Dia telah menangkap aku

Hidup menjadi seorang Guru itulah cita-cita saya sejak kecil, sederhana namun berperan penting dalam mendidik karakter anak-anak. Akan tetapi impian itu akhirnya kalah saing sejak saya mengikuti Perayaan Misa dalam rangka pisah-sambut Bapak Uskup Agung Medan yaitu Mgr.Pius Datubara dengan Mgr. Anicetus Sinaga yang diadakan di Pematang Siantar Minggu, 22 Februari 2009. Selama acara berlangsung saya sangat kagum melihat begitu banyak para Pastor, Suster, Frater yang memakai jubah putih dan coklat, mereka semua bernyanyi dengan bagus semakin menambah sukacita dalam misa. Kagum melihat jubah, inilah awal mula ketertarikan saya menjadi seorang suster, meskipun pada umumnya keluarga kurang setuju hal ini dapat saya maklumi karna memang kami berasal dari Agama Protestan. Waktu terus berputar bagaikan air yang mengalir, saat ini saya sudah berada pada tahap Pendidikan Junior tahun ke-3. Saya sangat bersyukur atas Rahmat Panggilan yang diberikan Tuhan…lewat panggilan saya menerima rahmat yang berlimpah dalam hidup dan juga dalam keluarga saya, semua ini terjadi tentu tak lepas dari cinta kasih Tuhan yang luar biasa.

Saat ini saya bertugas di Komunitas  Labuh Baru, sehari-hari berkarya di Bidang Pendidikan Anak TK, sepertinya Tuhan mewujudkan cita-cita awal saya sebelum menjadi suster. Panggilan menjadi suster itu sangat unik tetapi juga dianggap aneh oleh dunia zaman sekarang. Akan tetapi hidup adalah pilihan, dan hidup adalah sebuah perjuangan, dimana hidup diawali dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian. Di dalamnya ada tantangan dan ada perjuangan,ada duka ada suka.  Yang pasti dalam usaha untuk mencapai sesuatu:  Jatuh itu biasa tetapi Berani Bangkit itu luar biasa.

Ketika situasi yang terjadi dalam perjalanan tidak sesuai dengan yang saya harapkan…..saya percaya bahwa pada saat itulah Tuhan sedang mempersiapkan  sesuatu yang indah  akan terjadi dalam panggilan saya, sebab saya tidak tau apa Jalan yang direncanakan Tuhan bagi saya, yang saya tau Jalan-NYA adalah yang terbaik. Bersama Dia Saya Berani Melangkah inilah motto dalam panggilan saya.

Hidup menjadi seorang Biarawati bukan berarti lepas dari tantangan.baik dalam hidup bersama maupun dalam tugas, karya dan pelayanan. Kesabaran dan sikap yang optimis sangat penting dalam hidup…..sering kali cinta dan perhatian dibalas dengan kesalahpahaman, karna tidak semua  orang mampu mengerti bahwa kita sebenarnya mengasihinya. Namun cinta dan perhatian yang murni tidak akan pernah terganggu, menyerah untuk tetap berbagi kasih. Artinya kasih itu menuntut pengorbanan, kasih akan semakin berbobot bila harus menanggung konsekuensi berkorban. Jadi mari kita saling berbagi cinta kasih, berbagi cinta yang menyadarkan, cinta yang membebaskan bukan membiarkan orang lain berada dalam ketidaktauan. Maka cinta harus dirawat dengan setoran-setoran kebaikan kepada sesama, sebab kebaikan tidak akan pernah berkurang meskipun dibagikan.

Sekian dan terima kasih

Salam dan doaku

Sr. Louis Saragih,FCJM

Sr Louis Saragih FCJM sebagai mengisi acara dalam temu acara perayaan St Maria Guido Conforti 2013 / Dok. Admin

Sr Louis Saragih FCJM sebagai mengisi acara dalam temu acara perayaan St Maria Guido Conforti 2013 / Dok. Admin

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s