H I D U P K U

“Setiap manusia mendekati Tuhan dengan cara yang berbeda.”

Mengenal diri kita sendiri, belajar menerima diri sendiri, dan belajar mengasihi diri kita sendiri.

Mengenali diri

Salah satu langkah yang penting ialah mengerahkan semangat apapun yang dibutuhkan untuk menghadapi realitas bahwa kita adalah diri kita sendiri. Mudah sekali kita menciptakan gambaran realitas yang keliru yang kita buat untuk diri kita sendiri.

Diperlukan keberanian besar untuk menelanjangi diri kita sendiri hingga kita mengetahui esensi diri kita yang terhakiki, menghadapi kodrat sejati diri kita sendiri, dan untuk berhenti melaksanakan apapun yang membuat kita melarikan diri dari kebenaran tentang diri kita sendiri yang sering membuat kita takut untuk menghadapinya.

Contohnya: Zakeus, si cebol, yang memanjat pohon agar tampak lebih jangkung. Tetapi Yesus menyuruh dia turun, untuk menjadi dirinya sendiri lagi, dan mendorong Zakeus untuk mengundangNya singgah di rumahnya.

Begitu kita menemukan diri kita yang sejati, kita berhadapan dengan tantangan penerimaan diri, yakni: menerima diri kita sebagaimana adanya.

Penerimaan diri

Ada begitu banyak orang yang mengalami banyak kesulitan menerima realitas bahwa mereka adalah diri mereka sendiri. Ada banyak rasa tidak bahagia yang berkaitan dengan kurangnya penerimaan diri sendiri. Kita pertama-tama harus menerima diri sendiri sebagaimana adanya, yakni menerima banyak kebaikan dalam diri kita; dan menerima banyak keburukan dalam diri kita.

Mengasihi diri

Pada kenyataannya kita menerima bahwa sebagai manusia kita mampu baik memperbaiki maupun merusak alam raya kita. “Tiada hal manusiawi yang tidak kita kenal.” Hanya mereka yang telah menerima diri yang sesungguhnya dapat mengasihi diri mereka sendiri dan konsekuensi memenuhi perintah kasih yang menyebutkan bahwa kita harus mengasihi diri kita sendiri. Penerimaan itu dan kasih akan keadaan kita sebenarnya, yakni keadaan sebagaimana diciptakan oleh Tuhan, dan yang diberi kebebasan untuk mengikuti jejak kebenaran tetapi juga untuk menyimpang dari jalan itu, dari jalan yang menuju kepada Tuhan, tidaklah berarti bahwa kita tidak harus mengolah diri kita sendiri, dan berusaha untuk memfokuskan diri guna melaksanakan hal-hal yang baik.

Kita harus selalu mengingat apa yang dikatakan oleh St. Paulus dalam konteks ini:

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rom 12:2).

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih” (Gal 5:13).

Perjuangan manusia untuk mengisi diri – namun ….

“Dalam setiap situasi kita harus melihat kehendak Allah!”

Dalam perjuangan kita demi kebahagiaan yang nyata, untuk menjadi manusia-manusia yang nyata, kita memenuhi diri dengan hal-hal yang memang mengisi namun tidak memenuhi kita. Hal-hal tersebut harus disingkirkan, jika kita ingin membiarkan diri terpenuhi oleh kebaikan, kebahagiaan sejati, dan hal-hal yang membantu kita mewujudkan harapan Tuhan tentang diri kita sendiri.

Seperti Iblis yang menggoda Yesus tiga kali, Keseluruhan hidup manusiapun terarah pada godaan pemuasan ketiga nafsu (Luk 4:1-13):

  • Pertama : Roti, rezeki, jaminan sosial ekonomi.
  • Kedua : Kedudukan dan kekuasaan.
  • Ketiga : Kesenangan dan kenikmatan.

Hal-hal yang mengisi hidup, namun tidak memenuhinya, antara lain

  • Budaya Materialistik dan Hedonistik adalah hidup berlimpah materi dan berkesenangan. Manusia diukur dari apa yang dia miliki (rumah, mobil, dsb), bukan karakter. Pengorbanan, menanggung penderitaan, askese dan tapa, kesederhanaan dan kerelaan untuk melepaskan nikmat demi cita-cita luhur tidak mempunyai tempat dalam budaya materialistik dan hedonistik. Budaya materialistik dan hedonistik itu antara lain melahirkan sikap konsumerisme.
  • Konsumerisme adalah sikap orang yang terdorong untuk terus-menerus menambahkan tingkat konsumsi, bukan karena konsumsi itu dibutuhkan, melainkan lebih demi status yang dianggap akan diperoleh melalui konsumsi tinggi itu.

Manusia membutuhkan sesuatu yang lebih penting daripada sekedar kebutuhan fisik makan, minum, sehat, kaya, lancar di dalam dunia. Manusia perlu satu kepuasan yang lebih dalam yaitu kepuasan atas kehausan dahaga dari hidup rohani yang tidak akan pernah bisa dipuaskan dengan berapa banyaknya uang yang kita miliki di dalam dunia ini, yang tidak akan pernah bisa dipuaskan dengan berapa banyaknya kekayaan yang kita dapat dari apa yang ada di atas muka bumi ini. Itulah sebabnya Kristus mengatakan kepada kita, “Akulah Roti Hidup.”

Roti hidup yang bisa kita konsumsi setiap hari adalah Firman Tuhan yang kekal selamanya.

  • Apakah engkau lapar secara rohani pada hari ini?
  • Apa yang membuat rohani kita lapar?

