Seni mengampuni dan kerahiman ilahi

Periksa diri :

  • Apakah yang menjadi kendala-kendala (umum dan pribadi) untuk sanggup mengampuni orang lain?
  • Apakah syarat-syarat supaya lebih bisa mengampuni?
  • Apakah ada keadilan dalam pengampunan?
  • Apakah engkau mengalami kesulitan untuk mencintai? Mengapa?
  • Apakah engkau mengalami kesulitan untuk mengampuni? Dilema apa yang dihidupi?
  • Dimanakah “pengorbanan” yang harus aku lakukan untuk bisa mengampuni – mencintai?
  • Apakah saya tumbuh dengan sebuah keyakinan bahwa “AKU TIDAK PERNAH BERSALAH” (perfeksionisme)? Ketakutan apa yang ada di dalam diriku sehingga aku ingin tampil sempurna?
  • MEMAAFKAN? Berapa kali aku difitnah, dilukai, diserang? Berapa lama waktu diperlukan untuk meredakan kemarahan? Apakah aku berani mengampuni?

Mengampuni

Apakah engkau ingin berbahagia sejenak? Balaskanlah dendam-mu !

Apakah engkau ingin berbahagia selamanya? Ampunilah

~ Henri Lacordaire

  1. MENGAMPUNI itu tidak MELUPAKAN
  2. MENGAMPUNI itu tidak berarti mengingkari diri sendiri
  3.  MENGAMPUNI itu lebih dari KEINGINAN kuat untuk mengampuni
  4. MENGAMPUNI tidak bisa DIPAKSAKAN
  5. MENGAMPUNI berarti kembali seperti situasi awal sebelum peristiwa terjadi
  6. MENGAMPUNI berarti melepaskan hak-hak dasar
  7. MENGAMPUNI orang lain tidak berarti MEMAAFKAN
  8. MENGAMPUNI berarti menyerahkan segala sesuatu kepada Allah, termasuk tanggung jawab pribadi
  9. Barangsiapa tidak sanggup mengampuni, dia serupa dengan orang yang meruntuhkan jembatan yang harus dipakainya untuk menyeberang.
  10. Mengampuni adalah membebaskan seorang tawanan dan menguak takbir bahwa tawanan itu adalah engkau sendiri.

Semua orang membutuhkan pengampunan pada saat-saat tertentu, untuk menstabilkan kembali damai di hati dan keindahan hidup bersama

Tanpa pengampunan?

  • Mengkekalkan di dalam diri sendiri dan sesama, beban kesalahan yang dialami • Dalam pengampunan, tidak terbatas pada tidak membalas, tetapi menyentuh akar kecenderungan agresivitas yang tidak terkendali. Rantai kebencian harus diputuskan.
  • Hidup dalam kebencian dan dendam terus menerus • Hidup berlawanan dengan jati diri, meski pada level tidak sadar, mengkonsumsi banyak energi dan mengalimentasi stress tanpa akhir. Ini bisa mengancam kesehatan. • Dendam itu sebuah mekanisme bela diri: selalu siap melawan serangan apapun, baik real maupun imaginer. • Marah adalah sebuah emosi yang sehat. Hilang setelah diungkapkan.
  • Tetap terikat erat dengan masa lampau • Bagi yang sulit mengampuni masa lampau, akan sulit menikmati masa kini (present). • Waktu itu menguap tanpa kebahagiaan. Hilang kesempatan indahnya relasi pribadi dengan orang lain. • Masa depan itu kering dengan ikatan afektif, rencana baru dan kurang termotivasi. Hidup masih terikat dengan masa lampau.
  • Membalas dendam • Insting membalas dendam itu membutakan • “Mata ganti mata, gigi ganti gigi”: untuk mengontrol kekuatan balas dendam. • Balas dendam adalah sebuah keadilan instingtif, yang berasal dari ruang primitif bawah sadar, berdasar pada KESAMAAN antara penderitaan yang telah kualami dengan yang akan kuterapkan pada orang lain.

