JIKA CINTA ITU BUTA…..

Bagi yang menjalani masa SMA di tahun 1990-an, pasti mengenal lagunya Tiffanny “If Love is Blind… I’ll find my way with you…”

Seorang wanita menjelang 30 tahun berjalan cepat keluar dari kantornya di kawasan perkantoran Sudirman Jakarta pada jam makan siang. Di luar kebiasaannya, ia tidak menuju food court ataupun gang samping gedung-gedung pencakar langit untuk memenuhi kebutuhan makan siangnya, melainkan menaiki jembatan penyebrangan, menumpang sebuah bis yang membawanya ke Gereja Katedral. Ada hal lain yang dibutuhkannya lebih dari sekedar mengenyangkan perutnya.

Memasuki halaman Gereja Katedral, seolah ada sesuatu yang memelankan langkah untuk tidak berjalan cepat. Suasana halaman begitu teduh, tenang, seolah suara langkah yang dihasilkan high heels-nya terdengar amat jelas.

a-woman-sits-in-CHURCH

Foto: Ilustrasi dari Internet

Pintu samping Gereja terbuka, ia masuk, melewati satu baris kursi dan mengambil tempat untuk duduk. Terlihat olehnya seorang bapak tua sedang mengikis lumut (atau kotoran apapun) di lantai Gereja dengan suara yang statis, tidak terganggu dengan kedatangannya.

Setelah memastikan bahwa kedatangannya tidak mengganggu, ia mulai memandang ke depan, ke Altar. Tenang. Ada tujuh merpati putih, mungkin liar atau mungkin milik Gereja – berterbangan disekitar altar, membuat suara seperti nyanyian khas merpati, lembut namun jelas terdengat di tengah suasana hening diselinggi dengan suara gesekan-gesekan yang dihasilkan bapak tua tadi pada lantai.

Tidak berlutut, hanya duduk dan memandang kegiatan merpati tadi, seolah mereka tidak peduli bahwa mereka sedang berterbangan di atas Altar yang suci, menghasilkan guano, dan ribut saling bercengkrama.

Tanpa suara, air mata menetes, mulai membatin… “Dari semua yang pernah ada, hanya dialah yang bukan Katolik. Kalau boleh kami bersama, maka biarlah pernikahan kami direstui oleh GerejaMu, dan bantulah agar jangan sampai aku ingkar. Sebab sendiri aku takkan sanggup. Namun jika tidak ada restu dari GerejaMu, maka tidak masalah bagiku untuk tidak berbagi hidup bersamanya dan juga tidak dengan yang lain yang diikatkan dalam sebuah perkawinan. Kuatkan aku untuk membuat keputusan ini, antar aku kemana aku harus menuju,”

If love is blind… I will find my way with YOU.

Air mata menderas, mereda dan mengering. Merpati tadi masih sibuk dengan kegiatannya, dan bertambah banyak, seperti mau membuat sarang. Suara “krik-krik” yang dihasilkan bapak tua masih terdengar, namun sudah berpindah tempat semakin jauh.

***

Sebelas tahun lebih telah berlalu. Pernikahannya telah dilakukan di Gereja Katolik. Di tahun pertama perkawinannya, mereka pergi meninggalkan seluruh keluarga mereka – untuk membangun kehidupan rumah tangga a’la mereka. Pergi menyebrang pulau. Happy Ending? Belum.

Kehidupan pernikahan adalah suatu babak baru – seperti yang sering tertulis dalam kartu ucapan pernikahan “Selamat menempuh hidup baru…” Babak baru itu akan terasa lebih nyata jika pasangan muda hidup jauh dari keluarga asal mereka.  Mulai dari mencari pekerjaan, menyewa rumah, mengatur rumah, urusan keuangan, meninggalkan kehidupan dinamis menjadi lebih tenang, mempersiapkan kehadiran anak tanpa bimbingan orang tua/mertua yang sudah lebih bepengalaman, pergi ke rumah sakit bersalin berdua dan pulang bertiga dengan menggendong bayi, mengasuh anak, membesarkan, saling bantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga.. banyak hal.

