Berkonsentrasi pada Rencana Allah bagi kita

It's Wonderful life / Internet

It’s Wonderful life / Internet

Yesus menegur dengan keras Petrus karena murid-Nya yang satu ini ingin mengetahui sesuatu tentang seorang murid-Nya yang lain. Jawaban Yesus adalah bahwa kehendak Dia-lah yang penting, apa pun yang dikehendaki-Nya atas dari “murid yang dikasihi-Nya” bukanlah urusan Petrus. Yesus menginginkan agar Petrus berkonsentrasi pada rencana-rencana Allah untuk hidupnya sendiri. Apabila Petrus terus saja mau tahu tentang orang-orang lain di sekeliling dirinya, dan bukan secara langsung memusatkan perhatiannya pada Yesus dan sabda-Nya, maka dia akan luput melihat jalan yang telah disediakan Yesus bagi dirinya.

Sesungguhnya, Allah mempunyai sebuah rencana indah bagi diri kita masing-masing. Inilah pelajaran yang pada akhirnya dipahami oleh George Baily dalam film yang berjudul “It’s a Wonderful Life.” Dalam film ini, George Baily menderita depresi yang terus meningkat dalam intensitasnya, semua disebabkan oleh jalan hidupnya sendiri. Kemudian, seorang malaikat menampakkan diri dan menunjukkan kepadanya apa saja yang hilang dari kehidupan orang-orang jika George Baily tidak pernah dilahirkan ke dalam dunia. Pada akhirnya George Baily menyadari betapa penting dan terberkati hidupnya itu.

Memang mudah bagi kita untuk merasa iri hati atau cemburu terhadap orang-orang yang kelihatan memiliki segalanya, mereka yang begitu mudah dan alamiah dapat menghayati hidup atau memahami apa-apa saja yang bersifat rohaniah. Namun apabila kita merasa tergoda untuk berpikir bahwa Yesus telah membuat mudah bagi orang-orang lain untuk mengikuti diri-Nya, maka kehidupan Petrus dapat memberikan pelajaran penuh pengharapan kepada kita semua. Petrus jelas berjuang, bergumul disertai takut; kadang-kadang ia pun secara total tidak dapat memahami Yesus.  Walaupun demikian, Allah mempunyai suatu peranan yang bersifat vital untuk dimainkan oleh Petrus, dan sang rasul sungguh memainkan peranan yang diberikan Allah kepadanya itu sampai pada akhir hayatnya. Pada akhirnya, Petrus memutuskan untuk menerima peranan yang harus dimainkannya, karena dia telah belajar apa artinya memberikan hatinya kepada Yesus, berapa pun biayanya.

Jika kita senantiasa memusatkan perhatian kita pada kelemahan-kelemahan kita, maka kita akan luput melihat talenta-talenta indah yang ada dalam diri kita, dan juga martabat yang telah dianugerahkan Bapa surgawi kepada kita sebagai anak-anak-Nya. Dia telah membuat sebagian dari kita menjadi guru-guru yang baik, sebagian lain menjadi pelayan-pelayan sabda-Nya, misionaris-misionaris ke seluruh muka bumi dlsb. Kepada sebagian besar dari kita, Allah memberikan rumah tangga sebagai fokus pelayanan kita. Apa pun panggilan kita, Allah yang Mahakuasa ingin menggunakan kita agar dapat turut mewartakan tentang rencana-Nya guna menyelamatkan umat manusia. Memang kita tidak dapat menyangkal bahwa kadang-kadang kita menghadapi kesulitan, satu dan lain hal adalah karena kekurangan-kekurangan kita sendiri. Namun, baiklah kita ingat selalu bahwa Yesus melengkapi apa saja yang kita tidak miliki. Dia akan memperbaiki kekurangan-kekurangan kita. Yang diinginkan Yesus dari diri kita  masing-masing adalah sebuah hati yang memiliki kemauan baik, dan Ia pun akan ada bersama kita untuk menolong kita.

Sumber : Catatan Seorang OFS

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s