Prapaskah IV Tahun B 2015

Ada seorang tokoh agama dari kalangan orang Farisi yang bernama Nikodemus. 2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus.

Yesus berkata kepadanya,

” Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,

 15 supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

 16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

 17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

 18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.

 19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.

 20 Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;

 21 tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” (Yoh 3:14-21)

Penginjil Yohanes mengisahkan perjumpaan Nikodemus dengan Yesus.

Nikodemus adalah orang dari kalangan Parisi.

Kata ’parisi’ berarti terpisah, berbeda. Orang Parisi adalah awam yang menganggap dirinya berbeda dari umat lain sebab mereka mau melalukan 613 perintah yang disaring, diseleksi dari seluruh Hukum Musa, hukum Taurat.

Nikodemus adalah orang dari kalangan Parisi. Ia mengunjungi Yesus di waktu malam.

Dengan catatan “di waktu malam” penginjil Yoh tidak hanya menunjukkan jam berapa, tapi juga keadaan hati Nikodemus. Hati Nikodemus berada dalam kegelapan, bukan karena dalam hati Nikodemus ada kejahatan, melainkan karena Nikodemus belum mengerti siapakahYesus dan ajarannya.

Percakapan antara Yesus dan Nikodemus berkisar pada suatu peristiwa yang telah terjadi di padang gurun, ketika orang-orang Israel di bawah pimpinan Musa, berada dalam perjalanan menuju kemerdekaan.

Peristiwa itu diceritakan dalam kitab Bilangan, 21:4-9, sbb:

4 Orang Israel sudah tak tahan lagi berjalan di padang gurun.

5 Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.”

 6 Lalu Tuhan menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati.

 7 Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan Tuhan dan engkau; berdoalah kepada Tuhan, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami.” Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu.

 8 Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.”

 9 Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.

 Nah, dengan acuannya kepada peristiwa ini, Yesus berkata kepada Nikodemus,

” Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, bukan di sebuah tiang di padang gurun, melainkan di tiang salib di bukit golgota, di luar tembok kota Yerusalem.

Anak manusia adalah gelar yang selalu dipakai Yesus untuk menyebut dirinya.

Yesus menyamakan dirinya dengan ular di padang gurun. Bagi kita tidak enak mendengar Yesus yang menyamakan dirinya dengan ular. Tapi lain budaya, lain perasaan.

Ular tembaga yang ditinggikan Musa menyelamatkan dari kematian badan orang israel yang memandang kepadanya.

Kalau orang memandang Yesus tersalib, dan percaya kepadanya –  ia beroleh hidup kekal.

Yesus ditinggikan di di salib – salib itu bagaikan takta raja dari mana Yesus memancarkan cinta kasihNya.

Percaya kepada Yesus, apakah artinya?  berarti: menjadikan Yesus pedoman hidup. Menjadikan Yesus pedoman hidup berarti bersama Yesus dan seperti Yesus mengarahkan hidup untuk mengurangi penderitaan sesama, untuk mendukung kehidupan dan kebahagiaan sesama, berarti menyediakan waktu dan tenaga sebatas kemampuan kita untuk membantu sesama. Itu berarti bahwa kita mencintai seperti Yesus mencintai manusia, itu berarti bahwa kasih Yesus mengalir dalam hidup kita, dan  melalui kita, kasih Yesus itu menyentuh sesama kita.

Nah, kasih Yesus yang mengalir dalam hidup kita, membuat kita beroleh hidup kekal.

Hidup disebut  ’kekal’ bukan hanya karena tak ada habisnya.

Hidup disebut kekal ’karena mutunya. Artinya: kalau dalam diri kita mengalir kasih Yesus bagi sesama, berarti bahwa dalam diri kita mengalir suatu mutu hidup yang tak akan digagalkan oleh kematian badan.

Berbicara tentang ’hidup kita manusia’, para penginjil yang menulis injilnya dalam bhs yunani, pakai 2 kata yang berbeda:

Kata yang satu adalah Bios: (biologi) – adalah hidup raga kita, badan kita. Raga kita setelah lahir berkembang sampai mencapai puncaknya pada usia 20-25th.

Kemudian setiap hari jutaan sel-sel badan kita mati dan tak dapat di-regenerasi lagi, ( – sehingga raga kita pada suatu saat mati, badan kita mati.

Ini adalah nasib jenis hidup ”bios”. yang lahir, berkembang, mencapai puncaknya kemudian mulai merosot. ”Merosotnya itu supaya jangan dilihat orang, ditambal-tambal dengan macam-macam tindakan pemugaran badan, restorasi badan mulai dari lipstik, sampai tindakan medis yang melakukan ”face lift” untuk menghilankan kerut, sampai VIP international plasitic surgery centre, menghilankan gejala-gejala kehancuran badan kita.

Tapi, kehancuran badab kita tak terelakkan. Tibalah kematian badan.

Akan tetapi kematian badan tidak berarti kematian pribadi kita, sebab ktia tidak terdiri hanya dari badan.

 Berbicara tentang ”hidup-kehidupan”para penginjil mengenal satu kata lagi, yang dlm bhs yunani disebut Zoe.

Misalnya, ketika Yesus menyatakan dalam injil Yoh 14:6 – “Akulah jalan, kebenaran dan hidup.” Yesus tidak mengatakan, Akulah Bios, akan tetapi: Akulah zoe.

Yesus

Zoe itu dipakai selalu dalam kaitan dengan hidup Allah. Allah itu adalah zoe bukan bios.

