Inspirasi dari seorang anak kecil – St Theresia Kanak-kanak Yesus

Sekali peristiwa datanglah murid-murid kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata, “Aku berkata kepadamu: Sungguh, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” Mat (18:1-5)

theresiaPada hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan Pesta St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus. Ia lahir dengan nama asli Maria Francoise Therese Martin. Ia lahir di Alencon, Prancis pada tanggal 2 Januari 1837. Ayahnya bernama Louis Martin dan ibunya Azelie Guerin. Ayahnya bekerja sebagai tukang arloji. Setelah istrinya meninggal, Louis membawa semua anak nya ke Lisieux. Kematian ibundanya membuat Theresia shock karena dia anak bungsu. Namun kakaknya Pauline mengambil alih tugasnya sebagai ibu untuk memperhatikannya. Sebagai anak bungsu, ia sangat di kasihi ayahnya. Ia mendapat banyak julukan: Theresia kecil, bungsu kecil, ratu kecil.

Pada November 1887, Theresia, kakak perempuannya Celine, dan ayahnya pergi berziarah ke Italia di mana mereka diterima dalam suatu audiensi dengan Paus Leo XIII. Saat itulah Theresia memohon agar Sri Paus mengizinkan dirinya untuk bergabung dengan Tarekat Karmelit pada usia 15 tahun, di bawah batas umur yang diizinkan.

Sri Paus menasihati bahwa segala hal yang terbaik akan terjadi bagi dirinya, jika dia mau menunggu beberapa tahun lagi. Tetapi, Theresia berkeras hati dan tidak mau pergi sebelum permohonannya dikabulkan. Hingga ia terpaksa harus digotong oleh dua pengawal Sri Paus.

Akhirnya, permohonan Theresia untuk masuk biara pada usia 15 tahun dikabulkan. Pada 9 April 1888, ia diterima masuk Biara Karmel di Lisieux sebagai postulan. Pada Januari 1889, dia menjadi novis. Pada 8 September 1890, dia mengikrarkan profesi penuh sebagai anggota Komunitas Karmelit.

Theresia wafat pada Oktober 1897, setelah selama 18 bulan berjuang melawan TBC. Menjelang akhir hidupnya ia berkata, “Para martir mati menghadapi ajalnya dengan gembira, tetapi Raja Para Martir yaitu Yesus mati dalam ketakutan. Dan, kira-kira inilah yang sedang kualami.”

Pada 1925, ia digelari Santa oleh Paus Pius XI dan diangkat sebagai Pelindung Karya Misi Gereja

 Theresia memiliki doa-doa sederhana, ibarat seorang anak kecil yang bersahabat dengan Tuhan. Ia pernah berdoa: “Yesus, tentu Engkau senang mempunyai mainan. Biarlah saya menjadi mainanMu! Anggap saja saya ini mainanMu. Bila akan Kauangkat, betapa senang hatiku. Jika hendak Kausepak kian kemari, silakan! Dan kalau hendak Kau tinggalkan di pojok kamar lantaran bosan, boleh saja. Saya akan menunggu dengan sabar dan setia. Tetapi kalau hendak Kautusuk bolaMu…O.. Yesus, tentu itu sakit sekali, namun terjadilah kehendakMu”. Orang kudus memiliki doa sederhana, penuh persahabatan.

Ia juga pandai membagi pengalaman rohaninya. Ia pernah menulis: “Di suatu hari Minggu kupandang Yesus di salib. Hatiku tersentuh oleh darah yang menetes dari tangan-Nya yang kudus. Kurasa sungguh sayang, sebab darah itu menetes ke tanah tanpa ada yang menampungnya. Aku pun memutuskan untuk dalam Roh tinggal di kaki salib supaya dapat menampung darah Ilahi yang tercurah dari salib itu dan aku mengerti bahwa setelah itu aku harus menuangkannya atas jiwa-jiwa.”

Hal-hal yang patut kita hayati sebagai murid-murid Tuhan.

  1. Pertama, supaya kita semua menjauhkan sikap ambisi yang berlebihan karena sikap itu tidak banyak gunanya dalam hidup bersama. Keluarga atau komunitas bisa hancur karena ambisi manusiawi.
  2. Kedua, ambisi berlebihan itu diganti dengan sikap rendah hati sebagaimana disimbolkan oleh anak kecil. Yesus Tuhan kita itu lemah lembut dan rendah hati (Mat 11:29). Mari kita berdoa supaya Tuhan menganugerahkan kebajikan kerendahan hati bagi kita masing-masing.
  3. Ketiga, supaya bisa mengurangi ambisi pribadi, dan bersikap rendah hati maka kita harus bertobat. Kita berbalik kepada Tuhan yang rendah hati di hadapan manusia dan menebusnya melalui Yesus Kristus. Kita sudah biasa mendengar kata “bertobat”. Kata-kata yang segera muncul dalam benak kita begitu mendengar kata bertobat, misalnya, “Kita sudah melakukan dosa, perbuatan tidak baik yang mencemari diri sendiri dan melukai sesama.” Kemudian sikap semacam ini tidak salah. Namun, jika pemahaman kita hanya sampai di sini, kita akan segera putus asa atau bisa jadi kita tak peduli lagi dengan dosa.

Pada hari ini St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus menjadi inspirator kita untuk mengikuti jalan kekudusannya.

Mengutip doa kepada St. Theresia: “O Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus, tolong petikan bagiku sekuntum mawar dari taman surgawi, dan kirimkan padaku dengan suatu amanat cinta. O Bunga kecil dari Yesus, mintalah kepada Allah hari ini untuk menganugerahkan rahmat yang kami butuhkan (sebut intensimu) Ya Santa Theresia, bantulah aku untuk senantiasa percaya kepada belas kasihan Allah yang begitu besar sama seperti yang engkau sendiri alami dalam hidupmu sehingga aku juga boleh menelusuri lorong kecilmu setiap hari. Amin.

 ~ Dari berbagai cerita

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s