Maria – Bunda Kerahiman

foto: internet

foto: internet

Ingatlah, O Maria (Doa St. Bernardus)

Ingatlah, o Perawan Maria yang amat murah hati,
bahwa belum pernah terdengar,
seorang pun yang mencari perlindunganmu,
yang mohon pertolonganmu,
atau mengharapkan bantuanmu,
terlantar.

Tergerak oleh keyakinan ini,
aku berlari kepadamu,
Perawan segala perawan, bundaku!.

Kepadamulah aku datang,
aku pendosa, seraya mengaduh, menghadap hadiratmu.

Bunda Sang Sabda,
Jangan menolak permohonanku,
melainkan karena kemurahan hatimu,
dengarkan dan kabulkanlah. Amin.

(Terjemahan Alm. Romo Anicetus Djitapandriya SJ)

Berbagai Gelar

Mei, bulan doa dan refleksi tentang  St. Maria. Dalam litani, St. Maria disapa dengan berbagai gelar. Tetapi, di Indonesia, gelar “Bunda Kerahiman” belum menjadi bagian litani. Padahal, St. Yohanes Paulus II sudah membahas gelar itu dalam ensikliknya “Kaya dengan Kerahiman” (Dives in Misericordia) pada tahun 1980!

Syukurlah, Paus Fransiskus telah memaklumkan Tahun Yubileum Kerahiman Allah Luar Biasa, sehingga gelar “Bunda Kerahiman” mulai diperhatikan, bahkan semakin sering dijadikan tema pertemuan umat Katolik.

Sesungguhnya, yang Maharahim hanyalah Allah. Kerahiman menjadi jati diri-Nya, identitas yang melekat pada-Nya dan tak dapat dipisahkan dari-Nya. Allah telah memutuskan untuk menciptakan manusia dan mengasihinya dengan kasih yang tak terbayangkan. Biarpun manusia berontak terhadap diri-Nya, mengkhianati-Nya, bahkan mengutuki-Nya, Allah tak pernah berhenti mengasihi manusia, buah “rahim”-Nya. Sebab dalam diri Allah tak ada tempat bagi kebencian; yang sesungguhnya sama dengan kematian.

Jika St. Maria digelari “Bunda Kerahiman”, artinya sama dengan berkata, “Dalam diri Maria ada kasih yang mirip dengan kasih Allah sendiri; hatinya penuh belas kasihan, terutama terhadap manusia yang menolak Allah dan melarikan diri dari rahmat-Nya.”

Sebab belas kasihan, kemurahan hati adalah suatu sikap tetap untuk menangani kemalangan manusia dengan penuh kasih dan tanpa perhitungan serta kepentingan sendiri. Apakah Bunda Maria memiliki sikap demikian? Inilah pusat perhatian renungan ini.

Sama seperti setiap manusia, St. Maria pun mengalami perkembangan bertahap dalam hidup penuh belas kasihan. Secara sederhana, dapat disebut tiga tahap perkembangannya. Yang menarik, ketiga tahap ini tercakup dalam doa rosario. Misteri suka mengacu pada tahap I. Misteri terang dan duka berkaitan dengan tahap II. Misteri Mulia berkaitan dengan tahap III.

Tahap Pertama, Maria sebagai Bunda Allah-Manusia

Maria mengalami kerahiman Allah secara langsung. Pada saat ia terkandung dalam rahim ibunya, ia dibebaskan dari segala noda. Pelaku keajaiban ini ialah Allah yang Maharahim. Ia melakukannya sebab Ia memilih Maria sebagai calon ibu Putra-Nya. Keajaiban ini dipermanenkan dalam gelar: Immaculata, tak bernoda (dosa). Karunia kerahiman ilahi semacam ini tidak dialami siapa pun juga sebelum dan sesudahnya. Dan, kejadian yang tak dapat dilacak secara fisik ini, menjadi awal segala misteri yang berkaitan dengan Bunda Maria.

