P Otello Pancani, SX : Hidupku – karya fantasi Tuhan

Selama ini, setiap kali saya bertanya mengapa saya telah menjadi imam dan imam misionaris ad gentes, jawabannya adalah satu dan sama, yaitu bahwa saya telah menjadi imam dan imam misionaris ad gentes sebab saya merasa terdesak oleh kebutuhan hati yang mendalam.

Hari itu bulan September, saya berusia 19 tahun dan kami berada di daerah Alpen bagian Italia.  Ketika itu, sebelum masuk studi Teologi, kami diminta mengambil keputusan: mau meneruskan perjalanan menjadi imam atau menempuh jalan lain dalam hidup.

Pembimbing rohani saya mengatakan,”Kalau kamu mau menjadi imam, jalan itu cocok untukmu. Namun keputusan-nya ada hanya padamu.”

Keputusan itu meminta pertimbangan matang, sebab saya adalah satu-satunya lelaki diantara 4 saudara perempuan. Saya paham benar akan harapan orang tua saya. Selain bantuan, mereka mengha-rapkan saya meneruskan nama mereka dalam anak-anak.

Pada saat itu, saya telah mengambil keputusan menjadi imam. Ketika saya mengambil keputusan itu, saya alami getaran hati yang penuh kedamaian dan ke-bahagiaan yang mendalam. Saya tidak bisa melupakan pengalaman kedamaian dan kebahagiaan itu. Hati saya selalu bergetar setiap kali mengingat kembali momentum itu, seperti sekarang. Dan saya alami bahwa di mana ada getaran hati yang mendalam dan konsisten, di situ pula ada panggilan kita, di situ ada iden-titas kita, di situ ada kebahagiaan kita.

Usia 24 tahun, saya ditahbiskan menjadi imam projo bersama 17 teman lainnya,  dan saya di-tugaskan di sebuah kota cukup besar di Italia Utara di mana sdh berkarya 5 pastor. Itu selama 3 tahun. Selama itu, kebutuhan hati itu mendesak saya melangkah lebih jauh. Saya merasa terdesak mengikuti anjuran Paus Pius XII, yang mengimbau pastor-pastor projo  – yang jumlahnya banyak – agar membantu di daerah misi.

Ketika saya berbagi keinginan hati saya itu dengan ayah dan ibu saya. Ibu menanggapinya dengan tangisan dan ayah saya berdiam diri selama 3 hari. Setelah 3 hari, ayah saya berkata,” Waktu awal kamu mau menjadi imam, kami tidak setuju. Namun tetap kami senang juga, sebab kami melihat kamu senang. Sekarang pun kami tidak setuju, namun jika kamu senang, kami pun rela melepaskan kamu. “

Itulah jawaban seorang yang sederhana, seorang petani yang hanya sempat bersekolah sampai tingkat kelas 3 SD, sebab memang demikianlah peraturannya pada waktu itu. Saya menyadari bahwa jawaban itu adalah jawaban seorang pahlawan. Ayah dan ibu rela mengurbankan kebahagiaan mereka demi keba-hagiaan anaknya, yang satu-satunya lelaki.

Lalu saya menggabungkan diri dengan Serikat Misionaris Xaverian, dan saya ditugaskan di Indonesia di mana saya tiba tgl 17 November 1967.

Karya saya di Indonesia telah terbentang sepanjang 47 tahun.

Sungguh saya menganggap bahwa saya mendapatkan su-atu rahmat yang sangat besar dengan dapat terlibat di dalam sejarah Gereja Indonesia selama 47 tahun ini.

Dalam sejarah Gereja Indonesia selama 47 tahun yang silam ini, ada tiga tahap yang mem-bangun kepribadian Gereja Katolik In-donesia.

Tahap 1. adalah Peralihan dari Gereja Konsili Trente ke Gereja Konsili Vat II.

Yang dimaksudkan adalah bahwa Konsili Vatikan II beda sebab memfokuskan Gereja sebagai UMAT ALLAH, yang mayoritasnya adalah kaum awam, dan di tengah-tengah umat itu ada pelayan-pelayan, yang adalah paus, uskup, imam, yang fungsinya adalah melayani umat dan ikut bertanggung jawab dalam Gereja bersama umat.

