Hari Orang Muda (DYD) Se Keuskupan Padang Di Paroki Muara Siberut, Kab Kepulauan Mentawai

Anaileoita!

Anaileoita adalah sapaan khas orang Mentawai, sama artinya dengan Horas bagi orang Batak, Yahowu bagi orang Nias atau Mejuahjuah bagi orang Karo. Anaileoita artinya adalah hai, halo atau apa kabar. Tulisan ini diawali dengan sapaan pakai bahasa Mentawai karena saya dan 17 orang OMK Santo Paulus baru saja pulang mengikuti kegiatan DYD (Diocese Youth Day) atau Hari Orang Muda se Keuskupan Padang yang diadakan di Paroki Maria Diangkat Ke Surga, Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai pada tanggal 2-8 Juli 2016. Mengikuti kegiatan DYD lebih kurang 7 hari di Kepulauan Mentawai memberikan pengalaman dan kenangan yang tidak akan terlupakan bagi kami.

Kami berangkat hari Jumat,  1 Juli 2016 dengan Bus Pariwisata bersama rombongan OMK Santa Maria A Fatima. Sebelum  keberangkatan  kami sudah mendengar sedikit cerita tentang kehidupan orang-orang mentawai. Banyak orangtua yang berpesan kepada OMK yang akan berangkat agar bisa menjaga sikap, cara berpakaian  dan perilaku dengan baik selama di Mentawa nanti. Setelah menempuh 8 jam perjalanan, kira-kira jam 4 subuh kami tiba dipelabuhan Muara Padang. Ternyata saat kami tiba sudah ada beberapa peserta dari Paroki lain yang tiba duluan di pelabuhan .

 Sesuai dengan informasi dari panitia dalam hal ini adalah Komisi Kepemudaan Keuskupan Padang, semua rombongan DYD akan menyeberang ke Pulau Siberut menggunakan kapal cepat jam 07 pagi. Sambil menunggu keberangkatan kami mengisinya dengan minum teh hangat sambil bernyanyi ceria diiringi gitar dan cajon. Puji Tuhan Bapa Uskup Martinus Situmorang menyempatkan menyapa dan duduk bersama kami, tak lupa sesi foto bersama dan selfie  wajib kami lakukan dimanapun dan kapanpun. Setelah menunggu beberapa jam, waktu keberangkatanpun tiba, jam 6 pagi kami diinformasikan untuk menaiki kapal membawa semua barang-barang kami  masuk kedalam kapal. Tepat pukul  07.30  waktu pelabuhan, kapal yang kami tumpangi bergerak membelah laut, bergerak cepat meninggalkan kota padang dan menuju Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai.

Menempuh perjalanan selama lebih kurang 4 jam memberikan kami banyak waktu untuk menikmati keindahan dan kebesaran ciptaan Tuhan. Dari atas kapal kami tak bosan bosannya memandangi laut luas dan menikmati semilir  angin dan bau air laut. Tak terasa sebentar lagi kami  akan sampai di Pulau Siberut Selatan, dari kejauhan sudah terlihat keramaian orang menyambut peserta yang datang. Hal pertama yang kami rasakan begitu turun dari kapal adalah terik matahari yang panas menyengat kulit dan semilir angin laut. Panitia lokal menyambut dengan ramah dan sukacita sambil berkata selamat datang di Pulau Mentawai.

Kegiatan pertama yang akan diikuti oleh peserta DYD adalah kegiatan live in  atau tinggal dirumah penduduk Mentawai selama 2 hari. Tempat kegiatan  live in kali ini adalah di 4 stasi terdekat dari Paroki Muara Siberut, yaitu stasi Muntei, Stasi Muara, Stasi Puro dan Stasi Pasakiat. Tinggal dirumah penduduk asli selama 2 hari memberikan banyak pengalaman yang berharga, karena tinggal dirumah orang yang baru saja dikenal  dan sangat berbeda secara bahasa, kebiasaan dan budaya bukanlah hal yang mudah, tetapi karena dipersatukan oleh iman katolik, kita semua merasa menjadi saudara.

          Kesan pertama ketika bertemu dengan umat yang ada di stasi tempat kami tinggal adalah kehangatan dan ketulusan. Kami diterima oleh umat disana dengan senyuman tulus dan apa adanya. Walaupun ada beberapa OMK yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan keluarga mentawainya karena keterbatasan Bahasa Indonesia yang mereka miliki, tetapi Puji Tuhan kami bisa berkomunikasi dengan bahasa tubuh dan  bisa merasakan suasana kekeluargaan.

 Pengalaman lainnya saat tinggal dirumah umat mentawai adalah makan sagu sebagai makanan utama pengganti nasi, makan bahtra atau ulat sagu yang masih hidup langsung dari pohon sagu atau yang sudah dimasak, makan subbet (terbuat dari keladi yang dicampur dengan kelapa parut). Ada juga pengalaman beberapa OMK yang diajak mencari ikan ke sungai dan pergi ke hutan untuk mencari ulat sagu. Kegiatan Live in  di stasi diisi dengan perkenalan sesama peserta DYD dari paroki lain, perkenalan dengan OMK stasi setempat, menanam pohon dan aksi memungut sampah yang ada dilingkungan desa tempat kami tinggal, tak lupa mengunjungi pantai terdekat sehingga dapat merasakan asinnya air laut di Pulau Siberut.