Jawabannya singkat dan sederhana, selama kita mengisi hidup rohani kita dengan sesuatu yang tidak akan pernah memuaskannya, dia akan terus lapar dan dahaga. Kita pikir keamanan keselamatan hidup kita, kekayaaan sukacita, rumah yang besar, itulah yang bisa mengenyangkan rohani kita?

Sikap kritis untuk memenuhi hidup mempunyai 3 proses dasar:

  1. Berusaha memusatkan diri pada perkembangan nilai-nilai atau cita-cita yang kita anggap luhur.
  2. Berusaha memalingkan diri dari keegoisan dan mengarahkan segala perhatian kepada kepentingan bersama.
  3. Membuka perhatian kepada hidup yang lebih sempurna, yaitu ke arah hidup Allah sendiri.

Pengosongan Diri – Kenosis

“Kenosis” berasal dari kata Yunani κένωσις (kekosongan); istilah dipakai untuk menunjuk pilihan mendasar pribadi untuk mengosongkan kehendak diri sendiri dan menjadi sepenuhnya menerima kehendak Allah.

Kita harus menemukan apa panggilan hidup sejati kita, serta jalan yang harus kita tempuh demi kemuliaan Tuhan. Apa yang didambakan oleh Tuhan tentang hidupku, dan bagaimana aku dapat mewujudkan harapan tersebut. Ulah tapa atau asketisme sebenarnya merupakan latihan yang membantu kita menemukan kehendak Tuhan tentang diri kita masing-masing. Tujuannya ialah merangsang hal-hal positif kepribadian seseorang dan menyingkirkan hal-hal yang negatif

Pengosongan diri merupakan jalan untuk mengatasi semua bobot mati dan menciptakan ruang serta membangun enersi demi kebaikan, kebenaran, keindahan, dsb. untuk Tuhan! Hal ini hanya mungkin bila kita sungguh-sungguh:

  • mengenal, menerima, mengasihi, berbelaskasihan terhadap diri kita sendiri,
  • serta sungguh bersedia untuk berdamai dengan musuh-musuh di dalam diri kita sendiri.

Ini berarti turun memasuki diri kita sejati yang terdalam, tanpa agenda tersembunyi, tanpa pelindung apapun. Inilah metode pengosongan diri sebagaimana diajarkan oleh Yesus.

Kalau kita kembali merenung pola kehidupan Yesus sendiri sebagai Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, maka Ia telah memberi contoh tentang makna pengosongan diri (kenosis) itu. Yaitu dengan melepaskan diri dari seluruh kekayaan duniawi dan hidup super miskin, termasuk melepaskan diri dari segala “kuasa ilahi” yang memungkinkan Yesus untuk “mengubah batu menjadi roti (atau emas)” sehingga Ia tetap saja dapat hidup berkelimpahan. Satu-satunya mujizat Yesus “menciptakan uang” secara langsung ialah ketika ia menyuruh Petrus memancing ikan dan menemukan uang 4 dirham yang sekedar cukup untuk melunasi pajak pribadi mereka masing-masing sebesar 2 dirham (Mat. 17: 27).

Dalam dunia yang beragam secara religius ini, mengimani Allah yang memberikan diri dalam dan melalui diri Yesus Kristus berarti mengikuti Kristus yang terbuka pada setiap orang, yang merelatifkan hak-hak istimewanya demi orang lain, sekaligus berani “jatuh ke tanah dan mati” untuk “menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24).

Dalam kelemahan kita, rahmat Tuhan menjadi lebih nyata dan efektif (bdk. St. Paulus, Br. Laurent). Karitas Allah menjadi belas kasih dan daya kekuatan bila kita berani membebaskan diri dari cengkeraman hidup kita sendiri. Kita berpegang teguh padanya tatkala kita berusaha mengatasi segalanya sendiri, seperti halnya kaum perfeksionis, atau tatkala kita hidup “setengah-setengah” seperti layaknya kaum Farisi. Kita harus membebaskannya, jika kita ingin memberi kesempatan kepada Tuhan untuk memasuki hati sanubari kita, untuk menyembuhkan kita dan membebaskan kita. Itulah apa yang Yesus maksudkan ketika Ia berkata: “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk 18:14).

Ingatlah akan pernyataan sbb. “Siapa yang ingin menyelamatkan hidupnya, haruslah meninggalkannya, memikul salibnya sendiri, dan mengikuti Aku.”

Mereka yang ingin menghayati hidupnya sepenuhnya haruslah mengosongkan diri sepenuhnya sehingga yang tinggal hanyalah dirinya yang terdalam dan yang termurni, dirinya yang hakiki, yakni manusia biasa dengan segala kebaikan dan keburukannya. Ini harus kita terima dan bahkan cintai, dan kita harus mendekati keburukan itu dengan penuh belas kasihan.

Lukisan : Rm Anton Wahyudi, SX

Lukisan : Rm Anton Wahyudi, SX

Akhir kata, kita manusia harus mengosongkan diri sendiri dari segala yang mengisi kita namun tidak membuat diri kita merasa penuh. Kita harus memahami apa yang diserukan Tuhan kepada kita di sini dan sekarang bahkan sekalipun dalam kelemahan kita, serta mengikutiNya melalui jalan yang mengantar kita kepada hidup sejati.

~Warta Paroki November 2014
Referensi:
  1. Vita Consecrata – tentang hidup bakti
  2. Allah menyejarah bersama masyarakat, Br. René Stockman, FC
  3. Buku Pelajaran Agama Katolik kelas X – Kurikulum 2013

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s