MENIKAH = Sinkronisasi Jam Tangan

Dari redaksi:
Tulisan ini diambil dari blog Rm. Alfonsus Widhi,SX. Beliau menemukan sebuah artikel tentang kehidupan berkeluarga di antara tumpukan file lama, dari Paolo Magna, berjudul Oggi Sposi: Sincronizzare gli orologi. Artikel ini diterbitkan tahun 2009 oleh majalah Tredimensioni.

==================================

Apakah berbicara tentang pernikahan di zaman kita ini, adalah sesuatu yang menakutkan? Apakah ini “kuk” yang harus dipanggul oleh pasangan muda? Perlu disadari bahwa dengan menikah, ada dua jam tangan yang dicocokkan, ada dua ritme kehidupan yang disejajarkan (bukan disamakan!) di bawah satu atap. Ada pergeseran dari cinta romantis dan berkarakter pribadi, menuju pada cinta yang realistik dan sebuah komitmen berbagi bersama. Cinta yang sudah diresmikan dalam ikatan perkawinan ini pun, akan masuk dalam realitas hidup bersama di masyarakat.

Jarang sekali ditemukan fakta bahwa orang memutuskan untuk menikah itu terjadi dua minggu sebelum hari pernikahan! Menikah bukanlah hasil sebuah spontanitas untuk tinggal bersama, tetapi merupakan sebuah tindakan yang direncanakan secara konkrit dan sengaja direncanakan. Bicara soal pacaran, disinilah kita bisa mengevaluasi kualitas pacaran yang baik hingga menuju pada sebuah perkawinan. Tidak hanya yang baik, yang indah, yang romantis saja yang dihidupi bersama-sama, tetapi perlu juga mengenal jatidiri sesungguhnya dari pasangan, yang bersamanya aku akan tinggal seumur hidup! Banyak hal harus diketahui dan dikenal dari pasangan.

Kita patut heran, jika ada salah satu pasangan mengatakan bahwa, ternyata dia bukan yang kukenal selama ini, atau menyesal telah menikah dengannya…, atau menyampaikan litani keluhan tanpa akhir tentang pasangan beberapa saat setelah menikah. Oleh sebab itu, perlu ada beberapa tugas yang harus dilakukan.

1) Melacak jejak.

Pasangan harus memiliki kekuatan jelas untuk membatasi daerah privat dan publik yang dimiliki sebagai hasil sebuah perkawinan. Daerah privatnya adalah relasinya dengan pasangan, secara internal, sebagai sebuah keluarga. Anda berdua yang baru menikah, memiliki sebuah tanggung jawab baru, daerah baru dan pasangan baru. Daerah ini harus dilindungi dari setiap “penyusup”. Beberapa penyusup dalam keluarga muda adalah: mertua (orang tua masing-masing pasangan), ritme kerja (selalu pulang malam dan lelah), tekanan ekonomi (kebutuhan membengkak sehingga harus kerja lebih banyak), stress di tempat kerja…ini semua bisa menjadi kerikil-kerikil yang merintangi relasi suami istri sebagai keluarga.

Tentang mertua, bukan berarti memutuskan relasi total dengan keluarga yang baru dibangun, tetapi, perlu mendidik mereka agar memiliki relasi yang baru, yang sejak saat ini, adalah dengan sebuah pasangan keluarga, bukan pertama-tama dengan anaknya sendiri. Bagi mertua, hal ini tidak mudah, terutama bagi keluarga yang protektif. Bagi keluarga protektif ini, anak-anak itu selalu anak-anak, muda dan tidak berpengalaman, untuk menyadari apa artinya membangun sebuah keluarga. Orang tua merasa paling tahu yang terbaik tentang apa yang dibutuhkan oleh anaknya yang sudah menikah. Wacana tentang “kebaikan” menurut mertua dan menurut keluarga baru harus dibicarakan, bukan dikondisikan dan dipaksakan. Pembatasan diri bagi pasangan muda juga tidak mudah, karena mereka merasa selalu perlu bantuan dan merasa tidak bisa dewasa dan harus terikat dengan orang tua. Wacana kemandirian keluarga baru adalah wujud dari kematangan kepribadian dua orang yang mengikat diri dan berkomitmen untuk membangun sebuah keluarga. Terimakasih kepada orang tua yang sudah melahirkan, mendidik dan membesarkan anak. Sekarang jatah porsinya anak untuk membangun sebuah keluarga.

