Kerahiman Allah Bapa Yesus – Bagian II

….sambungan dari Kerahiman Allah Bapa Yesus – Bagian I

9

PERUMPAMAAN ANAK YANG HILANG

(Luk 15 11-32) 

Yesus berkata, 

“Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.

Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku.

Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.

Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya- foya.

Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat.

Lalu ia pergi melayani seorang majikan di negeri itu.

Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.

Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya.

Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.

Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,

aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya.

Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.

Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.

Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.

Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.
Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.

Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian.

Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.

Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.

Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk.

Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.

Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya:

Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.

Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.

Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. 

Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”

Dalam perumpamaan ini ada 3 tokoh yang perperan:

  • seorang ayah
  • dengan kedua anaknya laki laki. 

Perumpamaan terbagi atas 2 bagian.

  • Dalam bagian pertama yang berperan adalah anak yang bungsu.
  • Dalam bagian kedua yang berperan adalah anak yang sulung.

Ternyata bahwa kedua anak ini sama‐sama belum mengenali hati ayahnya.

Namun ayah menanggapi persepsi yang negatif kedua anaknya terhadap dia denganhati besar dan dengan kasih sayang yang mengagumkan.

Maka figur ayahlah yang memesona karena kasih‐sayangnya yang tak terbatas bagi kedua anaknya.

Figur ayahlah yang menjadi pengikat seluruh perumpamaan, maka judul perumpamaan ini yang paling tepat seharusnya: ⇒ Perumpamaan Ayah Yang Penuh Kerahiman, bukan perumpamaan anak yang hilang.

Sebab Ayalah tokoh yang selalu hadir, sementara figur anak bungsu tidak tampil lagi setelah disambut ayahnya sekembalinya dari petualangannya.

Dan anak yang sulung cuma tampil di bagian final.

Ayahlah dalam kemurahan hatinya yang tak terbatas itu berhadapan dan merangkul kedua anaknya dalam mentalnya yang picik dan egois yang mereka nyatakan.

Baik riwayat si bungsu maupun riwayat anak yang sulung dihadapkan dengan kebapaan ayah yang terungkap dalam suatu kebaruan yang membungkam dan melucuti egoisme kedua anaknya.

Akhirnya, perumpamaan berakhir, di mana si pendengar tidak diberitahu bagaimanakah tanggapan selanjutnya dari kedua anak itu terhadap kerahiman ayah mereka yang memesona itu.

Kata Yesus,

“Ada seorang mempunyai dua anak laki‐laki…..”

Keluarga yang ‘aneh’ ini di mana tidak ada figur ibu, sangat mirip dengan komunitas Yesus dimana Allah adalah bapa dan sekaligus ibu, dimana semuanya adalah saudara.

 Baiklah.

Sekarang mari kita ikuti riwayat anak yang bungsu.

  • Anak bungsu itu pikir bahwa ayahnya bersikap paternalistis, konservatif dan kolot.
  • Ia tak tahan lagi hidup bersama ayahnya. Hidup di rumah bersama ayah dirasa monoton. Ia mau lepas, mau bebas, mau menjadi orang modern, mau mencari emansipasi.
  • Maka ia minta dari ayahnya bagian warisan yang menjadi haknya:
  • Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku.
  • Nafsu anaknya pergi, tidak menunggu ayahnya mati untuk mendapat warisan.
  • Minta warisan berarti bahwa baginya ayah sudah mati.

Akan tetapi ayahnya dengan hatinya besar memenuhi keinginan anaknya.

  • Untuk menghormati kebebasan anaknya, Bapa melakukan itu tanpa bertanya atau melawan keputusan anaknya.
  • Menurut hukum, jika ayah tidak menyetujui rencananya, anaknya wajib tinggal dirumah.
  • Tetapi ayahnya membagi‐bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.

Karena si bungsu minta bagian warisannya, ayah sekaligus memberikan bagian warisannya juga kepada anaknya yang sulung.

Dalam diri ayah terjelma figur Allah, Bapa Yesus, yang adalah kasih murni, yang selalu menghormati kebebasan manusia, juga ketika manusia mempergunakan kebebasannya untuk melepaskan diri dari kasih Allah.

  • Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu :
  • Itu menandakan bahwa warisannya berupa ladang dan rumah yang dijual dan dijadikan uang.

Anak yang bungsu pergi dan anak yang sulung tinggal di rumah.

Anak yang bungsu pergi ke negeri yang jauh:

Istilah « negeri yang jauh » adalah istilah yang dipakai oleh kitab suci untuk menujunkkan dunia orang kafir, secara khususnya negeri pembuangan:

«Janganlah takut, hai hamba‐Ku Yakub, janganlah gentar, hai Israel! Sebab sesungguhnya, Aku menyelamatkan engkau dari tempat jauh dan keturunanmu dari negeri pembuangan mereka.» (Yer 46 :27)

Dengan catatan ini Lukas mengatakan bahwa anak itu tidak hanya meninggalkan ayahnya, melainkan juga iman akan Allah Israel.

Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya‐foya :

Dengan bersikap demikian si bungsu menunjukkan bahwa ia adalah orang yang tidak bijaksana. Ia cepat‐cepat ia menuntut warisannya dari ayahnya– dan cepat‐cepat pula ia telah memboroskan warisan itu. Ia hanya sibuk mengejar kepuasan diri.

Warisan, hasil perjuangan dan jerih payah ayahnya, ia boroskan dalam sekejap mata.

Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat.

Kekayaan memperbanyak teman; kemiskinan membubarkan semua teman. (Keb 14:20)

Lalu ia pergi melayani seorang majikan di negeri itu.

« pergi melayani» adalah istilah yang dipakai oleh Perjanjian Lama yang menunjukkan orang yang meninggalkan Allah untuk pergi melayani allah‐allah lain. (1Raja 11 :2 ; 2Raja 3:3)

Ia di rumahnya memiliki harta, sekarang ia berhamba kepada seorang asing yang kafir.

Ia telah meninggalkan seorang ayah, untuk menemukan seorang majikan.

Ia telah meninggalkan iman Israel akan Yahwe untuk menyembah allah‐allah lain.

Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.

Jelas bahwa Ia berada di negeri orang kafir, sebab di Israel dilarang memlihara babi, sebab babi adalah binatang yang najis. (Im 11 :7 ; Ul 14 :8)

ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu.

ia terpaksa merampas ampasnya makanan babi, sebab tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya.

Ia tidak diberi makan, maka makanan babi pun ia kejar.

Ia makan makanan babi: ia menjadi setara dengan babi.

Langkah demi langkah si bungsu itu menjerumuskan dirinya ke titik yang terhina bagi seorang Israel.

Terdesak oleh kelaparan sekarang ia menyadari keadaannya, katanyaBetapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah‐limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.

⇒Terdesak oleh kelaparan baru ia ingat ayahnya.

Ia ingat ayahnya bukan karena ia menyesal telah meninggalkan ayahnya, telah membuat ayahnya prihatin dan menderita.

ia ingat ayahnya tidak kehilangan ayahnya, Ia kehilangan makanan yang ada di rumah ayahnya

Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah‐limpah makanannya…..

Kalau bapanya memberikan makanan berimpah‐limpah kepada orang upahannya, berarti bahwa bapanya bukan seorang majikan yang menekan kebebasan bawahannya, apa lagi kebebasan anaknya sendiri

Akan tetapi pemikirannya tidak kearah itu, ia tidak menyadari bahwa ia keliru dalam menilai sikap bapanya… pemikirannya terarah kepada « berlimpah‐limpah makanannya bagi orang upahan bapaku » dan aku di sini mati kelaparan.”

Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku …

Tetapi belum tentu ayahnya akan membuka pintu rumahnya dan mengizinkan ia masuk. Maka ia menyusun strategi untuk memanfaatkan kemurahan hati bapanya itu untuk dapat masuk rumahnya dan makan: ia merumuskan sebuah doa tobat yang dapat mengharukan hati ayahnya…agar ayahnya jangan menolak dia.

Mari kita dengarkan rumusan doa tobatnya itu :

aku berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorgaberdosa terhadap sorga berarti berdosa terhadap Allahdan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

Mengapa ia minta agar dijadikan salah seorang upahan bapa?

  • Sebab – setelah menerima bagian warisannya – ia tak punya haknya apa pun terhadap ayahnya.
  • Kalau ‐ sebagai anaknya – tadinya ia dihidupi oleh kasih sayang ayahnya – sekarang tidak lagi. Demikianlah ditentukan oleh hukum.
  • Maka sekarang ia pikir bahwa utk dapat makan – ia harus bekerja seperti upahan‐ upahan ayahnya lainnya.

Benar‐benar anak itu belum pernah memahami hati ayahnya!

Belum cukup ia telah menyakiti hati ayahnya dengan meninggalkan dia, meninggalkan agama dan iman bapanya akan Allah Israel!

Sekarang anak bungsu itu tidak tega memperdaya bapanya, menipu bapanya dengan merumuskan suatu doa tobat yang munafik…..

Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya.

Catatan:

Ketika saya muda para pengkhotbah dan pembina menampilkan anak bungsu ini sebagai teladan seseorang yang bertobat setelah ia berbuat dosa. Dan pada waktu itu saya telah percaya itu bulat-bulat. Ternyata ajaran itu tidak benar!

Maksud saya bukan menyalahkan para pengkhotah dan pembina saya itu sebab memang itulah yang mereka ketahui. Sekarang saya hanya bersyukur bahwa saya telah dirahmati diberi kesempatan untuk mendalami kekayaan perumpamaan ini.

Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya.

Dan ayahnya, reaksinya bagaimana?

Jangan kita lupa bahwa Yesus sedang menanggapi kecaman institusi agama sebab ia menerima orang berdosa dan makan bersama‐sama dengan mereka.

Dalam ayah itu Yesus menggambarkan Allah, BapaNya.

