Seperti kita… kehidupan Yesus bermula dari dalam kandungan ibu.

 

RENUNGAN ADVEN 

IMG_30751Kita tahu hidup-Nya di bumi ini dimulai sejak dalam kandungan. Dan, kita jadi tahu bahwa bagian pertama dari perjalanan-Nya di antara kita – bagian pertama dari Firman Allah yang mengambil daging dan tinggal di antara kita – adalah sembilan bulan dalam rahim ibu-Nya. Tapi, kita jarang merenungkan ini sebagai bagian dari kehadiran “Allah beserta kita.” Ini sebuah latihan bagi imajinasi kita untuk berkontempelasi  dengan Yesus dalam awal perjalanan hidup seperti yang kita alami oleh gambar USG janin berusia 5 bulan dalam rahim, yang hanya memiliki panjang sekitar 15 cm. Gambaran tentang janin dalam rahim  ini akan membantu kita meluangkan waktu membiarkan realitas yang mendalam menyentuh hati kita dan merayakan masuknya Yesus ke dunia kita dan untuk menyambut Yesus dalam hati kita sekarang.

Pada saat  – “oleh kuasa Roh Kudus” – kehidupan Yesus dimulai pada rahim Maria, Yesus menjadi satu dengan kita. Dia tidak dengan begitu saja tiba-tiba hadir secara ajaib sebagai orang dewasa. Ia – seperti kita – memulai perjalanan hidup-Nya dari kumpulan sel yang berkembang dalam rahim. Kita bisa membayangkan sel-sel tersebut bertumbuh begitu cepat, hari demi hari dan minggu ke minggu – diam-diam, tanpa disadari. Begitulah, kehidupan manusia sudah dimulai;  “Tuhan, telah menciptakan salah satu dari kita.” Tidak ada yang bisa membayangkan Tuhan bisa menjadi manusia. Dan, sekarang kita bisa membayangkan Allah kita datang di antara kita, berkembang dalam kehidupan baru – begitu kecil, begitu tergantung, begitu tak berdaya. Kita bisa merasakan syukur yang mengalir dalam diri kita sementara kita merenungkan perjalanan gaib Yesus menjadi “rajutan” dalam rahim ibu-Nya.

Meskipun Anak Allah, ia menjadi Putra Maria. Kita bisa membayangkan perkembangan-Nya, Ia mengambil daging, sel-sel, bentuk tubuh, penampilan, dan nafas kehidupan Maria. Pertumbuhan yang lambat, namun pasti. Ini adalah suatu pengalaman dimana tak seorangpun dari kita yang dapat mengingatnya, namun kita semua mengalaminya. Dengan peristiwa pertumbuhan dalam kandungan ini kita dapat mulai merenungkan awal perjalanan hidup Juruselamat kita mulai dari dalam rahim Maria untuk menyelamatkan kita. Maka dengan pangalaman ini, kita dapat memaknai kehadiranNya dalam hidup kita melalui perjalanan hidupNya sebagai manusia dan memampukan kita untuk tidak merasa sendirian, melainkan merupakan bagian dari perjalanan-Nya. Ia menjadi satu dengan kita dengan mengambil cara yang sama dengan kehadiran kita ke dunia ini. Transisi ini – untuk lahir ke dunia sebagai seorang bayi, menjadi kanak-kanak, menjadi remaja dan akhirnya dewasa – dijalani Yesus bagi kita. Dengan merenungkan misteri ini, kita dapat mensyukuri kehadiran-Nya dan mempererat hubungan kita dengan Yesus dalam keintiman dan cinta.

Imajinasi kita membantu kita untuk berdoa. Dalam hal ini, kita terbiasa membayangkan bahwa proses kehidupan dimulai dari dalam kandungan – namun belum terbiasa untuk membayangkannya bahwa awal kehidupan Yesus yang juga dimulai dari kandungan Maria adalah awal dari karya penyelamatan-Nya bagi kita.

