Ngintip : Hidangan malam paskah di Pastoran St Paulus

Misa malam Paskah telah kita rayakan, sebagian besar dari kita kembali ke rumah masing-masing dan menikmati hidangan makan yang disiapkan di rumah. Mungkin ada yang langsung berpergian menyantap makanan di luar rumah, di rumah makan besar, atau berkumpul bersama teman untuk “menghabiskan” malam paskah.

Ngintip yuk… ada apa di meja pastor…

Sebelumnya biarlah dijelaskan dulu tentang perjalanan pastor pada hari Sabtu, 4 April 2015.

Pastor Yulius Tangke Bandaso, yang bertugas ke Stasi St Caecilia Siabu, jam 17.00 sudah berangkat dan kami tidak sempat bertemu. Beliau akan menginap di stasi untuk besok paginya melayani Misa Paskah di dua stasi lainnya.

Pastor Otello Pancani SX, dengan kemeja garis-garis – jam 17.00 sudah dijemput oleh umat dari Rumbai untuk pelayanan beliau di stasi tersebut.

Pastor Franco Qualizza SX  – jam 17.00 sudah siap untuk melayani Misa yang jadwal beliau hari itu di Paroki, dengan kemeja kotak-kotak masih mengurus beberapa laporan-laporan untuk dikirim ke keuskupan, dan menyapa umat yang memarkir kendaraannya di depan pastoran.

Pastor Casali Otello SX – jam 17.00 harusnya sudah berangkat ke stasi St Dominikus Tambusai masih tertahan karena adanya seorang umat yang sedang melaksanakan pengakuan dosa / konsultasi. Beliau keluar dari ruangan dengan baju batik, dan langsung berangkat ke Stasi St Dominikus Tambusai.

Pastor Germano SX – yang didatangkan dari Jakarta untuk membantu pelayanan Tri Hari Suci di Paroki -kami tidak sempat bertemu, namun beliau akan berangkat juga ke stasi St Veronika Palas untuk melayani Misa Malam Paskah.

Semua Misa dilayani pada pukul 19.00

Malam hari… selitar jam 22.45.

Kami mendengar suara-suara dari ruang makan pastoran, dan memberanikan diri untuk masuk.

Pastor Lius, tidak ada, karena menginap di stasi. Pastor Franco duduk membelakangi pintu dan menoleh kepada kami, langsung menyambut dan berkata, “He, ibu..… mari mari selamat… paskah….”. Pastor Pancani mengucap, “Ma bella bimba…” (kalau tidak salah begitu bunyinya..) dengan bahasa tubuh mempersilahkan kami masuk. Pastor Casali – yang mana kebetulan kami ikut juga ke stasi bersama beliau – duduk dimeja makan sambil meyeruput kuah sup. “Lho Pastor, makan lagi?’ tanya kami. “Tidak tidak… ini minum…,” jawab beliau, “Mari…” sambung beliau.

Ada seorang bapak duduk pada saat kami datang bersama para pastor. Maka setelah menyalami Pastor dengan ucapan hangat selamat paskah, kami ikut duduk.

Para pastor ini baru pulang dari melayani Misa. Misa di Paroki adalah Misa malam Paskah yang terlama di antara semua Misa di stasi. Semua pastor ini tentu lelah, dan ingin beristirahat karena besok pagi hari semuanya sudah harus berangkat lagi melayani Misa di stasi-stasi jauh, dan pagi hari di Paroki.

Ada apa di meja pastor?

Bisa dibilang kosong. Tak ada makanan mewah. Para pastor ini tentu sudah dijamu makan di stasi yang dikunjungi mereka. Namun mereka semua duduk disitu, mengelilingi  meja makan dan menyantap jagung rebus yang merupakan oleh-oleh dari sebuah stasi. Juga ada sedikit masakan sup yang kuahnya tadi diseruput Pastor Casali. Sedikit minuman hangat. Di sudut meja ada tas karton dengan ukuran agak besar, tidak kelihatan apa isinya. Itu saja.

foto : Ilustrasi

foto : Ilustrasi

Mereka berebut.

Sepertinya mereka memperebutkan isi tas karton itu. Kira-kira begini,…

Pastor Casali : Ini untuk saya

Pastor Franco : Tidakkk… ini punya Franco….

Pastor Pancani : Oh tidak.. ini punya saya semuanya.

Begitu kira-kira.

Penasaran. Kami mendatangi tas itu untuk melihat apa isiya…

Makanan / snack anak-anak dan dua bungkus ukuran sedang makanan tradisional tanpa merek.

“Ini enak…” tunjuk pastor Pancani kepada kami sambil menunjuk makanan tradisional yang dibungkus plastic tanpa merek itu, dan menyebutkan namanya namun kami lupa karena masih heran atas apa yang para pastor yang sudah tidak muda ini perebutkan.

Pukul 23.00 atau sekitar demikian

Waktunya pulang. Kami berdiri, mengucap salam. Tiba di pintu, datang Pastor Germano SX baru tiba dari stasi.

“Hei…. Pesta besar di sini….” ujar beliau dengan riang, tidak ada tanda-tanda lelah dalam suara beliau.

Entah apa yang terjadi lagi di dalam. Kami pulang.

Yang jelas – dimata kami – mereka menikmati kebersamaan dan berbagi kebahagiaan secara sederhana setelah pulang dari pelayanan masing-masing.

Selamat Paskah Para Pastor..

Mari kita doakan para pastor kita agar selalu diberi sukacita dalam segala yang dianugerahkan kepada mereka, agar dalam segala karya mereka dimudahkan sehingga membuahkan hasil bagi kita. Kita doakan kebahagian para pastor dalam segala punya dan tidak punya mereka, dalam segala kondisi mereka.

Kita doakan mereka selalu teguh berpegang pada kehendak Tuhan. Kita doakan mereka selalu memiliki semangat dan kekuatan ekstra untuk melayani kita.

Kita mungkin tertidur setelah menikmati makan malam kita, dan merencanakan untuk menghadiri Misa Paskah pagi atau sore hari, atau ibadat di stasi kita masing-masing. Namun para pastor harus bangun lebih pagi dan mempersiapkan Misa untuk kita, bahkan berangkat lebih pagi dari pada kita.

Semoga kita makin mengasihi para gembala kita – yang merupakan tanda kehadiran Allah sendiri.

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s