Agama mengatakan apa yang harus dilakukan seorang orang berdosa untuk mengadap Allah guna memperoleh pengampunan dosanya.

Dalam pernyataan tobat si bungsu itu penginjil Lukas tidak mempergunakan satu istilah pun yang menyatakan kehendak seseorang yang mau mengubah arah hidupnya seperti “apo‐strefo” atau “metanoia”.

Si bungsu itu bukan teladan seorang yang bertobat, melainkan ia seorang licik, munafik dan egois yang menipu ayahnya untuk kepentingan pribadi.

Pada awal injilnya, Yohanes menulis bahwa “tak seorang pun telah melihat Allah, hanya anaknya yang hidup dalam kemesraannya telah menyatakan siapakah Allah itu” (Yoh 1:18).

Dan di sini Yesus menyatakan bahwa sikap Allah, Bapanya, benar‐benar di luar segala dugaan.

  • Agama mengatakan apa yang harus dilakukan manusia untuk memperoleh pengampunan dosanya.
  • Yesus menceritakan apa yang dilakukan Bapa‐Nya ketika ia berjumpa dengan orang yang berdosa.

Mari kita simak apa yang dilakukan ayahnya apa bila ia berjumpa dengan orang berdosa. – Ayahnya adalah gambar Allah, Bapa Yesus.

“Ketika anak itu masih jauh,

Israel rumah mempunyai teras sebagai atap – maka setiap hari ayahnya naik ke teras untuk melihat kalau‐kalau anaknya kembali.

Dan hari itu dari teras, ayahnya melihat bahwa orang yang muncul di sana, dia itu benar‐benar anaknya….
lalu tergeraklah hatinya oleh kerahimannya ….

“ayahnya telah melihatnya ….

Anak itu – dengan minta warisan – menganggap bahwa ayahnya sudah mati – sebab menurut hukum ‐ warisan dibagi setelah ayah sdh mati ‐

Kalau ayah melihat anaknya ketika ia masih jauh, berarti bahwa ayah yang telah menghormati kebebasan dan keputusan anaknya – ternyata tak pernah ia melupakan anaknya dan hari demi hari dinantikan kembalinya.

Demikian pula sikap Allah, Bapa Yesus ‐ yang dilambangkan oleh ayah itu – ketika seorang anaknya berbuat salah, berbuat dosa, Ia tidak marah, Ia tidak menghukumnya. Sebaliknya, tergeraklah hatinya oleh kerahimannya.

… tergeraklah hatinya oleh kerahimannya” ….

Pernyataan ini dalam bhs kita terdiri dari 4 kata yang merjemahkan hanya satu kata saja dari bhs yunani yang dipakai oleh Lukas.

Kata yang satu itu adalah splagcnizomai = splangk‐nizomai.

splangk berarti = rahim seorang ibu.

splangk‐nizomai = berarti – ‘tergerak oleh kerahiman” dan merupakan suatu tindakan yang khusus yang dapat dilakukan hanya oleh Allah dalam Perjanjian Lama (Kel 34:6; Ul 7:7; Yes 54:8; Yer 31: 2 dst) ‐ dan oleh Yesus dalam Injil, misalnya, ketika Yesus menghidupkan anak sulung seorang ibu janda di Nahin (Luk 7:13). Lihat juga: Mat 9:36; Mat 14:14; Mrk 6:34;Luk 10:33; Luk 15:20.

sebab berarti:

“membangkitkan kehidupan di mana kehidupan tidak ada”

  • Manusia hanya bisa berbagi “belas kasih” kepada sesama: perasaan iba atau sedih melihat orang lain menderita.
  • Manusia tidak mampu membangkitkan kehidupan di mana kehidupan tidak ada.

Ketika orang berdosa kembali kepada Allah, Bapa Yesus, ‐ Allah, Ia tidak marah, tidak merasa dihina oleh dosa manusia, tidak menghukum manusia,

Ia hanya splagcni,zomai = splangk‐nizomai = “tergeraklah hatinya oleh kerahimannya”.

Ayahnya itu berlari mendapatkan dia….

Karena sangat rindu berjumpa dengan anaknya, berlarilah ia mendapatkan anaknya.
Karena sangat rindu berjumpa dengan anaknya, ayahnya berbuat sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan, yaitu: “berlari” mendapatkan dia.

Ayah “berlari”…

Jika seorang tua berlari – dalam kebudayaan itu – ia kehilangan reputasinya di mata masyarakat sebab tak sopanlah, tak pantas seorang tua berlari.

Tapi hasratnya untuk memulihkan reputasi anaknya yang najis itu begitu urgen, sehingga tak ragu‐ragulah ia kehilangan reputasinya sendiri; reputasi anaknya yang najis lebih utama dari pada menjaga reputasinya sendiri di mata orang.

Ia tidak tega menunggu, maka berlarilah ia mendapatkan anaknya.

Anaknya itu kembali dalam keadaan najis karena ia penjaga babi.

Ayahnya berada dalam keadaan suci.

