MEMBANGUN HIDUP PRIBADI PELAYAN

Sebagai seorang murid Kristus, kita dipanggil untuk melakukan karya Allah sendiri. Untuk itu Kristus telah membekali kita dengan kuasa-Nya sendiri  yang telah diterima-Nya dari Bapa (bdk. Yoh 14:12). Pekerjaan yang harus kita lakukan adalah pekerjaan Allah sendiri, yang dari hakekatnya melampaui segala kekuatan kita. Oleh karena itu kita memerlukan kuasa Allah sendiri, sebab hanya dengan demikian kita akan mampu melakukan pekerjaan yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Tetapi kuasa Allah itu, yang dari dirinya sendiri adalah baik, mudah diselewengkan bila orang itu tidak waspada. Orang mudah tergoda untuk menjadi sombong, berbangga-bangga secara sia-sia. Dan dari situ jatuh ke dalam pelbagai macam godaan. Orang yang melayani Tuhan menjadi target serangan si iblis yang selalu ingin menggagalkan karya Allah. Karena itulah Paulus menghimbau kita agar mengenakan seluruh persenjataan Allah (Ef 6:10). Sebab ada kemungkinan, bahwa setelah kita mewartakan Injil dan menjadi alat keselamatan bagi orang lain, kita sendiri dapat terbuang (bdk. Mat 7:21-23). Tidak jarang kita dengar, bahwa seseorang yang mulai dengan baik, kemudian berakhir secara menyedihkan, karena selama perjalanan hidupnya, dia tidak membangun hidup pribadinya dengan baik seturut rencana dan kehendak Allah. Itulah sebabnya Santo Paulus berkata: “Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Kor 9:27). Karena itu dalam kesempatan ini saya ingin mengajak Anda sekalian, para pelayan Tuhan, untuk memperhatikan hal-hal tersebut dan sungguh-sungguh membangun hidup pribadi Anda atas dasar  yang kokoh dan kuat.

Menjadi Yesus lain

Sebagai murid-murid Kristus kita dipanggil untuk mengikuti jejak Guru kita dan ikut serta menjadi pelayan, seperti Dia telah datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan hidup-Nya untuk kita. Dialah teladan dan model yang harus kita ikuti.

Santo Paulus berkata:“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang… telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba… Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di salib” (Flp 2:5-8).

Sebagai murid Yesus kita harus merasa seperti Yesus, berpikir seperti Yesus, mencintai dan melayani seperti Yesus. Menjadi seperti Yesus, memiliki semangat Yesus, itulah program kita. Khususnya kita harus meneladan dan menghayati kerendahan hati-Nya, yang walaupun Allah telah mau merendahkan diri-Nya. Karena itu kita harus mengosongkan diri dari egoisme kita, supaya Yesus dapat hidup dalam diri kita. Demikian kita akan dapat berkata bersama Paulus: “Aku hidup, tetapi sudah bukan aku, melainkan Yesuslah yang hidup dalam diriku.” Dengan demikian kita tidak akan memikirkan kepentingan diri sendiri saja, melainkan memiliki semangat Kristus yang telah berkurban bagi kita. Kitapun akan dapat mengerti nilai kurban, penyangkalan diri serta salib pada umumnya, yang bila dilihat dalam iman, justru akan semakin mempersatukan kita dengan Kristus sendiri.

 Hidup dalam Kemesraan Kristus

Kita dipanggil untuk menjadi saksi Kristus, untuk memberitakan Yesus Kristus yang telah wafat dan bangkit kembali dan yang sekarang hidup ditengah-tengah kita. Sebelum kita dapat mewartakan Dia, Yesus harus lebih dulu hidup dalam pikiran, hati, dan kerinduan kita. Dialah yang harus menjiwai seluruh hati dan hidup kita. Dialah juga yang harus memenuhi pikiran kita. Supaya kita dapat benar-benar memberi kesaksian tentang Dia, kita harus lebih dahulu mengenal Dia, mengalami kehadiran-Nya yang menyelamatkan. Pengenalan akan Yesus Kristus inilah yang sesungguhnya hakiki bagi kita. Persekutuan dengan Dia itulah yang sesungguhnya menentukan nilai kita di hadapan Allah, tetapi sekaligus juga kesuburan serta efektivitas pelayanan kita.

orang sering terbuai oleh kuasa, karena memang pembaruan itu membawakan kuasa Allah bagi kita. Memang kuasa itu dapat menjadi suatu godaan dan jerat yang amat membahayakan, bila orang tidak dapat menempatkannya pada tempat yang semestinya. Khususnya bila orang tidak tahu dengan jelas membedakan mana yang pokok dan mana yang hanya tambahan saja. Karena itu dengan sedih hati harus sering kita konstatir, bahwa banyak orang yang membanggakan karunia-karunianya, atau kuasanya yang diperoleh dari Tuhan. Bila orang mulai menjadi ‘laku’, segera dia menjadi sombong dan menganggap dirinya sudah begitu hebat. Dari kesombongan itu dia mulai jatuh ke dalam godaan dan dosa-dosa lain, seperti: kebanggaan sia-sia, pamer, mencari nama, keserakahan, bahkan tidak jarang juga jatuh dalam perzinahan. Mengapa? Karena orang yang sombong menutup diri terhadap rahmat Allah yang harus dimintanya dengan rendah hati. Sebaliknya ia membuka diri terhadap serangan si iblis.

