Bermisi di Bumi Sikerei

Mentawai Sipulelek Katolik Sipulelek (Mentawai sejati, Katolik sejati!). Slogan ini tumbuh dan hidup dalam hati umat Katolik di Muara Siberut, Kepulauan Mentawai.

Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus”.

Sepenggal bait Kidung Maria (Mag­nificat) itu terngiang di telinga saya tatkala menginjakkan kaki untuk ke sekian kalinya di bumi sikerei (para dukun) Siberut, Kepulauan Mentawai pada suatu pagi, medio Februari 2009. Perjalanan laut dengan KM Sumber Rezeki dari Muara Padang ke Siberut selama 10 jam itu, sungguh saya alami sebagai rahmat keselamatan Allah. Sejak hari itu, saya resmi menerima tugas perutusan baru dari Serikat Xaverian Provinsi Indonesia. Saya bertugas menjadi Pastor Paroki St Maria Diangkat ke Surga, Muara Siberut, setelah kembali dari pelayanan misi di Bangladesh selama 11 tahun (1997-2008). Umat Allah di Muara Siberut ini berjumlah sekitar 11.000 jiwa yang tersebar di 34 stasi.

Katolik Sipulelek
Saat memasuki kantor Sekretariat Paroki Muara Siberut, mata saya tertuju pada setumpuk kaos biru muda dan topi warna hitam. Ternyata, kaos dan topi itu sisa-sisa dari Pesta (punen) Yubileum 50 tahun Gereja Katolik Santa Maria Situakkat Ka Manua (Santa Maria Diangkat ke Surga), Muara Siberut, yang dirayakan pada 2004. Paroki ini merupakan paroki pertama di Kepulauan Mentawai. Kaos dan topi itu bertuliskan Mentawai Sipulelek Katolik Sipulelek (Mentawai sejati, Katolik sejati!).

Tanpa berpikir panjang, saya langsung mengambil kaos dan topi usang itu. Saya pun langsung kenakan kaos dan topi itu sebagai “baju baru” di tubuh saya. “Jiwa raga saya siap bermisi dengan hati yang bernyala-nyala seperti Santo Fransiskus Xaverius, teladan misi dan pelindung misionaris Xaverian.”

Misi di Bumi Sikerei, julukan Kepulauan Mentawai ini, berhadapan dengan tantangan geografis dan kondisi setiap stasi (kampung) yang sangat variatif. Mengunjungi stasi yang terletak di sepanjang pedalaman kawasan pantai barat daya dengan sampan kayu bermesin motor tempel misalnya, harus menunggu musim badai reda antara November dan Mei. Bahkan ada satu kampung, khususnya stasi Siribabak yang harus dikunjungi dengan berjalan kaki sekitar empat jam. Berjuang menyusuri tepi pantai dan menerobos hutan lebat, lalu mempersembahkan Ekaristi atau ibadat sabda bagi 10 kepala keluarga.

Namun, setelah lebih satu dekade menjadi Kabupaten Kepulauan Mentawai, pembangunan infrastruktur, terutama sarana transportasi darat antarkampung di pedalaman Siberut sudah berubah. Pembangunan jalan selebar tiga meter telah digalakkan di seluruh pedalaman laggai simaeru (kampung yang indah).

Saya melihat beberapa umat di Muara Siberut lalu-lalang mengendarai sepeda motor di atas jalan beton. Atau mereka mengarungi lautan dan menyusuri sungai dengan speed boat dan pompong, sampan kecil bermesin. Bahkan umat yang agak mampu secara ekonomi sudah mengenakan pakaian ala orang kota, membeli perangkat TV dan parabola, kulkas, laptop, Blackberry, serta aksesoris rumah tangga dengan model terkini. Pemandangan semacam itu sangat jarang saya temui saat pertama kali sebagai frater berkunjung ke Mentawai pada 1988 atau saat tugas diakonat pada 1996.

