Menjadi pribadi yang siap merasul

 (Belajar dari Keutamaan Hidup St. Barnabas )

barnabas

Sejarah Gereja mencatat bahwa ada tiga komunitas perdana yang terbangun pada abad pertama kristianitas. Pertama, jemaat di Yerusalem dengan pimpinan Rasul Yakobus. Kedua, jemaat di Efesus dengan Rasul Yohanes sebagai pimpinannya. Ketiga, jemaat di Antiokhia di bawah penggembalaan Rasul Barnabas. Sejarah mencatat bahwa jemaat di Yerusalem hancur karena terlalu tertutup, jemaat di Efesus juga terpecah belah dan tercerai berai karena banyaknya konflik. Jadi satu-satunya jemaat Gereja perdana yang bertahan, bertumbuh dan semakin berbuah adalah jemaat Antiokhia dengan Rasul Barnabas sebagai gembalanya.

Ada dua bukti biblis mengapa jemaat di Antiokhia ini semakin bertumbuh dan berbuah dalam iman, yakni: Pertama, Kis 11: 26, “Di Antiokhia, murid-murid itu unutk pertama kalinya disebut Kristen”. Kedua Kis 13:2-4, “pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus : Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka”. Di sini Nampak ada dimensi missioner jemaat Antiokhia, tentunya tanpa melupakan tuntunan Roh Kudus. Barnabas adalah tokoh dibalik itu semua. Barnabas dengan tuntutan Roh Kudus membuat jemaat Antiokhia menjadi hidup dan sekaligus juga menjadi misioner.

Barnabas (bukan Barabas)! Siapakah dia? Mungkin banyak dari kita yang belum mengenalnya. Sebenarnya siapa itu Barnabas bias kita lihat dalam sepenggal kisah di Kis 4:36 “Demikian pula dengan Yusuf, yang oelh rasulrasul disebut Barnabas, artinya Anak penghiburan, seorang lewi dari Siprus.” Barnabas dalam bahasa inggris sering disebut “son of encouragement”, yang artinya jauh lebih besar dari sekedar anak penghiburan. Ia adalah pendorong dan pengobar semangat. Mengacu pada beberapa bagian dalam Kisah Para Rasul terbukti bahwa Barnabas pantas menyandang nama itu. Bahkan Mgr Suharyo pernah mengatakan bahwa, “tidak ada Paulus, jika tidak ada Barnabas”. Berikut ini beberapa keutamaan Barnabas yang dapat kita temukan dalam Kisah Para Rasul.

  1. Bermurah Hati

Ia member secara sukarela dari harta miliknya (Kis 4:36-37). Kita kerap member semangat hanya berhenti pada kata-kata. Ia melakukan sesuatu yang “magis” (lebih dari sekedar bersemangat maksimal), untuk mendorong dan menyemangati orang lain. Barnabas menjual lading miliknya lalu membawa uangnya itu dan meletakanya di depan kaki para rasul dengan suka rela (bukan dengan sukar rela).

  1. Berpikir Posetif

Ia menerima orang lain apa adanya (Kis 9:20-27). Dalam Kis 9:1-19, diceritakan kisah pertobatan Saulus. Sewaktu Saulus telah bertobat dating ke Yerusalem, para rasul dan banyak orang Kristen menganggapnya sebagai mata-mata Yahudi. Di sinilah, Barnabas dengan pikiran posetifnya, memperkenalkan Saulus kepad tokoh utama rasul dan menyakinkan mereka tentang pertobatan dan kesungguhan hati Saulus. Dengan kata lain, Ketika para murid skeptic dan tidak mempercayai pertobatan Saulus (Kis 4:26), Barnabas malahan tetap berpikir tetap posetif. Ia berni menerima Saulus tanpa banyak kesurigaan atau stikma negative (Kis 4:27). Dan karena Barnabaslah Saulus akhirnya diterima oleh para rasul dan murid yang lain. Disinilah Barnabas mengajak kita untuk belajar berpikir posetif terhadap orang lain. Ia menanggalkan kecurigaan dan stigmatisasi terhadap orang lain.

