Kerahiman Allah Bapa Yesus – Bagian I

Untitled-1

kita berjumpa untuk memahami

2

kita diantar oleh Penginjil Lukas
Penginjil Kerahiman Ilahi

3 Di3

4

5

Kita sudah biasa merayakan HARI PASKAH dan HARI PENTAKOSTA.
Perlu kita ingat bahwa PASKAH DAN PENTAKOSTA bukan produk komunitas Yesus – tidak dilahirkan oleh komunitas Yesus, akan tetapi berakar dalam sejarah bangsa Israel.

Dan perlu kita ingat pula bahwa Paskah dan Pentekosta ‐ tidak lahir sebagai pesta agama melainkan sebagai ritus dan perayaan profan, yang tidak bersangkutan dengan agama….

Paskah lahir sebagai ritus‐upacara kaum gembala,
sedangkan Pentekosta lahir sebagai ritus‐upacara kaum tani.

  • Paskah lahir sebagai ritus‐upacara kaum gembala untuk mohon berkat atas ternak domba.
  • Pesta pentekosta lahir sebagai ritus dan perayaan kaum tani untuk bersyukur atas panen.

Pesta Pentekosta suka disebut juga pesta 7 minggu, sebab diselenggarakan oleh kaum tani 7 minggu setelah Paska.

Apakah artinya ini?

Artinya adalah bahwa jauh sebelumnya – kaum gembala – sudah mengadakan ritus‐ upacara Paskah untuk memohon berkat atas ternak domba mereka, sehingga ritus‐upacara Paskah merupakan pesta induk. Pesta yang pertama.

Itu menandakan bahwa orang Israel pada awalnya adalah nomad dan penggembala.

Kemudian, ketika Israel dapat menduduki tanah, ia mulai menetap dan mulai menggarap tanah yang menghasilkan panen. Dikembangkan pertanian.

Maka pada suatu saat kaum tani pun mau melakukan suatu ritus untuk bersyukur , dan bersyukur atas panen.
Dan kaum tani telah melakukan ritus‐upacara syukuran atas panen – 7 minggu setelah Paskah – 7 minggu setelah perayaan kaum gembala.

Itu berarti bahwa pada awal orang israel adalah penggembala dan nomad – kemudian pada suatu saat mereka sudah memiliki tanah – mereka mulai menggarap tanah – mereka menjadi petani – maka mereka merasa perlu bersyukur atas panen.

Inilah sacara singkat latar belakang pesta Paska dan Pentekosta.

Jadi Pesta pentekosta lahir sebagai ritus dan perayaan kaum tani untuk bersyukur atas panen.

6

Pada suatu hari di lereng gungung Sinai – orang Israel yang telah keluar dari perbudakan Mesir – berjanji kepada Yahwe‐ Allahnya ‐ bahwa mereka akan mematuhi segala yang tertulis dalam Hukum Taurat itu – maka terjalinlah suatu ikatan dalam kesetiaan antara Allah dengan Bangsa Israel. Relasi itu – antara Allah dengan bangsa Israel suka disebut Perjanjian Lama.

Dalam relasi itu Allah menyatakan dirinya sebagai Penegak hukum dan hakim.

Dan Ia menegaskan, kepada bangsa Israel itu, “Haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus adanya! ‐ (Im 11:44).

Dan orang adalah kudus jika melakukan segala yang diperintahkan Allah dalam HukumTaurat itu. Kalau dilakukannya – orang diberkati; kalau orang melanggar perintahNya, dihukum, setimpal dengan besar dosanya.

