Yesus dan Perempuan Samaria

– Bahan Pertemuan ke IV BKSN 2014 –

  • Yesus meninggalkan Yudea dan mau kembali ke Galilea. Ia harus melintasi daerah Samaria. Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar. Biasanya orang yang dari Yudea mau ke Galilea menelusuri sungai Yordan. Jalan itu lebih panjang tapi lebih aman dari pada jalan yang melewati Samaria, sebab antara orang Yudea, dan orang Samaria ada per-musuhan politik dan religius. Sungai Yordan Pada th 128 sbl M orang Yahudi telah menghancur-kan kenizah yang dibangun orang Samaria di gunung Garizim. Sebagai balasan orang Samaria menajiskan kenisah di Yerusalem de-ngan menyebarkan tulang-tulang orang mati di dalam-nya. Sejak itu orang Sama-ria dilarang masuk kenizah di Yerusalem untuk selama-nya.
  • UNTUK MENGERTI MAKNA KUTIPAN INJIL INI PERLU KITA BUKA PERJANJIAN LAMA
  • PADA KITAB NABI HOSEA
  • Hosea adalah seorang nabi. Ia berasal dari Samaria. Hosea menggambarkan relasi antara Allah dengan umat-Nya seperti relasi antara suami isteri. Kalau umat Israel meninggalkan Yahwe untuk menyembah allah-allah lain dikatakan bahwa Umat berzinah. Menyembah berhala sama dengan berzinah. (Bdk Yer 5:7) Hosea disuruh Tuhan memperistri seorang perempuan yang sundal: Gomer. Dalam riwayat perkawinan Hosea, diperagakan riwayat perkawinan Yahwe dengan umat Israel. Hosea, suami yang setia yang memperistri perempuan yang sundal, dijadikan lambang Yahwe, suami yang setia, yang memperistri umat Israel, perempuan yang sundal, sebab Israel suka meninggalkan Yahwe untuk menyembah dewa-dewa lain. Hosea menceriterakan pengalaman hidupnya. (Hos 2:13-14) Hosea mengawini Gomer. Dapat 3 anak. Gomer sering meninggalkan suaminya untuk kembali kepada para kekasihnya. Hosea marah dan ia menyingkapkan segala penyelewengan dan ketaksetiaan ibunya kepada anak-anaknya, supaya mereka tahu, ibunya yang seperti apa mereka miliki.
  • Sungguh pun demikian Gomer tidak bertobat. Ia tetap mencari kekasih-kekasihnya yang lama dan yang baru. Hosea marah betul. Ketika amarahnya sudah mencapai puncaknya, Hosea buat apa? Apakah ia menghukum mati isterinya sesuai kitab imamat? (Im 20:10). Tidak. Ketika amarahnya sudah mencapai puncaknya, Hosea berkata, “Sebab itu, sesungguhnya, Aku ini akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya. Maka dia akan merelakan diri di sana seperti pada masa mudanya, seperti pada waktu dia berangkat keluar dari tanah Mesir!” NB. Yang keluar dari Mesir dan melewati padang gurun bukan Gomer, isteri Hosea, melainkan umat Israel. Jadi Hosea adalah lambang Allah, suami yang setia, dan Gomer adalah lambang Israel, isteri yang tidak setia. Hosea, benar-benar masih mencintai Gomer, sehingga terdorong oleh kasih sayang kepada isterinya, ia mau mengalahkan ketaksetiaannya, ia nekat memenangkan hati isterinya bukan dengan teguran, ancaman, penghinaan dan penganiayaan, melainkan dengan menawarkan kepadanya kasihnya yang lebih besar lagi, kasih yang tidak bersyarat. Itulah sikap Yahwe (suami) terhadap umat Israel (istrinya)
  • Kita ulangi! Untuk mengerti makna perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria perlu kita mengetahui dan mengingat: Riwayat perkawinan nabi Hosea dengan Gomer, perempuan yang sundal. Relasi antara Yahwe dengan umat Israel digambarkan seperti relasi antara suami isteri. Maka kalau umat Israel meninggalkan Yahwe untuk menyembah allah-allah lain dikatakan bahwa umat berzinah. Menyembah berhala sama dengan Berzinah.