Keterlibatan kaum awam telah terwujud dalam bentuk lingkungan, wilayah, komisi2, seksi2- Pengurus Dewan paroki, PGDP.

Perubahan itu terjadi berkat katekumenat di mana para katekumen jumlahnya besar.

Tahap 2. Lewat katekumenat, kami telah ikut membangun Gereja lokal menjadi makin mantap dalam kepribadiannya dan dalam jumlah anggota-anggotanya.

Ketika saya tiba di Indonesia, uskup orang indonesia cuma satu.

Di antara baptisan-baptisan baru itu, ada juga yang kemudian menjadi pastor dan suster. Dan disiapkan juga uskup-uskup, sehingga sekitar tahun 1980 tibalah waktunya untuk serah terimakan tang-gung jawab dari uskup, pastor dan suster   luar negeri ke dalam tangan uskup, pastor dan suster Indonesia.

Itu telah merupakan tahap kedua.

Tahap 3. Menjelang tahun 2000 uskup-uskup se-Asia telah mengadakan sinode di Roma bersama Yoh Paulus II.

Dari sinode itu tercetuslah perjalanan Gereja Asia memasuki millennium ke-3.

Gereja Katolik Asia merasa telah tiba saatnya untuk mewartakan Kristus di Asia melalui jalan DIALOG. Dialog dengan kebudayaan-kebudayaan, dengan agama-agama dan dengan kemiskinan Asia. Ini adalah tahap ketiga, yang sedang kita lalui bersama.

Saya telah ditugaskan di Bintaro pada pertengahan bulan Januari 1983.

Sebelum itu saya adalah pastor pembantu di paroki Pademangan. Hari itu adalah hari Rabu. Sekitar jam 11 siang telpon pastoran berdering.

Hallo. Saya Uskup,“ suara diseberang telepon

Dan saya P. Otello,” jawab saya.

Baik,” kata Bp. Uskup, “hari ini adalah hari Rabu, hari Jumat nanti ada umat dari Stasi Bintaro yang akan menjemput pastor. Jika stasi itu berkembang, akan menjadi paroki, kalau tidak, akan tetap stasi.” – Lalu telepon ditutup.

Demikianlah tugas perutusaan yang dilimpakan kepada saya.

Hari jumat petang 28 januari 1983, tiba di pastoran seorang Bapa.

Saya Iskandar Tjan dari stasi Bintaro untuk menjemput pastor Otello.”

Saya ini, pak.,” sahut saya

Di Jln Sudirman, sekitar Uni-versitas Atmajaya, Bp Iskandar Tjan, mengatakan: “Mudah-mudahan pastor betah di bintaro.” Saya tidak bertanya, hanya simpan dalam hati per-kataannya itu.

Lewat tanah kusir kami tiba di kapel di kodam Bintaro. Nah,  setelah kami tiba di kapel di kodam Bintaro, Bapak Tjan mengantar saya masuk. Pak Tjan tinggal dekat pintu, dan mengajak saya naik ke panti imam.

Setiba di altar, saya memandang pak Tjan, dan di wajahnya terpancar kebahagiaan melihat segala usaha umat stasi Bintaro mempunyai seorang imam, sekarang sudah terpenuhi. Pak Tjan menerima saya di rumahnya, sebab pastoran belum ada di kapel kodam.

Setiba di rumahnya, saya lihat ada telpon.

Boleh saya pakai?” tanya saya

Ya, silahkan, mau telpon kepada siapa?”

Kepada uskup.” Jawab saya. Bapak Tjan pun mempersilahkan saya menggunakan teleponnya.

Ini uskup.” Suara di seberang sana

 “Ini P. Otello.

Oh, ya? Dari mana pastor telpon? “

“Dari Bintaro.”

“Wah, Bagaimana di Bintaro?”

“Oh, bagus sekali!”

“Selamat berjuang, ya pastor, semoga sukses.”

Inilah awal riwayat cinta saya dengan umat Bintaro.