Sehingga dapat dirumuskan SIAPAKAH ORANG BERIMAN menurut Hukum Taurat.
Orang beriman – menurut Hukum Taurat ‐ adalah dia yang takwa kepada Allah dengan melakukan segala perintahNya. –

Jadi Pesta Pentekosta yang lahir sebagai ritus profan dari hati orang tani – di mana mereka bersyukur atas panen ‐ lama‐kelamaan – oleh institusi agama Yuhudi ‐ dijadikan pesta agama – di mana bangsa israel – tetap bersyukur – akan tetapi bukan atas panen – melainkan atas “pemberian Hukum Taurat” dan atas ikatan perjanjian antara Allah dengan bangsa Israel

Nah, Penginjil Lukas menulis bahwa “tepat pada hari komunitas bangsa Israel sedang sibuk merayakan Hari Pentekostanya”yaitu mereka sedang mensyukuri pemberian Hukum Taurat – terjadi bahwa atas komunitas murid‐murid Yesus – yang berada juga di Yerusalem –bersamaMaria – ibu Yesus – tapi mereka tidak ikut mensyukuri pemberian Hukum Taurat – turunlah Roh kudus!

Lukas menulis: Tiba‐tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah‐lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing‐masing.

Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus: Kis 2:1‐4)

Apakah maksud penginji Lukas dengan memperlihatkan di satu pihak komunitas bangsa Israel yang sibuk merayakan Pentakosta dengan mensyukuri pemberian Hukum Taurat ‐ dan di pihak lain memperlihatkan komunitas murid‐murid Yesus ‐ yang tidak ikut mensyukuri pemberian Hukum Taurat – tetapi atas mereka turunlah Roh Kudus, sehingga penuhlah mereka dengan Roh Kudus.

Untuk mengerti maksud Lukas perlu kita ingat ”Siapakah Roh Kudus ‐dan apakah artinya turunya Roh kudus atas komunitas Yesus – yang sedang berkumpul bersama Maria, ibu Yesus ?”

Kata “Roh” berasal dari bhs hibrani RUACH – yang berarti napas –

Orang israel itu adalah orang konkrit. Pada waktu itu mereka yakin bahwa selagi orang bernafas, ia masih hidup; kalau ia tidak bernafas lagi, orang itu sdh mati.

Maka bagi mereka RUACH berarti nafas, berarti hidup manusia – berarti kekuatan, energi, dan segala sesuatu yang terpancar dari manusia yang hidup.

Maka RUACH –berarti napas Allah, berarti kehidupan Allah – berarti daya, energi, dan segala sesuatu yang terpancar dari Allah yang hidup. Oleh karena Allah, Bapa Yesus adalah kasih, maka yang terpancar dari Bapa adalah kasih, yang namanya adalah Roh Allah, adalah

Roh kudus adalah seluruh kemampuan kasih Allah yang dicurahkan ke dalam hati murid‐murid Yesus.
Lukas di sini merekam saat di mana komunitas murid‐murid Yesus telah dipenuhi oleh napas Allah sendiri, oleh kehidupan dan oleh daya kasih Allah sendiri:
penuhlah mereka dengan Roh Kudus.

Roh kudus.

Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus.

 

Lukas telah memotret saat di mana Hukum Taurat – yang disyukuri oleh bangsa Israel – telah diganti dengan Roh Kudus – yang dicurahkan atas komunitas murid‐ murid Yesus.

Pesan Lukas adalah:

Peraturan, perintah, penetapan yang telah mengatur relasi satu bangsa ‐ bangsa Israel dengan Allahnya ‐ telah diganti dengan relasi yang serba baru – oleh relasi kasih sayang ‐ yang tidak lagi antara Allah dengan satu bangsa khusus, melainkan antara Allah, Bapa Yesus, dengan seluruh umat manusia.

Penginjil Yohanes menegaskan apa yang terjadi pada hari itu di Yerusalemdengan menulis: Hukum Taurat diberikan melalui Musa. Tetapi kasih sayang Allah – Roh Kudus ‐ dinyatakan melalui Yesus Kristus. (Yoh 1:17)

Dengan Yesus ‐ relasi antara manusia dengan Allah tidak berdasarkan lagi kepatuhan pada Hukum Taurat ‐ melainkan berdasarkan penyambutan kasih Allah.

