Komitmen menjadi pengikut Yesus

Minggu. 8 September 2013

Bacaan :

  • Keb. 9:13-18; 
  • Flm. 9b-10,12-17; 
  • Luk. 14:25-33

“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”

Luk 14:26

Bangsa Israel harus mengasihi sesamanya dan membenci musuh-musuhnya (Im 19:18; Ul 7:2; Mzm 139_21-22). Itu masih bisa kita maklumi. Sebaliknya, malang benar nasib keluarga-keluarga Kristen, soalnya untuk menjadi murid Yesus, kita harus membenci bapa kita, ibu, istri/suami, danak-anak dan saudara-saudara kita. Apakah Yesus anti keluaarga?

Yesus tidak anti keluarga. Buktinya, dalam Mat 15:4 Ia mengatakan “Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi :Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati”.

Kalau begitu, apa maksud Yesus dengan kata-kata-Nya harus membenci keluarga itu?

Di satu sisi Yesus mau menegaskan perlunya menomorsatukan diri-Nya; di sisi lain Ia mau mendobrak keterikatan pada keluarga yang berlebihan.

Melihat Konteks (Luk 14:25-33 dan Mat 10:37-39)

14:25 Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:
14:26 “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
14:27 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
14:28 Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?
14:29 Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia,
14:30 sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.
14:31 Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?
14:32 Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.
14:33 Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.
10:37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.
10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.
10:39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Kagum akan Yesus dan datang pada-Nya belumlah kriteria yang cukup untuk menjadi pengikut Yesus. Karena itu Yesus menyadarkan da menyodorkan tiga syarat bagi orang banyak yang berduyun-duyun mengikuti-Nya. Ketiga syarat itu dilengkapi dengan dua perumpamaan tentang perlunya perhitungan yang matang.

Penegasan ketiga syarat itu menaggapi konteks sebelumnya (luk 14:7-14). Undangan untuk ikut perjamuan yan glinkupnya sangat luas (orang miskin, cacat, lumpuh, buta dan orang-orang di persimpangan jalan) itu bukan melonggarkan criteria dan syarat-syarat untuk mengikuti Yesus. Ketiga syarat itu ditegaskan karena jangan-jangan banyak orang yang datang itu sama saja dengan para undangan pertama, yang lebih mementingkan urusan keluarga, kepentingan diri sendiri dan harta milik. Sedangkan konteks berikutnya tetang garam yang tawar (Luk 14:34-35) mempertegas tuntutan Yesus. Pengikut Yesus yang tidak memenuhi criteria tersebut ibarat garam yang sudah menjadi tawar, tidak berguna, dibuang saja.

Syarat pertama untuk menjadi pengikut Yesus, orang harus membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudara laki-laki dan perempuan, bahkan nyawanya sendiri. Kata “MEMBENCI” jangan dibaca secara harafiah. Sebab, kata itu berlatar belakang Yahudi, dan begitulah model gaya bahasa Ibrani yang kontras tegas antara membenci – mengasihi. Maka, dengan bentuk perbandingan yang lebih halus. Penginjil Matius mencatat “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barang siapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Mat 10:37).

Kata “membenci” disamakan dengan kata “mengasihi … lebih dari pada…”. Maksudnya : Yesus ingin agar kasih terhadap bapa atau ibu atau anak jangan sekali-sekali menjadi penghalang untuk mengikuti-Nya, – dalam konflik kepentingan harus memilih Yesus atau keluarga, maka tidak boleh ragu-ragu untuk memilih Yesus dengan segala konsekwensinya. Hanya orang yang demikianlah yang layak bagi Yesus.

tinggal kelakuarga

Dalam bahasa Ibrani, kata membenci juga bermakna “melepaskan” atau “meninggalkan”. Maka tidak seorangpun dapat menjadi pengikut Yesus jika tidak mengsihi-Nya lebih daripad akeluarganya, bahkan bila perlu mereka harus ditinggalkan demi kepentingan Kerajaan Allah.

Denagn kata membenci, Yesus tidak bermaksud agar orang memutus segala bentuk cinta kasih terhadap keluarganya, tetapi me-relativisir relasi itu sehihgga dapat memilih sesuatu yang nilainya lebih tinggi. Orang yang lebih mencintai Yesus daripada keluarganya adalah orang yang lebih mementingkan nilai ilahi daripada nilai yang berlaku di dunia ini. Dengan demikian, untuk mengikuti Yesus, orang tidak harus memutuskan ikatan afeksi (cinta kasih) terhadap keluarganya, melainkan harus menundukkan ikatan itu dan menomorsatukan Yesus.

Dengan kata lain, kalau terjadi konflik antara ikatan afeksi terhadap keluarga dan terhadap Yesus, maka Yesus yang harus diprioritaskan dan menjadi pilihannya.

