PENGAMPUNAN – SEBUAH REFLEKSI

Pada masa Adven dan masa prapaskah sering kali kita mengadaakan Sakramen Rekonsiliasi /sakramen pengakuan dosa untuk mempersiapkan diri serta membersihkan diri dalam menantikan kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus.

Dalam perjalanan hidup ini, kita mengalami  kepahitan hidup dan rasa dendam yang merajalela dimana-mana, termasuk di dalam hati kita masing-masing, dapat menyebabkan semakin banyak orang berkata-kata dan bertindak yang menyakitkan satu sama lain. Keindahan hidup ini, kebahagiaan hidup ini sering kali menjadi hilang atau paling tidak berkurang karena  ketidakmampuan atau penolakan kita untuk mengampuni dan menyembuhkan luka-luka batin, maka kita harus mengambil keputusan unruk berbuat sesuatu atasnya. Ketika kita  membiarkannya, dan itu berarti menambah luka kita semakin dalam dan banyak, atau kita memperhatikannya dan menghadapinya secara kreatif berarti mencari cara yang bermanfaat bagi perkembangan hidup kita. Dengan cara “dunia” menempuh rasa sakit adalah dengan membalas dendam, sedangkan cara yang dianjurkan Tuhan Yesus adalah mengampuni dan jika mungkin mengadakan perdamaian.

Tuhan Yesus telah memberikan teladan sempurna dalam hal pengampunan. Ia mengampuni semua orang yang merencanakan, bersekongkol, dan menyalibkan Dia. Yesus mati dengan mengampuni musuh-mushnya, “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:24). Kita semua harus bersedia mengampuni seperti yang disbdakan Tuhan Yesus, “Inilah darahKu…yang ditumpahkan… demi pengampunan dosa” (Mat 26: 28).

Mutu kita sebagai orang katolik diukur oleh kemampuan dan kesediaan kita untuk bekerja dama dengan rahmat Tuhan, mengampuni luka, atau menyembuhkan rasa sakit yang kita alami. Yesus bersabda, “Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka… Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati (Luk 6:32-36). Marilah kita merenungkan tentang pengampunan .

PENGAMPUNAN dapat dimengerti sebagai suatu keputusan berniat untuk melepaskan rasa sakit. Dan ini tidak serta merta bahwa kita telah memaafkan. Karena keputusan itu sendiri belum mengurangi rasa sakit. Tetapi, dengan keputusan tersebut, kita sudah berniat untuk tidak membenci atau menolak orang yang menyakiti diri kita. Setelah mengadakan pengampunan pun mungkin kita masih memiliki perasaan negatif terhadap orang yang telah menyakiti hati kita. Mengapa? Sebab, pengampunan bukan merupakan masalah perasaan saja, pengampunan juga menyangkut suatu niat atau kemauan. Keputusan untuk mengampuni, seperti halnya keputusan untuk mencintai, harus dinyatakan berulang-ulang agar semakin mendasari keberadaan kita. Tanda-tanda pengampunan sejati adalah: kita dapat berdoa bagi orang lain; secara tulus mengharapkan orang lain beraada dalam keadaan yang baik; dan jika dibutuhkan membantu orang tersebut dalam situasi dan kondisi tertentu.

Hubungan kita dengan orang lain setelah terjadinya pengampunan dan perdamaian sangat tergantung pada hubungan kita sebelum kita mengalami rasa sakit. Ada orang yang mungkin sudah memiliki hubungan yang renggang atau bahkan sama sekali tidak memiliki hubungan. Kalau sebelumnya hubungan kita renggang atau bahkan belum pernah memiliki hubungan, maka tidak ada keharusan setelah terjaadi pengampunan kita harus berhubungan lagi. Karena ada orang yang menyadari bahwa mereka harus mengendalikan perasaan dan menahan diri untuk tidak mengadakan pertemuan secara fisik dengan orang-orang yang telah menyakiti hatinya, lebih-lebih kalau hubunganitu justru cenderung merusak dirinya. Bagi kita orang katolik, biasanya diwajibkan untuk mengadakan pengampunan dan perdamaian terhadap luka-luka batin yang kita alami. Maka Santo Paulus berulang –ulang mengingatkan kita agar selalu berusaha mengatasi perbedaan-perbedaan. (1 Kor 1: 10-16; Ef 4: 29-32; 1 Tes 4: 12-18 ).

