Komuni

Setelah pemecahan roti, imam kemudian menyambut Tubuh dan Darah Kristus, dan nyanyian komuni dimulai. Nyanyian itu mengiringi perarakan umat yang menyambut komuni. Untuk itu, pemimpin lagu harus menyesuaikan agar lagu tidak terlalu panjang atau terlalu pendek. Perarakan dan nyanyian ini mengungkapkan kesatuan dan kegembiraan hati kita sementara umat berjalan secara tertib ke dapan dengan sikap hormat.

comunionPada waktu menerima komuni, imam berkata,”Tubuh Kristus., dan kita menjawab, “Amin.” Terungkap bahwa yang diterimakan adalah sungguh Tubuh Kristus. Dan karena yang kita terima adalah Tubuh Kristus, kita bersatu dengan Kristus sebagai kepala Gereja, dan sesama sebagai anggota Gereja.

Sesuai PUMR 161, kita menerima komuni pada tangan, atau pada lidah. Namun mengambil sendiri Tubuh Kristus dari sibori tidaklah dibenarkan (Redemptionis Sacramentum, 94). Pada kesempatan-kesempatan tertentu, kita dapat juga menerima komuni dua rupa. Jika kita menerima komuni dua rupa, kita menerimanya pada lidah (lih PUMR 287), supaya Darah Kristus tidak menetes di lantai. Setelah menerima komuni, kita kembali ke bangku untuk berdoa secara pribadi.

comunion manoPada saat menerima komuni dengan tangan, telapak tangan kiri berada di atas telapak tangan kanan. St Sirilus dari Yerusalem (315-386) pernah berkata, “Umat menerima komuni dengan tangan kanan mendukung tangan kiri, dengan telapak tangan membuat cekungan (piala); dan pada saat Tubuh Kristus diberikan, umat menjawab, Amin.” Selain itu, menerima komuni dengan telapak tangan kiri juga mengungkapkan kerendahan diri kita sebagai manusia.

Menerima komuni dengan lidah juga ada dalam tradisi Gereja, dan tetap dianjurkan. Walaupun tidak memiliki makna yang khusus, menerima komuni dengan lidah dulu dipandang lebih layak dan pantas untuk menyambut Tubuh Tuhan, karena tangan kita mudah tercemar.

Untuk meyempurnakan doa-doa umat Allah, dan sekaligus menutup seluruh ritus komuni, iman memanjatkan doa komuni. Isinya adalah permohonan agar misteri yang sudah dirayakan itu menghasilkan buah bagi semua orang yang merayakannya. Pada akhir doa komuni, kita berseru, “Amin.”

======================

Seri Memahami Liturgi – Khususnya Ekaristi 

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s