SEBUAH CATATAN KENANGAN ELISABET

RENUNGAN ADVEN

(Terinspirasi dari Lukas 1)

Apalah arti waktu itu! Lihat apa yang telah terjadi! Aku mengenang saat-saat waktu berlalu, dan sungguh aku kagum dengan apa yang telah aku alami, peristiwa normal yang dialami hampir semua wanita, namun bagiku terasa begitu penuh rahmat dan sakral.

Baiklah, biarlah aku memulai cerita ini dari awal…..

Suamiku yang kucintai – Zakaria – adalah seorang suami yang sangat baik hati. Aku tidak begitu mengenalnya pada saat kami menikah dulu, aku hanya mengenalnya sebagai seorang imam Abia, dan ia adalah seorang yang baik dan suci. Cintaku bertumbuh, dan ia sering duduk di sebelahku sambil menggenggam tanganku dan berkata,”Elisabet, kita akan memenuhi rumah kita dengan banyak anak.” Kemudian kami tertawa bersama dan mulai membicarakan nama-nama bagi anak-anak kami kelak. Aku berkata, bahwa kita akan mempunyai Zakaria kecil yang akan berlarian mengelilingi rumah, dan yang akan menyukai roti zaitun buatanku serta menyantap daging domba selahap ayahnya. Setiap kali aku mengatakan hal itu, suamiku tersenyum dengan penuh kebahagiaan. Kemudian ia memutuskan untuk menamai putra kedua kami dengan nama ayahku, yaitu Harun.

Awal-awal tahun kami menanti kehadiaran anak dalam kandunganku, anak yang akan menjadi bagian dari keluarga kami. Namun penantian tak kunjung tiba. Tidak seperti saudara-saudara perempuanku dan saudara-saudara ipar perempuanku yang sudah memiliki anak, aku dan Zakaria masih mananti dengan penuh harapan. Samapi suatu saat, kami berhenti berharap.

Bukan berarti kami tidak lagi memiliki harapan, namun kenyataan yang ada terasa begitu pahit. Setiap acara pertemuan dengan keluarga besar dari tahun ke tahun, aku merasa malu karena kemandulan yang aku miliki. Banyak yang percaya bahwa kemandulan adalah hukuman atas sesuatu yang telah aku lakukan, namun aku dan Zakaria memeriksa hati kami, tetap tidak bisa menemukan kesalahan yang begitu besar apakah yang membuat kami harus terhukum. Keluargaku dan beberapa teman bersimpati kepada kami, dan member kesempatan kepadaku untuk kadang mengurus dan mencintai anak-anak mereka.

Tahun-tahun berlalu. Aku dan suamiku saling mendalami cinta di antara kami dan menemukan sukacita. Kami berbagi kesedihan ketiadaan anak dalam keluarga kami, namun hal itu malah memperdalam cinta kami dan mendekatkan kami dalam banyak hal.  Kami berdua menghabiskan banyak waktu bersama, dan sungguh saya sangat merindukannya pada saat ia pergi selama seminggu penuh dalam dua kali setahun untuk melayani tugas sebagai imam di Bait Allah.

Di suatu minggu di Bait Allah, keajaiban itu dimulai. Banyak orang menunjuk Zakaria untuk memasuki panti imam sendirian – hal itu dlakukan menurut tradidi kami -. Di sana, Zakaria menyusun doa-doa di luar tabernakel. Kemudian Zakaria masuk sendian dan membakar dupa. Saat ia berada sendirian di sana dengan tangan tengadah mengangkat doa, tiba-tiba ia merasa ada orang lain yang menyertainya – ternyata malaikat! Zakaria merasa pertemuan itu terjadi lama sekali, beberapa kali ia meggelengkan kepada dan bertanya-tanya apakah ini sebuah mimpi. Lututnya yang tua gemetaran karena ketakutan.

Lalu malaikat itu berkata dengan suara yang entah bagaimana, namun terdengar merdu seperti suara kecapi, indah dan penuh kehangatan. Malaikat itu memperkanalkan dirinya dengan nama Gabriel. Saat malaikat Gabriel berkata-kata, Zakaria merasa pendengarannya keliru. Apakah malaikat itu barusan mengatakan bahwa istrinya akan mengandung seorang anak?  Hari begini, disaat teman-teman sebayanya sudah menjadi seorang kakek dan nenek? Ia tidak dapat mengerti dan mencerna hal ini. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras untuk memastikan pendengarannya tidak keliru, namun suara yang bagaikan musik milik malaikat Gabriel terus melanjutkan perkataannya, bahwa kami akan memiliki segera memiliki anak laki-laki, dan akan dinamai Yohanes.