UNGKAPAN CINTA

Kemampuan mencintai merupakaan kualitas yang dapat kita miliki sebagai pribadi manusia, bahkan tidak hanya secara manusiawi belaka namun sampai pada tingkat rohani kita. Mengapa? Sebab dengan CINTA, Tuhan telah menciptakan manusia dan makhluk lainnya serta bumi dan segala isinya. Mencintai Tuhan seperti mencintai diri sendiri dan sesama harus menjadi persembahan yang terbesar dalam kehidupan kita. Membenci Tuhan atau seseorang merupakan tindakan yang melawan cinta dan menghancurkan kemampuan manusia untuk mencinta. Tuhan adalah kasih dan penuh cinta, maka kebencian berlawanan dengan eksistensi Tuhan. Kebencian merupakan sumber dosa karena kebencian adalah akar dan sumber tindakan-tindakan jahat. Kesabaran itu menetralkan kebencian, pengampunan menyembuhkan kebencian, dan belas kasih serta kemurahan hati mengangkat sikap dan tindakan orang penuh kasih dan pengampunan ke tingkat pertama cinta. Seseorang yang sudah sampai pada tingkat pertama cinta akan memiliki sikap menghargai, menerima, dan melibatkan peranan Tuhan dalam kehidupannya. Pengampunan dan kasih meningkatkan kemampuan kita untuk mencintai sesama seperti diri kita sendiri, sebagaimana Tuhan mencintai kita dan sesama. Belaskasihan berarti menaruh kasih, ikut menderita bersama yang lain, berdukacita bersama dengan yangsedang berdukacita dan tertimpa kemalangan dengan niat untuk menolong. Sikap belas kasih demikian seperti yang disabdakan Tuhan Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali…?” “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18: 21-22 ). Jikalau seorang berkata,  “Aku mengasihi Allah, “ tetapi ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta karena barang siapa tidak mengasihi saudara yang dilihatnya. Tidak munkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Perintah ini kita terima dari Dia: barang siapa mengasihi Allah, ia harus juga mengsihi saudaranya ( 1Yoh 4: 20-21 ).

Kekuatan dan kemampuan mencinta datangnya dari Tuhan, yakni cinta Tuhan yang tertuju kepada manusia dan sebaliknya, cinta manusia yang diarahkan kepada Tuhan. Cinta merupakan suatu tindakan timbal balik. Kekuatan dan kemampuan mencita semakin bertambah dan meningkat sejalan dengan bertambahnya cinta Tuhan yang kita alami. Semakin kita mencintai Tuhan dan sesama, kita akan semakin menerima cinta dan sekaligus menambah kemampuan kita untuk menintai. Demikianlah tindakan mencintai ini merupakan suatu lingkaran timbal balik yang salling mempengaruhi.

Ada banyak sekali ajaran Tuhan Yesus yang berkaitan dengan keutamaan mencinta dan mengampuni. Mencinta dan mengampuni merupakan dua sikap yang tak dapat dipisahkan. Keduanya saling menunjang dan mendukung. Kita hanya dapat mengampuni karena kita mencintai maka kita rela mengampuni. Semakin kita sering mengampuuni, semakin bertambah besarlah cinta kita. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa kita harus memiliki kemampuan dan kekuatan untuk mengampuni yang tanpa batas, bersikap sabar, dan tetap mencintai orang yang berdosa. Tidaklah mudah untuk memenuhi kebutuhan demikian. Itulah sebabnya Tuhan Yesus sendiri memberikan teladan-Nya. Yesus menekankan agar kita mencintai sesama seperrti kita mencintai diri sendiri, sebagaimana Tuhan mencintai kita dan sesama kita. Kita membuuhkan banyak latihan dan waktu untuk mempraktikkan sikap ini. Lebih awal kita belajar dan mempratikkan tindakan mencintai dan mengampuni, semakin cepat kita mempelajari dan mempraktikkannya, semakin cepat pula kita mudah mengikuti perintah Tuhan dan dengan demikian semakin bersatu dengan Tuhan serta mencapai kehidupan yang membahagiakan.