Selayaknya keluarga, tentu ada masa-masa senang dan masa-masa sulit. Namun semuanya sudah dikomitmenkan dalam janji perkawinan… “dalam susah dan senang.. dalam untung dan malang…”.

Namun tidak semua perasaan dan keinginan dapat diungkapkan secara mudah. Pada tahun ketiga, si wanita mulai gelisah memikirkan janji dalam pemeriksaan kanoniknya pra penikahannya dulu, yaitu mendidik anak-anak secara Katolik. Ia tahu, itu harga mutlak. Ia tahu, tidak ada toleransi dalam hal ini.

Ia merasa terhutang. Terhutang atas janjinya, terhutang atas segala pemberian Tuhan yang indah dalam seluruh perjalanan hidupnya. Ia mendekatkan diri dengan Gereja, dan Gereja melayaninya dengan baik dengan cara memberikan kesempatan untuk melakukan beberapa hal. Ia begitu takutnya jauh dari Gereja, sehingga (mungkin?) terobsesi untuk membalas segala anugerah yang Tuhan limpahkan kepadanya – walau ia menyadari juga, siapa yang bisa membalas KasihNya?

Ia mendidik anak pertamanya dengan keras, baik kemampuan dan iman Katolik. Umur 7 bulan sudah bisa mengucap “Thank You”, dan sejak umur tujuh bulan itu juga, anaknya diajak berdoa malam hari dengan lilin dan selalu ditutup dengan Doa Bapa Kami, tiga salam Maria, Kemuliaan dan terpujilah. Umur 2 tahun anaknya sudah hafal Doa Bapa Kami dan Salam Maria, dimana jika doa Rosario di kring/stasi, anaknya ikut mendaraskan Salam Maria di saat anak lain yang berumur 3 – 4 tahun masih terbata-bata.  Dan ketika anak pertamanya berusia lima tahun, ia baru memberanikan diri meminta kepada suaminya untuk membaptis anak mereka, dan berhasil. Anaknya dibaptis, bersama dengan bayi-bayi orang lain.

Datang anak kedua. Menjelang kedatangan anak ketiga, dimintakan lagi kepada suaminya ijin untuk membaptis anak keduanya. DENIED! Ditolak. Hidup seperti tidak lagi sempurna, dan kembali aliran air mata menderas setelah tumpahnya air mata di Katedral saat menyerahkan diri pada kehendakNya untuk pernikahan, Air mata yang sama. Untuk hal yang sama. Namun untuk kali ini tidak ada yang bisa dibatalkan. Ia harus maju… dengan segala keruntuhan kekuatan yang ia pikir ia miliki. Dengan mengandalkan bantuan sepenuhnya atas kemurahan hati Tuhan. Pada rencanaNya yang tak kunjung dapat ia mengerti.

Happy Ending? Semoga.

***

Kisah nyata ini ditulis oleh seseorang tentang seseorang, dengan maksud untuk mengingatkan, menekankan, menegaskan, bahwa ada alasan yang jelas dan tepat mengapa Gereja Katolik sangat tidak merekomendasikan perkawinan campur.

Gereja dari dulu mengajarkan kalau umat katolik harus menikah dengan Katolik. Ada dispensasi yang dijelaskan oleh St Paulus (1 Kor 7:12-13) buat kawin campur, tapi si orang Katolik tersebut harus tetap menjaga imannya. Ayat ini salah satu alasan gereja memberi dispensasi untuk nikah sama non-Katolik. St Paulus juga mengajarkan kalau ANAK-ANAK yang lahir dari kawin campur itu harus tetap DIDIDIK SECARA KATOLIK (ayat 14). Kelihatannya ini masalah kecil, tapi sebetulnya dalam kawin campur, SANGAT berat buat tetap jadi Katolik apalagi mendidik anak secara Katolik. Jadi sebaiknya jangan dilakukan dan jangan dimulai mencari calon yang non-Katolik (termasuk Kristen protestan) karena akan sangat berpeluang kita nantinya kehilangan IMAN kita.. Dan berdasarkan pengalaman teman-teman yang berpacaran beda iman, airmata akan bergalon-galon… ini serius.

