Mendoakan Orang Yang Sudah meninggal : Alkitabiah

posesiSecara Liturgis Gereja, Umat Allah memperingati para arwah umat beriman tiap tanggal 2 November, setahun sekali, setelah pesta para suci tanggal 1 November.

Keduanya tak terpisahkan seperti mata uang logam. Dalam hal peringatan para orang kudus, kita berterima kasih bahwa hasil karya penebusan Kristus memberikan buahnya yakni dalam diri para suci, yang dapat menjadi suri teladan kita dalam hidup ini bagaimana mengabdi Tuhan seperti mereka. Dan tanggal 2 November, kita peringati mereka-mereka kaum beriman yang telah dipanggil menghadap-Nya khususnya dalam setahun bersangkutan. Mereka adalah kandidat-kandidat untuk masuk sorga, tetapi mereka mungkin masih ada noda dan kesalahan yang belum sempat disesali. Maka kita sebagai makhluk sosial dan sama-sama se-iman, hanya bisa memohon belas kasih dan kerahiman Tuhan bagi mereka. Tidakkah Yesus pernah bersabda: “Apa yang kaukehendaki Aku perbuat bagimu”. Mengapa kita boleh bersyukur dan memuji kerahiman Tuhan dan memohon sesuatu kepadaNya! (Mat 7:7-11; Mrk 10: 51).

  • Perayaan Orang Kudus (1 November) adalah untuk menghormati jasa baik mareka selama hidup di dunia lewat sikap dan peranan mereka dalam menumbuh kembangkan hidup beriman Katolik bagi sesama semasa hidup. Dalam hidupnya mereka membaktikan diri secara total kepada Allah lewat cara hidup seperti yang dikehendaki-NYA.
  • Perayaan arwah semua orang beriman yang telah dipanggil Tuhan (2 November), adalah untuk mendoakan mereka agar mendapatkan tempat dalam kerjaan Surga, terutama bagi mereka yang kini masih berada di api penyucian. Dengan permohonan lewat doa-doa kita, tentunya kita mempunyai harapan agar saudara-saudari kita yang masih berada di api penyucian diangkat dan untuk mengambil bagian dalam Kerajaan Surga, seperti yang dikehendaki oleh kita bersama dan seperti janji dan kehendak Allah bagi kita…yang tentunya menuntut sikap hidup kita yang sesuai dengan Kehendak-NYA semasa kita hidup.

“Jangan berdoa untuk orang yang telah meninggal” adalah dogma baru yang diajarkan oleh Luther kepada para pengikutnya hanya agar nampak ada perbedaan teologi dari gereja akarnya. Tapi apa yang benar adalah baik Kitab Suci maupun tradisi Kristen menganjurkan tentang pentingnya mendoakan sanak-saudara dan sesama yang telah meninggal dunia. Semua gereja awal (maksudnya sebelum protestantisme) bahkan yang memisahkan diri dari gereja katolik pun masih tetap mendoakan arwah. Pertanyaan untuk direnungkan dan dijawab secara teologis yakni; “Dapatkah kita membantu mereka yang kita doakan melalui doa-doa kita?”

Untuk mempertahankan teologinya yang salah, yang tidak didukung oleh Kitab Suci maka Luther bahkan mencoba menghancurkan tatanan Kitab Suci itu sendiri yang berbicara tentang “doa untuk para arwah.” Selama 1500 tahun semua kitab yang termaktub dalam Kitab Suci (yang adalah usaha Gereja Katolik lewat kuasa para Paus) diterima tanpa ada banyak pertanyaan, apalagi untuk mengubahnya dalam arti menambahkan atau mengurangi jumlahnya. Tetapi Luther, demi kepentingan membela ajarannya, mengecualikan (mengeluarkan dari kumpulan Kitab Suci) beberapa kitab yang jelas mengajarkan kebalikan dari ajarannya, seperti kitab Makabe 1 dan 2 serta buku-buku lainnya yang dinamai dalam Gereja Katolik sebagai kitab Deuterokanonika. Kitab-kitab ini muncul dari dalam tradisi para leluhur yang hidup di Yerusalem yang kemudian ditemukan dan diterjemahkan oleh St. Hironimus. Bahkan kalau mau jujur maka kita mengatakan bahwa Yesus sendiri kadang mengutip apa yang tertulis dalam kitab-kitab Perjanjian Lama dalam pengajaran-Nya. Secara khusus, Kitab Makabe 2 memberikan dasar dalam tradisi gereja untuk mendoakan arwah (lih. 2 Makabe 12:42-46).

Jesus sendiri pernah berdoa untuk yang meninggal seperti yang tertulis dalam Yoh 11:41; ketika Ia mendoakan mohon kebangkitan Lazarus, teman baik-Nya. Kalau doa untuk orang meninggal tidak penting, kenapa Yesus harus mendoakan dan dengan kuasa-Nya Ia membangkitkan Lazarus setelah 4 hari meninggal? Karena itu, kesimpulannya, “doa lebih besar kuasanya dari kematian itu sendiri.”

Dengan demikian, ketika sanak keluarga kita ada yang meninggal, itu menjadi tugas kita untuk mendoakan mereka. Kita memohonkan rahmat pengampunan Tuhan kepada yang telah meninggal. Santo Paulus juga pernah berdoa untuk Oniseforus yang telah meninggal dalam 2 Tim 1:16-17.

Maka, mendoakan orang yang telah meninggal adalah perbuatan yang konsisten dengan Kitab Suci, dengan kata lain: alkitabiah.

===

Referensi :

 

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s