2) Satu, tapi dua.

Bersatu tapi berbeda. Itulah dinamika sebuah keluarga. Di awalnya berbicara tentang jam pulang kerja, mengobrol tentang situasi di tempat kerja, bicara sedikit tentang  jam berapa mulai tidur, siapa yang mematikan lampu, tidur dengan lampu terang benderang atau dimatikan atau pakai lampu kecil, jam berapa bangun dan makan pagi bersama, siapa yang siapkan makanan, apa yang dilakukan pada hari minggu atau hari libur … Kalau dibuat daftarnya, tentu akan sangat panjang. Dalam dialog ini perlahan kedua partner akan memahami kemampuan individuasi dan persekutuan dari masing-masing pasangan.

Ada dua kutub muncul dalam dialog ini. Di satu sisi adalah tingkat individualitas dan pemahaman tentang perbedaan, serta di sisi lain adalah tingkat persekutuan dan relasi. Dinamika kedua kutub ini menjadi bumbu dalam membangun sebuah keluarga, dalam menciptakan keharmonisan, yang tetap menghargai perbedaan identitas. Dialog mulai sulit ketika masing-masing pasangan kehilangan sudut pandang positif akan yang lain, atau dengan kata lain, hanya melihat bahwa pendapatnya saja yang paling benar dan tidak bisa dikompromikan! Individualisme yang berlebihan ini akan merugikan persekutuan hidup yang telah diputuskan bersama dan sedang dibina dengan pasangan.

Memiliki otonomi pribadi dan tahu menempatkan diri dalam relasi dengan pasangan, merupakan dua garis perkembangan sebelum pernikahan. Akar kematangan kepribadian ada dalam pengalaman dasar sejak masa kecil di keluarga dan segebok pengalaman yang dilaluinya di kemudian hari, memberikan kontribusi untuk makin membentuk atau merapuhkan dia.

Di saat pacaran, mengetahui dengan baik calon pendamping hidup itu sangat penting. Tujuannya agar masing-masing memahami identitas, kematangan kepribadian dan kesanggupannya untuk berbagi, untuk mensinkronkan dua jam tangan yang berbeda, serta tidak berpikir untuk bisa mengubah yang lain. Pribadi yang kurang dewasa dan kurang matang, justru akan memberatkan dirinya sendiri pada saat menjalani hidup perkawinan. Berpikir bahwa bisa merubah yang lain pun harus dimulai dengan perubahan dalam diri sendiri.

Beberapa bahan untuk permenungan bersama:

  • Unsur-unsur dan nilai-nilai apa sajakah yang menjadikan keluarga itu sebuah lembaga khas dan unik?
  • Alasan historis dan sosial apakah yang menjadikan keluarga modern saat ini mengalami kesulitan untuk menentukan identitasnya?
  • Apa yang menjadi isi panggilan dan perutusan keluarga-keluarga katolik di masyarakat dan di Gereja?

Tidak bisa membangun sebuah keluarga tanpa bagasi belaskasih dan iman (E. Schneider)

3) Pengaruh masa lalu bagi hidup perkawinan

Kadang kita pernah mendengar ungkapan ini: ah, kalau suka ngotot itu mah penyakit turunan! Dia mah mau menang sendiri dan gak mau ngalah! Meskipun dia gak punya apa-apa, tapi kalau ada orang yang minta sesuatu, pasti diada-adakan deh; atau, meskipun dia kelelahan, kalau ada teman yang ngajak pergi, pasti dia pergi! Dia mah cuek mulu.. Dia itu sederhana banget! Kalau bajunya belum sobek, gak mau diganti! Dia itu pendiam, tapi kalau sekali bicara, pasti ada maknanya…

Dialog sambil refreshing

Kerapkali hal ini tidak dapat dipungkiri muncul dalam karakter dan sikap masing-masing pasangan. Variasi sikap dan perangai kita muncul karena pengaruh yang diterima dan terkondisikan secara tidak sadar di masa lampau. Sejauh mana hal itu disadari oleh masing-masing pribadi dalam relasi pasutri baru? Seolah-olah ada sebuah gejala transfer dalam kehidupan kita: cara berpikir, cara merasa dan bertindak di masa lampau itu terungkap secara tidak sadar dalam relasi kita yang sekarang dengan pasangan, dengan orang lain atau dengan peristiwa dan hal-hal di sekitar kita. Maka, PR besar buat pasutri muda adalah menyadari karakter-sikap yang muncul secara otomatis. Perlu dikenal betul asal muasal emosi yang muncul serta reaksi – sikap yang ditimbulkannya.