Bagaimana belajar mencintai seperti yang dikehendaki Tuhan Yesus?

Pertama, kita harus memiliki keyakinan bahwa kita dapat mengubah karakter kita.

Keyakinan  ini sangat penting, sebab pada dasarnya manusia itu merupakan makhluk yang dinamis, yang selalu bertumbuh dan berkembang. Bukanlah makhluk yang statis, tetapi yang selalu terarah ke masa depan, yang lahir untuk menuju kepada kematiannya.

Manusia adalah makhluk peziarah, yang sedang mengembara mencapai kepenuhan makna hidupnya. Kita harus yakin bahwa kita dapat berubah dan kita sendirilah yang menentukan perubahan itu. Bahkan kita dapat mengembangkan dan meningkatkan mutu karakter kita yang positif (Mrk 10:18 ; Mat 19: 17).

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”.

Yesus menginginkan kita untuk menjadi baik dan benar. Untuk menjadi orang baik dan benar kita harus bekerja sama dengan Tuhan. Program dasarnya adalah mencintai dan mengampuni. Kebaikan Tuhan adalah mutlak. Tidak ada yang dapat menyamai kebaikan Tuhan. Kebaikan kita berdasarkan pada kebaikan Tuhan. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menandingi kebaikan Tuhan. Kita manusia tidak selalu cukup baik. Semakin kita dekat dengan kebaikan Tuhan, semakin kita baik. Kebaikan ini merupakan perwujudan cinta Tuhan dan juga cinta kita.

Kita sadar bahwa manusia dapat mengubah wataknya, tetapi seing kali lupa menerapkan pada diri kita sendiri. Maka, sering ada ungkapan, “Ah, dia telah berubah!” atau ; “Ahhh…, Dia memiliki watak yang berbeda, setelah ia menjadi kaya”.

Jika kita yakin bahwa kita dapat berubah, dan berniat untuk berubah menjadi lebih baik, maka kita telah berada pada tahap pertama dalam usaha memperbaiki dan meningkatkan  watak, yakni melenyapkan dari hati kita perasaan benci, iri hati, cemburu, ketakutan, nafsu-nafsu, dan harapan-harapan yang melebihi kebutuhan kita, sebab hal-hal ini sungguh-sungguh bertentangan dengan sabda Tuhan.

Sering kali orang tua berkata kepada anak-anaknya, “teman-temanmu adalah juga teman-temanku”, atau “jika ia adalah temanmu, maka ia juga temanku”.kita dapat menerapkan hal ini kepada Tuhan.

 “Tuhan sahabat-sahabat-Mu adalah sahabat-sahabatku juga. Karena Engkau mencintai dia, maka aku juga ingin mencintainya”. Siapa yang dicintai Tuhan? Semua orang, bahkan musuh-musuh kita. Yesus bersabda, “Hendaklah kamu saling mengasihi seperti Aku telah mencintaimu.” Dengan demikian, bagaimana kita dapat membenci seorang yang dicintai Tuhan?

Marilah kita belajar dan mempraktikkan sikap dan tindakan “tidak membenci tidak iri hati, tidak mengancam tetapi cepat mengampuni “. Marilah kita jadikan sikap yang demikian menjadi kebiasaan yang baik dalam hidup harian kita. Kita perlu menyadari terus-menerus untuk tidak membenci, iri hati, mengacam tetapi mengampuni atau paling tidak bersikap sabar.

