Masih Katolik Romakah Anda?

Pada suatu hari, dalam sebuah kesempatan pembelajaran liturgi saya bertanya kepada beberapa anak muda.

“Jika disuruh memilih, Anda memilih Ekaristi yang cepet atau yang lama?” tanyaku kepada mereka. Serentak mereka menjawab, “Jelas milih Ekaristi yang cepet tho, Romo!” Jawaban ini tentu saja menarik perhatian. Rupa-rupanya, ada banyak umat yang melihat dan menyukai perayaan Ekaristi yang cepat.

“Lalu, kamu lebih suka Ekaristi Mingguan di Gerejamu atau memilih EKM?” Tanpa pikir panjang, layaknya koor, mereka menjawab, “EKM….”

“Umumnya, misa mingguan di paroki itu 1 jam 15 menit. Kalau EKM itu sekitar 2 jam. Bisa lebih. Katanya kalian suka Ekaristi yang cepat? Mengapa lebih memilih EKM yang nyatanya lebih lama?” tanyaku menyelidik.

Mereka sejenak diam. Lalu salah seorang dari mereka menjawab, “Kalau EKM itu kan seru, romo. Ada drama. Lagu-lagunya anak muda banget.”

Jawaban anak-anak muda ini terlihat jujur dan apa adanya. Dan itulah yang mereka rasakan. Jawaban itu sekaligus menunjukkan kedalaman pemahaman mereka mengenai hakekat Ekaristi Kudus. Kedalaman pemahaman mengenai hakekat liturgi yang kudus inilah kunci dalam sebuah perayaan liturgi. Liturgi tidak pernah menjadi perayaanku (sebagai imam, sebagai petugas, atau sebagai umat). Liturgi adalah perayaan seluruh Gereja.

Semua hal yang terlihat dan terungkap melalui imam dan para petugas selama perayaan liturgi itu adalah bagian dari dimensi kelihatan liturgi Gereja. Semua unsur dan simbol dalam liturgi Gereja pada intinya sebenarnya hanya mau menghadirkan Misteri Kristus dan hakekat asli Gereja yang sejati. Betapa agung perayaan liturgi itu, sebab di situ terlaksanalah karya penebusan kita, yakni Tuhan Yesus Kristus yang hadir dan menyelamatkan kita dan bersama seluruh Gereja kita menanggapi karya penebusan itu dengan pujian dan pemuliaan Allah. Konstitusi Liturgi artikel 2 menyebutkan pula bahwa liturgi mau memperlihatkan kepada orang-orang lain realitas tentang Gereja yang bersifat sekaligus manusiawi dan Ilahi, kelihatan namun penuh kenyataan yang tak kelihatan, penuh semangat dalam kegiatan namun meluangkan waktu juga untuk kontemplasi, hadir di dunia namun sebagai musafir. Dan semua itu berpadu sedemikian rupa, sehingga dalam Gereja apa yang insani diarahkan dan diabdikan kepada yang ilahi, apa yang kelihatan kepada yang tidak nampak, apa yang termasuk kegiatan kepada kontemplasi, dan apa yang ada sekarang kepada kota yang akan datang, yang sedang kita cari.

Kita bisa merenungkan dan mengartikan sebuah kalimat pendek: seperasaan dengan Gereja. Dalam konteks berliturgi: apakah liturgi yang kita buat dan rayakan sudah seperasaan atau seperti yang diinginkan oleh Gereja yang kudus? Gereja yang kudus mengajarkan liturgi sebagai perayaan Misteri Paskah. Ketika berliturgi kita merayakan misteri karya keselamatan Allah yang telah terlaksana melalui Yesus dalam Roh Kudus. Untuk memastikan terlaksananya perayaan Ekaristi yang seperti ini, Gereja yang kudus membuat aneka peraturan, baik yang baku dan tidak bisa diubah maupun bagian-bagian yang bisa disesuaikan dengan konteks namun sesuai dengan kaidah-kaidahnya.