Namun ayahnya merangkul dan mencium dia.

Itu tidak boleh!

Di sini ayah – gambar Allah Bapa Yesus – terang‐terangan melanggar apa yang difirmankan dalam kitab Imamat: “Haruslah kamu dapat membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, antara yang najis dengan yang tidak najis,

Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun‐temurun, supaya jangan kamu mati (Im 10: 10 dst)

supaya jangan kamu mati (Im 10: 10 dst)

Ada hukuman mati bagi Ayah (gambar Allah, Bapa Yesus) yang merangkul dan mencium anaknya yang najis!

Menurut kitab Imamat, ayah itu setelah ketemu anaknya dalam keadaan najis – dalam keadaan dosa – seharusnya tidak menjamahnya ‐ tetapi, mengingatkan dia,” Saya senang kamu pulang, tapi saya kudus dan kamu najis – maka kamu harus melakukan semua ritus untuk mentahirkan diri sebelum kita berpelukan!”

Ternyata ayah itu – gambar Allah, Bapa Yesus – begitu kangen berjumpa anaknya, sehingga ia tidak peduli pada apa yang difirmankan dalam kitab Imamat itu: lalu ayah merangkul dan mencium dia.

Ayahnya rela terjangkit kenajisan. Ayahnya rela dihukum mati.

Ia tidak peduli tentang dirinya. Yang utama adalah anaknya – gambar setiap orang berdosa ‐ yang membutuhkan luapan seluruh kerahiman ayah, pengampunan ayah dan kasih ayah.

Pesannya apa?

Pesannya adalah: Tidak benar bahwa orang harus suci untuk berjumpa dengan Allah. Sebaliknya: Jumpailah Allah, maka Ia menguduskan engkau!

“merangkul dan mencium dia” bukan semata peluapan rasa kangen kepada anaknya, tetapi menyatakan bahwa ayahnya – yang menggambarkan Allah, Bapa Yesus ‐ sudah mengampuni dia sejak anaknya telah meninggalkan rumah dan sudah mengampuni dia sebelum anaknya minta ampun…

Dalam sikap Bapa tak ada reaksi kemarahan, kecaman, hukuman, melainkan tergeraklah oleh kerahiman, yaitu, kerinduan untuk menkomunikasikan hidup kepada manusia yang yang tidak punya hidup.

Dalam relasi dengan manusia, Allah, Bapa Yesus, tak punya alternatif lain dari pada mengomunikasikan kasihnya secara kontinu dan dalam ukuran semakin besar, apa pun tanggapan manusia. Sebab, Allah, Bapa Yesus, adalah kasih murni, maka Ia hanya tahu memberi jawaban kasih, kerhaiman dan pengampunan kepada manusia ‐ apa pun besar dan banyak dosanya ‐ Sebab Allah, Bapa Yesus, mencintai manusia bukan setimpal dengan kesalehan dan jasanya, melainkan setimpal dengan kelemahan dan kebutuhan manusia.

Dalam kebingungannya – oleh karena anak tak menduga bahwa ayahnya lari mendapatkan dia, merangkul dan mencium dia – ia mulai mengucapkan doa tobat yang telah ia susun: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

Akan tetapi ia hanya dapat mengucapkan separoh dari doa tobat itu, yaitu, Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, ‐ sebab ayahnya menginterupsi dia untuk memberikan perintah kepada hamba‐hambanya.

Dengan menginterupsi doa tobat anaknya ‐ ayahnya ‐ yaitu Allah, Bapa Yesus – tidak mau mendengarkan daftar dosa dan pernyataan tobat – sebab dalam perjumpaan dengan Allah – bukan orang berdosa yang harus berbicara – melainkan Ayahlah yang mau berbicara dan mengatakan kepada anaknya yang berdosa,”Anakku, cukuplah sudah.

Ayah tak mau tahu tentang masa lalumu, tak mau tahu mengapa engkau telah pergi, ke mana pergi, apa yang telah kauperbuat, dan mengapa engkau kembali – Yang penting adalah bahwa engkau sudah kembali. Maka sekarang diamlah dan dengarkanlah sebesar apa kasih‐sayang ayah bagimu.”

≈≈≈

Dan sekarang mari kita ikuti langkah‐demi langkah kejutan pernyataan kasih sayang ayah kepada anaknya yang bungsu itu yang baru keluar dari situasi di mana ‐ langkah demi langkah ia menjerumuskan dirinya ke titik yang terhina bagi seorang Israel:

  • ia makan makanan babi: ia menjadi setara babi, binatang yang najis itu.
  • Kepada anak yang telah mengecewakan harapan orang tua, kepadanya diberi kepercayaan yang lebih besar lagi.

Tadi, si bungsu itu, dalam kebingungannya – oleh karena ia tak menduga bahwa ayahnya lari mendapatkan dia, merangkul dan mencium dia – ia mulai mengucapkan doa tobat yang telah ia susun.

