Penerimaan Sakramen Krisma Wil III – 2016 di Stasi St Rafael PT Johan

Hidup ini indah mengapa kita harus memiliki RASA MINDER

Memang hidup ini indah!!! Kenapa kita harus memiliki rasa MINDER. Contohnya saja perjalanan kami untuk pergi ke Stasi Santo Rafael PT.Johan Sentosa Wilayah III dari Paroki Santo Paulus Pekanbaru. Perjalanan disaat libur saat saudara-saudara Muslim sedang merayakan Hari Raya Kurban (Idul Adha 1437 H) Hari libur ini membuat rombongan Bapa Uskup ikut merayakan Misa penerimaan Sakramen Krisma bertambah. Tentu hal ini membuat asyik di perjalanan, apalagi bertemu dengan saudara/ri dari stasi lain yang bersama-sama menuju PT.Johan.
Sesampai di depan Gereja umat sudah banyak berkumpul dan ibu-ibu dari Stasi PT.Johan tampak cantik-cantik dengan menggunakan kain kebaya mereka menyambut Bapak Uskup dan rombongan DPP dengan diiringgi music. Bapak Uskup mendapatkan topi kehormatan yang terbuat dari kain Suku karo berwarna merah, sedangkan Pastor Julius,SX (Lius) dan Pastor Pancani, SX. mendapatkan kain yang sama tetapi dibuat di pundak. Hanya karena Pastor Pancani masih ada keperluan maka diwakilkan oleh Bapak Thomas Ginting. Bapak Uskup dan rombongan menyalami semua umat yang menjadi pagar ayu dan pagar perkasa yang dengan semangat menyambut rombongan Bapak Uskup dan DiPP.

Misa dimulai pukul 10.00 WIB, dengan diiringi lagu dan koor dari Stasi Bukit Payung, mereka nampak begitu serasi dengan seragam batik berwarna hijau, membuat suasana tampak begitu indah. Dalam kotbah Bapak Uskup bercerita tentang pengalaman tahun 60 an saat beliau masih sebagai seorang frater yang sedang bertugas di Paroki dan bertemu dengan seorang bapak yang saat ditanyak beberapa hal oleh frater muda ini tapi di jawab lupa. Hal tersebut terjadi karena bapak itu merasa mider akan keberadaan dirinya yang pada saat itu sebagai seorang minoritas. Maka pesan Bapak uskup untuk tidak minder kepada semua umat yang berada di wilayah Kampar walaupun secara jumlah minoritas tetapi soal jumlah tidaklah perlu membuat umat merasa minder karena minder dapat menghalangi untuk berbuat sesuatu yang baik.

Bapak Uskup Mgr. Situmorang (begitu beliau sering disebutkan umat) juga berpesan untuk tidak bersikap atau berespon yang berlebihan dalam menggapi seperti peristiwa di Gereja Santo Yosef Jl. Mansyur Medan (adanya BOM tetapi gagal meledak, dan akhirnya pembawa BOM bunuh diri itu menyerang langsung Pastor Pandiangan, tetapi melihat gelagat yang tidak baik itu pastor langsung menghindar, dan syukurlah pastor tidak apa-apa hanya ada luka sedikit kemungkinan karena vas bunga) misalnya “kita harus menyiapkan alat detector apakah ada BOM, atau harus ada yang jaga malam atau jaga 24 jam” Bapak Uskup mengharapkan tidak perlu berespon yang berlebihan, tetapi tetap waspada dan kita menjaga gereja bersama-sama dengan umat beragama lain. Maka untuk itu kita harus menjalin relasi yang baik kepada umat beragama lain.

Selain itu kita juga harus percaya kepada Tuhan karena Tuhan telah mengalahkan dunia, Tuhan yang empunya kita maka Ia juga yang akan memelihara dan akan melindungi kita. Dan yang harus membuat kita minder adalah kalau kita tidak memelihara hidup kita sebagai milik Tuhan. Misaknya sikap cemburu yanag dimiliki dan juga ketertutupan kita dalam menyelesaikan masalah, hal itu boleh menjadi alasan membuat kita minder. Dan yang perlu untuk kita kembangkan dan usahakan adalah membuat diri menjadi berkualitas dalam kehidupan kita baik di tempat kerja, di masyarakat dan di mana saja. Karena yang berkualitas selalu diperhitungkan, ditiru dan dikagumi. Maka yang utama dan senantiasa perlu menjadi program hidup adalah memikirkan dan mengimani “siapakah kita untuk Tuhan dan siapakah kita untuk kehidupan ini?” Hidup kita adalah pemberian Tuhan, hidup kita adalah hidup yang ambil bagian dari Allah sendiri. Minder kalau kita tampak berusaha dalam menghadapi kehidupan dank arena tidak mengampuni. Ingatlah saat hidup ini gelap dan amburadul (kacau) Saat itu Tuhan sendiri berkorban sehabis-habisnya untuk kita.