Karena itu kita harus sungguh-sungguh menyadari, bahwa kuasa yang dibawakan oleh pelbagai macam karunia Roh Kudus bukanlah tujuan, melainkan sarana pelayanan. Nilai kita dihadapan Allah tidak ditentukan oleh banyaknya kuasa yang kita miliki, melainkan oleh kadar iman, harapan, dan kasih yang kita miliki. Oleh sebab itu pula yang terpenting bukanlah karunia itu sendiri, melainkan pengenalan mesra akan Yesus Kristus yang melampaui segala pengertian itu, yang pada hakekatnya adalah hidup abadi itu sendiri:“Inilah hidup kekal itu, yaitu bahwa mereka itu mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (bdk. Yoh 17:3). Itulah sebabnya mengapa Tuhan Yesus, setelah ke 70 murid yang diutus-Nya untuk mewartakan Injil dan diberi kuasa atas setan-setan kembali dari perjalanan-nya serta melaporkan dengan antusias bahwa setan-setan tunduk pada mereka dalam nama-Nya, mengingatkan mereka akan yang pokok. Yesus tidak meremehkan kuasa dan karunia-karunia Roh, tetapi meletakkannya pada tempatnya yang serta merelativirnya.

Semua itu hanya sarana, bukan tujuan. Tujuannya adalah persatuan dengan Allah, hidup kekal yang sudah mulai sekarang ini juga: “Aku melihat iblis jatuh seperti kilat dari langit. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ter-daftar di sorga”(Luk 10:18.20).

Kita dipanggil bukan untuk mencari kuasa, melainkan mencari Yesus sendiri dan dalam Dia mencari Bapa. Oleh sebab itu pula, jelaslah bahwa kita harus selalu bersatu dengan Yesus. Itulah yang menjadi tujuannya dan sebagai bonusnya kita akan menerima segala kuasa yang ada. “Barangsiapa percaya kepada-Ku, dia juga akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan lebih besar daripada itu” (Yoh 14:12).

Menjadi Rendah Hati Seperti Yesus

Kerendahan hati menjadi syarat mutlak bagi seorang pelayan Tuhan sebab kerendahan hati akan menjaga kita dari kejatuhan. Kecuali itu “Allah menentang orang sombong, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yak 4:5). Karena itu orang yang sombong tidak mungkin berkenan kepada Allah, sebaliknya orang yang rendah hati akan memperoleh segalanya.

Yesus sendiri, walaupun mahakuasa, telah merendahkan diri-Nya sebagai manusia lemah. Walaupun banyak sekali mukjizat yang dilakukannya, ia tetap rendah hati dan tidak pernah membanggakan diri atas semuanya itu. Dalam segala hal ia memuliakan Bapa karena kerendahan hati-Nya. Ia tidak pernah mencari kemuliaan bagi diri-Nya sendiri, melainkan kemuliaan bagi Bapa saja. Mengapa Yesus tidak mencari kemuliaan-Nya sendiri? Pertama-tama karena Ia sungguh-sungguh mengasihi Dia, dan itulah segalanya bagi Dia, dan itulah segalanya bagi Dia, kemudian karena Ia rendah hati. Ia menyadari dan menerima sepenuhnya ketergantungan-Nya yang mutlak dengan Bapa. Karena ia sadar sepenuhnya, bahwa Ia berharga di mata Bapa, dan dikasihi Bapa, Ia tidak  membutuhkan afirmasi dari pihak lain. Kasih dari Bapa sudah lebih dari cukup bagi-Nya. Sesungguhnya memang itulah satu-satunya yang berarti, yang lainnya tanpa itu tidak ada artinya sama sekali. Karena Yesus menyadari dan menerima ketergantungannya yang mutlak dari Bapa, ia disebut rendah hati.

Kerendahan hati dalam bahasa latin disebut humalitas, dari kata ‘humus’ yang artinya tanah. Karena itu orang yang rendah hati menyadari dan menerima, bahwa sesungguhnya ia hanyalah debu dan kembali kepada debu. Kecuali itu kerendahan hati pada manusia juga mengandung suatu aspek lain di samping menyadari kepapaannya sebagai orang berdosa yang tidak berdaya menghadapi dosa tanpa rahmat Allah sendiri. Seperti yang dikatakan Santo Paulus, ia juga mengalami perjuangan batin yang dashyat, yaitu perjuangan antara dosa dan rahmat, antara tarikan daging dan Roh (bdk. Rm. 7:14-23).

