Cerita Ringan tentang Doa Rosario

Santa Perawan Maria Ratu Rosario / internet

Santa Perawan Maria Ratu Rosario / internet

Pada hari ini, tanggal 7 Oktober, Gereja memperingati Santa Perawan Maria Ratu Rosario

Satu kritik dari orang-orang yang tidak menyukai doa rosario adalah sifatnya yang mengulang-ulang doa yang sama. Ada beberapa cerita dari buku Rm. Albert J. M. Shamon, The Power of the Rosary, Milford, Ohio: The Riehle Foundation. Rosario – ada hubungannya dengan cintakasih, lho!

Cerita pertama. 

Pada suatu hari seorang perempuan muda mengatakan kepada Uskup Agung Fulton J. Sheen [1895-1979] yang terkenal itu, bahwa dia tidak akan berdoa rosario karena siapa saja yang mengulang-ulang kata-kata yang sama terus-menerus tidak mungkinlah seorang yang berhati tulus. Sang Uskup Agung bertanya kepada kepada perempuan muda itu apakah dia sudah bertunangan. Perempuan muda itu mengatakan “Ya.”

“Apakah tunanganmu mencintaimu?”

“Tentu saja.”

“Bagaimana anda tahu?”

“Ia mengatakannya kepadaku.”

“Apakah dia hanya mengatakannya kepadamu sekali saja?”

“Tentu saja tidak.”

“Apakah dia mengatakannya kepadamu dua kali?”

“Ah Romo Uskup, dia mengatakannya kepadaku ratusan kali bahwa dia mencintaiku.”

“Oh, kalau saya menjadi dirimu, saya tidak akan menikah dengan dia. Dia tidak bisa tulus, karena dia mengatakan hal yang sama secara berulang-ulang.” Itulah jawaban dari Uskup Agung Fulton J. Sheen kepada perempuan muda itu.

Apabila orang sedang jatuh cinta, mereka mengatakannya secara berulang-ulang – tidak sekali, tetapi ratusan kali, lagi, lagi dan lagi. Sebuah kebenaran adalah, bahwa pengulangan kata-kata  adalah bahasa cinta. Pengulangan sesungguhnya tidak menciptakan monotoni, melainkan menciptakan stabilitas; menegaskan lagi; bahkan berfungsi sebagai bantalan terhadap kejutan di masa depan karena perubahan. Apabila seorang ibu berkata kepada anaknya, “Aku cinta kamu,” anak itu tentunya ingin sekali mendengar kata-kata itu diucapkan sang ibu sesering mungkin.

Monotoni dihilangkan, bukan dengan perubahan yang terus-menerus, melainkan dengan perhatian dan ketulusan dan tujuan. Apabila golf hanyalah permainan sekitar memukul sebuah bola kecil berwarna putih di sebuah lapangan besar, maka permainan golf akan sangat bersifat monoton dan membosankan. Namun dalam permainan golf ada tujuan yang ingin dicapai, sementara itu di tengah-tengah perjalanan mencapai tujuan terdapat juga  berbagai tantangan yang harus diatasi dlsb., sehingga membuat permainan golf diminati banyak orang.

Cerita kedua. 

Fungsi-fungsi kehidupan yang paling hakiki adalah pengulangan. Misalnya dalam hal makan-minum, tidur, bekerja dan juga dalam hal mencintai. Rosario adalah bahasa cinta. Cerita di bawah ini dapat menjelaskannya dengan indah; dipetik oleh Rm. Shamon dari Rochester Democrat and Chronicle, tanggal 24 Januari 1954. Sumber berita: UP, New York.

Beritanya adalah tentang seorang yang membuat bingung orang-orang komunis Cina selama dua tahun. Dengan menulis “Aku cinta kamu” berulang-ulang dalam 400 pucuk suratnya kepada buah hatinya yang sedang dipenjara di Korea. Berita itu mengatakan bahwa gadis itu menambah dua patah kata kemarin (23 Januari 1954) pada upacara perkawinannya di gereja. Kata-kata itu adalah “I do”.

Theresa MacDonald (21 tahun) dan Kopral William C. Rhatigan (22 tahun) menikah di Church of the Fourteen Holy Martyrs di Brooklyn, New York City.  Sekitar 500 orang menghadiri upacara itu, yang terwujud setelah sebuah kisah romansa yang lama. Pasangan ini bertunangan pada Hari Natal tahun 1950. Beberapa bulan kemudian Rhatigan harus pergi berperang ke Korea dengan Divisi Infantri Kedua.

Rhatigan ditangkap oleh pihak musuh pada bulan Mei 1951 dan baru dibebaskan pada tahun 1953. Selama dia berada dalam kurungan, secara teratur dia menerima surat dari Theresa. Isi setiap surat itu ‘hanya’ mengatakan “Aku cinta kamu”. Tidak ada satu pun surat Theresa kena sensor. Bagi penguasa komunis Cina yang menahannya, surat-surat Theresa itu merupakan teka-teki tak terpecahkan, namun tidak demikian halnya bagi Rhatigan. Rhatigan berkata: “… they didn’t puzzle me any. It was all I wanted to hear, and Theresa knew it.”

Ah, semoga dua contoh itu dapat menjelaskan kepada yang kurang memahami mengapa doa rosario itu merupakan pengulangan-pengulangan dari doa yang sama.

~ Sang Sabda

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s