SUBLIMASI PENGORBANAN KASIH

Oleh : Mgr. Martinus D Situmorang OFM Cap

Mgr Martinus D Situmorang - Februari 2015 / Dok. Renata

Mgr Martinus D Situmorang – Februari 2015 / Dok. Renata

Dengan realitas sebagai titik tolak, kita bisa menggambarkan kehadiran Yesus pada masanya. Yesus sebelum Paskah dikelilingi para murid yang bangga dan taat, tetapi menjadi kecut dan putus asa ketika Yesus ditangkap karena pengkhianatan Yudas.

Sikap para murid sekaligus menjadi gambaran umat Yahudi yang kagum, heran, ingin tahu, ragu, tetapi juga mencari dan mengikuti. Dalam kitab suci diceritakan, bagaimana saat Yesus mengajar—baik di padang gurun maupun di desa—selalu diikuti umat sampai berdesakan. Namun, ada juga tuntutan agar Yesus mendirikan kembali kejayaan Israel karena mereka tengah dijajah dan dihinakan oleh orang Romawi. Lima hari sebelum penyaliban, seluruh penduduk masih mengarak, menyambut, dan mengiringi Yesus masuk kota Yerusalem.

Sebaliknya, para pemimpin merasa terancam dan tidak aman dengan ajaran, sikap, dan pernyataan-pernyataan Yesus. Mereka dengan segala macam cara mulai dari mendebat, menuduh, hingga menjebak Yesus supaya Dia dapat dipersalahkan secara teologis. Mereka memang paham semua hukum taurat, tetapi mereka tidak beribadat dengan roh dan kebenaran. Mereka di luar bersih, tetapi di dalam penuh kebusukan. Maka, mereka menjadi tidak berkutik ketika berhadapan dengan konfrontasi teologis dan moral. Tidak ada argumen pro karena memang Yesus tidak dapat dituduh menguasai lapangan atau wilayah. Dia juga tidak mendirikan aliran atau partai atau gerakan ekonomi. Dia hanya mengajarkan hidup baru, hati dan pikiran yang baru.

Tahu diri dan produktif

Dalam terang Paskah, tahu diri itu tidak eufemistis, apalagi memelas. Karena tahu siapa diri-Nya secara lengkap dan utuh, Yesus hadir dan bekerjatotal bersahaja, transparan. Itulah komitmen, konsistensi, kesetiaan, keteguhan, dan kepahlawanan.

Bagi Yesus, jati diri adalah misi. Itu sebabnya, mengapa Yesus tahu diri sebagai Guru yang mengajarkan kebenaran yang membebaskan, bukan yang semu atau samar. Dia mengajarkan paradoks kehidupan baru bahwa orang hanya akan hidup dan berbuah kalau ditanam dan mati, berarti kalau merendahkan diri, terhormat kalau melayani dan mengabdi.

Yesus tahu diri sebagai Pemimpin dan Gembala yang membawa domba-domba- Nya ke air segar dan rumput hijau, yang menyerahkan nyawa bagi domba-Nya dengan cinta! Cinta tanpa pamrih dan tanpa egoisme korosif yang bisa merajut relasi manusia bermartabat, mencipta persaudaraan, menjadi komunitas manusia yang teramat baru. Tidak ada pamrih, interes, atau manipulasi kecuali bahwa semua orang memperoleh hidup dan hidup dalam segala kelimpahan, yaitu hidup Allah sendiri. Yesus adalah Imam yang membawa manusia kepada Allah dan kebenaran, kepada relasi personal dengan Allah, tidak dengan formalitas ritual devosional belaka. Allah adalah Bapa semua orang, maka yang dilakukan manusia kepada sesama itulah yang dilakukan kepada Allah, sic! Tidak ada pembukuan ganda. Agama dan iman bukanlah tidak ada esoterisme mesianistik, legal formalistik, tetapi eksistensial dan personal. Iman!

Integritas dan transparansi

Di hadapan Yesus yang hidup koheren dan kongruen sesuai dengan jati dirinya, hanya sikap konsisten, progresif, dan mewahyukan diri Allah dan diri manusia yang semestinya yang akan membuat hidup seseorang menjadi sempurna dalam menampilkan jati dirinya sebagaimana Yesus. Oleh karena itu, makin jelaslah tanggapan dan jawaban serta sikap orang dalam drama Yesus. Ada orang yang bersahaja yang menerima, ada yang terus berjuang untuk menerima, formal dan eksistensial, ada yang terus menancapkan harapan akan kemakmuran dan kejayaan sosial-politik, ada yang makin terfosilisasi pengertian dan sikapnya dengan diiringi rasa takut, cemburu, sekaligus merasa terancam kenyamanan sosial politik di hadapan kekaisaran Roma (fiksasi spekulatif). Kelompok ini adalah para elite masyarakat, politik dan agama.