Untuk mulai membiasakan memandang peristiwa ini sebagai bagian dari karya penyelamatan-Nya bagi kita, bisa kita mulai dengan menentukan apa yang akan menjadi fokus doa kita. Kita bisa memohon untuk diberkati dengan karunia dan harapan, mohon pembaharuan kasih Allah Bapa untuk kita dalam diri Yesus Kristus dengan kedatanganNya, dimana pada saat inilah kita paling membutuhkanNya. Janji-janji yang digenapi dalam hidup baru ini semoga dapat mendatangkan kekuatan iman bagi perjalaan hidup kita di masa depan yang penuh dengan tantangan.

Doa yang kita bangun dengan imajinasi atas peristiwa awal kehidupan Yesus ini memungkinkan kita untuk berseru dalam doa dengan hati yang lebih dalam, ”Datanglah, Tuhan Yesus, datanglah. Kami menanti kahadiranMu. Datanglah, ya Tuhan…”

☧☧☧

Refleksi.

Mari kita lebih menikmati dan mendalami awal kehidupan Yesus satu-persatu, dan mulai lebih mendalami Yesus Sang Juruselamat kita yang mengambil tempat sebagai manusia.

Kaki Yesus

Jika kita mulai dengan membayangkan kaki Yesus di dalam rahim , kita dapat mulai untuk menikmati dengan penuh kekaguman realitas karunia ini . Kita dapat membayangkan Maria mencuci kaki kecil ini , tepat setelah melahirkan Yesus dan meletakkan-Nya di palungan, tidak peduli betapa sederhananya  tempat itu. Kita bisa membayangkan bahwa kaki kecil ini menjadi kaki yang berjalan bumi kita. Dengan kaki ini, Ia belajar berjalan . Mungkin kaki ini beralaskan sandal sepanjang waktu. Mungkin kaki ini bermain-main memanjat bangku tukang kayu di bengkel Yusuf . Ini adalah kaki yang meninggalkan rumah dan menuju ke sungai Yordan untuk dibaptis oleh Yohanes. Juga, wanita berdosa mengajarkan kita tentang rasa syukur atas rahmat-Nya dengan mencium dan menangis di kaki ini, dan mengeringkannya dengan rambutnya. Kaki ini adalah kaki tersandung sepanjang jalan untuk penyaliban, tempat  di mana kaki ini akhirnya dipaku di kayu salib… Semua untuk kita .

Tangan Yesus

Kita bisa membayangkan tangannya tumbuh dalam rahim, perlahan-lahan menjadi tangan yang pertama kali menyentuh wajah Maria dan jenggot Yusuf. Tangan kecil ini berkembang menjadi tangan yang belajar untuk menjadi seorang tukang kayu, tangan yang mengulurkan bantuan bagi orang lain. Dengan tangan ini, Ia memeluk anak-anak dan menawarkan sentuhan lembut kepada orang sakit dan orang-orang berdosa. Kita tahu bahwa tangan ini akan menjadi tangan yang membasuh kaki para murid-Nya ‘sebagai contoh untuk kehidupan kita dari persatuan dengan Dia. Kita tahu suatu hari bahwa dengan tangan-Nya Ia mengambil roti dan anggur, mengucap syukur kepada Allah, memberikannya kepada murid-muridnya, mengatakan “Inilah tubuh-Ku. Inilah darah-Ku ” Dan, pada hari berikutnya, setelah dewasa, tangan-Nya terentang dipaku di kayu salib…. Semua untuk kita.

