Temu Ramah Bp Uskup dengan OMK se-Paroki

poster

Selasa, 16 Sept 2014 di Gedung Fasilitas Umat Paroki St Paulus Pekanbaru diadakan Temu Ramah OMK bersama Bapa Uskup Mgr Martinus D Situmorang OFMCap. “Jangan tanya apa yang Gereja berikan kepadamu, tetapi tanyakanlah apa yang kamu berikan bagi Gereja” adalah tema yang diusung dalam pertemuan kali ini.

omk

Acara yang dijadwalkan dimulai pukul 17.30 ini dimulai dengan makan malam bersama, dilanjutkan dengan inti acara itu sendiri – temu ramah. OMK yang hadir terdiri dari beberapa stasi seperti St Agustinus Sriwijaya, St Philipus Arengka Ujung, St Lusia Rumbai, St Dominikus Tambusai, St Martinus Majapahit, St Yosef Salo, St Caecilia Siabu, St Veronika Palas, St Yohanes Don Basco Rajawali, St Monika Menjuah-juah, St Fransiskus Xaverius Bukit Payung, Stasi Pusat Labuh baru dan OMK Paroki. Hadir juga dari Legio, PMKRI, OMK Karo, dan OMK Santa Maria.

Bapak Saurman Sitanggang selaku ketua Seksi kepemudaan DPP membuka acara, disusul Bapa Uskup menyampaikan topik temu ramah, dimoderatori oleh Lorentius Purba yang adalah Pembina OMK Stasi Labuh Baru.

 “Tema yang diusung ini – ungkap Bapa Uskup – sekilas seperti kutipan terkenal dari mantan Presiden Amerika Serikat JFK – John F Kennedy yang berbunyi,” ask not what your country can do for you, ask what you do for your country.” – Jangan tanya apa yang telah Negara berikan kepadamu, tapi tanyalah apa yang telah kamu berikan kepada Negara -.

Apa yang dapat kamu berikan kepada Gereja?

Pertama, berikanlah apa yang bisa kamu berikan. Melayani sesama, berbuat kasih, saling menolong sesama yang membutuhkan pertolongan. Berbuat baiklah, membentuk diri dengan material pengembangan diri juga kepribadian.

Hal kedua, yaitu bisa menerima perbedaan, murah senyum, saling berbagi kasih, memberi penghargaan kepada orang lain, rela berkorban.

Gereja merupakan suatu tempat untuk berkombinasi bersama teman seiman, berinteraksi satu sama lain.

Kembali pada tema, jika kita berpikir “Apa yang bisa kita buat bagi Gereja”  maka kita akan memiliki pikiran yang positif – akan terpancar dari keseharian kita, tindakan kita dan bisa menghasilkan karya, menjadi diri kita yang sesungguhnya.

Namun jika kita hanya memikirkan “untuk menjadi diri kita”, maka kita hanya akan mengusung hal negatif dalam diri kita, hanya memikirkan diri sendiri. Input yang keluar dari pemikiran ini adalah kita menjadi cengeng.

Sesi tanya jawab pertama, pertanyaan diajukan oleh Bapak H Sagala, Pembina OMK Stasi St Yohanes Don Bosco Rajawali, Pastor Franco, dan Sdr Martinus Nopie dari OMK Paroki.

  • Secara internal gereja, OMK kurang dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan gereja. Bagaimanakah peran yang sebenarnya yang bisa didapat OMK dalam Gereja?
  • Apa yang saya berikan, sedangkan saya (mengganggap) tidak punya apa-apa?
  • Ketika ada suatu karya / kegiatan, mengapa kadang terjadi konflik hirarki gereja mengenai peran OMK – yang sebenarnya dirasa oleh OMK itu sendiri bahwa sudah memberikan apa yang dimiliki / sudah berusaha untuk berperan aktif?

Menanggapi pertanyaan pertama dari Bapak Sagala dan pertanyaan kedua dari Pastor, Bapa Uskup menjelaskan, bahwa OMK harus lebih aktif, aktif dalam artian menyemangati diri sendiri, membuat diri menjadi basis untuk kedepannya, membekali diri, dan berusaha mengenali diri sendiri. Bisa dengan mengikuti seminar-seminar atau hal-hal lain yang berguna. Rasa “tidak memiliki apa-apa” harus dihilangkan.

Ada dua jenis kemampuan, yang pertama adalah kemampuan yang sudah teruji, dan lainnya adalah kemampuan yang belum teruji, eksperimental, melihat teman, mencoba, belajar de ngan bimbingan teman, orang tua dan bimbingan orang yang lebih dewasa dalam pengalaman. Juga aktiflah dalam berorganisasi, berlatih, berbuat dan belajar. Berikan talenta.

Menanggapi pertanyaan dari Sdr Nopie, Bapa Uskup menghimbau agar mengampunilah antar sesama. Proses pendewasaan akan terbentuk dalam diri. Kayakinan adalah sangat penting. Berjalanlah, dan tetap meju untuk pendewasaan iman. Mengutip Pesan St Paulus Rasul, Jika hendak melakukan sesuatu, lakukanlah seperti kamu melakukannya untuk dirimu sendiri. Selalu ada solusi, jika kita berniat baik, tulus dan iklas.

Sesi tanya jawab diselingi dengan pertunujukkan Talenta dari OMK St Lusia Rumbai dibawah panduan Bpk Teguh, paduan suara Vox de Caelo menyanikan lagu berbahasa latin bertema St Perawan Maria diangakt ke Surga.

Sesi pertanyaan kedua, pertanyaan diajukan dari Sdr Felis dari Sta Lusia RUmbai, Junius Nainggolan dari PMKRI dan Fibrisio Marbun dari PMKRI. Pertanyaan-pertanyaan tersebut ditanggapi Bapa Uskup dengan mempertegas tanggapan beliau atas pertanyaan-pertanyaan sesi tanya jawab pertama, bahwa perlu adanya pendewasaan iman. Ruang-ruang lingkup yang dapat digarap OMK di “pasar” – (bukan di sekitar altar) ada bermacam hal, seperti PMKRI, KKMK, Mudika dan lain-lain. OMK bisa, harus mau belajar, berlatih, dan berbuat.

Perumpamaan disampaikan oleh Bapa Uskup, mengapakan seorang ibu yang sudah hendak melakukan persalinan bisa begitu tegar dan kuat padahal secara sadar sungguh mengerti akan datangnya kesakitan yang sedemikian hebat, sementara seorang gadis tertusuk jarum pada jarinya bisa begitu menangis meraung-raung?

Acara ditutup dengan foto-foro bersama Bapa Uskup yang mulai dilakukan pukul 21.00.

Notulen : Christin Malem

One thought on “Temu Ramah Bp Uskup dengan OMK se-Paroki

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s