Akan tetapi ia hanya dapat mengucapkan separoh dari doa tobat itu, yaitu, Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, ‐ sebab ayahnya menginterupsi dia untuk memberikan perintah kepada hamba‐hambanya.

Mari kita simak dengan saksama setiap perintah yang diberikan ayah untuk memulihkan martabat anaknya.
Setiap perintah adalah « petunjuk teologis » yang sarat maknanya.

Dalam kebingungannya – oleh karena anak tak menduga bahwa ayahnya lari mendapatkan dia, merangkul dan mencium dia – ia mulai mengucapkan doa tobat yang telah ia susun: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

Akan tetapi ia hanya dapat mengucapkan separoh dari doa tobat itu, yaitu, Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, ‐ sebab ayahnya menginterupsi dia untuk memberikan perintah kepada hamba‐hambanya.

Perintah pertama kepada hamba‐hambanya:

Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya … .

“jubah yang terbaik”….

Perintah ini bukan untuk mengganti jubah anaknya yang bau dan kotor dengan pakaian yang bersih karena ia penjaga babi.

Pada waktu itu apabila seorang raja mau menyatakan kehormatan kepada seorang bawahan, atau mau mengangkatnya untuk jabatan tertentu, ia meganugerahkan kepadanya baju yang terbaik, yang mahal.

Acuannya adalah Firaun dengan Yusuf di Mesir: Firaun dipakaikannyalah kepada Yusuf pakaian dari pada kain halus.

Demikianlah Yusuf dilantik oleh Firaun menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir. Berkatalah Firaun kepada Yusuf: “Akulah Firaun, tetapi dengan tidak setahumu, seorangpun tidak boleh bergerak di seluruh tanah Mesir.” (Kej 41:42).

 Maka perintah ayah,

”Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya!

berarti bahwa ayah memulihkan martabat dan reputasi anaknya seperti sebelumnya bahkan lebih dari sebelumnya, sebab posisinya bukan seperti posisi Yusuf di mana reputasinya dicemarkan oleh fitnah. Si bungsu itu – karena kesalahannya sendiri – telah kehilangan reputasinya dan mencemarkan martabatnya.

Jangan kita lupa konteksnya: Yesus sedang menggambarkan sikap Bapanya terhadap orang telah berbuat dosa. Terhadap kita orang berberdosa!

Perintah kedua Lekaslah kenakanlah cincin pada jarinya

Apakah artinya?

Kita kembali kepada kitab Kej 41: 42 di mana tertulis: Firaun menanggalkan cincin meterainya dari jarinya dan mengenakannya pada jari Yusuf; Yusuf dilantik oleh Firaun menjadi penguasa penuh atas seluruh tanah Mesir dengan menanggalkan cincin meterainya dari jarinya, dan mengenakannya pada jari Yusuf.

Demikan pula perintah ayah – dalam perumpamaan: Lekaslah kenakanlah cincin pada jarinya…

Cincin pada jarinya: bukan sebagai hiasan melainkan sebagai cincin meterai, segel resmi kuasa dan wewenang penuh untuk bertindak, untuk transaksi uang dan harta. Kartu kreditnya (1Mak 6:14‐15; Kej 41:42).

Tapi jangan lupa: anak itu sudah tidak punya hartanya lagi, sebab ia sdh diberi bagian warisannya dan sudah diboroskannya.

Lalu maksudnya apa?

Maksudnya adalah bahwa ayah memberi kuasa penuh atas harta ayah sendiri!

Itu Mengebohkan!

Si bungsu dalam sekejap mata telah memboroskan warisannya….

Sekarang ayah memberi kepadanya kuasa penuh atas hartanya sendiri!

Tanpa ada jaminan bahwa nanti malam anaknya pergi lagi dari rumah dan memboroskan juga harta ayahnya!

Di antara manusia, kita katakan bahwa ayah itu sudah pikun pada stadium terakhir!

Tetapi Yesus berani menggambarkan Bapanya yang bersikap demikian dengan kita yang meninggalkan Dia untuk mencari pengalaman baru …. di luar rumah ayah.

Dan Yesus tidak mengatakan bagaimana di kemudian hari perilaku anaknya itu… apakah ia telah mengelolah harta ayahnya dengan bijaksana, ataukah ia telah memboroskan juga harta ayahnya….

Demikianlah sikap, Allah, Bapa Yesus, terhadap kita orang berdosa!

Ia selalu memulihkan kepercayaan kepada kita secara mengagumkan….

Terserah kepada kita menanggapi kepercayaannya itu bagaimana….

Perintah ketiga: Lekaslah kenakanlah sepatu pada kakinya

Mengenakan sepatu pada kakinya, ini pun unsur yang penting.

Apakah kita masih ingat apa yang diminta oleh anaknya kepada ayahnya? jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa, seorang pembantu dalam rumah bapa.

  • Pada waktu itu hanya tuan rumah dan anaknya mengenakan sepatu.
  • Pembantu selalu kakinya telanjang.

