Pilihan dan Keputusan yang kita buat adalah refleksi jiwa

Illustrasi - sesawi.net

Illustrasi – sesawi.net

SETIAP hari sadar atau tidak kita selalu berhadapan dengan pilihan dan mau tidak mau harus membuat keputusan. Entah itu pilihan sederhana atau rumit. Saat mulai membuka mata di pagi hari kita sudah memilih, bangun atau tidak, mandi atau tidak, pilih baju berwarna putih atau biru, pergi ke kantor atau menemani anak yang sedang sakit, membangun rumah atau beli rumah kedua.

Ini adalah contoh bahwa banyak pilihan yang kita harus kita tentukan sehari-hari. Masih banyak pilihan lainnya. Terkadang pilihan itu sangat sederhana dan mudah sehingga tanpa berpikir pun kita bisa langsung memutuskan. Namun tak jarang pula kita dihadapkan pada pilihan sulit, sehingga memaksa berpikir keras dan bahkan perlu beberapa hari, minggu atau bulan untuk bisa memutuskan. Atau sama sekali tidak bisa memutuskan dan membiarkan waktu yang menjawab?

Sebagian besar orang bisa jadi menganggap membuat pilihan adalah hal biasa atau bahkan menganggapnya sepele. Banyak orang akhirnya hidup mengalir saja. Dan tanpa kita sadari keputusan atas pilihan-pilihan hidup kita itu telah merefleksikan siapa diri kita sesungguhnya.

Dalam buku berjudul “Art of Choosing”, Pastor Carlos G. Valles, SJ menyebutkan bahwa pilihan adalah apa yang membuat seseorang menjadi orang atau membuat orang menjadi seseorang. Pilihan-pilihan itu membentuk kepribadian, mendefinisikan watak, dan membentuk hidupnya.

Pertanyaannya adalah ketika aku adalah pilihan-pilihan, maka sudah selayaknya aku mengetahui apa yang harus kupilih, bagaimana aku membuatnya, sejauh mana pilihanku menjadi milikku sendiri dan bukan hanya jiplakan atau sikap patuh membudak yang lemah, tetapi sungguh pilihanku yang merupakan komitmen pribadi, dan pilihan bebas.

Kita akan disebut sebagai seorang yang rendah hati atau congkak, sabar atau pemarah, tegas atau plin-plan, hemat atau boros, jujur atau pembohong, mandiri atau lemah seperti budak adalah karena pilihan-pilihan yang kita buat sehari-hari, kata pastor Carlos.

Seorang teman datang kepada saya, mengeluh tentang suaminya selalu marah-marah tiap akhir bulan. Suaminya marah karena ada alasannya, yakni tagihan kartu kredit selalu over limit tiap bulannya. Teman saya mengakui bahwa dia doyan sekali belanja. Setiap kali pergi ke mall dia tidak bisa menahan diri untuk belanja baju dan sepatu. Sehingga belum sampai akhir bulan uang di tabungan sudah ludes dan terpaksa memakai kartu kredit untuk belanja. Suatu ketika teman ini dihadapkan pada dua pilihan mencicil hutang-hutangnya yang sudah jatuh tempo atau membeli sepatu model terbaru. Pilihannya adalah membeli sepatu. Pilihan-pilihan yang kurang bijak ini pada akhirnya merefleksikan bahwa dia adalah seseorang yang boros.

Kisah datang dari teman yang telah menikah 12 tahun dan telah memiliki dua anak. Selama menikah tak sekalipun dia bisa memutuskan pilihan pribadinya. Dari mulai menentukan pilihan menu masakan tiap hari, mendekorasi interior rumah, membeli pakaian, membeli peralatan rumah tangga, hingga pergi ke salon untuk sekadar potong rambut dan perawatan semua diputuskan oleh sang suami. Dia hanya memiliki sikap patuh membudak yang lemah. Dari sini kita bisa menilai bagaimana karakter orang ini dari pilihan-pilihannya. Dia adalah orang yang lemah pendirian, tidak mandiri, dan sebagainya.

Oleh sebab itu sesederhana apa pun pilihan kita, kita mesti mengetahui alasannya mengapa kita lebih memilih pilihan A daripada B. Lalu bagaimana proses kita memutuskan pilihan-pilihan itu.

Ribuan pilihan

Tentu kita tidak ingin menentukan pilihan yang salah yang pada akhirnya kita kecewa. Kita ingin pilihan kita itu benar bukan? Karena itu, kita perlu cantolan atau setidaknya pijakan sehingga pilihan kita bisa dikatakan baik dan benar.

Romo Carlos menyebutkan dengan jelas bahwa ribuan pilihan dihadapkan pada kita. Menurutnya, terlepas dari benar atau salah, surga atau neraka, kita mempunyai ribuan pilihan yang bisa jadi benar semua dari segi hukum dan moral serta sama sahnya, namun aku harus memilih satu dan meninggalkan yang lain.

Maka, kita harus memilih yang mana? Romo Carlos pun menegaskan bahwa pilihan sebaiknya didasarkan pada satu hal; yang mana lebih menyenangkan Allah? Apa yang benar-benar Ia kehendaki?

Kewajiban kita sebagai seorang yang beriman kepada Kristus adalah menjalankan kehendak Tuhan. Untuk dapat menjalanankannya maka kita harus mengetahui kehendakNya. Mencari agar mengetahui. Mengetahui agar dapat menjalankan.

Belajar membuat pilihan-pilihan kita dalam kehidupan sehari-hari, besar atau kecil, yang baru atau yang diulang-ulang, yang sulit atau yang jelas, dengan iman yang semakin besar, pengertian yang semakin dalam dan kegembiaraan yang meluap-luap. Niscaya pilihan-pilihan kita menjadi pilihan-pilihan yang terbaik dan kita raih dengan sebaik-baiknya.

Retno Wulandari – Sesawi.net

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s