Yesus sebagai wujud cinta Tuhan yang setia kepada kita memberikan rahmat yang berlimpah-limpah kepada kita. Rumus kehidupan kita berbeda dengan rumus pasar dimana ada rumus untung rugi. Rumus kehidupan kita adalah Tuhan memberikan diriNYA sehabis-habisnya untuk kita. Dalam Kitab Yesaya yang di ulang dalam Injil Lukas 4 : 18-19 “Roh Tuhan ada pada-KU sebab itu Dia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Setelah kotbah dilanjutkan dengan penerimaan Sakramen Krisma yang berjumlah 21 orang yaitu 12 dari Stasi Siabu dan 9 dari Stasi Danau Kota Panjang. Persiapan untuk menerima Sakramen Krisma peserta harus belajar selama kurang lebih 6 bulan atau sebanyak 16 kali pertemua. Jika peserta tidak tekun belajar maka mereka tidak diijinkan menerima Sakramen Krisma hal itulah yang dialami oleh umat dari Stasi lain, bukan karena tidak ada yang calon Krisma di sana tetapi karena mereka tidak tekun belajar. Menjadi seorang Katolik tidak boleh hanya sebagai tanda pengenal tetapi harus menjadi Katolik yang berkualitas dan militan. Maka kesetiaan untuk mengikuti pelajaran merupakan sikap kedewasaan dan sakramen Krisma merupakan Sakramen Penguatan dan pendewasaan. Dewasa berarti tidak mudah putus asa, mandiri dan tangguh.

Dalam laporan ketua wilayah menyebutkan jumlah umat yang ada di masing-masing stasi seperti di stasi PT. Johan ada 25 KK umat dan ada 6 KK yang sedang belajar katekumen (belajar calon Katolik). Stasi Salo 90 KK dengan 202 jiwa, Stasi Bukit Payung 41 KK dan ada 45 Ibu-ibu, dengan 209 jiwa, Stasi Siabu ada 91 KK dengan 344 jiwa dan Stasi Danau Kota Panjang 23 KK dan Katekumen ada 2 KK. Untuk mau masuk Katolik harus belajar dulu selama lebih kurang 1 tahun. Itulah sebabnya dikatakan menjadi seorang Katolik itu tidak mudah, orang menjadi Katolik dari yang beragama lain tidak mungkin bisa langsung diterima mereka harus belajar dulu. Maka bersyukurlah bagi kita yang sudah menjadi Katolik sejak kecil karena tidak perlu lagi belajar lama-lama seperti para katekumen, sebab jika pelajaran tidak lengkap maka bisa batal juga untuk diterima. Sering dikatakan oleh pada pemuka agama (entah Pastor atau suster atau oleh katekis) menjadi seorang Katolik harus menjadi orang yang berkualitas bukan berarti kuantitas tidak perlu. Kuantitas juga perlu tetapi tidak boleh hanya mengutamakan jumlah tanpa harus melihat kualitas. Baiklah bagi seorang yang sudah Katolik untuk tidak mempermainkan iman Katoliknya sebab jika ada seorang Katolik mungkin karena pernikahan pindah agama lain dank arena satu dan lain hal ingin kembali ke Katolik mereka harus kembali belajar terlebih dahulu.

Dalam acara ramah tamah ada tarian dari anak-anak juga tarian dari Bapak uskup, Pastor dan para Suster. Dan umat sambil menari memberikan donasi mereka dan dana yang terkumpun dari hasil menari lebih kurang lima juta. Selain mencari dana untuk keperluan altar juga acara lelang. Selain hal tersebut yang sangat indah dalam persaudaraan Katolik adalah sikap memberi hal itu dapat ditunjukkan oleh Stasi Salo dengan rela memberikan Meja Altar mereka kepada PT. Johan, yang harga Altarnya lebih kurang lima juta rupian. Panitia Pesta di PT, Johan juga berjanji akan membagikan dana yang mereka dapat untuk Stasi Danau Kota Panjang. Bapa Uskup Juga berjanji untuk membantu mencarikan dana kepada Stasi PT. Johan sebanyak 10 Juta rupiah.

Kasih adalah sikap memberi tanpa pamrih, sikap keteladanan tersebut sudah ditunjukkan oleh Bapak Uskup sendiri dalam kehidupan dia sehari-hari, bahkan disaat pesta hari ini. Mungkin anda tidak melihat tetapi saya melihat saat Bapak Uskup sedang makan (padahal ia sudah belakangan makan dibanding dengan tamu dan undangan lain termasuk DPP karena melayani permintaan umat yang ingin berphoto dan menyalaminya) beliau melihat ada seorang bapak peserta Krisma sedang berdiri di kejauhan sedang memperhatikan Bapak uskup yang sedang makan. Melihat hal tersebut Bapak Uskuppun segera berdiri dan mendekati bapak yang memperhatikan beliau itu dan bertanya kepada bapak itu “apakah sudah makan dan apakah makannya cukup?” dan bapak itu mengatakan sudah dan sudah kenyang, baru Bapak Uskup duduk kembali dan melanjutkan makan. Hal tersebut hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang Humble (rendah hati) Semoga beliau tetap menjadi teladan bagi kita dalam segala hal terutama dalam memperhatikan hal-hal kecil.

Selamat Berkunjung BapaK Uskup Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFM.Cap. kami umatmu selalu mencintai dan mendoakanmu, juga doakanlah kami selalu. Amin.

~Rosalaura Purba; Foto by Fika A Silaban

Foto-foto dapat dilihat dan diunduh di Facebook Paroki St Paulus

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s