husband and wife

Bagaimana hal ini bisa mempengaruhi relasi pasutri muda? Kehidupan baru bersama pasangan bisa merupakan sebuah titik awal, tapi juga titik akhir. Perlu kita ingat bersama bahwa pasangan kita bukanlah sebuah kertas HVS putih, kosong dan halus dimana siapapun bisa menorehkan tinta semaunya. Dalam diri masing-masing pasangan, ada kecenderungan tetap untuk “memaksakan” secara tidak sadar, sebuah situasi seturut dengan gaya hidup yang selama ini dia alami bersama keluarga asalnya, yang dia pandang baik. Setiap orang berelasi dengan orang lain mirip dengan cara berelasi yang terbentuk secara perlahan-lahan di masa lampau. Misalnya, bagaimana saya menyapa orang asing? Apa yang harus saya lakukan jika bersalah? Apa yang saya lakukan ketika saya ingin menang padahal saya sendiri menyadari bahwa saya salah? Apa yang harus saya lakukan ketika ada orang meminta maaf? Bagaimana ungkapan kebahagiaan dan kemarahan saya? Apa yang saya pikirkan dan ingin terapkan dalam keluarga tentang doa bersama, makan bersama, pengaturan keuangan, kesehatan dan pendidikan? Reaksi spontan apa yang muncul di hadapan sebuah peristiwa yang mengagetkan? Dan masih banyak lagi…. Ini mirip dengan mencampur anggur lama bersama dengan anggur yang baru.

Dalam hukum sebab akibat, tekanan timbal balik dari masing-masing pasangan kerap menghasilkan pertentangan kekuasaan atau dominasi dalam keluarga, karena masing-masing bersikukuh akan kebaikan menurut pengalamannya. Tanpa masuk dalam sebuah ketegangan dan mempersalahkan atau membenarkan masa lalu dan sekarang, perlu kita menerima bahwa kepribadian kita dibentuk karena pengaruh lingkungan. Apa yang kita lakukan kepada pasangan dan orang-orang di sekitar kita saat ini, terpengaruh sedikit banyak oleh pengalaman kita di masa lalu, sejak kanak-kanak. Masalahnya bisa bervariasi, tetapi cara menanggapinya bisa serupa, karena dipahami dengan tidak sadar dengan cara serupa di masa lalu. Maka, reaksi yang muncul juga diperkirakan tidak jauh-jauh amat, meskipun situasi sekarang berbeda dengan situasi masa lalu.

Komitmen untuk membuat sebuah kehidupan bersama, kerap diwarnai dengan kerikil-kerikil tajam karena masing-masing mengeluarkan dari ranselnya, pola pikir, gaya hidup dan cakrawala yang lama, yang tidak sesuai dengan pasangannya. Masing-masing menilai pasangannya sesuai dengan apa yang dipikirkan, bukan menurut situasi dan konteks yang sedang dialami pasangannya pada waktu itu dan di situ. Mengetahui hal ini dengan sadar adalah langkah pertama. Berikutnya adalah menyadari sikap kolot masing-masing dengan tersenyum dan sadar bahwa sekarang waktunya untuk berubah dan memikirkan yang terbaik bersama. Ingat, bahtera kehidupan keluarga baru berangkat dari dermaga. Dengan demikian penting sekali mengenal lingkungan sekitar dimana pasangan kita itu hidup, untuk memahami sebab musabab munculnya sebuah reaksi yang mengagetkan kita. Reaksi yang muncul itu hanya penampakan saja, di baliknya, ada sebuah situasi yang membentuknya. Mari kita pahami situasi gunung es di bawah laut itu, karena menikah adalah mensikronkan jam tangan, menyelaraskan kehidupan dua insan.

4) Tetap berbeda, tetapi saling tergantung.