Lalu kepada anaknya, ayahnya mengatakan,” Kamu bukan seorang pembantu, kamu adalah anakku dan kamu memiliki martabat sebagi anakku!”

Tapi ada maknanya satu lagi, yaitu, mengenakan sepatu berarti berakhirnya masa perkabungan (Yeh 24:17; Yes 20:2) “sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali.”

Perintah keempat: Lekaslah ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia ….

Anak lembu tambun”: lembu tambun disembelih hanya pada kesempatan yang istimewa (Kej 18:7) dan dikhususkan bagi Tuhan (2Sam 6:13).

Sekarang ayah itu mengatakan, “Tidak! anak lembu tambun itu tidak dikhususkan bagi Tuhan melainkan dikhususkan bagi anakku ini.

Anakku ini sekarang lebih penting dari Tuhan. Tuhan bisa menunggu.

Dan semuanya itu harus dilakukan dengan tidak menunda‐nunda, sebab anakku ini perlu segerah dipulihkan dalam reputasinya dan martabatnya sebelumnya.

Maka segalanya harus dilakukan dengan segera dan cepat‐cepat:

  • Lekaslah kenakanlah jubah yang bagus kepadanya
  • Lekaslah kenakanlah cincin pada jarinya
  • Lekaslah kenakanlah sepatu pada kakinya
  • Lekaslah ambillah dan sembelilah lembu tambun itu.

Dan marilah kita makan dan bersukacita.

Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.

Maka mulailah mereka berpesta!

≈≈≈

Para saudara,

yang diceritakan Yesus tentang sikap Allah, BapaNya, ketika berjumpa dengan kita orang berdosa, merusuhkan pikiran kita, menggentarkan hati kita, dan mengacaukan segala keyakinan dan gambaran kita tentang Allah!!!

Allah, Bapa Yesus, apabila berjumpa dengan orang berdosa tidak mengecam, tidak mengajak untuk bertobat, tidak minta persembahan atau pengurbanan atau penitensi yang harus dilakukan oleh si pendosa, melainkan, si pendosa dibanjiri oleh gelombang kerahiman, kasih sayang yang semakin besar.

Dan ketika manusia yang berdosa berjumpa dengan Allah, manusia diminta berdiam diri untuk mendengarkan Allah, Bapa Yesus, yang memberitahu kepadanya sebesar apa kasih sayang-Nya baginya.

Terutama Bapa Yesus tidak minta si pendosa melakukan penitensi, tidak minta puasa atau matiraga – melainkan adalah satu momen yang harus dipestakan dengan menikmati masakan daging anak lembu yang tambun itu!

Yang kali ini tidak dikhususkan untuk menghormati Allah, melainkan untuk memestakan manusia yang berdosa yang berjumpa dengan Allah, Bapa Yesus.

Jadi Yesus memperkenalkan seorang Allah yang lain, yang berbeda, yang tidak menakutkan, …… “yang belum menjadi Allah kita”.

Sebab Allah yang kita kenal adalah Allah Musa yang memberkati mereka yang melakukan perintah‐perintahnya dan menghukum mereka yang tidak takwa kepadanya.

Terutama Yesus menjungkir balikkan ketentuan‐ketentuan yang harus dilakukan oleh orang berdosa untuk memperoleh pengampunan dosa.

Jalur yang telah ditentukan oleh agama adalah:

  1. Orang yang telah berbuat dosa harus menyesali dosanya.
  2. Ia harus menyebut dosa yang telah dilakukan, satu per satu, berapa kali dan
    dengan siapa.
  3. Ia harus beli dan mempersembakan kurban seekor hewan. = melakukan penitensi. Baru setelah itu turunlah pengampunan dosanya.

Dengan Yesus semuanya ini diujungkir balikkan.

  • Allah, Bapanya, sudah mengampuni manusia ketika manusia sedang berdosa. Diharapakan si pendosa menyadari kasih sayang, kerahiman dan pengampunan yang dianugerahkan Allah kepadanya,
  • lalu sebagai konsekwensinya diharpakan manusia menyesali dosanya dan menempuh jalan pertobatan, yaitu, bersama Yesus dan seperti Yesus, ia meneruskan kerahiman, kasih sayang, dan pengampunan yang telah diterimanya kepada sesama. Ini syarat mutlak agar dosa diampuni.

Perlu ingat bahwa “kerahiman, kasih sayang, dan pengampunan” yang ia terima akan menjadi aktif dalam dirinya hanya apabila ia meneruskan kerahiman, kasih sayang, dan pengampunan itu kepada sesama.

Biar ada seorang imam yang memberikan absolusi kepada kita setiap 5 menit, absolusi itu tak akan menghasilkan buahnya dalam diri kita, selagi kita sendiri tidak rela meneruskan kerahiman, kasih dan pengampunan itu kepada sesama.

ARTINYA:

Allah, Bapa Yesus, tidak menantikan agar manusia bertobat dan menyesali dosanya sebagai syarat untuk memberikan pengampunan kepadanya. Melainkan Allah, Bapa Yesus ‐ mendahului dan mengambil inisiatif untuk mengampuni manusia sebelum manusia minta ampun.

