Enak Gak Sih Menjadi seorang Suster?

Pada kesempatan mendampingi rekoleksi Putra-putri Altar sebuah paroki, saya dikejutkan sebuah pertanyaan polos dari seorang putri altar yang kami dampingi, “Suster, enak gak menjadi seorang suster”? demikian pertanyaan polos remaja putri tersebut, spontan saya jawab ‘enak dunk…!’ pertanyaan anak putri ini tidak berhenti di situ dia bertanya kembali “apa yang membuat enak suster?’ saya menjawab sekenanya saja! Ya.., enak karena bisa memiliki waktu lebih banyak berdoa, bisa mengajar anak-anak kecil di sekolah minggu tentang Tuhan yang mahabaik, bisa mendampingi putra, putri altar dan masih banyak lagi deh yang bisa dilakukan oleh suster-suster, lagi-lagi remaja putri itu berkomentar, “Kalo gitu, bukan enak suster…tapi capek karena banyak pekerjaanya..” Hehehe.. Itulah pertanyaan yang cukup sering dilontarkan oleh anak-anak remaja putri yang saya dampingi.

 Pertanyaan sederhana seperti itu mengundang saya untuk merenungkan lebih dalam  “apakah saya bahagia dalam menjalani hidup panggilan ini?” kalau dikaji lebih dalam tentang perasaan, seperti perasaan “bahagia”  itu relative karena setiap orang bisa mengartikan “bahagia” itu sendiri-sendiri, perasaan saya  dan orang lain bisa berbeda terhadap sesuatu hal. Untuk saya membahagiakan untuk teman saya bisa jadi kurang membahagiakan atau malahan tidak sama sekali! ya, itulah perasaan bersifat subjektif.

Sejauh ini, saya merasa betapa membahagiakan menjalani panggilan ini, salah satu yang paling membuat saya bahagia yakni suasana doa dan alokasi  waktu  yang cukup banyak untuk berdoa, ada kebahagiaan tersendiri dalam menjalani rutinitas doa ini meski sulit untuk dijelaskan, yang pasti doa-doa yang kami jalani merupakan sukacita tersendiri yang bisa dan hanya bisa dialami para suster. Selain itu juga, kebersamaan dalam komunitas. Hidup bersama tentu menjadi sukacita tersendiri karena di sana ada kasih dan perhatian sekaligus juga tantangan di mana kita diminta untuk selalu bisa menyesuaikan diri satu dengan yang lain, tidak selalu mudah, tidak selalu indah, namun saya percaya bahwa semua anggota komunitas mengupayakan sukacita bagi sesamanya.

Suster ezra

Pengalaman lain yang membawa sukacita yakni kebersamaan dengan umat (keluarga umat beriman) di mana saya tinggal juga menjadi sukacita tersendiri, kehadiran saya di tengah umat, penerimaan umat terhadap diri saya sebagai seorang suster sungguh saya rasakan sebagai penerimaan yang tulus, membangun persahabatan yang baik dan saling menguatkan. Dalam kebersamaan dengan umat tidak jarang saya diminta untuk mendoakan keluarga atau permohonan khusus misalnya untuk kesembuhan orang yang sedang sakit, hal ini juga menjadi sukacita tersendiri. Karena boleh bersatu dalam doa dengan umat lain yang sangat membutuhkan kekuatan dari doa-doa bersama.

Pengalaman-pengalaman suka dan duka yang diterima dan dimaknai akan membawa kita pada kebahagiaan dalam hidup ini. Maka saya berusaha untuk memberi makna atas berbagai pengalaman suka maupun duka.

~ Sr. Ezra KSFL

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s