Pada Hari Raya Pentakosta itu di Yerusalem telah terjadi perubahan besar:

  • Telah terjadi peralihan dari Musa kepada Yesus, sebab Hukum Taurat diberikan melalui Musa. Tetapi kasih sayang Allah dinyatakan melalui Yesus Kristus.
  • Telah terjadi peralihan dari Allah Musa, Penegak hukum dan Hakim. Kalau orang melakukan perintahNya diberkati; kalau orang melanggar perintahNya, dihukum, setimpal dengan besar dosanya. Itu Allah Musa.

Telah terjadi peralihan dari Allah Musa kepada Allah, Bapa Yesus, yang mencitai manusia bukan setimpal dengan kesalehan dan jasa‐jasa manusia, melainkan setimpal dengan kelemahan dan kebutuhan manusia, maka ia lari mendapatkan anak yang hilang, lalu merangkul dan mencium dia, dan dipestakannya.

Itulah kabar baik, itulah Injil.

Maka terjadi peralihan dari Hukum Taurat kepada Injil.

Telah terjadi Perhalihan dari perintah Allah,”haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus adanyakepada ajakanYesus: Hendaklah kalian berbelaskasihan seperti Bapamu juga berbelaskasihan!” (Luk 6:36)

Yesus tak pernah minta agar murid‐muridNya menjadi kudus seperti Dia atau seperti Bapanya, melainkan agar murid‐muridnya menyerupai BapaNya dalam mencintai manusia,”Hendaknya kamu berbelaskasihan seperti Bapamu juga berbelaskasihan!” (Luk 6:36)

atau menurut Matius “Hendaknya kamu sempurna dalam kasih, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna – ARTINYA: Bapamu di surga mengasihi semua orang dengan sempurna. Kalian harus begitu juga.” (Mat 5:48).

Terjadi peralihan tentang definisi: Siapakah orang beriman menurut Hukum Taurat ‐ kepada definisi Siapakah orang beriman menurut Yesus.

Orang beriman menurut Hukum Taurat adalah dia yang takwa kepada Allah dengan melakukan segala perintahNya. –

Orang beriman menurut Yesus adalah dia yang berbelaskasihan seperti BapaNya berbelaskasihan!” (Luk 6:36) ‐ mencintai seperti BapaNya mencintai.

Pada setiap perjamuan Ekaristi Allah Bapa Yesus mengkomunikasikan dan mencurahkan ke dalam hati kita seluruh kasih sayangNya, yaitu Roh Kudus.

Yesus mengatakan bahwa Bapanya menganugerahkan Roh kudus tanpa batas.

Yang membatasi karya Roh kudus dalam diri kita adalah sikap kita yang egois, rasa benci, rasa balas dendam… Di situ Roh Allah tak berdaya,…. selagi kita mengubah sikap eogis menjadi kemurahan hati, rasa benci dan balas dendam menjadi pengampunan dan belaskasih. ‐

8

9

Hari ini kita mendengarkan Yesus yang menceritakan Perumpamaan yang dikenal sebagai Perumpamaan Anak yang hilang.

Kiranya perlu pengantar yang akan mendukung pengertian kita mengenai perumpamaan ini dan pengertian semua perumpamaan lainnya.

Yesus suka mempergunakan perumpamaan‐perumpamaan untuk memperkenalkan Siapakah Allah, BapaNya, dan bagaimana BapaNya berperilaku dengan kita manusia.

Apakah perumpamaan itu ?

Pada zaman ini, era digital, kita miliki media komunikasi sosial yang cangih dan setiap hari semakin banyak dan semakin cangih untuk memancing perhatian orang.

Pada zaman Yesus satu‐satunya media komunikasi sosial adalah bahwa ada orang yang berbicara dan ada orang yang mendengarkan.

Tidak ada type recorder.

Tetapi mereka punya daya menghafal yang luar biasa yang seampuh type recorder.

Maka Yesus memanfaatkan perumpamaan sebagai « sarana didaktis » untuk menangkap perhatian orang dan untuk memfokuskan perhatian orang pada suatu situasi yang konkrit, yang menyangkut kehidupan mereka.

