitu sulit pun, Tong tetap menampung anak-anak dan juga tetap melakukan penguburan pada bayi hasil aborsi.

“Saya senang pada kegigihan yang dilakukan oleh Tong. Walau hanya sebagai buruh konstruksi, Tong melakukan kepedulian dengan pengorbanan yang besar,” puji Nguyen.

Walau Tong mengasuh puluhan anak,   ia tidak membeda-bedakan kasih sayang dan cinta kepada mereka. Semua ia perlakukan seperti anaknya sendiri. Jalan-jalan ke pusat permainan anak, taman, dan   ke gereja untuk beribadah adalah hal-hal yang ia lakukan bersama anak-anak asuhnya.

Pengorbanan yang dilakukan oleh Tong mendapat pengakuan dari jutaan orang dari penjuru dunia. Ia bahkan disamakan dengan Bunda Teresa.

Tong telah bertekad, akan terus melakukan pekerjaan ini sampai napas terakhirnya. “Saya akan mendorong anak-anak saya untuk melanjutkan perbuatan yang sudah saya mulai untuk membantu orang kurang mampu,” katanya.

~ Berbagai sumber, dan foto dari berbagai media di Internet

==========

 

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s