  • Samaria yang pada mulanya menyembah hanya Yahwe, Allah Israel, dalam perjalanan sejarah, masyarakatnya dicampurkan dengan 5 suku kafir, yang membangun 5 kuil, sehingga Samaria meninggalkan Yahwe untuk menyembah berhala. Hati Yesus merasa terdesak, Yesus harus melintasi daerah Samaria itu “Harus” adalah istilah yang dipakai dalam injil dan artinya adalah bahwa yang mau dilakukan itu merupakan rencana dan kehendak Allah Bapa. Itulah sebabnya Yesus harus melintasi daerah Samaria, seperti Hosea dengan isterinya Gomer yang sundal itu, untuk mengalahkan hatinya dengan kasih yang lebih besar guna mengantarnya kembali kepada suami pertamanya, Allah, Bapa Yesus. Berbekal pengetahuan yang tertera di atas, maka sekarang mari kita mendekati peristiwa Perjumpaan Yesus dengan Perempuan Samaria
  • Maka sampailah Yesus ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub.
  • Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu.
  • Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air.
  • Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Perhatikan! Tidak disebut nama perempuan itu. Dalam injil kalau ada tokoh tanpa nama, dia adalah seorang tokoh di mana si pembaca dapat mencerminkan dirinya, atau tercermin di dalamnya orang tertentu atau situasi tertentu. Perempuan Samaria menggambarkan atau mem-personifikasi-kan masyarakat Samaria. Ia adalah pe-lambang-an masyarakat Samaria.
  • Hari kira-kira pukul dua belas. Hora sexta Hari kira-kira pukul dua belas. Mengapa catatan yang begitu tepat? Sebab hora sexta (jam 12 siang) adalah saat ketika Yesus divonis dihukum mati disalibkan. Ketika serdadu menikam lambung Yesus keluarlah darah dan air. Darah dan air adalah komponen kehidupan manusia. Yesus dengan kematian menjadi Pemberi hidup. Maka penginjil Yohanes menampilkan perjumpaan Yesus dengan Perempuan Samaria sebagai antisipasi buah penyerahan hidupNya, di mana Yesus menganugerahkan air hidup kepada Perempuan Samaria. Nanti akan kita lihat apakah yang dimaksudkan dengan air yang hidup itu.
  • Kata Yesus kepadanya, “Berilah Aku minum.” Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air.
  • “Berilah Aku minum.” Allah adalah Yesus dan bersikap seperti Yesus. “Filipus, orang yang melihat aku melihat Bapa. (Yoh 14:8) Yesus mewahyukan dan menghadirkan Allah yang tak kelihatan. Yesus tidak memperlihatkan superioritas. Ia bersikap seperti seorang kecil dalam masyarakat yang membutuhkan. Yesus minta minum kepada seorang perempuan dan kepada seorang perempuan Samaria. Perlu kita ingat, bahwa pada waktu itu, dalam budaya Israel perempuan tidak dianggap apa-apa. Apa lagi perempuan Samaria. Yesus, yang adalah Allah, minta disambut dalam kebutuhannya oleh seorang perempuan Samaria. Dan penginjil mencatat: Murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Ini adalah sebuah trik sastra untuk menciptakan suasana nabi Hosea dengan istrinya Gomer sendirian di padang gurun, mereka berdua sendirian: Yesus dan Perempuan Samarian sendirian. Yesus akan mengajukan kepada perempuan Samaria tawaran kasih yang lebih besar dan mesra, yang tidak diberikan oleh para kekasihnya. Nanti akan kita lihat siapakah para kekasihnya itu.
  • Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya, Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.
  • Jawab Yesus kepadanya, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” Kata perempuan itu, “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?”
  • Yesus menjawab kepada perempuan Samaria,”Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah”. Apakah maksudnya? Sebagaimana Hosea mengantar isterinya Gomer, yang sundal, ke padang gurun untuk menyatakan kepadanya kasihnya yang lebih besar lagi, demikian pula Yesus dengan perempuan Samaria, yang mewakili masyarakat Samaria. Pesannya adalah: Apabila Allah berhadapan dengan orang yang berdosa, yang menyeleweng – dalam kasus ini – yang berzinah sebab ia meninggalkan Allah untuk menyembah berhala – Allah tidak tampil sebagai hakim yang menegur dan yang menghukum, melainkan menawarkan kepadanya kasih yang lebih besar lagi, sebesar besarnya hatiNya. Kepada orang yang berada dalam keadaan dosa, Allah berkata kepadanya, ”Taukah mengapa kamu bertingkah laku demikian? Engkau bertingkah laku demikian sebab engkau belum tahu betapa besar kasih sayangku bagimu!”. Yesus adalah suami yang pergi mencari isterinya yang sundal. Setelah ditemukan, Yesus tidak menegur dia, tidak memarahi dan tidak menghukum dia, melainkan menawarkan kepadanya kasih sayang yang lebih besar. Sebab Allah adalah kasih, dan caranya berhubungan dengan manusia hanya kasih. Inilah “injil’ yaitu “kabar baik” yang dibawa Yesus kepada umat manusia!
