PESTA KELUARGA KUDUS – YESUS, MARIA dan YUSUF di Stasi St Fransiskus Xaverius Bukit Payung

Minggu pertama setelah Natal, tata liturgi Katolik selalu merayakan Pesta Keluarga Kudus Nasaret. Dan hari ini tanggal 27 Desember 2015 Pastor Pancani, SX. Merayakannya di Stasi Bukit Payung. Dalam perjalanan menuju ke sana kami sempat membahas tentang Injil hari ini. Pastor Pancani berkata Injil bukanlah berisi tentang riwayat hidup Yesus, tetapi Injil juga bukan dongeng. Injil bukan lipulan berita dan penginjil bukan wartawan. Tentu pernyataan Pastor yang selalu menjelaskan Kitab Suci ini dengan gaya yang berbeda membuat saya menjadi melek dari rasa ngantuk. Lebih lanjut beliau berkata “ Injil itu tidak menyangkut sejarah melainkan teologi, artinya penginjil tidak menulis Injilnya sebagai riwayat hidup Yesus. Tetapi menulis makna-makna peristiwa-peristiwa yang dikemas oleh penginjil untuk dijadikan pesan iman bagi kita”.

Wah… mungkin pembaca akan semakin bingung ini kan… ayo ngaku bingung apa tidak. Wong saya aja bingung. Tetapi jika di simak lebih lanjut mungkin saudara dan saya akan menemukan makna yang dapat membantu akan pemahaman terhadap injil. Karena Injil itu sungguh kaya. Maka sayapun menjadi lebih semangat untuk mendengarkan penjelasan pastor ini katanya lebih lanjut “ supaya hati kita tersentuh oleh cara hidup Yesus, sehingga kita mempunyai hidup dalam nama-NYA, supaya kita mengalami kasih Allah yang Nampak dalam diri Yesus (Yoh. 20 :31)

Tidak terasa perjalanan panjang sudah tiba di depan Gereja Bukit Payung. Seperti biasa kami langsung menyalami umat yang sudah hadir dalam gereja. Wah… ini nampaknya natal tahun ini ada suasana lain. Ornament natal sangat banyak ada di depan gereja ada pohon natal, di panti imam ada gua natal juga patung-patung natal sudah di susun di dalamnya, ada juga pohon natal yang dibuat dari hasih kreasi sendiri. Suasana natal tampak meriah. Di samping itu ada juga hal baru yang tampak yaitu bangku gereja juga sudah bias berlutut. Tentu dengan semangat saya memberikan pujian untuk umat di sana karena banyak perkembangannya.

Sebelum perayaan di mulai ibu-ibu masih sempat berlatih koor yang akan mereka bawakan waktu Misa. Cukup bagus suara ibu-ibu di sini maka saya tidak terlalu banyak berkomentar seperti biasanya yang saya lalukan. Wah Nampak anak-anak BIA sudah pada kumpul, maka kesempatan ini tidak disia-siakan untuk bertemu dengan mereka dan mengajarkan sebuah lagu yang sudah saya siapkan teksnya. Dan mereka cukup cepat untuk menangkap lagu itu. Wah… namapaknya untuk latihan-latihan sudah cukup karena Pastor Pancani sudah siap untuk Perayaan Ekaristi.

Pastor pancani masuk bersama misdinar, lector, dan pembawa mazmur, wak tetapi ada juga yang tidak pakai alba, nampaknya dia yang akan membacakan doa umat. Wah… seharusnya pembaca doa umat tidak perlu ikut perarakan cukup duduk di bagian depan (kalau tidak salah aturannya begitu, tetapi ya tidak apalah) mari kita mengikut perayaan Ekaristi dengan hikmat. Nampaknya saat ini banyak perantau yang pulang, itu dapat kita lihat dari petugasnya.

Setelah bacaan Injil, lebih lanjut Pastor Pancani menjelaskan kotbahnya yang diambil dari Lukas 2 : 41-52. Yusuf dan Maria dengan setia mengikuti tradisi dan agama nenek moyang mereka. Dalam tradisi itu mereka membina Yesus sejak dini. Yesus sudah diajak orang tuanya ke Yerusalem pada usia 12 tahun. Akan tetapi Yesus tidak mengikuti tradisi Yusuf dan Maria melainkan kehendak Bapa-Nya di surge. Itu sebabnya terjadi situasi yang kurang menyenangkan. Yesus tidak bersama-sama dengan orang tuanya. Jika kita membaca hari ini sebagai liputan seorang wartawan, maka keluarga Nazareth itu tampaknya keluarga ramai. Tidak ada komunikasi antara kedua orang tua, orang tua tidak peduli kepada anaknya, dan anaknya tidak minta ijin kepada orang tua untuk tinggal di Yerusalem, dan menegur orang tua dengan tidak hormat. Itulah yang nampak, namun sebenarnya dari bacaan Injil hari ini terdapat suatu pesan bahwa demikianlah bangsa Israel (sebagai gambaran umat manusia) dalam memperlakukan Yesus. Sikap lain dari Maria adalah menyimpan semua peristiwa di dalam hatinya, meskipun ia tidak mengerti.

Setelah perayaan Ekaristi selesai dilanjutkan dengan makan bersama dan ramah tamah. Anak-anak BIA menampilkan tarian-tarian secara bergantian. Dengan diiringi music yang begitu gembira membuat ibu-ibu juga ingin ikut menari. Sungguh suka cita Natal memberikan kegembiraan dan kebahagiaan.

Selamat Natal…

` Rosalaura Purba

Foto-foto tersedia di Facebook Kontributor

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s