GAMBARAN KITA TENTANG ALLAH

Catatan ini ditandai hanya bagi orang katolik, karena memang membahas satu perkembangan yang terjadi dalam teologi katolik, khususnya sesudah Konsili Vatikan II.

 Perkembangan itu menyangkut gambaran kita menganai Allah.

Dalam teologi tradisional Allah ditandai oleh kekuasaan dan keadilan. Dia adalah yang Maha Kuasa, yang dapat membuat apa saja dan Dia menentukan apa yang harus dibuat oleh manusia: karena itu Dia memberikan hukumNya. Isinya hukum itu bisa apa saja, karena tergantung dari kehendakNya yang bebas dan supaya hukum itu dilaksanakan oleh manusia, Dia mengancam yang tidak mau menerimanya dan berjanji memberikan hadiahnya kepada orang yang melaksanakannya. Manusia harus menyenangkan hatiNya justru melalui ketaatan, pelayanan dan pengorbanan. KasihNya diberikan kepada orang yang baik itu, yang memenuhi syaratnya, sedangkan yang jahat akan mengalami kemarahanNya. Kalau kita membutuhkan sesuatu, kita harus meminta-minta kepadaNya, dan mungkin akan diberikan.

Semuanya ini tidak salah, tetapi direnungkan ulang dan dimengerti dalam cahaya pesan Yesus tentang Tuhan.

Ini semuanya nampak dalam diri Yesus, Allah yang menjadi manusia. “Siapa melihat saya sudah melihat Bapa” (Yoh 14,9). “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; Anak Tunggal Allah… Dialah yang menyatakanNya” (Yoh 1,18). Dan apa yang yang dibawa oleh Yesus? Melalui Musa diberikan hukum, tetapi melalui Yesus diberikan Kasih dan kebenaran (Yoh 1:17).

  • Allah tidak ditandai oleh kekuasaan/keadilan tetapi oleh kasih (1Yoh 4,8). “Hadiah keadilanNya” (Rom 5:17) sekarang nampak dalam pengampunan dosa manusia (Rom 3:21-25).
  • Dia tidak menentukan hukumNya sewenang-wenangnya, tetapi memberikan kepada kita petunjuk, semacam rambu lalulintas, supaya kita mencapai tujuan yaitu kepenuhan hidup (Yoh 10:10)
  • Dia tidak mengancam dan tidak menghukum: Yesus diutus bukan untuk menghakimi dunia, tetapi untuk menyelamatkanynya (Yoh 3:17; 12:47). Kalau kita mengikuti petunjukNya, kita akan hidup; kalau tidak menerimaNya, kita sendiri menghukum diri, bukan Dia (Yoh 3:19): yang tidak mau datang ke cahaya, tinggal dalam kegelapan dan itu merupakan hukumnya bagi dia (Yoh 12:46).
  • Dia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan (1Kor 13:5). Dia selalu dan hanya baik; tidak pernah mengirim kemalangan kepada manusia (Mat 7:9-11).
  • KepentinganNya adalah kepentingan manusia, karena itu jalan yang ditunjukkaNya menuju hidup adalah menghormati manusia (Mrk 10:17-19). Dia tidak minta dan tidak membutuhkan kita melayaniNya, melainkan Dia melayani manusia (Yoh 13:1-11). Dia tidak minta supaya kita berkorban bagi Dia, karena Dia tidak suka pengorbanan tetapi belaskasihan (Mat 9:13), bahkan, Dia berkorban bagi kita (Rom 5:8).
  • Allah tidak mengarahkan manusia kepadaNya, tetapi kepada manusia lain: kita memperlihatkan kasih kita kepadaNya, dengan mengasihi sesama, yaitu anak2Nya (1Yoh 4:20-21). Dia senang bukan karena kita membuat sesuatu bagi Dia (Yang tidak membutuhkan dan tidak minta apa-apa bagi diriNya), melainkan ketika kita mengasihi manusia bersama dengan Dia dan seperti Dia, yaitu tanpa pamrih (Mat 5:44-45; Ef 4:32).
  • KasihNya tidak terbatas dan tidak bersyarat: tidak ada pilihan orang di hadapanNya (Rom 2:11). Karena Dia mengasihi bukan atas dasar jasa kita, karena kita baik, tetapi sesuai dengan kebutuhan kita, karena Dia baik (1Yoh 4:10.19).
  • KasihNya bukan pembalasan atas perbuatan baik dari manusia, tetapi diberikan dengan cuma-cuma (Luk 7:41-42; 18:10-14; Rom 5:5). Bahkan, yang lebih dikasihi adalah yang lebih kecil dan menderita (Luk 15:3-7) karena mereka lebih membutuhkan perhatian kasih.
  • Apa yang kita butuhkan, tentu boleh saja disampaikan kepadaNya, tetapi dengan keyakinan bahwa Dia sudah tahu sebelumnya (Mat 6:7-8) dan sudah mengabulkannya karena Dia memberikan Kristus dan di dalamnya ada segala-galanya (Rom 8:32).
  • Kasih yang diberikan itu, bukan sesuatu, tetapi DiriNya sendiri (Yoh 14:23; 1Yoh 1:3). Kita tinggal saja menerimanya, melanjutkanNya dan membagi-bagikanNya.

Dalam pandangan Injil, bukan manusia bagi Allah, tetapi Allah bagi manusia (seperti nampak dalam salib Yesus). Bahkan, kebaikan manusia dijadikan kriterium tafsiran Taurat sendiri (Mrk 3:1-5), bukan sebaliknya.

Bukan fungsi-Nya yang penting dalam hubungan dengan Allah (Dia tidak bisa diperalatkan untuk mencapai sesuatu), tetapi relasi yang dijalin dengan Dia atas inisiatifNya (sebagai Bapa).

Seluruh kehidupan orang beriman adalah hidup dalam Kasih, dari kasih dan demi kasih.

~ P. Francesco Marini SX

Sumber: Cerita Sang Misionaris – Xaveriani Indonesia

DSC_0471

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s