Waktu itu pesan Bapak Uskup kepada saya adalah:

  • Pertama: “Saya mengutus pastor untuk membangun umat, membangun komu-nitas, kemudian biar umat membangun sarana-sarana yang nanti dirasa perlu dibangun.
  • Kedua: Stasi St Matius Bintaro jika berkembang dan menjadi Paroki akan diserahkan kepada pastor-pastor Projo KAJ”

Pastor pembantu pertama saya adalah Romo Kunarwoko Pr selama 2 tahun, dan yang kedua adalah Romo Yuventius Ndito Martawi Pr selama 5 tahun.

Selama saya menjadi pastor Paroki di Bintaro, bersama-sama umat telah dibangun Sekolah Ricci, Biara Canossa, Gedung paroki, Pastoran dan gedung Gereja hampir ram-pung, barulah Serikat Xaverian muncul mencari tanah untuk mem-bangun Novisiat.

Dengan adanya Novisiat Xaverian, paroki tidak jadi diserahkan kepada pastor Projo KAJ, melainkan kepada Xaverian.

Seluruh Komplek Paroki St. Matius Penginjil, Gereja, gedung paroki, gedung pastoran, termasuk sekolah Ricci, Biara Kanossa, Novisiat Xaverian telah mendapat izin dan dibangun dalam kurung waktu 12 tahun, di tengah lingkungan dan ma-syarakat sekitar yang kurang kondusif waktu itu dan kena devaluasi rupiah.

Saya tidak melupakan akar dari semua hasil ini – yang saya umpamakan sebagai sebuah pohon beringin yang menjulang tinggi di atas sebuah bukit yang dapat dilihat dan dikagumi orang. Saya mengingat akarnya yang terkecil yang tersembunyi dalam-dalamnya dalam tanah, dari mana tergantung hidupnya, kekuatan dan kemegahannya – yaitu saudara-saudara saya – kaum awam – yang membantu merintis, dan setia mendampingi saya di Paroki St Matius Penginjil Bintaro. Saya, sebagai manusia dan sebagai imam, saya telah diteguhkan oleh imam dan sikap pelayanan para awam, mulai dari umat yang se-derhana sampai dengan anggota DPR, MPR, yang pagi hari duduk bersama Bapak Presiden dan malam hari ikut duduk di tikar di rumah-rumah umat.

Aku mengagungkan Tuhan dan hatiku bersukaria, sebab karya besar telah dikerjakan bagiku oleh Yang Mahakuasa.

Kuduslah nama-Nya. Amin dan Terima kasih!

Pekanbaru, 7 Feb 2015

Mengenang kembali GOLDEN JUBILEE IMAMAT 11 Nov 2012

Otello Pancani, SX

 

Memimpin PERAYAAN 25 Tahun CANOSSIAN DI INDONESIA April 2014 / Dok. Majalah Hidup

Memimpin PERAYAAN 25 Tahun CANOSSIAN DI INDONESIA April 2014 / Dok. Majalah Hidup

Suatu sore 5 Agustus 2014 didekati anak-anak saat membaca di depan pastoran St paulus / Dok. Admin

Suatu sore 5 Agustus 2014 didekati anak-anak saat membaca di depan pastoran St paulus / Dok. Admin

Membawakan materi dalam pelatihan jurnalistik Maret 2014 / Dok Admin

Membawakan materi dalam pelatihan jurnalistik Maret 2014 / Dok Admin

Menyalami para petugas seusai melayani Misa / Dok. Admin

Menyalami para petugas seusai melayani Misa / Dok. Admin

Mempromosikan panggilan dalam Misa pesta Peringatan St Guido Maria Conforti 2014 / Dok. Effen Meiliana

Mempromosikan panggilan dalam Misa pesta Peringatan St Guido Maria Conforti 2014 / Dok. Effen Meiliana

Bersapaan dengan umat dan menyerahkan hadiah di stasi St Philipus Arengka ujung / Dok Stasi Arengka Ujung

Bersapaan dengan umat dan menyerahkan hadiah di stasi St Philipus Arengka ujung / Dok Stasi Arengka Ujung

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s