Kita terbiasa melakukan segala sesuatu secara mandiri, sendiri dan dalam kesendirian atau bersama-sama dengan orang lain? Dalam keluarga, beberapa contoh diskusi seperti ini kerap muncul. Misalnya, apakah berpartisipasi dalam doa lingkungan atau latihan koor bersama-sama di lingkungan adalah buang-buang waktu saja? Apakah membawa anak-anak untuk ikut bina iman di wilayah, mendorong remaja untuk ikut kegiatan OMK atau melibatkan diri sebagai volunteer untuk kegiatan-kegiatan di paroki itu tidak baik bagi perkembangan mereka? Bagaimana mengefektifkan komunikasi bagi keluarga yang semuamnya berkarier, dimana waktu efektif untuk bertemu, berkumpul, tinggal bersama dan menghidupi dinamika keluarga minimal hanya tiga sampai empat jam per hari?

Negosiasi dan dialog dalam keluarga bukanlah sebuah kegiatan teknis atau sebuah kesepakatan semata, melainkan ingin menggarisbawahi dan menjaga ruang privat dan ruang berbagi dalam keluarga. Sampai dimana batas saya sebagai suami / istri dalam relasi dengan pasangan saya. Hal-hal mana yang bisa dan boleh dibagikan, boleh diketahui, boleh diintervensi dan mana yang tidak boleh dan tidak bisa. Ruang dialog adalah dampak dari kesiapsediaan afektif masing-masing untuk saling memberi satu sama lain, atau justru merupakan ungkapan saling ketergantungan satu sama lain untuk menemukan ukuran dan patokan yang sesuai. Logika yang ditawarkan di sini adalah transformasi sikap dasar, daripeneguhan ego hanya saya saja atau hanya kami saja (mungkin juga absah-absah saja) menuju pada ketergantungan satu sama lain yang dipilih hanya karena cinta, untuk cinta dan demi cinta, dengan menghargai dan menerima kondisi pasangan apa adanya; atau, dari sikap mau mendikte pasangan, menuju memahami pasangan.

Celah yang bisa dimasuki untuk memahami dinamika dialog adalah dengan tidak menggunakan timbangan untuk mengetahui sejauh mana saya otonom (di hadapan otonomi dai pasangan) dan sejauh mana kita adalah satu pasangan bersama sebagai keluarga (dengan demikian tidak ada ruang otonom), tetapi menempatkan diri pada level yang lain, yaitu masing-masing berani mempercayakan dirinya pada orang lain. Bagaimana caranya? Pertanyaan ini mungkin bisa membantu: bagaimana saya sanggup untuk menjadi teladan bagi pasangan atau sejauh mana saya sanggup terbuka untuk mencontoh teladan pasangan dan membiarkan diri untuk dipengaruhi?

Ini bukan soal harga diri yang turun atau naik pangkat, bukan otonomi atau sikap ketergantungan berlebihan yang menginvasi pasangan, tapi menyadari sikap batin yang tersembunyi: mana yang merupakan hak milikku sebagai milikku saja di hadapan hak milikmu sehingga aku tidak bisa mengotak-atik, atau mana yang merupakan hak milik berdua sehingga masing-masing memiliki hak yang sama. Mari kita ingat bahwa milik bisa saja berupa benda, harta, status, kekuasaan, superioritas, pengalaman, waktu, pekerjaan, afeksi, sentimen (bukan sentimentalisme) dan masih ada banyak lagi. Di sini perlu diwaspadai sikap kerakusan dan ketamakan dalam kepemilikan hanya untukku. Model seperti ini cenderung untuk memiliki semua bagi dirinya sendiri, dan ketika pasangan meminta untuk menempatkan bersama apa yang dimiliki, atau paling tidak menunjukkan saja apa yang dimiliki, dia akan menyerang balik soal kepemilikan.

Kalau diperdalam, dipikir dan direnungkan, sebetulnya, bukan soal apa yang dimiliki, tetapi bagaimana sikap, perasaan dan pemikiran pada apa yang ada di tangan. Ini yang kerap menjadi sumber diskusi-diskusi dalam keluarga. Meskipun seseorang memiliki banyak hal, dia merasa miskin dan menderita seperti orang tidak punya apa-apa – atau – meskipun dia tidak punya banyak hal, tetapi menghidupi dengan penuh syukur dan berani berbagi dengan keterbatasan yang dimilikinya, dia bahagia seperti malaikat.

