Sekilas Napak Tilas Panggilanku

bersama umat

bersama umat

Teman-teman sebaya, teman sekampung,  orang  yang mengenalku sejak kecil sulit membayangkan atau seakan tidak  percaya kalau aku bisa masuk seminari  dan  sekarang menjadi pastor apalagi pastor Misionaris Xaverian. Alasannya karena aku seorang pemalu, takut atau tidak mau bertemu orang lain. Aku sendiri pun tidak bisa melukiskan mengapa, suatu misteri. Itulah misteri panggilan Allah atas diriku.

 Setelah tamat SMA (1990) di Toraja aku mengikuti tes masuk seminari  di Makasar dan diterima. Satu tahun di seminari  terlewatkan. Aku melamar ke Serikat Xaverian dan dterima. Maka dari Makasar aku menuju Jakarta memulai pendidikan xaverian sebagai frater. Disinilah pertemuan perjumpaanku pertama kali dengan orang atau teman-teman  yang berasal dari beberapa suku, bahasa, dan bangsa. Ada yang berasal dari Nias, Samosir, Pematang Siantar, Lampung, Jawa,  Sangir Talaud/manado, dengan pendamping yang berasal dari Italia dan Mexico. Syukur kepada Allah, pendidikan selama 5 tahun pun terlewatkan.

Selanjutnya aku menuju Sumatra Utara tepatnya di paroki Aek Nabara, Keuskupan Agung Medan untuk menjalani tahun orientasi missioner. Disinilah aku  mulai mencicipi karya missioner bersama dengan pastor xaverian lainnya yang berasal dari Italia dan Mexico. Aku bertemu dengan bahasa dan budaya yang baru, budaya batak.  Tahun orientasi selama setahun terasa singkat.

Perjalanan masih panjang. Dari Sumatra Utara aku  menuju Yogyakarta untuk  studi lanjut. Di kota gudeg ini  aku berjumpa lagi  orang yang berbudaya dan berbahasa lain, budaya dan bahasa Jawa. Setelah 3 tahun  berlalu aku mengikrarkan kaul kekal (4-12-1999) dengan motto: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam DIA yang member kekuatan kepadaku” dan  menerima tahbisan sebagai diakon (25-1-2000). Setelah tahbisan diakon aku meninggalkan Yogyakarta untuk mewujudkan motto tahbisan diakonatku: “Aku ada ditengah-tengah kamu sebagai pelayan”, tepatnya di paroki Padang  Baru,  Keuskupan Padang, Sumbar. Disini aku bertemu dengan suatu budaya dan bahasa lain lagi yakni Minang/Minangkabau.  Waktu setahun singkat rasanya. Maka tiba saatnya aku ditahbiskan sebagai imam/pastor  xaverian (28-1-2001) di paroki ini kemudian mendapat tugas di tempat yang baru. Adapun motto tahbisan imamatku adalah: “Bapa yang mengutus Aku menyertai Aku”.

Dari padang Sumbar aku berangkat lagi ke Paroki Aek Nabara Sumut, tempat aku menjalankan tahun orientasi misioner  5 tahun sebelumnya.  Di sinilah karya misiku yang pertama sebagai pastor misionaris xaverian. Suatu paroki yang luas dengan  jumlah stasi 45. Tahun pertama belajar bahasa dan budaya Batak yang mutlak perlu demi pelayanan pastoral misioner. Waktu berjalan terus.

Sesuai dengan karisma xaverian aku harus siap sedia untuk pergi ke mana pun diutus, maka sesudah 6  tahun berkarya di paroki  Aek Nabara aku mendapat penugasan yang baru yakni ke Bangladesh. Namun sebelum ke Bangladesh aku diberi kesempatan untuk pergi  ke London (Inggris) untuk  mengasah lidah berbahasa internasional. Ternyata aku kerasan di London selama 2 tahun. Aku bisa melihat dan mengalami situasi dan budaya Eropa. Dari London aku sempat juga mengadakan napak tilas ke tempat kelahiran St Guido Maria Conforti, pendiri serikat Xaverian  di parma Italia. Syukur kepada Allah.

Dari London aku menuju Bangladesh untuk bermisi. Di sini aku bertemu lagi dengan budaya  dan bahasa yang baru, Bengali. Ya harus belajar lagi dari nol. Setelah  4 tahun aku berkarya, aku minta kembali ke Indonesia dan ditugaskan di Pekanbaru. Kini hampir setahun aku berkarya di paroki ini, paroki St Paulus Pekanbaru Riau.

Bersama anak-anak di WIlayah 3 Paroki St Paulus Pekanbaru

Bersama anak-anak di WIlayah 3 Paroki St Paulus Pekanbaru

Pertemuan atau perjumpaanku  dengan banyak orang dari berbagai suku, bahasa, budaya dan bangsa di atas menjadi pengalaman yang sangat berharga, membahagiakan, memperkaya,  tak terlupakan. Pengalaman ini membuat aku siap sedia untuk belajar menyesuaikan diri dengan orang, lingkungan atau tempat tugas yang baru. Penganlaman ini membantu aku belajar menghargai dan menghormati bahasa dan budaya orang lain dan  belajar dari mereka, tinggal bersama mereka, melayani mereka, berjalan bersama mereka.

                                                                                                                                    ~   Lius sx

- dok. pribadi

– dok. pribadi

- dok. pribadi

– dok. pribadi

- dok. pribadi

– dok. pribadi

- dok. pribadi

– dok. pribadi

- dok. pribadi

– dok. pribadi

 

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s