Rangkuman: IYD 2016 di Manado. Makase So Datang di Manado!!!

Jumlah Orang Muda Katolik (OMK) yang meliputi 60% populasi warga Katolik Indonesia menuntut perhatian serius dari Gereja dan pemerintah dari waktu ke waktu. Mereka meliputi para lajang usia 13–35 tahun yang diharapkan berperan makin besar bagi masa depan Gereja dan Bangsa Indonesia. Melihat jumlah sangat besar ini tentunya memberi harapan yang sangat besar pula Gereja dan bangsa.

Satu bentuk perhatian Gereja terhadap OMK adalah penyelenggaraan acara berupa perjumpaan bagi OMK itu sendiri. Dalam perjumpaan tersebut, OMK dikondisikan untuk dapat melakukan sharing iman dan saling meneguhkan. Melalui sharing iman itu, OMK diharapkan dapat memperoleh inspirasi dan keberanian untuk menjalankan ajaran Kristus dalam hidup mereka sehari-hari.

Hari orang muda Se-Indonesia merupakan perjumpaan OMK Se-Indonesia. Di tingkat dunia, perjumpaan OMK dilaksanakan dalam bentuk World Youth Day. Di tingkat regional dilaksanakan Asian Youth Day. Sejumlah keuskupan di Indonesia pun memandang penting perjumpaan OMK itu dan mengadakan acara Diocese Youth Day. Maka berangkat dari refleksi acara WYD dan AYD diadakanlah IYD.

iyd

Pertemuan OMK se-Indonesia memiliki arti penting. OMK merupakan kekuatan pendorong (driving force) pada masa sekarang maupun masa datang bagi Gereja dan masyarakat yang memerlukan wawasan nasional. Pertemuan tersebut merupakan peluang untuk membuka perspektif OMK agar menjadi lebih luas daripada lingkup paroki dan keuskupan. Pertemuan itu pun diharapkan mempertebal solidaritas, jejaring dan kesatuan iman katolik bagi OMK seluruh Indonesia yang meliputi 37 Keuskupan di wilayah Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) plus 1 Keuskupan dari Malaysia.

Indonesian Youth Day 2016 diselenggarakan di Manado tanggal 1-6 Oktober 2016. Tema: “OMK: Sukacita Injil di Tengah Masyarakat Indonesia yg Majemuk”. Dengan pendasaran dari perikop: “Pergilah, Jadikanlah Semua Bangsa MuridKu” (Matius 28: 19).

Paroki kita mengirimkan 4 OMK yang tergabung dalam keuskupan Padang, tiba di Manado tanggal 29 Sept 2016 disambut oleh Paroki St. Fransiskus Xaverius Mokupa, paroki dimana para kontingen Keuskupan Padang akan tinggal.  Seluruh peserta yang berjumlah kurang lebih 3.000 orang datang dari 38 Keuskupan segera menyebar ke semua paroki dan stasi yang ada di Keuskupan Manado dan tinggal bersama umat (Live in). Live in atau hidup di tengah masyarakat menjadi salah satu acara pokok dimulai sejak peserta tiba di Manado.

Foto: Tim Dokumantasi IYD 2016

Foto: Tim Dokumentasi IYD 2016

Acara yang digelar beragam, mulai dari Kegiatan Live in, Misa Pembukaan dimana Salib-salib dari seluruh Keuskupan diantar ke muka Altar, NgoPi (Ngobrol Pintar) yang mana para peserta diacak untuk mengikuti beberapa sesi dengan pemateri-pemateri seperti  Mgr. Ignatius Soeharyo, uskup Keuskupan Agung Jakarta, Uskup Keuskupan Amboina – Maluku Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC, uskup Keuskupan Agung Jakarta, Mgr. Josef Suwatan MSC, RD Guido Suprapto, Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawam KWI, Uskup Keuskupan Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, dan Uskup Keuskupan Manado sebagai tuan rumah. Selain para Uskup, ada juga kaum awam sebagai nara sumber seperti Bpk. Agus Sriyono yang adalah Duta Besar Indonesia untuk Tahta Suci Vatikan, VJ Daniel Manantha, Reiner Rahardja, Citra Skolastika, dan Stefanus Rizal Rejadi dari Mindset Academy Indonesia.  Acara dilengkapi juga dengan sharing kesaksian Kerahiman, Pawai Budaya, Jalan salib, Pertobatan yang dihantar oleh kontemplasi Taize, Misa Penutupan, dan Malam Kebersamaan sekaligus Malam Budaya yang menampilkan budaya masing-masing keuskupan.