Sayangnya, keagungan liturgi ini sering direduksi menjadi perayaanku atau perayaan kami sebagai sebuah komunitas. Berbagai aturan Gereja diubah dan disesuaikan menurut seleraku atau selera komunitas. Semuanya itu mampu dibingkai dalam sebuah penalaran yang hebat dan masuk akal. Liturgi dari bawah atau liturgi dari umat sering menjadi reffrein untuk menjadi pembenaran atas pelanggaran-pelanggaran berliturgi sebagai mana dimaksudkan oleh Gereja. Semuanya itu dibuatkan semata-mata untuk memuaskan keinginan dan rasa pribadi atau komunitas.

Dengan tegas, Gereja mengajarkan bahwa (1) wewenang mengatur liturgi semata-mata dimiliki oleh pimpinan Gereja, yaitu Takhta Apostolik, dan menurut kaidah hukum pada uskup; (2) wewenang mengatur liturgi dalam batas-batas tertentu juga dimiliki oleh Konferensi Waligereja atau para Uskup, berdasarkan kuasa yang diberikan hukum; (3) sedangkan siapa pun lainnya, termasuk imam, tidak boleh menambahkan atau mengubah sesuatu dalam liturgi atas prakarsa sendiri. Ajaran ini tidak hanya aturan, tetapi dogma yang dihasilkan oleh Konsili Vatikan II dalam SC artikel nomer 22.

Saya sebagai imam tidak memiliki yurisdiksi apapun untuk menambahkan atau mengubah sesuatu dalam liturgi kecuali atas izin Bapak Uskup yang memiliki wewenang atas liturgi. Apalagi awam. Mungkin saya memiliki pandangan teologis yang hebat dan luar biasa, tetapi sebagai imam saya harus taat kepada Gereja. Tentu bukan sebuah ketaatan buta, melainkan sebuah ketaatan intelektual bahwa di balik pengaturan ini itu dalam liturgi ada dan hadir misteri iman yang dirayakan, yaitu Tuhan sendiri. Bagi Santo Yohanes Paulus II, mengabaikan norma-norma liturgi merupakan sikap yang meremehkan misteri iman kita: misteri ini terlalu agung untuk diperlakukan secara seenaknya (bdk. Ecclesia de Eucharistia artikel 51).

Jika sudah demikian, masihkan kita berpikir untuk merayakan Ekaristi layaknya sebuah entertainment? Masihkah kita akan merayakan Ekaristi dengan sudut pandang kepuasan pribadi? Masihkah kita akan membuat dan merayakan Ekaristi sebagai sebuah perayaan yang seru menurut sudut pandang kita semata?

Dalam sebuah kesempatan, saya mengikuti sebuah perayaan ekaristi kaum muda di sebuah paroki. Luar biasa hebat. Umat membludak hingga ke parkiran. Sebagian besar orang muda. Ada banyak gaya dan rupa umat dalam mengikuti perayaan ekaristi. Dan saya sungguh tertarik untuk membaca dari cara umat mengikuti perayaan ekaristi. Ada umat yang khusuk mengikuti perayaan Ekaristi. Ada umat dengan gayanya yang khas: rok mini dan sibuk dengan alat komunikasi. Entahlah, mungkin ia sedang mengirimkan SMS intensi doanya kepada Tuhan. Di bagian luar, di sela-sela kendaraan dan pedagang asongan ada banyak umat juga. Enak ya bisa merayakan ekaristi seperti itu. Tidak peduli atas apa yang terjadi di dalam Gereja, yang penting nanti ikut ngantri untuk menerima komuni suci.

Mungkin ada yang berpendapat jika aturan Gereja itu kaku dan menghambat dinamika umat. Akibatnya umat hanya sekedar menjadi robot-robot semata. Mengapa bisa demikian? Karena kita enggan untuk belajar. Kita sering enggan untuk mengerti apa yang diajarkan Gereja Kudus. Jika kita enggan untuk mengerti dan memahami ajaran Gereja Kudus, bagaimana kita bisa menghayatinya? Tidak mengherankan jika aturan yang ada dirasakan kaku dan mati.

Pahami dan buatlah! Dengan cara ini, kita akan mengerti betapa agung liturgi Gereja yang kita rayakan.

Masih bagian dari Gereja Katolik Romakah Anda?

sumber : http://liturgikas.com/

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s