Bulan Kitab Suci Nasional 2015

banner-bksnPaus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Porta Fidei (Pintu Iman). Sri Paus merasa prihatin terhadap merosotnya penerusan iman yang sedang melanda Gereja. Bapa Suci mengajak segenap warga Gereja untuk merefleksikan imannya sekaligus mengambil langkah kreatif guna membangun kembali imannya. Untuk itu, lahan penting yang harus digarap adalah keluarga sebagai tempat utama penerusan iman. Keluarga diajak kembali merenungkan Kitab Suci. Harapannya, keluarga kristiani bertumbuh dalam iman berkat permenungan Kitab Suci yang dibaca, direnungkan, dan dihayati dalam keluarga.

Terkait dengan itu, tema BKSN 2015 ini adalah “Keluarga yang Melayani seturut Sabda Allah.” Pelayanan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan Gereja, bahkan menjadi identitas dirinya. Jika demikian, maka keluarga kristiani sebagai bagian dari Gereja turut serta dipanggil untuk menghayatinya dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari‐hari. Keluarga kristiani akan menimba inspirasi untuk melayani dari dalam Kitab Suci.

Permenungan kita akan mulai dengan melihat “Arti Pelayanan”. Di situ kita akan melihat sekilas perkembangan pemahaman tentang pelayanan dalam Kitab Suci: mulai dengan gagasan mengenai pelayan dari orang yang melakukan sesuatu demi orang lain, menuju pemahaman pelayanan sebagai persembahan yang hidup kepada Allah dan solidaritas kepada anggota tubuh Kristus yang sedang menderita.

Pada bagian berikutnya, “Dari Persaudaraan Menuju Perbudakan”, kita akan merenungkan bagaimana umat Israel dalam Perjanjian Lama memahami pelayanan mereka. Pelayanan itu pertama‐tama adalah pelayanan kepada Allah yang telah membebaskan, tetapi kemudian dinyatakan secara konkret dalam persaudaraan yang harus dibangun. Bagian ini menggarisbawahi bahwa pengalaman indah pembebasan oleh Allah dari perbudakan Mesir sungguh mempengaruhi Israel dalam memperlakukan saudara sebangsa.

Bagian “Melayani karena Kristus” merenungkan secara khusus apa yang dihayati oleh Santo Paulus. Bagi Paulus, Kristus menjadi alasan, motivasi, dan teladan dalam melakukan pelayanan kepada sesama. Jika semuanya dilakukan demi Kristus, maka sesungguhnya pelayanan itu menjadi persembahan yang berkenan kepada Allah (bdk. Rm 12:1‐2). Lalu, di mana pelayanan yang demikian ini bisa dihayati? Pada tempat pertama, Paulus mengatakan bahwa kehidupan jemaat adalah tempat untuk melayani, untuk menjawab panggilan kasih Allah yang dinyatakan dalam Kristus. Jemaat adalah tubuh Kristus sendiri. Selain itu, seperti Kristus yang melayani tanpa pandang bulu, pada tempat kedua, pelayanan itu menjangkau semua orang yang lain.

Pada bagian “Yesus Sang Pelayan Sejati” kita akan merenungkan kehidupan Yesus sendiri sebagai pedoman utama pelayanan keluarga kita. Yesus membaktikan seluruh hidup‐Nya untuk mengasihi Allah Bapa‐Nya dan mencurahkan kasih sehabis‐habisnya untuk manusia. Dialah Hamba Allah yang menderita itu, yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Apa yang dikerjakan Yesus selama hidup‐Nya menjadi seruan bagi para pengikut‐Nya untuk saling melayani.

Akhirnya, seruan Yesus untuk saling melayani berlaku bagi seluruh keluarga kristiani. Dalam bagian “Keluarga Kristiani Mengabdi Tuhan” akan direnungkan bahwa Allah sendiri menjadi alasan bagi keluarga kristiani untuk melayani dan mengasihi. Hal itu dilakukan di antara anggota keluarga sendiri, lalu diperluas di dalam Gereja dan masyarakat. Semuanya itu dikerjakan sebagai cara untuk saling menguduskan, menjadi persembahan yang berkenan kepada Allah ketika disatukan bersama kurban Kristus di altar dalam Ekaristi.

Bahan BKSN dari KWI bisa diunduh di sini

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s