Boleh dikatakan bahwa:

Perumpamaan adalah sebuah kisah, di mana Yesus mengangkat situasi yang riil,

  • suatu pengalaman dari hidup sehari‐hari,
  • dengan cara yang memikat perhatian si pendengar,
  • di mana si pendengar merasa bahwa situasinyalah yang dibicarakan,
  • sehingga ia merasa disapa, ia merasa diajak berpikir dan akhirnya ia diajak mengambil sikap.

Itulah perumpamaan.

Hari ini kita mendengarkan Yesus yang menceritakan:

PERUMPAMAAN ANAK YANG HILANG

(Luk 15 11‐32)

Lukas mengawali kisahnya dengan menjelaskan dimana Yesus menceritakan perumpamaan itu, dan mengapa dan kepada siapa perumpamaan itu diceritakan oleh Yesus, sbb :

Para pemungut cukai dan orang‐orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut‐sungutlah orang‐orang Farisi dan ahli‐ ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang‐orang berdosa dan makan bersama‐ sama dengan mereka.” (Lukas, 15:1‐2)

Di Israel yang disebut orang berdosa bukan hanya mereka yang melanggar perintah‐perintah Allah melainkan juga orang‐orang yang menekuni profesi yang dianggap tidak mulia, seperti profesi wanita tuna susila, penagih pajak, kaum gembala, pengolah kulit‐kulit binatang… (Quid. M. 4,14).

bersungut‐sungut menyatakan reaksi negatif mereka terhadap perilaku Yesus yang bertentangan dengan tradisi dan terutama dengan ajaran ‘magisterium’ institusi agama Yahudi.

Tuduhan mereka adalah bahwa « Ia » menerima orang‐orang berdosa dan makan bersama‐sama dengan mereka.”

Dalam tradisi orang Israel, makanan dihidangkan dalam satu piring saja yang besar, dan semuanya mengambil makanan dari piring yang satu itu.

Jika salah seorang diantara mereka adalah najis, maka semuanya ditulari kenajisan.

Yesus dikecam oleh orang Farisi dan ahli‐ahli Taurat sebab ia tidak menaati apa yang tertulis dalam kitab Imamat, di mana ditetapkan bahwa orang najis – yaitu – orang berdosa harus dipisahkan dari orang saleh.

Yesus mencampurkan semuanya, sehingga Yesus pun dinajiskan. Najis berarti hubungan Allah dengan mereka putus.

Tapi mereka belum mengerti bahwa bukan Yesus yang dinajiskan oleh mereka ; sebaliknya kesucian Yesuslah yang menulari mereka.

Tujuan orang‐orang Farisi dan ahli‐ahli Taurat adalah mendiskreditkan wibawa Yesus di mata masyarakat, yang ramai mengikuti Yesus.

«Tak mungkin « orang itu » datang dari Allah sebab ia orang najis karena ia makan bersama dengan orang berdosa, maka tak ada komunikasi Allah dengan dia. Orang itu dari pada mengantar manusia mendekati Allah, ia membawa manusia kepada kebinasaan.

Lalu Yesus menjawab kecaman mereka dengan menceritakan perumpamaan yang dikenal sebagai

  • Perumpamaan Anak yang hilang (Luk 15:11‐32).

Sebelum Perumpamaan Anak yang hilang Yesus sudah menceritakan dua perumpamaan lain, yaitu,

  • Perumpamaan domba yang hilang (Luk 15:4‐7);
  • dan Perumpamaan dirham yang hilang (Luk 15:8‐10) ‐ di mana Yesus mengumumkan sukacita besar yang dinyatakan oleh BapaNya ketika Ia berjumpa dengan orang berdosa, sehingga BapaNya sendirilah yang pergi mencari dan berjumpa dengan orang berdosa.

Sampai di sini pengantar yang dirasakan perlu agar hati kita dibantu untuk mengerti dan memahami pesan Yesus yang disampaikan perumpama‐ perumpamaNya

P Otello Pancani, SX
.…. bersambung ke “Kerahiman Allah Bapa Yesus” bagian II

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s