Immaculata adalah jati diri Maria yang sebenarnya. Ia tak bernoda bukan karena ia sendiri berjasa, melainkan karena ia ditebus oleh Putranya sendiri jauh sebelum ia dilahirkan. Dalam dirinya, kodrat manusia yang asli, yang kemudian dirusak oleh dosa Adam-Hawa, dipulihkan kembali. Maria benar-benar Hawa baru, tetapi Hawa yang tak pernah berdosa! Allah menghendaki adanya manusia yang demikian! Allah selalu siap menjadikan manusia “tak bernoda”. Tetapi, karena manusia tak bisa hidup tanpa berbuat dosa, maka Allah siap menghapus dosanya lewat sakramen pemberian-Nya sendiri, yaitu baptis. Tentu saja, baptisan tersedia bagi orang yang sudah tercemar. Namun intinya, penghapusan segala dosa. Justru inilah inti “Immaculata”. Boleh dikatakan bahwa pada saat terkandung, Maria dibaptis oleh Allah-Kasih yang Maharahim.

Dalam tahap pertamanya, Maria dilimpahi karunia. Para malaikat pun tidak memiliki rahmat sebesar Maria. Inilah sebabnya, Malaikat Gabriel di kemudian hari menyapanya, “Hai engkau yang dikaruniai”, hai Maria yang penuh rahmat. Tetapi, sebenarnya, Bunda Maria menerima kelimpahan rahmat itu bukan bagi dirinya sendiri, melainkan bagi seluruh umat manusia. Allah merencanakannya sebagai Bunda Kerahiman bagi seantero dunia.

Pada saat Maria didatangi Malaikat Gabriel, ia disadarkan bahwa ia kekal dipilih Allah untuk misi yang melampaui pemahaman dan kemampuan manusia. Pada waktu itu Maria bukan anak lagi. Ia sudah remaja yang mampu menjadi ibu. Ia kiranya tidak terlalu mengerti kata-kata Malaikat tentang anak yang akan dikandungnya, seandainya ia menerima tawaran Allah. Namun, ia menangkap dengan jelas apa yang diminta darinya. Maka, ia bertanya dengan berani, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami.” Pertanyaan ini menunjukkan kedewasaan spiritual yang dibutuhkan manusia yang siap mempercayakan dirinya kepada Tuhan. Maria memang siap. Jawabannya yang tegas seindah melodi surgawi, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu!” Saat inilah – dengan menggunakan bahasa gerejani – Maria menerima Sakramen Krisma, sakramen pengukuhan sebagai manusia yang siap dibimbing Roh Kudus.

Mulai saat itu, Maria menerima rahmat kerahiman Allah dengan sepenuh hati. Ia bersukacita luar biasa bukan karena ia menganggap dirinya beruntung, tetapi karena bangsanya begitu dikasihi Allah. Rahmat kerahiman-Nya “turun-temurun”.

St. Yohanes Paulus II  dalam ensikliknya, berkali-kali menyebut rumus Maria ini demi menegaskan betapa Allah tidak pernah berubah. Ia Maharahim “turun-temurun” hingga kini dan selamanya, sehingga kerahiman-Nya tidak pernah diragukan. Terlebih, karena Maria meneruskan rahmat itu juga “turun-temurun”. Tetapi, Maria tahu betul bahwa yang paling cepat menikmati rahmat itu bukan mereka yang berkuasa, yang kaya, yang menindas, melainkan mereka yang rendah hati, yang tak punya apa-apa, yang terbelenggu oleh dosa, dan karena itu menantikan pertolongan Sang Maharahim.