Maka, para elite itu pula yang bolak-balik mau menyingkirkan Yesus, dengan menjebaknya dengan dalil ajaran, tradisi, dan kultur. Tidak pernah berhasil diplomasi, akhirnya mereka menjalankan operasi intelijen, provokasi dan segala jenisnya. Sesudah rapat berulang-ulang, dalam kegagalan segala usaha dan makin terancamnya zona aman dan interes mereka, Imam Agung mendeklarasikan bahwa lebih baik satu orang mati daripada seluruh bangsa binasa (kebinasaan yang spekulatif dan naif, tetapi hal itu dipercaya sebagai nubuat).

Yesus pun menjadi sandungan untuk banyak orang karena Ia mengajarkan untuk memilih dan menentukan sikap. Sebagai manusia, sesungguhnya memang kita tidak bisa bersikap asal-asalan dan tidak bisa setengah hati.

Derita dan kematian

Seorang anak manusia, hamba setia dan sempurna Allah, yang hanya berbuat dan berkata baik, melakukan banyak mukjizat, diharuskan mati oleh para elite, oleh rakyat yang terprovokasi, oleh tentara asing yang “terpaksa” demi ketertiban umum.

Setia kepada Allah, kokoh menghayati jati diri-Nya dan kepada misi-Nya, Yesus tahu bahwa Dia akan disiksa dan dihukum mati. Dia tidak menghindar, apalagi lari. Ada kegetiran dan kepahitan, ada kesepian, ada ketakutan, rasa ditinggalkan Allah yang mengutus-Nya.

Ada godaan dan permohonan “supaya piala derita dan kematian itu kalau boleh tidak harus direguk-Nya, meski lalu muncul kesadaran, bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi”.

Dia merasa seperti ditinggalkan oleh Allah dan Bapa-Nya. Yesus disesah, dihina, ditelanjangi, memikul salib. Namun, penyaliban menegaskan bahwa kematian Yesus memberi surga kepada penjahat yang disalibkan bersama Dia tetapi bertobat.

Jadilah kematian yang menghidupkan, dan itulahPaskah.

Kematian Yesus karena berpegang pada jati diri-Nya sebagai guru iman dan gembala bagi manusia serta taat kepada Allah- Nya berpuncak pada kebangkitan dan dimahkotai dengan kemenangan atas dosa dan kematian.

Keadilan, yakni bayaran dan tebusan nyawa manusia, dilunasi dengan kematian itu. Sikap, ajaran, dan tindakan Yesus dibenarkan. Keluhuran dan harga diri manusia ditegaskan, melampaui apa pun. Dengan Paskah, boleh kita punya jati diri dan potensial sebagai pemenang melalui perjuangan dan pergumulan kita di sini, apalagi yang ditujukan bagi kebaikan umum, kegunaan bagi banyak orang dan membangun persaudaraan kasih.

Untuk tidak membunuh nilai, membunuh kebenaran, membunuh perkembangan dan segala kemungkinan, orang perlu waspada, sadar, dan kenal diri sedalam-dalamnya, sebenar-benarnya. Menerima kelemahan, kesalahan, dan kekurangan diri dan kelompok, menyelamatkan dan menghidupkan biarpun tidak nyaman untuk sementara.

Kalau jabatan adalah amanah, seharusnya selalu dilihat dalam perspektif yang lebih luas, dalam, dan jauh dari diri dan institusi, yakni bonum publicum, kebaikan lebih besar dan lebih indah.

Yesus yang wafat dan bangkit ini menegaskan pada awal penampilannya, “Bertobatlah”, berubahlah dan menjadi baru,hati baru, perspektif baru. Cara pikir dan bertindak baru ini berasal dari Allah, dan manusia sesungguhnya adalah gambaran dan citra Allah. Sebab itu, manusia dapat menderita dan memang menderita kalau mengemban tugas dan menghayati jati diri bukan semiskin membusungkan dada menggelembungkan pundi.

Para pemimpin pasti menderita, bahkan “mati” kalau setia pada harga diri dan panggilannya, tetapi dia akan bangkit dan hidup, dan berbuah berlipat ganda. Sesungguhnya melarat dan amat miskinlah orang yang membiarkan kesalahan dan kekurangan. Orang beriman hanya bertindak baik dan benar pun dalam kelemahan dan kerapuhan, tetapi selalu bisa bangkit ke hidup baru.

Tulisan diambil dari Harian Kompas, Sabtu 4 April 2015

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s