  • Dan kepada perempuan itu Yesus berkata lagi,” Ia memberikan kepadamu air hidup.“ Acuannya adalah kepada nabi Yeremias di mana Allah mengeluh,”Umat-Ku telah meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.(Yer 2:13). Pesannya adalah: Air yang hidup itu adalah Yesus. Yesus adalah anugerah Allah kepada umat manusia. Orang yang menyambut Yesus dan pesannya ia menerima air yang hidup. Pesan-pesan lain ibarat kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air. Yesus dan injilnya membawa hidup yang sepenuhnya, pesan-pesan lainnya mengosongkan makna hidup.
  • Perempuan Samaria selalu berbicara tentang air sumur. Yesus selalu berbicara tentang sumber air.
  • Perempuan Samaria selalu berbicara tentang air sumur. Yesus selalu berbicara tentang sumber air. Apakah air sumur itu? Air sumur harus ditimba. Air dari sumur adalah hasil dari pekerjaan, usaha dan jerih payah manusia. Baru manusia dapat memiminumnya. AIR dalam tradisi orang Israel melambangkan Hukum Taurat yang telah diberikan Yahwe kepada Musa, yang intinya adalah ke 10 perintah Allah. SUMUR YAKUB selain Hukum Taurat melambangkan juga tradisi orang Israel dengan ke 613 penetapan. Dimana 248 adalah jumlah perintah dan 365 adalah jumlah larangan. Dari manakah angka ini? Waktu itu diyakini bahwa tubuh manusia terdiri dari 248 elemen. Kalau angka 365 adalah jumlah hari dalam satu tahun. Maksudnya: Seluruh manusia sepanjang tahun harus melakukan perintah-perintah Allah.
  • Dalam agama Yahudi segalanya punya ongkos. Tidak dikenal kasih dari Allah yang gratis. Berkat, pegampunan, pentahiran, kasihNya, dsb… diberikan oleh Allah kepada manusia, asal manusia menyertai doanya dengan persembahan yang berupa materi dan hewan. Allah Musa selalu minta sesuatu dari manusia sebagai gantinya bantuannya, “Janganlah orang menghadap ke hadirat-Ku dengan tangan hampa.” (Kel 23:15). Manusia harus menarik perhatian Allah lewat doa yang harus disertai persembahan, puasa, matiraga, dsb… AIR yang ditimba dari SUMUR YAKUB melambangkan kasih Allah yang diperoleh sebagai hasil prestasi manusia! Perempuan Samaria belum bisa membayangkan seorang Allah seperti Yesus, yang tidak minta persembahan dari manusia, melainkan Dia sendirilah mempersembahkan diriNya bagi kebahagiaan dan kehidupan manusia. Allah, Bapa Yesus, hanya minta disambut oleh manusia sebagai anugerah murni. Tak perlu dibayar dengan doa dan persembahaan.
  • Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi. Artinya: Kalau orang minum air dari sumur Yakub, yaitu, kalau orang berusaha melakukan segala perintah Allah, ia tak akan pernah berhasil. Senantiasa ada perintah yang dilalaikan. Akhibatnya, timbullah dalam hati manusia: + Perasaan tak pernah beres di hadapan Allah + Perasaan tak kepantasan + Perasaan orang berdosa + Perasaan takut akan dihukum oleh Allah, kalau perlu untuk selama-lamanya Dalam situasi yang seperti ini, mana mungkin manusia dapat mengalami kasih Allah? Air yang ditimba dari sumur Yakub itu, yaitu ketaatan kepada Hukum Taurat, tak mampulah memenuhi hasrat hati manusia akan suatu hidup yang sepenuhnya dan untuk selamanya. Hubungan dengan Allah, Bapa Yesus, tidak diperoleh dengan memperbanyak doa, devosi, ibadah, kurban. Bapalah yang mencari dan mendatangi manusia dalam diri Yesus.