Ia – Zakaria – menggoyangkan lagi kepalanya dengan lebih keras dan berusaha untuk lebih  berkonsentrasi. Apa yang baru saja Malaikat Gabriel katakan? Sangatlah tidak mungkin! Ia memantapkan hatinya untuk menuju altar dan memberanikan diri untuk bertanya : Bagaimana mungkin ini terjadi? Kami sudah sangat tua!

Suara yang menyenangkan bagaikan musik milik Malaikat Gabriel kembali memenuhi ruang yang kecil itu. Zakaria meminta suatu tanda untuk manyakinkan hal itu, dan untuknya telah diberikan saat itu juga: ia akan menjadi bisu sampai pernyataan ini digenapi. Setelah itu, malaikatpun menghilang.

Kemudian setelah ia keluar dari panti imam menemui kerumunan orang yang terlihat bingung, setelah menempuh perjalanan pulang ke rumah dengan tanpa berkata-kata, ia berusaha menjelaskan kepadaku apa yang telah terjadi. Ia memang tidak lagi dapat bicara, namun pengalaman berkomunikasi kami selama bertahun-tahun membuat kami mampu untuk tetap melakukan komunikasi, dan aku mengerti apa yang ia ceritakan, namun sungguh – siapa yang dapat mempercayai hal itu? Seorang bayi akan hadir dalam kandunganku di usia senjaku ini???

Bagaimanapun, aku tahu ada sesuatu yang terjadi pada suamiku, Zakaria. Sesuatu yang sakral, yang tenang. Ia memiliki ketenangan dalam dirinya yang tidak biasa. Terkadang ketika aku sedang menjemur pakaian, aku berhenti di bawak teriknya matahari dan bertanya dalam hati, bagaimana jika ini memang nyata? Mungkinkah? Tapi tidak…, aku memiliki banyak pekerjaan dan saat itu buykan waktunya untuk mimpi di siang hari tentang hal yang seharusnya terjadi di saat aku masih muda. Aku mengangkat bahu, dan melanjutkan pekerjaanku.

downloadTidak perlu menunggu waktu berbulan-bulan – pertengahan musim panas – akhirnya aku mulai percaya. Aku merasakan suatu perbedaan pada tubuhku, dan aku mengetahui gejalanya karena selama bertahun-tahun telah membantu saudara-saudara perempuanku untuk mengenali adanya suatu kehidupan baru – dalam kandungan. Aku tahu, aku tahu dengan segenap perasaanku bahwa positif adanya kehidupan baru dalam kandunganku : aku akan memiliki bayi! “Tidak ada yagng mustahil bagi Tuhan!” Aku berkata sambil tertawa kepada Zakaria, dan ia tersenyum cerah sambil mengangguk-angguk mendengarkan ceritaku yang begitu bersemangat. Kami berpelukan dan mengucap syukur dengan suara nyaring – yang merupakan kebiasaan kami. Saat itu hanya suaraku saja yang terdengar, namun sepertinya suara kami berdualah yang memuji Tuhan dengan suara keras!

Suatu hari, aku sedang mengambil air dalam sebuah guci di rumah kami. Saat itu tubuhku sudah sedemikian besar sehingga aku membutuhkan bantuan orang lain untuk mengambilkan air di sumur. Sebuah ketukan di pintu terdengar dan membawaku ke sana utuk mengetahui siapakah yang datang, dan ternyata Maria, sepupuku kesayanganku yang masih muda. Maria adalah anak dari Yoakim dan Anna yang selalu sangat baik kepadaku dan suamiku. Aku begitu senangnya melihat kedatangannya dan memanggil-manggil Zakaria ke seluruh ruamh. Maria ada di sini!