Tak terasa 2 hari kegiatan live in di stasipun berakhir. Semua  peserta DYD yang di stasi  harus kembali ke Paroki untuk mengikuti kegiatan DYD selanjutnya. Menuju Paroki, peserta DYD harus berjalan kaki sambil berdoa Rosario dan membawa obor, perjalanan ditempuh lebih kurang selama 1,5 jam. Kami juga berpamitan pada keluarga tempat kami tinggal dan mengucapkan terima kasih banyak atas kesediaan menyambut dan menerima kami dengan tulus dan penuh kasih dirumahnya.

Surak Sabeu ukui / ina.

Misa pembukaan kegiatan DYD dilaksanakan dihari ke 3, dipimpin langsung oleh Bapa Uskup Martinus Situmorang dan dibantu oleh beberapa pastor dari paroki-paroki yang ada di Keuskupan Padang yang  ikut pada kegiatan DYD di Mentawai. Pesan Bapa Uskup dalam pembukaan adalah : Pelayanan harus dilakukan dengan sukacita dan para pelayan juga harus memiliki hubungan yang erat dengan Kristus sendiri. Bapa Uskup juga mengingatkan tentang pelayanan Orang Muda hendaknya jangan hanya pada lingkup pelayanan gereja saja, tetapi sukacita pelayanan harus nyata dalam setiap aspek kehidupan seperti di sekolah, di kampus, di lingkungan kerja dan di lingkungan rumah. Selanjutnya di hari keempat dan kelima kegiatan DYD diisi dengan pembekalan materi-materi tentang gereja  dan kebudayaan masyarakat Mentawai. Para pembicara atau pemateri pada kegiatan DYD kali ini adalah : Bapa Uskup Martinus Situmorang, Bupati Kab Kepulauan Mentawai Bapak Yudas Sabagalet, Pastor Ridwan Naibaho, Pastor Suyoto dan Bapak Juniator Tulius yang menyampaikan materi tentang kebudayaan mentawai.

Khusus pada hari kelima, malamnya diadakan kegiatan lomba paduan suara. Semua peserta menampilkan persembahan terbaik baik suara maupun penampilan yang tentu saja sudah dipersiapkan beberapa bulan sebelumnya di Paroki masing-masing. Kecuali OMK Santo Paulus yang persiapan latihannya hanya 5 hari menjelang keberangkatan, dikarenakan harus persiapan menuju kegiatan Temu OMK seRAWIL di Perawang, yang  dilaksanakan tepat seminggu sebelum kegiatan DYD. Puji Tuhan selama kegiatan DYD, disela sela jam istirahat yang diberikan panitia, OMK Santo Paulus sangat bersemangat untuk  selalu berlatih koor yang akan dilombakan. Bukit diatas Gua Maria Paroki Muara Siberut jadi saksi tempat latihan menjelang lomba paduan suara diadakan. Adapun paduan suara diikuti oleh 18 Paroki. Pemenang diumumkan besok malam saat acara Pentas Seni. Semua peserta lomba bernyanyi dengan sukacita, seperti bait yang ada didalam koor : Hidup bersekutu dengan Yesus dalam sukacita pelayanan.

Malam terakhir kegiatan DYD diisi dengan kegiatan pentas seni. Semua peserta dari tiap paroki akan menampilkan hiburan yang sudah dipersiapkan dari paroki masing-masing. Karena ini adalah malam terakhir maka panitia mengundang semua umat dari stasi yang menjadi tempat tinggal sewaktu kegiatan. live in, para orangtua diajak makan bersama sambil menikmati penampilan pentas seni. Dan yang peling ditunggu adalah pengumuman lomba paduan suara. Puji Tuhan OMK Santo Paulus mendapat juara kedua, sedangkan juara pertama dari Paroki Katedral dan juara ketiga adalah Paroki Santa Theresa, Air Molek. Tetapi yang pasti semua OMK adalah juara karena sudah bernyanyi bagi Kemuliaan nama Tuhan.

Keesokan harinya adalah hari terakhir kegiatan DYD, itu artinya hari terakhir juga bagi kami berada di Pulau Mentawai. Misa penutup dipimpin oleh Pastor Ridwan Naibaho, Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Padang. Pada penutupan, Pastor Ridwan berpesan kepada seluruh OMK agar membawa spirit dan pengalaman selama di DYD ke paroki masing-masing. Spirit pelayanan yang penuh sukacita. Setelah misa penutup dilanjutkan dengan pembagian sertifikat dan cinderamata berupa rumah adat mentawai. Setelah semua rangkaian acara penutup berakhir, semua peserta harus bersiap-siap menuju pelabuhan dan akan menyeberang ke kota Padang.

 Berakhirlah kegiatan DYD tahun 2016. Sampai berjumpa di kegiatan DYD dua tahun yang akan datang, yaitu tahun 2018 yang rencananya akan diadakan di Riau. Selamat tinggal Pulau Mentawai yang indah yang sudah memberikan banyak pengalaman dan kenangan manis bagi kami. Harapannya semoga semua OMK yang terlibat dalam kegiatan DYD ini selalu mempunyai semangat membara untuk tetap berkarya dalam pelayanan di gereja dan di masyarakat. Karena OMK adalah tunas harapan masa depan gereja.

Masura bagata

Sanggam Mauli

Pendamping OMK Santo Paulus pada kegiatan DYD 2016 di Kepulauan Mentawai

Foto tersedia di  Facebook Santo Paulus Pekanbaru

 

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s