Zoe itu apa?

Zoe itu adalah hidup yang mutunya adalah mutu hidup Allah sendiri, tak dapat digagalkan oleh kematian badan, tak dapat dibinasakan oleh kematian badan. Kematian  tidak berdaya terhadap Zoe.

Kepada Nikodemus Yesus berkata,” Setiap orang yang percaya kepada Anak Manusia (yaitu kepada Yesus), ia tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

 Percaya kepada Yesus kita sdh tahu bahwa berarti: menjadikan Yesus pedoman hidup. Menjadikan Yesus pedoman hidup berarti bersama Yesus dan seperti Yesus mengarahkan hidup untuk mengurangi penderitaan sesama, untuk mendukung kehidupan dan kebahagiaan sesama, berarti menyediakan waktu dan tenaga sebatas kemampuan kita untuk membantu sesama. Itu berarti bahwa kita mampu mencintai seperti Yesus mencintai (manusia), itu berarti bahwa kasih Yesus mengalir dalam hidup kita, dan  melalui kita, kasih Yesus itu menyentuh sesama kita.

Nah, kasih Yesus yang mengalir dalam hidup kita, membuat kita beroleh hidup kekal. Hidup disebut  ’kekal’ bukan hanya karena tak ada habisnya. Hidup disebut kekal ’karena mutunya.

Kalau kita mencintai seperti Yesus mencintai, itu berarti bahwa, zoe, yaitu hidup Yesus sdh mengalir dalam hidup kita. Dan mutu hidup Yesus  tak akan digagalkan oleh kematian badan. Maut tidak berdaya terhadap, zoe, hidup Yesus yang mengalir dalam diri kita.

Apakah bedanya antara Bios dan Zoe?

Bios (hidup badan kita) untuk mempertahankan diri dan berkembang perlu diberi makan.

Sejak kita mulai hidup dalam kandungan ibu, kita diberi makan. Kalau tidak, kita mati.

Kalau Zoe itu, lain.

Zoe itu untuk mempertahankan diri dan berkembang perlu ”memberi” makan kepada orang lain. Makanan yang dibutuhkan sesama kita adalah pelayanan yang terwuijud dalam pebuatan kasih yang nyata.

 Lalu Yesus coba mendobrak kegelapan hati Nicodemus dengan suatu pernyataan tentang Allah, Bapanya, yang merobohkan gambar Allah yang diwartakan oleh Musa dan oleh semua pendiri agama.

Musa mewartakan seorang Allah yang suka marah thp manusia, suka jengkel thp manusia yang tdak patuh, sampai Allah itu menyesal telah menciptakan manusia

Dlm kitab Kej 6: 7 Berfirmanlah Allah: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.”

Ini adalah Allah yang diwartakan Musa, pendiri agama, yang tak pernah melihat Allah. Ia tidak tahu Allah itu seperti apa.

Musa mewartakan seorang Allah yang suka marah, suka menghukum, jengkel sampai Ia menyesal telah menjadikan manusia dan alam semesta.

Nah, tibalah Yesus, anak BapaNya sendiri.

 Seorang murid Yesus yang bernama Filipus, sering mendengar Yesus berbicara tentang Allah, BapaNya, maka ia  minta, ”Yesus, perkenalkanlah Bapa kepada kami supaya kami pun senang.” Jawab Yesus,”Filipus, orang yang melihat saya ia sudah melihat Bapa. Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 14:8).

Dalam jawaban ini Yesus mengatakan bahwa Yesus adalah seperti BapaNya dan BapaNya adalah seperti Yesus, bahwa Yesus bersikap seperti Bapanya dan Bapanya bersikap seperti Yesus. Jadi, kalau kita melihat Yesus kita sudah tahu siapa BapaNya dan bagaimana sikap Allah BapaNya.

Maka, Allah yang seperti apa dihadirkan dan diwartakan oleh Yesus?

Mari kita dengar kembali pernyataan Yesus dalam injil hari ini:

Begitu besar kasih Allah akan dunia ini (…Musa mewartakan Allah seperti apa?

:”Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.”)

Kata Yesus,” ”Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

Jadi, Allah, Bapa Yesus, adalah seorang Allah yang antusias thp kita manusia dan thp alam semesta yang diciptakannya.

Bagi Allah, Bapa Yesus, belum cukup bahwa kita manusia diberi hidup di dunia ini. Ia mau berbagi dengan kita kebahagiaan-Nya yang sepenuhnya dan untuk selamanya.

Para Saudara, dalam homili ini, kita sempat hanya mencicipi sedikit saja dari apa yang disampaikan oleh penginjil Yohanes dalam 3 ayat yang pertama dalam kutipan injilnya.

Mari kita menyadari kasih Allah itu bagi kita agar kita teruskan kasih itu kepada sesama dalam pelayanan yang terwujud dalam perbuatan kasih. Dengan demikian ”zoe” yaitu kehidupan Bapa,Yesus dan Roh kudus, mengalir dalam diri kita. Maka ketika tiba saat kematian badan, maut itu tidak akan berdaya menggagalkan zoe, yaitu kehidupan ilahi, yang ada dalam diri Pribadi kita.

Setelah kita alami kehidupan di dunia ini,

Allah, Bapa Yesus, mau berbagi dengan kita kebahagiaan-Nya yang sepenuhnya dan untuk selamanya.

Mari kita bersyukur sambil memuji kebesaran cinta-kasihNya.

Otello Pancani, sx

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s