Dalam acara live in (tanggal 1-4 Okt), dimana kontingen ditempatkan dalam keluarga-keluarga, mereka melakukan kegiatan-kegiatan bersama umat, seperti pendampingan anak- anak, memimpin rosario, latihan koor, musik dan tari hingga pergi ke kebun bersama orangtua angkat.  Orang muda katolik dalam kegiatan ini diajak untuk menyadari akan kekayaan yang dapat dibagikan dalam hidup bersama sehingga dengan begitu sukacita akan lahir dari kesadaran akan apa yang mereka miliki, demikian yang disampaikan oleh Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Weetebula, Romo Willy Ngongo, CSsr. Latar belakang masyarakat Indonesia yang heterogen dengan suku, budaya, bahasa, dan agama yang tak sama, kegiatan live in menjadi tantangan bagi semua peserta, khususnya mereka yang live in di rumah umat beragama lain selain Katolik. “Ya, live in menjadi kesempatan bagi omk untuk dapat merasakan langsung, bergaul, berinteraksi dan berefleksi,” ujar Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), RD. Antonius Haryanto.

Tanggal 4 Oktober, sejak pukul 14.00 WITA, Satu persatu utusan kontingen datang membawa atribut khas daerah masing-masing. Seperti misalnya Keuskupan Agung Semarang dengan kekhasan busana kebaya dan sanggul. Keuskupan Manado dengan pakaian perang, Keuskupan Agats lengkap dengan pakaian koteka dan suli. Sementara Keuskupan Agung Kupang dengan pakain adat Rote.

Setelah menyemut di lapangan Koni Manado, giliran stadion Klabat, Kota Manado. Orang muda Katolik seluruh indonesia yang datang mulai dari sabang sampai merauke tumplek blek di Stadion Klabat. Teriakan, yel-yel, nyayian menggema ke seluruh stadion. Perjumpaan orang muda katolik atau IYD ini untuk memeriahkan acara puncak pembukaan IYD ke-2.

Foto: Internet

Foto: Internet

 INDONESIAN YOUTH DAY ke-2 Manado resmi dibuka. Sebelum seremoni pembukaan, peserta IYD 2016 melakukan defile dari Lapangan KONI Manado yang dilepas oleh Walikota Manado menuju Stadion Klabat Manado, tempat pelaksanaana cara pembukaan. Masing – masing peserta termasuk peninjau yakni OMK Kinabalu Malaysia tampil dengan kekhasannya masing – masing saat berdefile. Selain berpenampilan dengan pakaian adat, sejumlah tarian daerah diperagakan.

Acara pembukaan diawali dengan perayaan ekaristi yang dipimpin 3 uskup, Uskup Keuskupan Manado, Mgr Joseph Suwatan, Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharya, dan Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prabdi. Di hadapan ribuan Orang Muda Katolik se-Indonesia yang memenuhi Stadion Klabat, Manado, Mgr.Suharyo dalam homilinya mengajak OMK untuk berdamai dengan Tuhan, sesama, diri sendiri dan alam semesta. “Damai sejati akan dapat diterima jika orang mau berbagi kehidupan,”tegas Ketua Konferensi Waligereja Indonesia. Upacara pembukaan IYD 2016 di hadiri 24 uskup dan duta besar vatikan untuk Indonesia Mgr Antonio Guido Filipazzi, Wali Kota Manado, Wali Kota Sanggau dan beberapa pejabat penting lainnya.

Acara NgoPi yang merupakan singkatan dari Ngobrol Pintar tak kalah menarik, dengan berbagai topik yang disajikan para nara sumber. Beberapa tema yang diangkat dalam acara Ngopi ini yaitu: Tantangan Lingkungan Hidup, OMK Memahami Kesetaraan Gender dan HAM, OMK dan Keberpihakan kepada Kaum Marginal, OMK dan Keterlibatan Politik, OMK Mewartakan Evangelii Gaudium (Sukacita Injil), Perjumpaan OMK dalam Teknologi Informasi, OMK Melawan Narkoba, dan Aku Bangga Menjadi Katolik.