Maria selalu menyimpan di dalam hati semua kata orang mengenai Yesus, anaknya. Dan, ia merenungkannya. Ia merenungkan kata Elisabet, para gembala sekitar Betlehem, lalu kata-kata Simeon, Hana…. Tetapi, yang paling diperhatikannya ialah perbuatan dan perkataan Yesus sendiri. Bertahun-tahun lamanya, selama Yesus ada di Nazaret, ia menatap Yesus, dan belajar dari Dia apakah belas kasihan itu. Biarpun ia adalah ibu-Nya, ia justru banyak belajar dari Anaknya! Bukankah kepandaian dan kemantapan rohani Yesus sudah dialami oleh para ahli Yahudi yang berbincang-bincang dengan-Nya ketika Ia berusia muda sekali?

Maria tumbuh dalam belas kasih-Nya secepat kilat selama Yesus berkarya di hadapan umum. Ia sudah tahu hati Yesus yang penuh kerahiman. Justru karena itu, langsung pada awal karya Yesus, ia memberanikan diri “meniru” anaknya dalam belas kasihan. Ia berkata kepada-Nya, “Mereka kehabisan anggur!” Yesus tampak terkejut. Anehnya, Ia menuruti ibunya yang tergerak oleh belas kasihan. Yesus memang tidak mampu menolak untuk menolong orang yang malang. Tetapi, Yesus menolong sedemikian rupa sehingga tak seorang pun menangkap perubahan air menjadi anggur sebagai mukjizat. Sebab mukjizat adalah sesuatu yang sensasional, padahal Yesus datang untuk sesuatu yang perlu menggerakkan hati, yaitu belas kasihan.

Tidak salah, dikatakan bahwa tiga tahun karya Yesus di hadapan umum menjadi “Sekolah Kerahiman” bagi Maria. Menurut Injil Yohanes (2:12), Maria mendampingi Yesus sepanjang karya-Nya. Artinya, ia menyaksikan dengan mata sendiri bahwa seluruh hidup, semua perkataan, semua perbuatan Yesus sesungguhnyalah karya kerahiman. Ia selalu menghidupkan, menguatkan, memberi harapan, mengangkat, berperhatian… Ia menghidupkan yang mati. Bukankah semuanya itu menjadi renungan harian Maria? Bukankah hatinya semakin terbentuk sebagai insan yang penuh belas kasihan?

Tahap Kedua, Maria, Bunda Yesus Sang Maharahim

Hidup Maria sebagai Bunda Kerahiman dimulai pada saat Yesus mulai dibenci dan dimaklumkan sebagai orang yang perlu ditangkap. Yesus yang penuh kerahiman yang tak terbayangkan, mulai dimusuhi bahkan dibenci oleh orang-orang yang dianggap paling beragama! Dan, sama seperti kebaikan bergelombang menyebar ke berbagai sudut, demikian pun halnya dengan kejahatan. Iblis tak pernah beristirahat. Maka, racunnya menyebar ke mana-mana. Yang kena racunnya ialah para pengikut Yesus sendiri! Yudas mengkhianati gurunya. Petrus menyangkal Yesus. Semua rasul, kecuali seorang saja, menyembunyikan diri supaya jangan ditangkap.

Maria pasti mendampingi Yesus di jalan sengsara-Nya. Ia menyaksikan Barabas dibebaskan begitu saja. Ia tahu Yesus disiksa, dipaksa memikul salib berat, disalibkan, dilucuti pakaian-Nya. Dengan menatap wajah anaknya saja, Maria tahu bahwa kerahiman bercahaya di dalam diri Yesus bagaikan matahari yang paling cemerlang; justru pada saat Ia diperlakukan bukan sebagai manusia. Kecemerlangan kerahiman itu terasa dalam sikap Yesus di salib, terutama dalam doanya, “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan!” Inilah doa Yesus, dan ini pula doa Maria, ibunya. Maka, tanpa ragu, Yesus mempercayakan ibu-Nya kepada rasul terkasih. Setelah memberi semuanya, Yesus memberikan ibunya pula. Ibu yang sangat dicintai-Nya.

