Melakukan hal-hal sederhana dengan iman sebagai pedoman hidup

~Secuil oleh-oleh dari rekoleksi yang diberikan Bapa Uskup dalam pertemuan dengan DPP Pleno ~

Pengantar redaksi:

Perjalanan menjadi seorang pelayan gereja penuh dengan dinamika, susah dan senang, keberhasilan dan halangan, dukungan dan penolakan. Hal-hal ini sering dialami oleh seorang pengurus gereja, ketua-ketua kring, ketua stasi dan jajarannya, ketua wilayah, pengurus organisasi gereja, kelompok-kelompo kategorial, komunias-komunitas, anggota dewan, bahkan juga para pastor – suster dan Bapa Uskup sendiri. Pada kunjungan Bapa Uskup ke Paroki dalam rangka kunjungan Pastoral,  beliau berbaik hati dengan berkenan memberikan penyegaran rohani – dan sungguh bersyukurlah para pengurus yang dapat menghadirinya, mendengarkan, dan disegarkan.
Sedikit yang dapat kami tuliskan, semoga yang sedikit ini bisa membantu.

===

Jumlah yang relatif kecil – 2% – jangan takut untuk meng-garam-i, untuk bersaksi, menjadi martir. Menjadi martir, bisa dengan melakukan hal-hal yang sederhana dengan iman sebagai pedoman hidup. Lumrah dan umum jika timbul pernyataan (alasan),”Saya sebetulnya………” Atau “Jangan saya. Saya masih terlalu muda, saya tidak pandai berbicara, tidak punya kemampuan untuk ini itu, belum berpengalaman, dan lain-lain.”

Para rasul, para nabi terdahulu, di”comot” begitu saja. Bukan orang-orang besar yang dipilih,  melainkan orang-orang biasa, petani, nelayan.  Jika dalam perjalanan hidup kita merasa tidak memiliki apa-apa untuk dibagikan. Untuk diberikan, maka ingatlah bahwa para nabi, para pastor, para uskup, adalah orang biasa. Tetapi mereka-mereka ini dibuat oleh Tuhan menjadi “luar biasa.” Semuanya membutuhkan proses. Tuhan memberikan kita talenta-talenta yang berbeda satu sama lain. Untuk menjadi luar biasa, dibutuhkan kemurahan hati dan kesediaan diri untuk membangun umat. Kita kembangkan talenta-talenta yang Tuhan berikan dalam membangun umat-Nya. Jika kita ogah-ogahan, maka (talenta) yang ada pada kita bisa diambil dan diberikan kepada orang lain, Ogah-ogahan membuat diri kita menjadi kerdil. Tidak perlu banyak tanya. Pergilah, dan jadilah anggota yang memperhatikan banyak kepentingan, terbuka dan murah hati, sambil terus dan terus belajar.

Dengan memberi, kita akan menerima lebih. Itu pasti! Tuhan tidak punya kepentingan untuk menyengsarakan kita. Kekecewaan adalah berkat Tuhan untuk mengantar kita kapada kemampuan yang lebih.

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s