Selain tema di atas juga diangkat tema: OMK dan Panggilan Berwirausaha (Berkembang Lewat Bisnis), PMK dan Hidup Suci / Santo-Santa yang Turun ke Jalan-jalan. OMK Berdialog Agama / Kepercayaan Lain, OMK dan Budaya dalam Era Globalisasi / MEA, OMK Mendengar Panggilan Hidup Selibat / Berkeluarga, OMK dan Moralitas Hidup, serta OMK dan Katekese Orang Muda.

Dalam tema “Sukacita Injil” (Evangelii Gaudium) para OMK diajak untuk membuat kebisingan dengan tiga syarat yaitu kebaikan (bonum), Kebenaran (verum) dan keindahan (pulchrum) disampaikan oleh Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC.

SALAH satu sesi acara yang menarik adalah kisah sejumlah OMK yang berbagi kisah iman dalam hidup mereka. Satu per satu mereka bicara tentang penggalan hidup mereka yang ‘kelam’ namun kemudian ‘tercerahkan’ kepada ribuan audiens peserta IYD yang memenuhi gedung baru Emmanuel Amphitheatre – Catholic Youth Centre di Lotta.

Ada seorang OMK yang bersaksi kurang lebih demikian. Masa lalu hidupnya sungguh berlangsung di dunia serba ‘hitam’ dan ‘kotor’. “Semua jenis kejahatan pernah saya lakukan,” kata pemuda ini.

Lalu, pengalaman OMK lain bicara tentang bagaimana dia bisa bangkit dari keterpurukan. Lainnya lagi bicara tentang kisah sedih yang dialami pemuda ini karena di keluarganya sungguh tidak ada kedamaian. Belum lagi, kata sang pemuda ini, ayah-ibunya selalu bertengkar tiada putus dan sekali waktu –kata dia—“Seluruh isi rumah menjadi porak poranda karena semua benda berterbangan dan menjadi pecah tidak karuan di sana-sini.”

Yang menarik disimak, demikian pesan akhir pemuda pemberi kisah kesaksian iman ini, dia tidak memendam perasaan dendam atau sakit hati kepada kedua orangtua mereka. Dalam kandang doa, dia terus mendoakan kedua orangtuanya.

Rabu  tanggal 5 Oktober 2016 pukul empat sore dimulai dengan jalan salib di lokasi penginapan masing-masing. Setelah selesai jalan salib, mereka menuju lokasi  utama untuk mengikuti Pertobatan – Doa Taizé dan Sakramen Pengakuan dosa.

Datang dari Taizé –tidak jauh dari Lyons di kawasan Perancis selatan– dua orang bruder anggota Komunitas Doa Taizé datang mengunjungi Manado untuk memfasilitasi suasana doa menuju pertobatan.  Br. Ghislain berasal dari Belgia di kawasan Wallonie, wilayah Belgia berbahasa Perancis. Sementara, Br. Francesco seratus persen wong Jowo keturunan Tionghoa, asli dari Sagan, Paroki St. Antonius Kotabaru, Yogyakarta.

Mereka datang di arena Indonesian Youth Day ke-2 di Manado ini atas undangan Romo Terry Ponomban, direktur program acara IYD. Romo Terry adalah imam praja senior Keuskupan Manado yang telah ‘makan banyak garam’ di bidang katekese,  sejak menjadi Direktur Karya Kepausan Indonesia (KKI) KWI era tahun 2000-an.

Ibadat Tobat yang dipersembahkan oleh Pastor Ventje Runtulalo Pr dan mengambil bacaan Injil tentang  Anak yang Hilang dari Luk 15: 11 – 32. Judul itu diberikan karena kisahnya menceritakan seorang anak yang pergi meninggalkan rumah entah ke mana, sehingga dianggap hilang; namun kemudian ia kembali lagi ke rumah.

Kurang lebih sejam kemudian, puluhan imam yang menjadi pendamping misi OMK di  forum Indonesian Youth Day 2016 di Manado ini sudah bersiap diri untuk melayani Sakramen Rekonsiliasi.  Di situ sudah disiapkan di beberapa titik semua sudut strategis ampiteater kursi-kursi plastik untuk pelayanan sakramen ini.