Saat kami berpelukan, sesuatu terjadi. Aku melihat lebih dalam ke wajah muda Maria, dan saya dapat melihat, bahwa ia juga sedang mengandung. Selama bertahun-tahun aku melihat banyak wajah-wajah muda dan dapat melihat kehamilan – bahkan terkadang aku dapat mengetahuinya sebelum si ibu mengetahuinya, Yang terjadi kemudian, aku mendapatkan hadiah yang sangat luar biasa. Dari kandunganku, bayiku melonjak. Memang dalam beberapa minggu terakhir ini bayi di dalam kandunganku sering bergerak, namun saat ini gerakannya sungguh berbeda. Aku merasakan bayi kecilku melonjak kegirangan di dalam dan kegembiraan itu bergema dalam perasaanku. Sepertinya bayiku ini sedang menari kegirangan penuh syukur dan membisikkan sesuatu dari dalam – sesuatu yang baru saja aku sadari dalam hatiku : Maria mengandung Mesias! Aku menatapnya dan berusaha untuk mengatur nafasku namun hanya mampu menatapnya dan memeluknya kembali dengan lebih erat.

“Kamu Maria?” aku menyapanya. “Kamu berdua dengan anak dalam kandunganmu?” Ia mengangguk dan kembali tersenyum. Di bawah hangatnya sinar matahari kami duduk berdua minum beberapa gelas air dan menikmati karunia keajaiban, Mria menceritakan kisahnya. Ia tersenyum dan meletakkan tangannya di perutku. “Dan kau Elisabet, kamu akan mempunyai seorang anak. Aku merasa harus menemuimu begitu aku mendengar kabar ini.”

Ia berhenti biacara dan memelankan suaranya, “Dan aku merasa harus datang ke  sini, karena  yah… Yusuf. Ia kelihatan agak marah dan aku tidak memiliki sesuatupun untuk kukatakan kepadanya selain kebenaran. Sungguh saat yang sulit….”

Zakaria yang sedang berdoa di sudut rumah pada saat aku dan Maria berbicara telah selesai berdoa dan mendatangi kami. Ia menggenggam tangan Maria dengan mantap dan berdoa dengan kekhususkan yang dalam. Setelah beberapa saat, ia melepaskan tangannya dan ternyum jauh ke dalam mata Maria. Kami berdua mengerti pesannya yang tanpa kata-kata. Segalanya harus terjadi. Kepercayaan Maria kepada Tuhan dan dalam tugas yang diberikan kepadanya membuat segalanya berbeda. “Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.” gumam Maria.

Lalu Maria bersandar, mengangkat wajahnya dan mulai bernyanyi dalam doa seperti yang dilakukan Hannah beberapa waktu yang lalu: “Aku mengagungkan Tuhan, Hatiku bersukaria karena Allah, penyelamatku. Sebab Ia memperhatikan daku, Hamba-Nya yang hina ini. Mulai sakarang aku disebut yang berbahagia, Oleh sekalian bangsa. Sebab perbuatan besar dikerjakan bagiku oleh Yang Mahakuasa!”

Zakaria menggenggam tanganku dan bayi dalam kandunganku melonjak dan menari  dengan penuh sukacita.

Banyak hal telah terjadi. Maria tinggal di rumahku untuk beberapa lama, dan kemudian tiba saatnya bagi Maria untuk kembali ke rumahnya sendiri untuk berbicara dengan Yusuf. Yusuf berkata kepada Maria, bahwa ia telah mengerti. Malaikat juga telah mengunjunginya.

Sensus telah membawa Maria kembali ke Betlehem untuk mendaftarkan bayinya. Mereka bertiga – Maria, Yusuf dan bayinya – telah kembali dari sensus dan kembali mengunjugiku. Kami duduk-duduk di halaman belakang, melihat anak-anak kami bermain berlumuran pasir. Kami mentertawakan kelucuan mereka dan ide mereka yang nampaknya telah menciptakan suatu permainan dengan tongkat dan batu yang digulirkan di tanah.

 Beberapa anak tetangga datang untuk ikut bermain bersama mereka, Yohanes dengan bangga memperkenalkan sepupu mudanya kepada semua orang, :Ini adalah Yesus. Ia datang dari Nasaret untuk bermain bersamaku! Kemarilah, dan temui Dia!”

Kami tertawa riang menyaksiakan anak-anak kami dan bertanya-tanya – seperti yang semua ibu lakukan – bagaimana masa depan mereka nanti. Apakah Yohanes akan menjadi imam dan Yesus akan menjadi tukang kayu? Jadi apapun mereka, kami percaya, bahwa selama mereka hidup, mereka akan menghargai satu sama lain.

Sumber : Elizabeth Reminder. Diterjemahkan oleh Admin St Paulus Pekanbaru

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s