Wajah Yesus

Kita membayangkan, dalam kandungan Maria, wajah-Nya terbentuk. Ia mengambil rupa manusia – rupa ibu-Nya. Mata-Nya berkembang. Dia memiliki hidung , dagu , telinga dan akhirnya , rambut-Nya . Pada wajah yang masih berada dalam kandungan ini sudah dapat mengekpresikan reaksi terkecil terhadap rangsangan, senyum, dan juga rasa sakit. Wajah ini suatu hari akan  membawa sukacita kepada para gembala , orang-orang terpilih yang pertama kali datang untuk melihat-Nya , dan juga orang-orang Majus  orang kafir terpilih pertama untuk datang kepada-Nya . Ketika ia masih bayi , Ia-pun menangis ketika merasa kelaparan juga tertawa saat gembira. Kita bisa membayangkan wajah berkembang menjadi seorang anak dari Nazaret yang tersenyum pada teman-temannya saat bermain. Kita bisa bersyukur untuk wajah yang menatap ke langit di saat pembaptisan-Nya dan melihat langit terbuka ,dengan penegasan kuat dari Allah , Bapa-Nya , “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan . Dengarkan Dia. ” Wajah ini adalah wajah penuh kasih dari Yesus, wajah yang penuh kelembutan berinteraksi dengan banyak orang yang beruntung dapat memandang-Nya secara langsung dalam hidupnya . Dan wajah ini jugalah wajah yang sama yang diludahi dan berlumuran darah akibat mahkota duri, wajah yang diejek, dihina… Semua untuk kita

Hati (Jantung) Yesus (heart)

Kita berhenti sejenak untuk merenungkan jantung (hati) Yesus yang berkembang seperti halnya jantung kita berkembang dalam rahim.  Bukan hanya jantung sebagai organ untuk memompa darah kehidupan dari dan ke seluruh tubuh, melainkan lebih kepada hakekat dari cinta pengorbanan diri-Nya. Dalam konteks mengenai hati, kita menyebut hati sebagai pusat emosi dan perasaan kita dan memiliki kemampuan untuk mencintai orang lain. Hati Yesus, yang sama berkembang seperti hati kita – menjadi hati yang sangat besar untuk mencintai orang berdosa, orang sakit, orang-orang yang tersisihkan. Hati ini tidak pernah padam dan selalu menyala-nyala dengan kasih sayang dan belas kasihan. Hati inilah, hati Yesus yang mulai berdetak dalam rahim Maria, akhirnya ditusuk dengan tombak di kayu salib. Hati yang bercucuran darah ini digambarkan oleh Santo Yohanes Penginjil sebagai menumpahkan darah dan air kehidupan sakramental Gereja, yang menjadi sumber kehidupan kita sekarang, Ke dalam luka tubuhnya, Tuhan yang bangkit mengundang Santo Thomas untuk mencucukan jarinya dan percaya. Dia mengatakan kepada kita bahwa kita diberkati karena percaya kepada-Nya walaupun tidak melihat.

☧☧☧

Doa syukur dan harapan

Ya Yesus Tuhanku…

Kami bersyukur atas saat-saat penuh rahmat dimana Engkau telah membuka mata kami untuk menunggu kedatangan-Mu seperti seorang ibu menantikan kelahiran anaknya.

Sama seperti Bunda Maria mengharapkan untuk melahirkan-Mu ke dalam dunia ini, kamipun berharap untuk dapat menerima Engkau di dalam hati kami.

Melalui refleksi ini, kami sangat berterimakasih karena dengan cara-Mu untuk datang ke dunia ini yang sama seperti kami melalui kelahiran, menunjukkan kepada kami solidaritas yang sangat mendalam dengan seluruh umat manusia telah Engkau ungkapkan.

Kami bersyukur atas gambaran-gambaran perkembangan-Mu dalam kandungan Bunda Maria yang membantu kami semakin menyadari bahwa Engkau begitu penuh memberi cinta kepada kami di bumi, cinta dan dukungan yang terus-menerus terpelihara dalam Sakramen Ekaristi.

Kami merasa lebih dekat dengan-Mu, dan memohon rahmat dari-Mu agar kami dapat lebih membuka hati kami untuk rahmat penyembuhan dan cinta.

Datanglah kepada kami, ya Tuhan… Datanglah…

 

Sumber: Jesus in the womb 

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s