Foto : Tim Dokumentasi IYD 2016

Foto : Tim Dokumentasi IYD 2016

Sudah selama 1,5 jam berlalu, namun  masih saja puluhan atau mungkin saja ratusan partisipan IYD masih memanfaatkan momentum langka ‘pengakuan dosa massal’ ini sebagai peristiwa penuh rahmat dimana orang berdamai dengan diri sendiri, dengan Tuhan, sesama dan lingkungan sekitarnya. Ketika mengitari seluruh sudut amphitheater menjelang pergantian malam itu, masih ada beberapa imam melayani orang datang untuk ‘confessio’ menerima Sakramen Rekonsiliasi.

Menjelang lewat tengah malam pergantian hari, Romo Terry Ponombang datang memimpin adorasi kepada Sakramen Mahakudus. Sudah tidak banyak partisipan IYD 2016 mampu mengikuti program terakhir berupa ibadat pentahtaan hosti di monstrans besar. Sudah pastilah, banyak orang telanjut tepar kecapaian karena mengikuti program acara yang begitu padat sejak pagi hingga jelang pergantian hari di tengah malam.

Kamis, 6 Okt 2016 pagi, sukacita Orang Muda Katolik begitu terasa Dari gedung Emannuel Amphytheater Catholic Center, Lotta Manado, dimana mereka mengawali hari terakhir IYD 2016 dengan menyanyikan lagu-lagu sukacita.

Foto Dok KWI

Foto Dok KWI

“Yesus Kekasih Jiwaku”, lagu yang tengah populer di kalangan OMK Indonesia saat ini, mengawali peziarahan mereka di hari terakhir ini. Meski hari masih pagi, Orang-orang Muda ini sudah memperlihatkan semangat mereka dengan ikut bernyanyi dan menari.

Mereka juga meneriakan yel-yel  IYD 2016, menyanyikan lagu ‘kebangsaan, IYD 2016. Secara bergantian, setiap kontingen OMK diminta oleh MC untuk membawakan animasi. Tanpa berlama-lama, kontingen yang telah ditunjuk langsung bergegas menuju podium Amphytheater untuk membawa animasi mereka.

Gema sukacita semakin terasa, ketika kontingen dari keuskupan Atambua yang dipanggil untuk membawakan animasi, merekuest lagu “Gemu Famire”, lagu joget yang tengah digandrungi oleh seluruh masyarakat Indonesia. Lagu diputar, dan seluruh anak muda larut dalam sukacita. Mereka sungguh-sungguh merasakan sukacita Injil sesuai dengan tema perayaan IYD 2016:”Orang Muda Katolik Sukacita Injil di Tengah Masyarakat Indonesia yang Majemuk. Tapi ini baru awal saja.

Usai tempik sorak-sorai menyambut sesi gembira bersama beberapa tamu hiburan dari Jakarta, kali ini OMK di forum Indonesian Youth Day ke-2 di Manado langsung ‘dihibur’ oleh Menpora RI Imam Nahrawi. Di depan ribuan peserta IYD, tokoh muda NU ini banyak menawarkan canda tawa melalui dialog-dialog ringan yang intinya meyakinkan OMK agar di kemudian hari mampu menjadi ‘orang-orang besar’  yang berguna bagi masyarakat. “Saatnya kita untuk menyelamatan budaya dan tradisi kita” kata beliau, “Hargailah perbedaan sebab dengan perbedaan hidupmu bahagia.”

Perayaan Ekaristi penutupan Indonesian Youth Day (IYD) 2016 di Amphitheater Lotta Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara, dipersembahkan oleh Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prabdi yang juga adalah Ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia sebagai konselebran  utama bersama konselebran Mgr. Joseph Th. Suwatan MSC dan Mgr. Anton Bunjamin Subianto OSC. Beliau  – Mgr. Pius Riana Prabdi-  menyampaikan bahwa pertemuan Orang Muda Katolik (OMK) se-Indonesia di Keuskupan Manado ini yakni untuk belajar bersama memahami tugas perutusan para Omk, yakni membawa sukacita injil dengan semangat pembaharuan diri terus menerus agar menjadi manusia murni, dari manusia lama menjadi manusia baru, menjadi OMK yang hidup, pembawa sukacita dan damai, menjadi harapan gereja dan masyarakat serta siap diutus.