Kasih yang tidak mengenal penderitaan tidak pernah bisa menjadi kerahiman. Kasih yang tidak peduli terhadap sesama yang malang, bukan kasih melainkan “monster”.  Syukurlah, kasih Allah selalu otentik, murni, tanpa kepentingan sendiri. Ia tidak pernah bosan menerima pendosa. Ia justru memfavoritkan orang berdosa, sebab mereka paling cepat mampu menyadari kemalangannya sehingga terbuka terhadap kasih.

Maria, yang hadir di Kalvari hingga saat terakhir, sejak menjadi Immaculata, paling cepat mengerti kemalangan manusia dan paling cepat belajar menjadi manusia berbelas kasih.

Setelah Yesus naik ke surga, peranan Bunda Maria sebagai insan yang berbelas kasih mendapat warna dan ciri baru: Ia menjadi Bunda Gereja yang berbelas kasih.

Tahap Ketiga, Maria, Bunda Gereja yang Berbelas Kasih.

St. Yohanes Paulus II sangat mencintai Bunda Maria. Dalam ensiklik yang disebut tadi, ia berbicara tentang dua cara Maria menjalankan tugasnya sebagai Bunda Kerahiman. Yang pertama ialah cara sederhana, yaitu: ia menerima, menampung, lalu meneruskan doa-doa yang ditujukan kepadanya oleh siapa pun juga.  Ia menjadi perantara, juru bicara, pembela manusia di hadapan putranya, Yesus. Pengantaraan yang sederhana ini, yang tak pernah setingkat dengan pengantaraan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dengan Bapa serta Roh Kudus, diyakini adanya oleh Gereja berabad-abad lamanya. Seandainya tidak demikian, maka tak akan ada doa yang begitu dicintai semua manusia di bumi ini, “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati”.

Cara kedua, Maria menjalankan tugasnya sebagai Bunda Kerahiman atas inisiatifnya sendiri, walaupun inisiatif itu tentu sepengetahuan Tuhan. Inisiatif itu berupa “kunjungan” Maria ke berbagai tempat di dunia ini. Biasanya, kunjungan itu diberi nama “penampakan”. Dari sejarah diketahui bahwa Maria menampakkan dirinya sangat sering di sepanjang masa adanya Gereja. Di Fatima, LaSalette, Lourdes, dan di banyak tempat lain.… Ia selalu minta perhatian pada hal-hal yang sama, yaitu: bertobatlah, berdoalah, berpuasalah, bacalah Sabda Tuhan! Ia tidak pernah minta apa pun yang tidak termasuk “paket” yang dia sebut di Kana Galilea, yaitu: “Apa yang dikatakan (oleh Yesus) kepadamu, buatlah itu!”

Maria bukan pimpinan Gereja. Tetapi, dalam belas kasihannya, ia senang memperingatkan para pengikut Yesus akan datangnya bahaya yang harus dihadapi dalam waktu yang tidak lama lagi. Ia memperingatkan akan Perang Dunia I dan II, dan lewat Buku Harian Faustina, ia mendesak umat manusia untuk secepatnya bernaung di bawah kerahiman Allah sebab waktu kedatangan Yesus yang definitif tidak lama lagi.

Pengantaraan Bunda Maria sungguh sesuatu yang solid bagaikan batu karang. Sebab Marialah pengikut Yesus yang pertama. Dia paling mengenal Yesus. Sampai sekarang, ia paling dekat dengan Yesus. Ia memang manusia pilihan, tetapi ia tidak pernah menyombongkannya. Ia menyadari apa saja yang diberi kepadanya, justru merupakan tugas. Ia menerobos paling dalam ke dalam Hati Allah yang Maharahim. Maka, ia berpikir, berkata, bertindak, dan hidup seperti Yesus. Di surga, ia memuliakan kerahiman Allah, tetapi di bumi ia menjadi rasul kerahiman.

Sumber

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s