Keiro no Hi (敬老の日) – Hari penghormatan untuk para lansia

Setiap bulan September hari Senin ketiga di Jepang dirayakan hari penghormatan untuk para lanjut usia. Di Gereja Musashigaoka di kota Kumamoto tempat saya bertugas sebagai kepala paroki sejak awal April 2014, dirayakan pula “Keiro no Hi (敬老の日)” 7 September lalu. Dalam misa, umat lansia berusia 75 tahun ke atas atau mereka yang sakit menerima sakramen pengurapan orang sakit.

bersama dengan para lansia dalam acara Keiro no Hi di gereja Musashigaoka 7 September 2014

bersama dengan para lansia dalam acara Keiro no Hi di gereja Musashigaoka 7 September 2014

Yang menarik dalam misa dan acara ini saya menyanyikan lagu bahasa Jepang yang paling terkenal di Indonesia yaitu berjudul “Kokoro no tomo (心のとも)”. Instrumen lagu yang sudah saya rekam dalam alat perekam saya nyanyikan dengan suara saya sendiri saat acara ini dan mereka sangat gembira mendengarkannya. Meskipun di Indonesia lagu ini sangat terkenal namun orang Jepang sendiri kebanyakan tidak mengetahuinya.

tulisan Kokoro no tomo (心のとも)yang berarti teman yang dekat di hati

Selain itu saya mempertontonkan kepada mereka rekaman video tarian poco-poco yang sempat saya tarikan saat awal tinggal di Jepang bersama para mahasiswa dari Indonesia yang belajar di Universitas Kumamoto.

Di gereja yang memiliki umat sekitar 400 orang dan yang menghadiri misa tiap hari Sabtu dan Minggu dalam 3 misa sekitar 150 orang, ada satu umat yang genap berusia 100 tahun, yaitu seorang nenek bernama Tanaka-san. Hampir setiap misa hari Minggu nenek ini datang ke gereja dan saat acara “Keiro no Hi” ini saya memberikan hadiah yang saya tulis sendiri yaitu tulisan Kanji Jepang “百歳万歳(hyakusai banzai)” yang berarti “100 tahun, horeeee”.

Saya bersama Tanaka-san dengan tulisan Kanji dari saya (Hyakusai Bansai)

Saya bersama Tanaka-san dengan tulisan Kanji dari saya (Hyakusai Bansai)

Baru kali pertama saya menjumpai seorang nenek berusia 100 tahun, Tanaka-san ini meskipun pendengarannya sudah mulai pudar dan masih bisa berjalan sendiri pelan-pelan dengan tongkat, masih tetap setia mengikuti misa hari Minggu. Beberapa minggu setelah perayaan ini, beliau memberikan hadiah buat saya yaitu sebuah gambar yang diwarnai olehnya sendiri. Barangkali inilah satu kegiatan lansia di Jepang yang tinggal di rumah lansia yaitu mewarnai gambar seperti anak-anak TK. Namun gambar ini sangat bagus dan pemilihan warnanya sangat cocok dan sedap dipandang apalagi menggambarkan seorang ibu dengan 3 orang anak kecilnya berjalan di dekat sawah.

gambar yang diwarnai oleh nenek Tanaka-san, hadiah untuk saya

 Buat saya yang bertugas di Jepang sejak 6 tahun lalu, pengalaman berjumpa dan melayani umat yang berbeda dengan budaya saya sendiri memberikan banyak rahmat dan kegembiraan tersendiri. Apa yang telah saya impikan sejak masuk pra-novisiat SX di Jakarta tahun 1996 yaitu bermisi di negeri Sakura ini menjadi kenyataan. Terima kasih untuk Pastor Franco Qualizza SX sebagai propinsial yang saat itu menerima kaul pertama saya sebagai Xaverian tahun 1998. Semoga kegembiraan bermisi di sini dengan umat yang sedikit dan kebanyakan lansia ini tetap memberikan kekuatan tersendiri buat saya dalam menjalani hari-hari penuh rahmat dan menjadi saksi Injil-Nya.

Salam dan doaku untuk segenap umat di Paroki Santo Paulus, Pekanbaru.

 Alexander Denny Wahyudi, SX

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s