Inilah tantangan diskusi, yang terletak pada kerakusan dan keserakahan yang mengganjal kemampuan untuk saling mempercayakan diri pada pasangan. Sangat tipis memang sikap dasar ini. Pada intinya, risonansi afektif dari sikap ketergantungan akan membantu pasangan untuk menemukan ukuran yang tepat tentang kapan misalnya, pasangan lain memerlukan waktu untuk sendiri, untuk diam dan beristirahat serta tidak memaksanya untuk bertindak memenuhi keinginan kita atau hanya untuk menyenangkan kita saja.

5) Dari hidup bersama menuju bersama-sama menghidupi keluarga.

Perasaan cinta pada pasangan kerap menjadi alasan mengapa seseorang memutuskan untuk mengkekalkan cinta itu dalam ikatan janji perkawinan.Tetapi, ikatan janji perkawinan tidak boleh dibingungkan dengan perasaan spontan mencintai pasangan. Ikatan janji bersifat tetap, sedangkan perasaan seseorang pada pasangan itu bersifat dinamis. Perasaan cinta itu kadang bernyala-nyala seperti api yang membara, kadang juga dingin seperti es  dan menjadi seperti orang asing di rumah sendiri.

Ketika rasa cinta mulai menghilang dan legalitas hukum ikatan janji perkawinan mulai ditekankan, muncul alarm dalam relasi yang tidak bisa ditunda lagi untuk diperhatikan. Nervosisme dalam berelasi mulai muncul dengan memberi jarak mekanisme pembelaan diri pada pasangan dengan misalnya, mencari kambing hitam pada olah raga, pekerjaan, kecapaian, sakit kepala dst.

Jika pada bulan-bulan atau tahun-tahun pertama perkawinan, pasangan memberi banyak waktu untuk tinggal bersama dan menemukan kebahagiaan di dalamnya, lalu ditemukan hal-hal baru dalam diri pasangan dan mulai kehilangan passion untuk tinggal bersama, bahkan mulai muncul sikap agresivitas terbuka atau tidak langsung pada pasangan: inilah saatnya untuk bernegosiasi? Apakah keluarga dipahami sebagai merger antara dua insan yang semula hidup dalam dua rumah yang berbeda, kini tinggal serumah? Keluarga bukanlah merger dua perusahaan. Rumah bukanlah tempat parkir dua kendaraan di malam hari. Komunikasi tidak hanya berbagi informasi saja, mengutarakan perasaan saja, mencari solusi saja atau mencari kambing hitam saja.

Rasa cinta tidak cukup untuk membangun sebuah keluarga, perlu sebuah keputusan pribadi yang dewasa dan matang: Aku memilih engkau menjadi isteri /suami saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya.

Yesus memberikan teladan, mencintai dengan tulus dan jujur itu tanpa batas. Bahkan dengan konsekuensi kematian pada kayu salib! Tetapi perlu diingat, kekuatan cinta itu bahkan bisa menembus dinding-dinding kematian yang membelenggu Yesus, menuju pada kebangkitan.  Cinta kasih  membawa pada kehidupan, bukan kematian.

Sebuah krisis yang ditemui dalam perjalanan hidup perkawinan, belum serta merta mengatakan bahwa keluarga ada dalam kondisi krisis perkawinan. Bisa jadi, problematika yang muncul dan ditemui itu merupakan sebuah tuntutan zaman agar keluarga berkembang ke tahap selanjutnya. Sedih memang, bila tuntutan evolusi perkembangan dalam hidup berkeluarga dilihat sebagai ancaman, sebagai krisis cinta yang mulai memudar lalu terburu-buru mengambil keputusan berpisah, justru saat dimana dinamika hidup berkeluarga bisa diperbaiki untuk hidup dengan lebih baik. Jika tidak ada ruang untuk ketidaksempurnaan dalam keluarga, maka tidak ada ruang untuk penebusan Kristus bagi keluarga. Beryukurlah bila pasutri menemukan kerikil-kerikil yang tajam dalam kehidupan perkawinan. Mari kita melihat dan mengenali kehadiran kerapuhan salib di sana dan dengan menatap wajah Kristus yang bangkit, kita rajut kehidupan berkeluarga menuju kepada kebangkitan Kristus.

=================
Sumber 1, 2, 3, 4, 5.

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s