  • Yesus berkata,”Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.” Yesus menawarkan kepada semua orang “airNya”, yaitu Roh Allah yang adalah kasih. Yesus minta agar manusia mengarahkan kasihnya bukan kepada Allah, melainkan kepada sesama. Sebab Allah tidak membutuhkan apa-apa. Kalau manusia bersama Yesus dan seperti Yesus mendukung kebahagiaan dan kehidupan sesama, maka manusia akan mencapai kepenuhan hidup. Sebab kasih kepada manusialah membuat manusia berkembang dan menjadi dewasa. Yesus mencintai kita bukan berdasarkan kesalehan, jasa-jasa dan prestasi rohani kita, melainkan setimpal dengan kebutuhan kita. Makin besar kebutuhan kita, makin besar kelemahan kita, makin besarlah pula kasih Yesus bagi kita. Rasul Paulus menulis: di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah. (Rm 5:12) Itulah Yesus, air hidup, yang melepaskan kehausan manusia. Apabila manusia merasa bahwa ia dikasihi oleh Allah dengan kasih yang tak bersyarat, maka timbullah dalam dirinya sikap untuk mencintai sesama sebagaimana ia dicintai. Jika hari demi hari manusia meneruskan kepada sesama kasih yang ia alami dari Allah, maka “kasih itu menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.“
  • Perempuan Samaria selalu berbicara tentang air sumur. Maksudnya: Sebagaimana air sumur harus ditimba oleh manusia, demikian pula kasih Allah harus diperoleh oleh prestasi manusia, dengan doa, persembahan, matiraga, puasa dsb. Yesus selalu berbicara tentang sumber air. Air yang keluar dari sumber air adalah anugerah murni. Manusia tinggal meminumnya saja. Sumber air adalah lambang kasih Bapa, sebagai anugerah murni. Kasih Bapa tidak perlu dibayar oleh manusia dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang berkenan kepadaNya. Kasih Bapa tinggal disambut sebagai anugerah murni dan diteruskan kepada sesama sebagai anugerah murni pula.
  • Yesus menganugerahkan diri-Nya sebagai KADO, bukan sebagai HADIAH. Apakah bedanya antara KADO dan HADIAH? HADIAH diberikan setimpal dengan prestasi. KADO tergantung pada kebesaran hati Si Pemberi. Yesus menganugerahkan diri-Nya sebagai KADO, bukan sebagai HADIAH. Sulit bagi perempuan Samaria mengerti hal ini.
  • Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.” Kata perempuan itu kepadaNya: “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”
  • Wah, kita dikejutkan! Sampai sekarang topik pembicaraan antara Yesus dan Perempuan Samaria adalah: air, sumur, sumber air… Secara mendadak kata Yesus kepada perempuan Samaria itu, “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.“ Apakah kaitannya air, sumur, sumber air… dengan suami Perempuan Samaria itu?
  • Perempuan Samaria Bagian kedua KE 5 SUAMI (Yoh 4, 16-26) By P. Otello Pancani, sx
  • Yesus mau mengaruniakan kepada Perempuan Samaria yang sundal itu kasih yang belum pernah ia alami sebelumnya, tetapi untuk menerimanya ia harus menyadari bahwa para kekasihnya tak pernah mampu membahagiakan dia,”Ia mengejar kekasih-kekasihnya, tapi tidak sampai kepada mereka. Ia mencari mereka, tapi tidak menemukan mereka. Lalu ia berkata, “Aku pulang kembali kepada suamiku yang pertama, sebab waktu itu aku lebih berbahagia dari pada sekarang.” (Hos 2:7) Supaya ia menyadari situasinya itu Yesus berkata kepadanya, “Pergilah, panggillah suamimu “Aku tidak mempunyai suami.” dan datang ke sini.”
  • “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai 5 suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu.” Yesus tidak bermaksud menggali dalam masa lampau perempuan itu. Bukan itu yang dicari Yesus. Bahasa Yesus adalah bahasa simbolis. Ke 5 suami yang dimaksudkan oleh Yesus mengacu kepada situasi Samaria. Mari kita lihat maksudnya.
