OPTIMALISASI PERAN GENDER DALAM BINGKAI NKRI

red and white

Sosok  Perempuan identik dengan paham feminim yaitu kelembutan, membuat  mereka  tekadang  cukup bisa menanggapi   hal – hal kecil  serta pada situasi tertentu membuat mereka harus  menangis,  tetapi bukan kerena lemah namun kerena  tidak  menemukan kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan hati meraka, Hadirnya setiap insan manusia  tidak bisa dipisakan dari sosok wanita sebagai pelengkap sejati serta membawa embun penyejuk  di setiap problematika yang di hadapi kaum adam. Maka patutlah kita berbangga,  seandainya Tuhan tidak menciptakan kaum hawa,  maka dunia ini seperti sayur tanpa garam. Ironisnya -bukan rahasia umum – ketidakadilan gender masih terjadi dalam masyarakat baik di dalam lingkungan tradisional maupun masyarakat modern. Tidak sedikit PEREMPUAN  potensial dan memenuhi syarat – syarat formal tetapi belum bisa mengakses kedudukan strategis, baik di sektor pemerintahan maupun sektor swasta.  Ada kecenderungan penolakan kaum perempuan dalam posisi – posisi tersebut. Penolakan-penolakan tersebut bukan karena melihat dari kemampuan yang dimiliki seorang perempuan, melainkan lebih ke masalah gender / jenis kelamin, bahwa perempuan adalah pengurus rumah tangga.

Disisi lain, telah terjadi peningkatan secara perlahan akan kecenderungan tuntutan dan pengakuan keberadaan peran gender di dalam masyarakat. Memang dari segi jumlah, peninggkatan tersebut belum sepadang dengan jumlah perempuan Indonesia yang lebih banyak dari pada pria. Namun secara kualitas, peran perempuan Indonesia sudah sedemikian maju. Misalnya seperti  Mantan Presiden RI  Ibu Megawati Soekarno Putri, serta  aktifis  perempuan baik di lintas eksekutif, legislatif , yudikatif serta organisasi-organisasi yang bergerak di berbagai bidang kehidupan bangsa ini. Memperjuangkan peran gender dalam masyarakat masih memerlukan waktu  panjang dan  secara berlahan lahan, namun harus penuh  kepastian kerena yang di lawan adalah sesuatu produk budaya yang sudah lama mengakar dimasyarakat. Perjuangan mengenai peran gender juga memerlukan kehati-hatian, perlu mempertimbangkan faktor strategi dan teknik, kerena tidak jarang pula kita yang berjuang  untuk keadilan  gender terjebak dalam pemahaman yang justru tidak menghasilkan hal-hal positif. Dinamika masyarakat  lama yang dengan kuat mempertahankan  adat  budaya mereka dengan cara mengedepankan kelemahan masyarakat modern justru merusak akan kemapanan  yang sudah berhasil melahirkan integrasi sosial. Hal ini akan merugikan perjuangan kaum perempuan. Sudah saatnya ada langkah  nyata yang lebih subtansial, bukan  pada tataran retorika Politik semata dalam relasi mengaktualisasikan keadilan sejati sesuai kesetaraan gender  normatif, namun  perlu dirumuskan pandangan hidup melalui  visi dan misi wujud keadilan gender manakan yang pantas serta layak kita perjuangkan. Sebab jika tidak demikian kita akan terjebak kedalam gerakan hegemoni feminimisme liberal yang justru akan merugikan perempuan jangka panjang. Maka, untuk di Indonesia lebih relevan diperjuangkan kesetaraan gender bukan kesamaan gender.

Dalam studi kajian analisis gender, dikenal sebagai KESETARAAN GENDER yang masih  tetap memberikan ruang-ruang perbedaan secara objektif antara laki laki dan perempuan. Sebagai contoh, pengakuan legalitas formal gembala umat dalam internal Agama Katolik terhadap PASTOR.  PASTOR  itu mutlak harus diperankan  oleh sosok laki-laki. SEdangkan secara umum dalam tatatan dunia kesehatan, profesi  BIDAN  diperankan oleh  perempuan.  Sedangkan KESAMAAN  GENDER  biasanya diartikan secara mutlak tanpa mau tahu perbedaan yang  objektif –  seperti profesi dalam bidang hukum, politik, pemerintahan. Biasanya konsep  kesetaraan gender  serta kesamaan  gender  memiliki strategi  dan langkah taktik perjuangan yang berbeda-beda sesuai dengan perkembangan zaman.

Untuk itu diperlukan kesadaran bersama dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat untuk berperan secara langsung atau pun tidak langsung yang besifat lebih progresif  revolusioner.  Sesuai dengan amanat  Idiologi PANCASILA pada sila kelima “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”  yang mempunyai hubungan intim dalam upaya mengoptimalkan secara totalitas peran serta kaum perempuan Indonesia dalam mewujudkan cita cita serta harapan  pejuang perempuan Indonesia Ibu Kertini  dengan selalu menekankan kepada kaum hawa untuk terus berjuang menimbah ilmu pendidikan sehingga kelak dapat berguna bagi bangsa serta menjadi panutan bagi kaum adam.

Mari  lanjutkan perjuangan yang pernah di lukiskan dalam tinta sejarah  oleh Ibu kita KARTINI  Putri sejati Tetap semangat DAN tetap berkontribusi bagi bangsa ini.

Habis gelap terbitlah terang….!!!

Akhirnya mengutip kata kata Jhon F. Kenedy,mantan Presiden Amerika Serikat  yang beragama Katolik ‘’ Do Not Ask What Your country can do for you ,but Ask What you can do for your country ( Jangan tanya apa yang NegaraMu dapat buat untukMu,tetapi tanyalah apa yang Anda dapat buat Untuk NegaraMu). Terutama,  umat gereja  ada bukanlah untuk memperjuangkan kepentingan dan keselamatan sendiri saja, namun ’’Gereja diutus  untuk menjadi Garam dan Terang Dunia”,  (bdk.Mat. 5 : 13 -16 ) serta penegasan Yesus Kristus ’’Berikanlah  kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah’’(Mat.22 : 21).

~ Higinus Willbrot Krado/PMKRI

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s