Realitas pasca kematian ini akan membantu kita untuk mengingat tujuan kehidupan kita di dunia saat ini Akhir zaman Kematian Neraka Surga Api penyucian Limbo Persekutuan para kudus

Sakramen Perdamaian Bertemu dengan Kerahiman Ilahi

  • Sakramen Tobat Sakramen Pemulihan Sakramen Pengakuan Sakramen Pengampunan Sakramen Pendamaian
  • Sakramen Tobat Melaksanakan secara sakramental panggilan Yesus untuk bertobat, untuk bangkit dan kembali pada Bapa, dari siapa orang telah menjauhkan diri karena dosa
  • Sakramen Pemulihan menyatakan langkah pribadi dan gerejani demi pertobatan, penyesalan dan pemulihan warga katolik yang berdosa Sakramen Pengakuan Menekankan penyampaian dan pengakuan dosa di depan imam sebagai unsur hakikinya
  • Sakramen Pengampunan Di dalam absolusi, Kristus menganugerahkan pengampunan dan kedamaian Sakramen Pendamaian Sakramen ini memberikan kepada pendosa, cinta Allah yang mendamaikan
  • Sakramen Tobat Adalah perayaan cinta kasih Allah Bapa yang berbelaskasih, yang dengan kerahimannya menganugerahkan pengampunan atas dosa- dosa kita, melalui pelayan Gereja (pastor) dan mendamaikan kita dengan Allah dan sesama.
  • Di dalam Sakramen Tobat, engkau mengalami bahwa Allah telah mencintaimu, MAKA engkaupun diajak sanggup mencintai dirimu sendiri Di dalam Sakramen ini pula ditunjukkan bahwa Allah telah mengampunimu, MAKA, engkaupun harus diajak untuk mengampuni dirimu sendiri
  • Sakramen tobat setelah pembabtisan menyatakan bahwa babtis menghapus dosa tetapi tidak menghapus kerapuhan dan kelemahan kodrat manusiawi beserta kecenderungan untuk berbuat dosa (concupiscentia)
  • Sakramen ini pertama-tama merujuk pada kerahiman Allah dan bukan dosa- dosa manusia

Tidak cukup pertobatan batin? Sikap bertobat mendesak agar diaktualisasikan dalam tanda-tanda yang kelihatan dalam karya-karya pertobatan (silih). Pertobatan mendorong orang (pendosa) untuk menerima segala sesuatu dgn rela hati, di dalam hatinya ada penyesalan, di mulutnya ada pengakuan, di dalam tindakannya ada kerendahan hati yang mendalam atau penitensi yang menghasilkan buah. Memang, hati manusia lamban dan keras. Pertobatan hati perlu rahmat dari Allah.

  • Pencipta Sakramen ini: Yoh 20:22-23 2. Hanya Allah yang mengampuni dosa: Mk 2:5-Luk 7:48 3. Otoritas diberikan kepada manusia agar ikut serta melaksanakannya atas nama-Nya: 2Kor 5:18 4. Kuasa mengikat dan melepas: Mat 16:19
  • KHK 1461: Karena Kristus telah percayakan pelayanan perdamaian kepada para rasul-Nya, maka pengganti- penggantinya, para Uskup dan rekan kerja mereka, para imam, terus melaksanakan pelayanan ini. Para Uskup dan imam telah menerima wewenang, berkat Sakramen Imamat, untuk mengampuni segala dosa “Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”. 2. KHK 1464: para imam harus mendorong umat beriman supaya menerima sakramen-sakramen ini dan menunjukkan kesediannya untuk menerimakan, kapan saja, kepada warga katolik yang meminta dengan wajar. 3. KHK 1467: setiap imam yang mendengar pengakuan, diwajibkan, dengan ancaman siksa yang sangat berat, supaya berdiam diri secara absolut tentang dosa yang diakukan dalam pengakuan (CIC 1388)

Menjumpai kerahiman Allah dengan baik

  • Pemeriksaan batin
  • Penyesalan yang tulus
  • Niat untuk berubah
  • Pengakuan
  • Penitensi / Silih

Di depan pastor

  • Tanda salib
  • Pengakuan dosa
  • Mendengarkan nasihat dan penitensi
  • Doa tobat
  • Absolusi
  • Doa syukur
  • Menjalankan penitensi dan pertobatan dalam hidup sehari-hari

Bawalah kami kembali kepada-mu ya Allah, maka kami akan kembali (Rat 5: 21)

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s