  1. Bersikap Sportif

Ia bersukacita melihat kemajuan orang lain (Kis 11:19-24). Dalam Kisah Rasul bab 1-10, terlihat bahwa kekristenan hanya disebarkan pada orang Yahudi saja. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, pada bab 11, dicatat bahwa kekristenan mulai  juga tersebar pada orang non Yahudi. Ketika pimpinan Gereja di Yerusalem mendengar kabar tentang jemaat di Antiokhia, maka mereka mengirim seseorang, yaitu Barnabas. Secara umum paham keselamatan pada waktu itu hanya untuk orang Yahudi saja. Tetapi Barnabas tidak melihat dari kacamata tersebut. Lukas mencatat bahwa Barnabas bersukacita melihat kasih karunia Tuhan dinyatakan kepad orang non Yahudi dan menasihati mereka (Kis 11:23). Inilah keutamaan Barnabas yang ke tiga, yang mengajak kita untuk bersikap sportif. Ia mengajak kita untuk berani mengakui, menghargai dan mengagumi kelebihan orang lain, bahkan orang yang kadang berbeda latar belakang dan tidak sekelompok dengan kita.

  1. Bekerja Sama

Ia adalah tipe orang yang mau melibatkan orang lain bahkan member kesempatan kepada orang lain untuk bertumbuh melebihi mereka (Kis 11;25-26). Satu halyang pokok yang menjadi perhatian kita adalah bahwa yang dikirim ke Antiokhia sebenarnya hanyalah Barnabas. Secara sederhana ia sebenarnya bias saja melakukan hal tersebut sendiri. Namum ia tau bahwa ada seseorang yang lebih mampu mengajar umat si Antiokhia, sehingga ia membawa Paulus adalah tepat sehingga jemaat di Antiokhia berkembang pesat. Para murid Yesus itu untuk pertama kalinya disebut Kristen terjadi di Antiokhia (Kis 11:26).

Inilah keutamaan Barnabas yang keempat. Ia mengajak kita untuk berni bekerjasama. Kita bukan bersemangat “single”, tapi bersemangat dalam suasana penuh kerjasama dan persaudaraan. Ketika ia mengajak Paulus untuk membantunya di Antiokhia terlihat dengan jelas bahwa Barnabas rindu melihat orang lain bertumbuh. Itulah alas an mengapa ia member kesempatan kepada Paulus, bahkan walaupun itu berarti Paulus sangat bias bertumbuh melebihi dirinya.

Perhatikanlah,  diawal pelayanan, disebutkan susunan mereka adalah Barnabas dan Saulus (Kis 11:30), tetapi sususnan itu berubah menjadi Paulus dan Barnabas (Kis 13:42). Dengan kata lain, seorang pengobar sejati tidak pernah mencari kemulian bagi dirinya sendiri dangan bekerja sendiri melulu, melainkan mencari kemuliaan hanya bagi Kristus. Oleh karenanya Barnabas terbuka dan rendah hati mau bekerjasama dengan orang lain yang sama-sama berkehendak baik.

  1. Berani Memberi Kesempatan

Ia terus berani member kesempatan kepada orang lain, bahkan orang yang kerap dicap “gagal” untuk hidup lebih baik (Kis 15:35-41). Mengacu pada sejarah Gereja perdana, dicatat sebelumnya dalam kisah para rasul bahwa bahwa Markus bergabung dalam pelayanan pertama Barnabas dan Paulus. Tetapi Markus meninggalkan pelayanan di tengah jalan. Ia ditolak sebagai orang gagal. Barnabas dan Paulus berbeda sikap terhadap orang “gagal” ini. Paulus memiliki hati seorang pengimjil (baginya pelayanan itulah yang penting), sedangkan Barnabas memiliki hati seorang gembala (baginya menusianya itulah penting). Barnabas melihat ada potensi yang baik dalam diri orang yang gagal ini. Barnabas juga berani ambil resiko untuk member kesempatan yang kedua untuknya.

Inilah keutamaan Barnabas yang kelima. Ia berani member kesempatan kepada orang lain. Ia tidak mudah member cap atau stigma negative, tetapi  ia malahan member kesempatan dan kepercayaan kedua kepada rekan atau sesamanya yang pernah “gagal”, “jatuh”, dan “salah”. Merupakan sebuah kenyataan, kadang para ‘korban’ (orang-orang yang pernah jatuh, salah, dan gagal) mengalami tiga macam ‘penyaliban’ yaitu di-cap buruk, disingkirkan dan dikorbankan). Tetapi hal itu tidak berlaku bagi Barnabas. Hatinya penuh belarasa.

Akhir kata, Barnabas benar-benar bertindak sesuai dengan arti namanya yaitu “anak penghiburan”. Ketika banyak orang menjadi  “taker” (menuntut dan melemahkan semangat orang lain), Barnabas menjadi “giver” (member semangat dan dorongan bagi orang lain. Bagaimana dengan kita dan komunitas kita?

Rm Driyan SCJ

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s