Umat Katolik di Muara Siberut merupakan bagian dari penduduk suku asli Mentawai yang mempunyai tradisi budaya hidup persaudaraan(pusarainaat). Untuk menjadi manusia Mentawai sejati, setiap pribadi mesti menjunjung tinggi jati diri dan martabat kekerabatan suku(uma). Uma (rumah adat) adalah tempat tinggal bersama keluarga besar yang dibangun secara gotong-royong. Menjadi manusia Mentawai sejati dan Katolik sejati mengandaikan kesatuan hati, seia-sekata, satu baptisan, satu tubuh mistik Kristus. Makna Gereja sebagai umat Allah sungguh mencerahi makna Uma sebagai pusat persaudaraan sejati dalam keluarga besar Katolik-Mentawai.

Kearifan lokal
Kebanyakan orang Mentawai, meskipun sudah dibaptis, secara tradisional masih terikat dengan kepercayaan animisme, tabu-tabu, dan perdukunan yang dipelopori para kerei. Tradisi nenek moyang ini menjadi tantangan tersendiri bagi perkembangan kekatolikan di Siberut.

Beberapa kali saya berkunjung atau dipanggil untuk mendoakan orang sakit. Biasanya, saya berdoa atau memberi komuni, atau mengajak umat berdoa Bapa Kami dan Salam Maria. Namun, sesudah itu pihak keluarga dengan leluasa memanggil si kerei untuk melaksanakan ritus penyembuhan. Atau meskipun si sakit sudah minum obat dari Puskesmas atau poliklinik Susteran ALI di Siberut, tapi si sakit atau keluarganya belum merasa sreg atau tenang bila dukun (sikerei) belum bertindak.

Inilah salah satu kenyataan pelayanan pastoral di ranah Mentawai, walaupun kekatolikan saat ini berumur 60 tahun. Pastor Stefano Coronese SX dalam bukunya, Kebudayaan Suku Mentawai, menegaskan, “corak keagamaan di Mentawai disebut bikultural: bersama-sama dengan agama resmi, hidup dengan diam-diam agama asli yang digolongkan ke dalam aliran kebatinan.”

Merajut kekatolikan
Lalu, bagaimana merajut kekatolikan dalam konteks budaya dan tradisi nenek moyang orang Mentawai atau arat sabulung­an? Sabulunganberasal dari kata bulu (daun), karena segala ritus nenek moyang berhubungan dengan dedaunan tertentu yang diyakini mempunyai roh.

Namun sebagai gembala umat, saya merasa bersyukur dan berterimakasih kepada umat Mentawai, yang mengajar saya cara bermisi dengan hati. Gereja yang hadir dan ikut merayakan pesta kehidupan bersaudara bersama umat sambil memaknai kata saraina atau seibu. Dalam terminologi Mentawai, sara berarti satu; sedangkan ina artinya ibu. Saya juga banyak belajar tentang keluhuran saraina dalam satu iman, satu harapan, dan kasih kristiani.

Unsur kekatolikan juga tertanam melalui punen. Punen Paabanan atau pesta perdamaian misalnya, mengandung makna rekonsiliasi atau pengampunan antarsuku yang puluhan bahkan ratusan tahun lalu berperang. Dalam kesempatan tertentu, beberapa penatua adat juga memanggil saya untuk memberkati upacara adat tertentu, seperti pemberkatan sampan baru, kebun (mone) baru, atau pemakaman. Datang menghadiri dan ikut aktif dalam setiap pesta (punen atau puliajat) tradisional, hal itu menjadi sarana efektif bagi Gereja berkatekese dalam kearifan lokal.


P. Antonius Wahyudianto SX

60 anyos de presencia xaveriana en Mentawai / Pict. P. Manuel Sanchez, SX

60 anyos de presencia xaveriana en Mentawai / Pict. P. Manuel Sanchez, SX

Dok. P Anton Wahyudi, SX

Dok. P Anton Wahyudi, SX

 Peringatan 60 tahun Gereja Katolik di Mentawai 11 Jan 2015

DImuat di Majalah Hidup  April 2013 dan Warta Paroki Januari 2015 – 

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s