Sebanyak 18 Uskup dari sejumlah Keuskupan di Indonesia hadir mengikuti perayaan ekaristi menutup resmi secara liturgikan hajatan iman OMK ini. Mereka adalah Mgr. Ignatius Suharyo (KAJ), Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan (Malang), Mgr. Hubertus Leteng (Ruteng), Mgr. Datus Lega (Manokwari-Sorong), Mgr. AM Sutrisnaatmaka MSF (Palangkaraya), Mgr. Nicolaus Adiseputro MSC (Merauke), Mgr. Dominikus Saku (Atambua), Mgr. Anton Bunjamin Subianto (Bandung), Mgr. Agustinus Agung (Pontianak sekaligus Administrator Apostolik Keuskupan Sintang), Mgr. Yohanes Harun Yuwono (Lampung sekaligus Administrator Apostolik Keuskupan Pangkalpinang), Mgr. John Philip Saklil (Timika), Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC (Amboina), Mgr. Petrus Boddeng Timang (Banjarmasin), Mgr. Harjosusanta MSF (Samarinda sekaligus Administrator Apostolik Keuskupan Tanjung Selor), Mgr. Giulio Mecuccini (Sanggau), Mgr. Ludovicus Simanullang OFMCap (Sibolga, Sumut), dan Mgr. Paskalis Bruno Syukur (Bogor).

Suasana misa begitu kusyuk. Alunan lagu yang dibawakan paduan suara membuat suasana semakin hikmat. Saat penerimaan Komuni, para uskup, pastor membaur di tempat duduk peserta sembari membagikan komuni.

Hadir dalam Misa Penutupan Bupati Minahasa Drs Jantje Wowiling Sajow MSi.

Setelah Misa penutupan, tibalah saat penutupan berupa panggung toleransi dan kerukunan. Panggung ini dibuka dengan ikrar, janji dan komitmen yang diwakili oleh masing-masing kontingen keuskupan yaitu bahwa mereka akan kembali ke keuskupan masing-masing dengan janji akan membagikan dan mewartakan sukacita injili di tengah masyarakat yang majemuk.

Titik puncaknya adalah pentas seni. Keukupan kita, keuskupan Padang menampilkan tari payung, salah satu tarian adat Minangkabau.

Foto dari Internet

Foto dari Internet

Seusai pentas seni, berkat penutup diberikan melalui Mgr. Pius Riana Prabdi, dan untuk terakhir kalinya secara bersama, seluruh kontingen menyanyikan Theme Song IYD Manado 2016.

Seluruh kegiatan ini mendapat penjagaan dan dukungan penuh dari Kodim 1309 Manado sejak awal mula persiapan sampai pasca acara. Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga membantu penggunaan fasilitas pemerintah. Khususnya di lapangan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan stadion Klabat.

Makase So Datang di Manado!!! Salam OMK Sukacita Injil. Ayoo.. Ayo.. Jiwa Muda!!!

Yang tadinya Bawa Perasaan - sekalrang jadikan Bawa Perubahan. Foto: Tim Dokumentasi IYD

Yang tadinya Bawa Perasaan (diri sendiri) – sekarang jadikan Bawa Perubahan (yang baik bagi sesama dan masyarakat). Foto: Tim Dokumentasi IYD

Catatan:

Ingat Ikrarnya, yaa… bahwa pada saat kembali ke keuskupan masing-masing – keuskupan Padang dan terutama ke Paroki St Paulus Pekanbaru yang telah mengirimkan empat peserta – untuk membagikan dan mewartakan sukacita injili di tengah masyarakat yang majemuk, bisa dimulai dari lingkup terdekat, yaitu sesama OMK sendiri, paroki, lanjut ke lingkungan sekitar dan masyarakat luas. Janji yang dibacakan dan disaksikan oleh 3000-an OMK, belasan uskup, pastor, suster, bahkan sampai ke Vatikan, dan dipublikasikan secara luas di media sosial. Janji. Sesuatu yang harus ditepati.

— Bersandarlah kepada Tuhan, SUmber Kekuatan kita —

~ Renata Dewan Paroki Harian – dirangkum dari banyak sekali sumber artikel dan video di MedSos (KWI, Pena Katolik, Situs IYD 2016, Tribun Manado, You Tube, Instagram dan Facebook)

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s