Sepenggal catatan harian misioner dari ranah misi Siberut

Di balik ayunan dari kelambu

Usai bangun pagi sekitar jam 06.15 kulangkahkan kakiku menuju sungai, pinggir kampung Lumago tuk bersih-bersih diri sambil berenang di arus sungai yang tak begitu deras mengalir-ria. Seberkas sinar mentari pagi menerpa tubuh mungilku, hingga menghangatkan sumsum tulangku seolah tahu aku sedang sedikit kedinginan oleh air sungai yang sedang membasahi sekujur tubuhku ini. Sengaja cepat-cepat kutuntaskan “ritual” mandi pagi di sungai ini, demi rencana kelilingi kampung tuk temui warga stasi yang baru diresmikan dan diberkati beberapa waktu lalu itu. Terlintas di benakku kisah Injil tentang pembaptisan oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan. Setidak-tidaknya sewaktu mandi tadi aku sempat berkontemplasi tentang baptisan yang dilakukan Yohanes Pembaptis dulu itu. Dan dengan rendah hati, di sungai dekat stasi Lumago tadi itu, aku telah “membaptiskan” diriku sendiri, sebelum aku membaptis beberapa bayi di gereja siang nanti.

Senyum ceria menghiasi paras beberapa “paamian” (umat) yang kujumpai di beranda rumah mereka. Ada yang sedang sibuk mengumpulkan bunga-bunga dan berbagai jenis daun puring untuk hiasan yang disematkan pada kepala/dahi, lengan tangan, dan pinggang. Di sudut kiri jalan setapak menuju sungai, seorang bapak sedang asyik memasukkan kopranya dalam karung plastik di atas tempat pengasapan khusus untuk kopra.

Tak jauh dari rumah pemilik pengolahan kopra, kulihat seorang tabib kampung (“sikerei”) sedang mempersiapkan kopi panas untuk menghangatkan tubuhnya yang penuh dengan dekorasi tatto yang menawan hati.

Dua tiga langkah kuberjalan menuju ke tengah jalan rabat beton, yang dibangun dengan bantuan proyek P2D yang panjangnya hanya sekitar 100 meter dan lebar 1,5 meter dengan ketebalan kira-kira 20 cm.. Lalu, kuhentikan langkahku tepat di depan gubuk kecil, demi menghampiri sang bayi imut-imut yang sedang pulas tertidur di ayunan tradisional yang dimodifikasi dari bahan kain kelambu. Tak kulihat bapak-ibu si bayi itu, mungkin sedang sibuk membereskan daging ayam di belakang gubuknya. Kalau tidak salah, bayi mungil nan imut ini akan menerima baptisan bersamaan dengan peneguhan perkawinan orangtuanya. Tergoda untuk berlama-lama mengamati pulasnya sang bayi dalam ayunan, akhirnya aku diajak ketua stasi untuk melihat sebuah uma baru yang sedang dihiasi dengan puluhan tengkorak kepala babi yang digantungkan tepat di bawah atap uma itu oleh sikerei pemilik uma. Di ranah misi Siberut yang pada tahun 2014 akan menyambut 60 tahun berdirinya Gereja Katolik ini, unsur kekristenan masih berdampingan mesra dengan pernak-pernik simbol kepercayaan tradisional.

Menurut jadwal kunjungan stasi, pagi hari ini akan diadakan peneguhan dan pembaharuan sakramen pernikahan beberapa pasutri sekaligus pembaptisan bayi mereka, di gereja stasi yang belum usai tahap pembangunannya. Umat stasi Lumago memang sedang berupaya semampu mungkin untuk membangun gedung gereja tradisional yang bergaya “uma” (rumah adat Mentawai) ini, dengan dana swadaya mereka sendiri. Suatu nilai kemandirian yang patut dibanggakan. Sekitar pukul 11.00 perayaan ekaristi kudus yang bergaya semi inkulturasi telah dimulai. Upacara peneguhan perkawinan dan baptisan pun berjalan lancar, bersahaja, sakral dan hikmat. Allah Tritunggal Maha Kudus sungguh-sungguh hadir dalam perayaan ekaristi kudus di atas bangunan gereja yang masih cuma berdindingkan udara segar nan bersih. Tidak demikian halnya dengan polusi tingkat tinggi yang terjadi di metropolitan Jakarta.

Semilir angin sepoi-sepoi di sekitar gereja menyegarkan tubuhku dan segenap umat yang hadir, setelah usai merayakan ekaristi peneguhan perkawinan dan baptisan di stasi Lumago, di tepi barat Pulau Siberut. Manik-manik kalung warna-warni cerah oranye, kuning dan merah yang tergantung ceria di leher para bapa-ibu yang perkawinannya diteguhkan dan diperbaharui, seakan ingin ucapkan “selamat” dan “profisiat” kepada mereka. Dari balik altar gereja yang tertimpa cahaya matahari yang menembus celah-celah dinding papan, kutatap ayunan dari kelambu tadi. Ayunan sang bayi imut telah mengantarkan “anak Tuhan” itu kepada pembaptisan suci yang menyelamatkannya dari dosa asal. Kini, ayunan dari kelambu itu sedang menanti dengan setia kedatangan “sang manusia baru” di tempat peristirahatan yang penuh rahmat kedamaian. Di balik ayunan dari kelambu itu, sang bayi telah dilahirkan baru kembali melalui rahmat baptisan keselamatan.

Kamar 23, Biara Xaverian, Padang

P.Anton Wahyudi SX

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s