SIAPA YANG MEMBEBASKAN SAYA?

Foto: PDKK by Helina

Foto: PDKK by Helina

Bacaan:  Rom 7:14-25

Renungan:

Di dalam perikop ini Rasul Paulus menjabarkan keadaan manusia jika tanpa iman di dalam Yesus Kristus. Roma bab 8 menjelaskan kehidupan rahmat, sedangkan bab tujuh adalah sebaliknya. Kristus datang untuk mengubah keadaan yang tak tertolong, frustasi, dan putus asa dalam kehidupan tanpa rahmat. Pengalaman dosa mengakibatkan pertanyaan ataupun masalah-masalah yang menyedihkan. Dengan rahmat, masalah- masalah ini dapat menjadi jalan untuk membuka hati kepada Kristus sebagai jawaban Tuhan, bahkan seperti wanita pendosa yang bertobat dan anak yang hilang kembali ke rumah bapanya.

Konsili Vatikan II mengajarkan pesan yang sama dengan pesan Rasul Paulus.

Akan tetapi manusia, yang diciptakan oleh Allah dalam kebenaran, sejak awal mula sejarah, atas bujukan si Jahat, telah menyalahgunakan kebebasannya. Ia memberontak melawan Allah, dan ingin mencapai tujuannya di luar Allah. Meskipun orang-orang mengenal Allah, mereka tidak memuliakan-Nya sebagai Allah; melainkan hati mereka yang bodoh diliputi kegelapan, dan mereka memilih mengabdi makhluk dari pada Sang Pencipta. Apa yang kita ketahui berkat Perwahyuan itu memang cocok dengan pengalaman sendiri. Sebab bila memeriksa batinnya sendiri manusia memang menemukan juga, bahwa ia cenderung untuk berbuat jahat, dan tenggelam dalam banyak hal-hal buruk, yang tidak mungkin berasal dari Penciptanya yang baik. Sering ia menolak mengakui Allah sebagai dasar hidupnya. Dengan demikian ia merusak keterarahannya yang sejati kepada tujuan yang terakhir, begitu pula seluruh hubungannya yang sesungguhnya dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan segenap ciptaan.

Oleh karena itu dalam batinnya manusia mengalami perpecahan. Itulah sebabnya, mengapa seluruh hidup manusia, ditinjau secara perorangan maupun secara kolektif, nampak sebagai perjuangan, itu pun perjuangan yang dramatis, antara kebaikan dan kejahatan, antara terang dan kegelapan. Bahkan manusia mendapatkan dirinya tidak mampu untuk atas kuasanya sendiri memerangi serangan-serangan kejahatan secara efektif, sehingga setiap orang merasa diri ibarat terbelenggu dengan rantai. Akan tetapi datanglah Tuhan sendiri untuk membebaskan dan meneguhkan manusia, dengan membaharuinya dari dalam, dan dengan melemparkan keluar penguasa dunia ini (lih. Yoh 12:31), yang menahan manusia dalam perbudakan dosa. Adapun dosa yang merongrong manusia sendiri dengan menghalang-halanginya untuk mencapai kepenuhannya. Dalam terang Perwahyuan itulah baik panggilan luhur maupun kemalangan mendalam, yang dialami oleh manusia, menemukan penjelasannya yang terdalam.”(Gaudium et Spes, The Church in the Modern World, 13).

Rasul Paulus tidak dapat memahami perangai-nya sendiri. Di samping meng-asingkan manusia dari Tuhan, dosa mengasingkan ia dari dirinya sendiri. Adalah keajaiban kecil bahwa hidup dialami sebagai sebuah misteri, bahwa manusia bertanya kepada Tuhan:Apakah yang harus kulakukan? Kita dapat terkagum akan pesan Injil yang secara literal menjawab inti masalah ini. Orang-orang tidak ingin dibohongi, mereka tidak ingin diberitahu bahwa segalanya baik-baik saja, ketika mereka sendiri mengetahui bahwa tidaklah demikian. Namun, mereka juga tidak ingin diberitahu bahwa hidup mereka tidak dapat dikendalikan tanpa pada saat yang sama diajarkan bagaimana untuk memperbaiki keadaan mereka. Yesus adalah jawaban Tuhan terhadap dosa dan kekacauan yang ditimbulkannya. Ia adalah pengharapan kita, untuk pemenuhan, untuk arti hidup dan untuk kedamaian.

Pertanyaan:

  1. Apakah manusia mengalami dosa dan pergumulan antara baik dan jahat karena Tuhan yang menyatakannya atau apakah Tuhan menyatakan hal itu karena hal itu benar-benar ada?
  2. Jika dosa adalah penyakit, Tuhan adalah dokternya dan Yesus Kristus adalah obat penawarnya, namun apakah resepnya?
  3. Apakah ada sebuah alasan untuk berharap ketika  orang-orang menanggapi penderitaan dengan mempertanyakan masalah- masalah yang paling hakiki, dengan mencari jabawannya? Dengan mata iman, sudahkan engkau melihat bagaimana Tuhan dapat mendatangkan sesuatu yang baik dari semua ini?
  4. Apakah hubungan antara pertanyaan- pertanyaan: Apakah yang harus kulakukan? Siapakah Yesus Kristus? dan Siapa yang akan menyelamatkan saya?
  5. Pernahkah anda mengalami bahwa pengalaman anda yang kurang baik, entah akibat dosa sendiri atau dosa orang lain, ternyata diubah Tuhan menjadi sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi anda?
  6. Ceritakan pengalaman anda diselamatkan oleh Tuhan Yesus dari bahaya jatuh dalam dosa.

~ Stefanus Tay

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s