MENGAPA KITA DIBAPTIS SEJAK BAYI, DAN SIAPAKAH SETAN YANG KITA TOLAK

Mungkin kebanyakan di antara kita dipermandikan ketika masih bayi.

Mengapa orang tua kita ingin supaya kita menerima permandian sejak bayi?

Sebab mereka sendiri sudah hidup akrab dengan Tuhan Yesus, dan mereka alami bahwa Tuhan Yesus membantu manusia hidup bahagia bukan saja nanti setelah kita mati, tetapi terlebih dahulu untuk hidup bahagia di dunia ini. Maka itu orang tua kita telah menjadikan kita murid Yesus, sahabat Yesus lewat perjumpaan Yesus dalam permandian.

Pada saat ini – dimana kita telah dewasa – maka kita ditanya apakah kita masih ingin menerima Yesus sebagai teman kita.

Mengapa kita ditanya kalau mau?

Sebab Yesus punya rahasia untuk merasa bahagia dan untuk hidup bahagia bukan saja nanti setelah kita mati, tetapi sekarang di bumi ini juga.

Apakah rahasia Yesus?

Rahasianya adalah hidup seperti Yesus.

Yesus dalam hidupnya menunjukkan bahwa kita akan bahagia:

  • kalau kita berusaha membahagiakan orang lain,
  • kalau kita melayani orang lain,
  • kalau kita berbagi apa yang kita miliki dengan orang yang menderita, supaya penderitaan mereka berkurang,
  • kalau kita tidak menganggap diri kita lebih hebat dari orang lain melainkan kita (atau dengan kata Yesus) menjadi yang terakhir terdorong oleh  kasih, yang berarti kita tidak menganggap rendah sesama kita, tetapi semua saudara kita.

Nah, Yesus hidup dengan cara ini dan Yesus menjamin bahwa inilah caranya untuk hidup bahagia di dunia ini dan juga nanti.

Tetapi Yesus punya seorang lawan/setan.

Tahukah bagaimana kata/istilah lawan dalam bahasa Yesus waktu itu? Kata lawan dalam bahasa orang Israel/Yesus waktu itu adalah: setan.

Nah, Yesus punya seorang lawan – setan – yang mengatakan,”Tidak benar yang dikatakan Yesus. Tidak benar bahwa orang akan bahagia dengan cara hidup Yesus.”

Kata setan,”Saya tunjukkan jalan untuk hidup bahagia:

  1. Kamu harus berkuasa – menundukkan orang agar melayani kepentinganmu.

Tidak benar apa yang dikatakan Yesus: melayani. Kita harus menundukkan orang untuk melayani kepentingan kita.

Dan ada 3 jalan untuk menundukkan orang.

    • Jalan pertama: Pakai kekerasan.  Kamu harus tunduk kepada saya, sebab saya punya senjata, dan saya bunuh kamu kalau tidak tunduk. – Inilah jalan yang paling kasar. Men-teror!
    • Ada cara yang lebih halus untuk berkuasa: berikan kompensasi. Itulah jalan kedua. Kalu kamu tunduk pada saya, saya berikan kompensasi kepadamu: saya kasih duit, saya kasih kedudukan, fasilitas.
    • Tetapi ada jalan yang lebih hebat lagi, yaitu: meyakinkan orang/masyarakat bahwa tunduk kepada saya merupakan situasi yang paling menguntungkan mereka, adalah surga bagi mereka. Itulah jalan ke tiga.

Nah, lawan Yesus, setan, mengatakan:

Kalau kamu mau hidup bahagia kamu harus gila kuasa: bukan melayani terdorong oleh kasih, seperti diajarkan oleh Yesus.

2.   Kalau kamu mau bahagia kamu harus kejar harta dan uang. Makin banyak uang dan harta makin bahagialah kamu. Dengan harta dan uang kamu bisa memperoleh apa saja yang kamu inginkan. –kamu harus melayani logika duit, gila duit, itulah jalan untuk mencapai kebahagiaan, bukan jalan “berbagi” untuk mendukung kehidupan dan kebahagiaan sesama, seperti diajarkan Yesus.

3.  Untuk hidup bahagia kamu harus menunjukkan kepada dunia bahwa kamulah orang yang paling hebat, main bergengsi-gengsian, gila gengsi: untuk mencapai prestise itu, segala jalan halal: kalau perlu memfitnah orang, boleh; kalau perlu injak nama baik orang, boleh; kalau perlu membunuh orang, melenyapkan orang yang berani bersaing dengan kamu, itupun boleh.

Inilah jalan yang realistis (versi setan) untuk mencapai kebahagiaan, dan bukan “menjadi yang terakhir dari  semua orang terdorong oleh kasih”, seperti diajarkan oleh Yesus.

Dua jalan: ada jalan Yesus; ada jalan lawan Yesus; setan.

 Ketika kita dibaptis kita ditanya, apa kita mau hidup menurut pola Yesus atau menurut pola lawan Yesus/setan.

 Yesus:   daripada berkuasa – melayani

  • daripada menumpuk-numpuk harta/uang untuk diri sendiri –  berbagi
  • daripada kejar gengsi-gensian – menjadi yang terakhir terdorong oleh kasih.

 

Mau hidup seperti Yesus, atau seperti lawan Yesus, setan?

Itulah maknanya membaharui janji baptis.

 Pada saat kita diundang pada meja perjamuan bersama Yesus – saat yang begitu penting – kita ditanya tentang apakah kita mau membangun kebahagiaan kita menurut petunjuk Yesus atau menurut petunjuk lawan Yesus; setan.

Pertanyaan yang diajukan kepada kita adalah: Apakah kamu menolak setan?

Maka sekarang kita sudah mengerti maksudnya dan kita bisa menjawab.

   P. Otello Pancani, SX,

baptis bayi

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s