  • Manusia yang telah mengalami pengampunan dari Allah, diarapkan ia bertobat.
  • Pertobatan itu bukan produk manusia, melainkan buah dari pengampunan yang sudah dialami dari Tuhan.

Akan tetapi Yesus tidak menceritakan perumpamaan ini untuk murid‐ muridnya melainkan unutk orang parisi dan ahli‐ahli Taurat yang mengecam Yesus karena menerima dan makan bersama orang berdosa, dan mereka ini digambarkan dalm figur anaknya yang satu lagi: anaknya yang sulung.

Mari kita lihat riwayat anak sulung…

Tetapi anaknya yang sulung ….

“anaknya yang sulung” menerjemahkan kata bhs yunani: presbuteroj = presbiteros.

Dengan mempergunakan kata = presbiteros = Lukas tidak hanya berbicara tentang anak yang sulung = presbiteros ‐ tetapi juga Lukas berbicara tentang “orang tua‐tua” bangsa Yahudi (yang suka dipanggil presbiteros) ‐ yang bersama ahli‐ahli Taurat dan imam‐imam besar merupakan Mahkamah Agama di Israel, sebab mereka menganggap dirinya sebagai anak sulung = presbiteros di antara bangsanya.

Lagi pula Lukas mengacu kepada anggota‐anggota komunitas Yesus sendir yang menganggap dirinya orang benar yang merasa punya hak menilai dan menghakimi saudara‐saudaranya.

.. berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari‐tarian.

Reaksinya bagaimana?

Memang terkejut dan keherananlah dia. Sebab dalam rumah itu suasana jauh dari bergembira, terutama setelah adiknya pergi, yang ditangisi oleh ayahnya seperti orang mati…. Ayahnya akan berkata,”Anakku ini telah mati, tetapi ia hidup kembali.”

Bagaimana pun presbiteros itu –anak sulung itu ‐ curiga, sehingga dari pada pergi melihat sendiri ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.

Dijawabnya:

Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun

Sebenarnya ayah sebelum menyembelih anak lembu tambun, telah mengenakan jubah yang bagus, cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya, akan tetapi apa yang telah mengesankan hamba itu adalah bahwa ayah menyembelih anak lembu tambun!

... karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.

Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk.

Sukacita dan kegembiraan ayah tidak menyentuh hati si sulung, malah sukacita dan kegembiraan ayah ditanggapi dengan sikap marah.

dan ia tidak mau masuk

Ternyata kedua anak itu sama. Si bungsu telah lari dari rumah dan si sulung tidak mau masuk rumah ayah.

Lalu “ayahnya keluar” dan berbicara dengan dia.

Lalu ayahnyalah yang keluar lagi, sebagaimana ayah telah keluar untuk mendapatkan anaknya yang sulung.

Ayahlah yang keluar, tetapi bukan sebagai orang tua untuk memberikan perintah kepada anaknya, melainkan sebagai seorang hamba yang keluar untuk memohon agar anaknya sudi masuk :“pareka,lei”pare‐kaleo mempersilahkan, mengundang, memohon agar anaknya masuk

….. jangan kita lupa bahwa Yesus sedang berbicara tentang Bapanya, yang keluar utk berjumpa dng orang berdosa. Ia tidak main kuasa, ia keluar untuk memohon….

Di manakah Allah Musa, penegak hukum dan hakim?…… Kita terharu dan binggung!

Telah bertahun‐tahun aku “melayani bapa” … .

Anak itu – selain egois dan main hakim terhadap adiknya – ia seorang yang jiwanya tidak berkembang secara normal. Ia hidup bersama ayahnya seperti bersama seorang majikan. Bukankah ia anaknya? Masakaniabisamengatakan“bertahun‐tahun aku “melayani bapa” ? Ada sesuatu yang tidak berkembang secara normal dalam relasinya dengan ayahnya.

Perhatian, jangan lupa: Yesus sedang menggambarkan realasi kita manusia terhadap Allah.

  • Ada kalanya bahwa relasi kita dengan Allah berkembang tidak dalam suasana kasih sayang.
  • Kita katakan bahwa kita anak Allah, tapi ada kalanya bahwa kita bersikap seperti hamba bukan seperti anak terhadap Allah.

Dalam katekismus yang telah diajarkan kepada saya ada satu pertanyaan yang berbunyi:

Mengapa Allah telah menciptakan kita?

Jawabannya: Kita telah diciptakan Allah agar kita mengenal Dia, mencintai dan melayani Dia – supaya nanti kita masuk surga. (KatekismusPausPiusX) –

Orang yang telah menyusun Katekismus itu tidak pernah mengerti injil, di mana Allah – Bapa Yesus – datang untuk melayani manusia dan bukan untuk dilayani – seperti nampak dalam hidup dan ajaran Yesus. Kita tidak diminta melayani Allah, melainkan, bersama Allah dan seperti Allah kita diminta melayani sesama manusia.

dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, 

tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat‐sahabatku.