Seorang yang rendah hati tidak hanya menyadari dan menerima ketergantungannya yang mutlak dari Allah, melainkan juga kepapaannya yang mendalam, ketidakberdayaannya menghadapi kuasa dan dosa. Dari dirinya sendiri ia tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya rahmat Allah yang membuatnya tetap tegak, hal itu disadarinya secara mendalam. Karena itu juga, ia tidak akan berbangga-bangga karena ia sadar bahwa yang baik yang ada padanya, semuanya pemberian Allah semata-mata bukan karena jasa-jasanya, melainkan karena kerahiman Allah semata-mata. Bila pekerjaan yang dilakukan Allah melalui dia, orang memuji dan memuliakan dia, dia tidak akan terbuai karena sesungguhnya ia sadar bahwa dia hanyalah keledai yang ditunggangi Yesus. Orang tidak menghormati keledainya, melainkan Yesus yang menungganginya.

Bagaimana orang dapat menjadi rendah hati? Orang bisa menjadi rendah hati sampai pada derajat tertentu dengan merenungkan ketergantungannya dari Allah, ketidakberdayaannya, dosa-dosanya sendiri. Namun kerendahan hati yang sejati diberikan oleh Allah sebagai buah pengenalan Allah yang sejati. Semakin orang mengenal Allah, semakin rendah hatilah dia, karena dengan dinar rahmat-Nya Allah menyatakan keadaannya yang sesungguhnya. Di samping itu, pengenalan yang sejati akan Allah menjadikan segala nilai di dunia ini pudar sehingga dia tidak akan mencarinya lagi; dia tidak akan mencari kemuliaan, nama, pujian, kedudukan, tidak mempertahankan gengsinya karena dalam terang pengenalan Allah yang sejati semuanya itu hanya kosong belaka dan tampak sebagai sampah. Karenanya dia tidak lagi terikat oleh hal-hal itu. Itulah sebabnya pelayanannya akan menjadi semakin murni karena tanpa pamrih, dan sebaliknya, karena tanpa pamrih, pelayannya akan menjadi semakin efektif dan semakin menarik pula. Segala sesuatu yang yang dilakukan dengan kerendahan hati mempunyai daya tarik sendiri. Kerendahan hati boleh diumpamakan dengan GARAM yang membuat semua masakan menjadi sedap.

Memikul Salib Bersama Dengan Kristus

Sebelum meninggalkan para murid-Nya Yesus memberikan nasehat-Nya yang terakhir dimana a.l. dikatakan bahwa seorang hamba tidak lebih besar daripada tuannya. Bila tuannya dianiaya, maka hamba itupun akan dianiaya pula. Bila orang menerima Kristus, maka Ia juga akan menerima murid-Nya (bdk. Yoh 15:20). Karena itu bila kita sungguh-sungguh mau mengikuti Kristus, kita pun harus siap mengikuti-Nya sampai pada salib, kita harus siap menanggung nasib Kristus. Musah sekali mengikuti dan bersama Dia sewaktu di atas gunung Tabor, sewaktu Ia mempergandakan roti, sewaktu ia mengadakan tanda-tanda mukjizat. Namun kita juga harus siap menanggung segala cerca dan penghinaan, bahkan aniaya demi nama-Nya. Dengan demikian kita menjadi murid-Nya yang sejati. Karena kita bukan milik dunia, maka dunia akan membenci kita.

Bakti Sosial di Stasi Petapatan 24 Okt 2011 / Dok. Admin
Bakti Sosial di Stasi Petapatan 24 Okt 2011 / Dok. Admin

Menyadari Tujuan dengan Jelas

Dalam pembaruan kita harus selalu sadar akan tujuan yang ingin kita capai, yaitu pembaruan hidup kristiani kita. Tujuan pembaruan bukanlah untuk memperoleh karunia-karunia Roh Kudus, walaupun itu sangat penting dalam pelayanan kita, namun itu bukan tujuan. Tujuannya ialah pembaruan hidup kita seluruhnya sehingga seluruh hidup kita berada dalam kuasa Roh Allah. Bila kita sadar akan tujuan tersebut dan betapa kita masih jauh dari cita-cita tersebut, kita akan menjadi rendah hati dan penampilan kita juga akan semakin menarik bagi orang lain.

~ disadur dari ceramah yang diberikan oleh Romo Yohanes Indrakusuma O.Carm. pada Konvensi Nasional Karismatik VII di Malang, tahun 1996

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s