Namun hal ini tidaklah mudah kita lakukan. Betapa sulitnya untuk tidak membenci orang yang telah melukai hati kita, menyakiti kita, bertindak keras kepada kita, mencuri yang kita miliki, khususnya orang-orang yang kita cintai entah dengan fitnah, penculikan, penghilangan, maupun pembunuhan. Betapa sukarnya memenuhi tuntutan bahwa kita harus mencintai dan mengampuni musuh-musuh kita.

Setiap kali kita berdoa “Bapa Kami”, kita selalu mengucapkan kata-kata “Ampunilah kesalahan kami seperti kamu kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”. Sebelum kita minta pengampunan atas dosa-dosa kita, kita harus lebih dahulu mengampuni tanpa syarat sesama yang berdosa terhadap kita. Bagaimanapun juga kita harus melakukan ini sebab ini adalah perintah Tuhan dan kita setiap kali berjanji untuk melakukannya kalau kita berdoa “Bapa kami”. Yakinlah bahwa Tuhan akan membimbing dan memberikan rahmat kekuatan kepada kita agar kita dapat melaksanakannya.

Dengan melaksanakan tahap pertama ini, kita belajar untuk lebih bersabar dan bersikap rendah hati. Semakin kita sabar dan rendah hati, semakin kita mampu mengendalikan watak kita. Tuhan Yesus sendiri menjalani hukuman salib-Nya dengan penuh kesabaran, pengampunan, dan kerendahan hati. Yesus mengampuni orang-orang yang menyalibkan-Nya (termasuk kita karena dosa-dosa kita). Oleh karena itu, marilah kita mengampuni orang-orang yang telah menyakiti hati kita, paling tidak bersikap sabar kepada mereka. Kalau kita mampu melaksanakan ini, maka kita akan mengalami hati yang damai, tenteram, dan sekaligus memancarkannya kepada sesama.

Kedua, belajar untuk tidak lekas besikap dan bertindak marah kepada orang-orang yang bersalah, keliru bertindak, dan memiliki kekurangan-kekurangan tertentu.

Kita akan mampu belajar dan mewujudkan tahap kedua ini jika kita telah memahami dan mengembangkan tahap yang pertama. Jadi dalam hal ini jika kita dapat mendefenisikan secara jelas kekurangan, keterbatasan,, dan watak yang normal dan wajar sebagai manusia. Ingatlah kesempurnaan hanya menjadi milik Allah.

Santa Theresia Liseux berkata, “Kesempurnaan terkandung dalam pelaksanaan kehendak Allah dan menjadi seperti apa yang Tuhan kehendaki.” Setiap orang selalu memiliki kekurangan, keterbabatasan, ketidaksempurnaan. Hanya satu yang sempurna, yaitu Tuhan sendiri. Maka, kasalahan dan kegagalan adalah wajar bagi kita manusia. Daripada kita bersikap marah pada kesalahan dan kegagalan akibat ketidaksempurnaan manusiawi lebih baik kita menaruh belas kasihan kepadanya. Kesalahan dan kekeliruan dalam bertindak sering kali disebabkan karena seorang terlalu lemah atau banyak kekurangannya, maka bukan kemarahan yang mereka butuhkan tetapi sikap belas kasihan.

Ketiga, meningkatkan rasa belas kasihan kita ketingkat yang lebih tinggi, yaitu sikap kasih kepada kelemahan-kelemahan manusiawi.

Pada kasus yang wajar, kesalahan terjadi karena “mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”. Cara yang tepat pada langkah ketiga ini adalah mencoba membetulkan kesalahan-kesalahan dan memperbaiki kegagalan-kegagalan mereka, termasuk jika kita sendiri yang menjadi korbannya atau yang dirugikan. “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi, hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ef 4:31 -32 ). Kita harus saling mengampuni, dan mencintai. Kita mencintai seseorang dengan cara tidak memaksakan kehendak kita kepada seseorang.

~Sr.L

Pengampunan

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s