Anak sulung itu – yaitu: institusi agama yang mengecam Yesus – mengimani Allah itu sebagai majikan dan tuan yang harus dilayani. Kalau Allah dilayani dengan setia maka Allah wajib memberkati mereka dengan memberikan seekor anak kambing.

Akan tetapi logika anak sulung ini mentok, sebab pada awal perumpamaan bukankah dikatakan bahwa: ayahnya membagi‐bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Jadi kambing itu sudah milik dia, bukan milik ayah lagi.

Di sini penginjil Lukas mengingatkan bahwa dalam agama Musa manusia terhadap Allah bukan seorang anak melainkan seorang hamba yang menaati perintah‐ perintah majikannya maka ia tunggu imbalan. Surga pun ia tunggu sebagai imabalan atas jasa‐jasanya.

Dari perkembangan pembicaraan anak sulung selanjutnya dengan ayah ternyata, bahwa bukan hanya relasinya dengan ayahnya tidak berkembang secara harmonis, melainkan relasinya dengan adiknya pun punya masalah.

Mari kita perhatikan percapannya dengan ayahnya:

Tetapi baru saja datang anak bapa ….

Anak sulung mengatakan “anak bapa´ ia tidak mengatakan “adikku”…
Sepertinya ia merasa bahwa ayahlah yang salah dalam mendidik anaknya, …maka ia mengatakan “anak bapa´ ia tidak mengatakan “adikku”…

Makin keruhlah isi hatinya. Ia melanjutkan:

… yang telah “memboroskan harta kekayaan bapa…”

Pernyataan ini tidak benar sebab dalam perumpamaan Yesus bercerita bahwa anak bungsu itu telah “memboroskan harta miliknya.” – bukan : harta kekayaan bapa

Pernyataannya bernada fitnahan thp adiknya!

Makin jorok isi hatinya. Ia menyatakan bahwa adiknya memboroskan harta kekayaan bapa, ”… bersama‐sama dengan pelacur‐pelacur….”

Tetapi Yesus dalam perumpamaannya tidak mengatakan itu. Yesus mengatakan bahwa anak bungsu itu“memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya‐ foya.” Titik.

  • Mengapa ia mengarang informasi itu yang mencemarkan nama baik adiknya?
  • Dari mana ia tahu bahwa adiknya “ bersama‐sama dengan pelacur‐pelacur”?

Dalam matanya ada balok …. sehingga penglihatan hatinya jelek… (Mat 7:5)

Ia yang belum pernah melanggar perintah bapa merasa punya hak untuk mengadili, menfitnah dan mencemarkan nama saudaranya!

Inilah riwayat Anak Sulung

  • Mana lebih parah : situasi anak bunsgu atau situasi anak sulung?
  • Mana lebih berdosa : anak bungsu atau anak sulung?

Sekarang, marilah kita kembali kepada ayah dari kedua anak ini.

Kata ayahnya kepadanya:

‘Anakku…..

  • ‘engkau selalu ada di sini dengan aku.
  • Semua yang kumiliki adalah milikmu juga.
  • Tetapi kita harus berpesta dan bergembira, sebab adikmu itu sudah mati, tetapi sekarang hidup lagi;
  • ia sudah hilang, tetapi sekarang telah ditemukan kembali.’

Yesus menutup perumpamaanya dengan pernyataan kebesaran kasih sayang ayah juga bagi anak yang sulungnya Ayah tidak berpihak.

atau

  • Ayah telah berpihak dalam menyatakan kasih sayangnya setimpal kebutuhan anaknya masing‐masing.
  • Ayah itu adalah gambar Allah, Bapa Yesus, yang mencintai kita bukan setimpal dengan kesalehan dan jasa‐jasa kitamelainkan setimpal dengan kebutuhan dan kelemahan kita!

Ayah telah berpihak dalam menyatakan kasih sayangnya setimpal kebutuhan anaknya masing‐masing.
Ayah itu adalah gambar Allah, Bapa Yesus, yang mencintai kita bukan setimpal dengan kesalehan dan jasa‐jasa kita melainkan setimpal dengan kebutuhan dan kelemahan kita!

Dalam perumpamaan ini ada 3 tokoh yang berperan: seorang ayah dengan kedua anaknya laki‐laki.

Perumpamaan terbagi atas 2 bagian.

  • Dalam bagian pertama yang berperan adalah anak yang bungsu.
  • Dalam bagian kedua yang berperan adalah anak yang sulung

.Ternyata bahwa kedua anak ini sama‐sama belum mengenali hati ayahnya.Namun ayah menanggapi persepsi yang negatif kedua anaknya terhadap dia denganhati besar dan dengan kasih sayang yang mengagumkan.Maka figur ayahlah yang memesona karena kasih‐sayangnya yang tak terbatas bagi kedua anaknya

Terimakasih

Sampai Jumpa

~P Otello Pancani, SX

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s