Mencintai pacar dan merasa bahwa pacar juga “mencintai” kita? Buktikan dulu.

Dalam pandangan Gereja Katolik, setiap perkawinan harus didasarkan pada cinta, artinya, “I for you” totally, without “you for me”, aku untuk kamu sehabis-habisnya, tanpa kamu untuk aku. Untuk itu periksalah calonmu secara cermat. Kalau calonmu lebih banyak “I for you”nya, malah sangat tipis “you for me”nya, nikahilah dia. Tetapi kalau calonmu itu tebal kedagingannya (=prinsip kenikmatan, suka mereguk keuntungan dari orang lain, dan “buta”, sehingga mudah salah pilih orang) lebih tebal dari pada kerohaniannya (=mata batinnya tajam dan prinsip korban diri bagi kekasihnya), jangan nekat menikahinya.

Walau ke ujung dunia, pasti akan kunanti, Meski ke tujuh samudra, pasti ku kan menunggu Karena ku yakin, kau hanya untukku..” dilantunkan Kahitna dalam lagu “Untukku”. Ini tipikal You for me.

Kau tercipta untukku, menemani hidupku sepanjang usiaku. Kau adalah hidupku, seluruh raga jiwamu yang tercipta untukku selamanya..” dilantunkan Hyena Band.  Yang ini lebih “you for me”.. sangat mengerikan.. si “aku” di sini meminta semua hal yang ada pada si “kau”. You for me, bukan I for you. Biasanya tipikal orang “I for You” tidak akan gembar-gembor membuat pernyataan, melainkan dari perbuatannya.

Semua agama melarang kawin beda agama. Hukum Gereja Katolik (c.1086, 1142) “Perkawinan beda agama tidaklah sah, kecuali ada ijin uskup”. Alasan gereja Katolik, bukan karena pihak lain itu kafir dan akan membawamu ke neraka, tetapi karena perbedaan paham mengenai dua hal, cinta dan perkawinan. Jangan-jangan paham cintanya itu “you for me” (kamu untuk aku), dan paham perkawinannya membolehkan poligami dan cerai-kawin. Namun walaupun beda agama, kalau sepaham dalam dua hal itu, uskup akan mengijinkannya.

Tapi tunggu dulu… ada konsekwensinya!

Perkawinan beda agama dalam Gereja Katolik membolehkan pihak non-Katolik tetap memeluk agamanya sendiri, namun pihak non Katolik harus mengijinkan anaknya dibaptis Katolik. Kalau demikian, perkawinan boleh diberkati dan diakui sah oleh gereja.

Terkadang, seiring dengan waktu, timbullah rasa yang dianggap “Toleransi.” Pada saat pelaksanaan janji pernikahan, pihak non-Katolik menyanggupi keputusan ini, namun seiring waktu, perasaan berat bisa hinggap, yang bisa diakibatkan dari dorongan keluarga si Non Katolik. Pihak Katolik, karena mencintai keluarganya, menyetujui hal ini dan mengatasnamakan toleransi umat beragama. Dan ini adalah masalah. Maka jika hal itu terjadi, bisa dipastikan bahwa pihak Katolik (yang sadar) harus dan akan berjuang sendiri dalam rumah tangga yang mereka bina untuk memenuhi janji perkawinan mereka.

Terikat oleh janji “susah dan senang.. dalam untung dan malang”  juga dipadukan dengan janji kanonik untuk mengantar seluruh anak-anak ke dalam pangkuan Gereja Katolik. Diminta untuk selalu setia dalam kondisi apapun kepada keluarga, namun juga setia janji kepada Gereja. Keduanya hanya bisa selaras jika dipersatukan dalam Sakramen Perkawinan – yang tidak dimiliki oleh pasangan yang kawin campur.

Maka jika kita merasa cinta itu begitu mendalam, jika merasa harus memiliki pasangan, cinta itu buta… temukan jalanmu dalam Tuhan.

If love is blind.. I’ll find my way with YOU.. (dengan huruf besar, not with you).

Apapun yang menjadi keputusanmu, jangan disesali, melainkan hargailah keputusanmu sendiri dengan berjuang dan bermohon.

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s