  • Perlu kita ingat sejarah masyarakat Samaria sebagaimana tertulis dalam kitab (2Raja 17:24-41) Pada awalnya Samaria menyembah Yahwe, Allah Israel, dan baginya dibangun kenisah di atas gunung Garizim. Kemudian Samaria diserbu oleh raja Babilon, dan penduduknya, dari kelas menengah ke atas, diangkut dari tanahnya ke Asyur, Babilon, ke dalam pembuangan. Kemudian Raja Asyur mengangkut orang dari Babel, dari Kuta, dari Awa, dari Hamat dan Sefarwaim dan menempatkan mereka di kota-kota Samaria menggantikan orang Israel. Ke 5 suku itu adalah orang kafir dan mereka membangun kuil bagi allahnya masing-masing di atas 5 bukit. Di samping itu mereka masih berbakti kepada Tuhan, Allah Israel. (2Raja 17:24-41) allah Sukot-Benot, allah Nergal allah Asima, allah Nibhas allah Tartak Yahwe gunung Garizim
  • Perempuan Samaria menggambarkan atau mem-personifikasi-kan masyarakat Samaria. Perempuan Samaria adalah pe-lambang-an masyarakat Samaria. Masyarakat Samaria menyembah 5 dewa, dan Yahwe di gungun Garizim. Itulah ke 5 suami yang menjadi pokok pembicaraan Yesus dengan perempuan Samaria. Ke 5 suami itu merupakan halangan bagi masyarakat Samaria untuk menerima Yesus dan pesannya sebagai sumber air hidup.
  • Perempuan Samaria itu mengerti bahwa untuk menerima “Karunia Allah” yang ditawarkan Yesus kepadanya, ia harus melepaskan semua kekasihnya, ke 5 lima suaminya, yaitu ke 5 dewa lain. Sekarang ia siap meninggalkan dewa-dewa untuk menerima Yesus sumber air hidup. Namun apa yang ia ketahui adalah bahwa Allah itu dapat dihubungi hanya dalam kenisah melalui ritus dan ibadah, maka ia ingin tahu dari Yesus di tempat manakah ia akan menemukan Allah yang benar, apakah di Yerusalem atau di gunung Garizim. Kata Yesus kepadanya,”Percayalah kepada-Ku, saatnya akan tiba, bahwa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem kamu akan menyembah Bapa. Penyembah-penyembah yang benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.” “Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.”
  • Kata Yesus, “Penyembah-penyembah yang benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.” “Menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran” apakah artinya? Dalam injil Yohanes Roh adalah kasih, adalah daya kasih Allah Bapa. Roh itu dicurahkan kedalam hati manusia agar manusia mampu mencintai sebagaimana Bapa mencintai. Kebenaran itu adalah apa yang membuat kasih itu menjadi benar, otentik, sejati. Kasih itu adalah benar apabila kasih itu setia. Jadi, istilah “dalam roh dan kebenaran” dalam bhs kita berarti “kasih yang setia”. Kebenaran kasih itu nampak ketika kasih itu adalah setia.
  • Perhatikan! Yesus berkata menyembah “BAPA”, bukan menyembah “ALLAH”. Dimanakah bedanya? Bedanya adalah bahwa Allah membutuhkan tempat ibadah, ritus-ritus, bahan persembahan dari manusia. Sedangkan “BAPA” hanya membutuhkan anak-anak yang menyerupai Dia dalam mengasihi, sebab BAPA itu adalah kasih. Seorang anak kapan saja dan di mana saja berjumpa secara spontan dengan Bapanya. Seorang anak tidak membutukan rumusan kata yang dibuat oleh orang lain untuk berbicara kepada Bapanya.
  • PERSAMAAN DENGAN BAPA dalam mengasihi manusia, itulah ibadah dalam roh dan kebenaran. Itulah ibadah yang dikehendaki BAPA. Ibadah itu adalah perpanjangan daya kasih Bapa. Bapa tidak meminta persembahan dari anaknya. Ibadah itu tidak terarah kepadaNya tetapi terarah kepada manusia. IBADAH yang dikehendaki Bapa terlaksana ketika manusia menyambut kasihNya dan memperpanjang kasihNya itu kepada sesama. Satu-satunya cara manusia untuk berkembang dan menjadi dewasa adalah menyerupai Bapa dalam mengasihi manusia. JALUR PERKEMBANGAN PRIBADI MANUSIA ADALAH JALUR KASIH KEPADA SESAMA!
  • “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Tak ada tempat sakral di mana orang harus pergi untuk untuk menyembah Allah dengan membawa persembahan-persembahan kepadaNya. Sebab dengan Yesus telah tiba saatnya bahwa Allah sendiri menganugerahkan diriNya sebagai KADO kepada umat manusia dan menjadikan diriNya pelayan manusia.
  • Dalam Ibadah yang baru Bapa menganugerahkan diriNya sebagai KADO kepada manusia agar manusia bersama Dia dan seperti Dia menganugerahkan dirinya sebagai KADO kepada saudara-saudaranya.

P. Otello Pancani, SX

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s