Syarat kedua untuk menjadi pengikut Yesus, orang harus memikul salibnya dan mengikuti-Nya. Kata Yunani stauros artinya “palang”. Orang yang menjalani hukuman mati di salib harus memanggul balok berupa palang yang akhirnya disatukan dengan balok yang sudah tertanam di tempat penyaliban. Hukuman disalib dipandang sebagai siksaan yang mengerikan, sehingga pemerintah Romawi hanya memperuntukan hukuman tersebut bagi para penjahat, budak, dan orang asing. Karena itu, bagi pengikut Yesus, memikul salib berarti kiasan untuk segala bentuk beban penderitaan. Memikul salib berarti menerima dengan lapang hati segala kesengsaraan sebagai sarana keselamatan.  Itu sama artinya dengan membenci nyawanya sendiri atau menyangkal diri secara total sehingga siap mati demi Yesus. Berjalan di belakang Yesus mengikuti jalan hidup-Nya dan berakhir pada kematian di salib itulah artinya mengikuti Yesus.

Hidup sejati adalah hidup yang kekal abadi. Hidup fisik adalah hidup yang tidak dapat dipertahankan untuk selama-lamanya. Karena itu, barangsiapa mengikut Yesus, ia kehilangan nyawanya / hidup fisiknya. Barang siapa mengorbankan hidup fisiknya demi Yesus, Ia akan memperoleh hidup sejati. Dengan kata lain: Orang yang merasa yakin bahwa ia sudah memiliki hidup sejati, justru akan kehilangan dan tidak memperoleh hidup sejati sesungguhnya.

Kedua syarat untuk menjadi pengikut Yesus tersebut tentu saja tidak gampang, sehingga perlu dipertimbangkan masak-masak. Karena itu Yesus mengangkat perumpamaan tentang seseorang yang sebelum mulai mendirikan menara, ia perhitungkan modal dan kemampuannya, agar nanti tidak diejek orang kalau ternyata tidak bisa menyelesaikannya. Dengan demikian, orang yang mau mengikuti Yesus harus memikirkan secara matang – apakah mampu mengutamakan Yesus di atas segala kepentingan keluarga dan sanggup menanggung pengorbanan dirinya, agar tidak malu kalau ternyata nantinya tidak dapat.

Perumpamaan tentang raja yang merundingakan syarat-syarat perdamaian untuk menghidari kesalahan dan kekalahan fatal mau mepertegas syarat untuk mengikuti Yesus yang ketiga. Raja itu tidak mau memikirkan keuntungan pribadinya, tetapi nasib  bangsa yang dipimpinnya. Jika kondisi situasi tidak menguntungkan,l ia harus merundingkan syarat-syarat perdamaian dengan raja yang menyerbunya demi keselamatan bangsanya. Demikian halnya orang yang mau menjadi pengikut Yesus harus memikirkan secara sungguh-sungguh agar nantinya tidak mengalami kesalahan dan kekalahan fatal. Bila sudah memilih untuk menjadi pengikut Yesus-pun orang tidak boleh tawar-menawar lagi, apalagi mengundurkan diri, tetapi harus terlibat sepenuhnya dengan kepentingan Kerajaan Allah. Karena itu, syarat ketiga untuk mengikut Yesus, orang harus melepaskan diri dari keterikatan pada harta miliknya.

Bagi Penginjil Lukas, pelepasan keterikatan pada harta milik sangat penting, sebab tindakan itu adalah tanda paling jelas yang mencerminkan kesungguhan orang dalam memilih Allah. Hanya setelah orang melepaskan diri dari keterikatan harta miliknya, Allah dapat secara leluasa bertindak sebagai pemberi karunia rahmat-Nya.

Mencari dan menghimpit pesan

Menjadi pengikut Yesus dan utusan Yesus menuntu adanya ikatan dengan-Nya yang melampaui segala ikatan lainnya. Ikatan itu bukan hanya melebihi ikatan harta milik, tetapi juga ikatan darah denagnb keluarga bahkan dengan nyawanya sendiri. Memang, agama kita sangat menekankan keutuhan keluarga, tetapi di saat perwujudan kehendak Allah menuntut, seorang pengikut Yesus harus bersedia dan siap melepaskan ikanatan dan kepentingan keluarga. Pengikut dan utusan Yesus harus menaruh tugas perutusan di atas kepentingan keluarga dan kesenangan pribadi, bahkan kalau beban penderitaan dan penghinaan karena Yesus harus ditanggung. Pengikut dan utusan Yesuspun harus rela melepaskan ikatan pada harta miliknya demi berbagi dengan orang-orang yang mkembutuhkan dan demi kesejahteraan bersama.

Tuntutan untuk mejadi pengikut dan utusan Yesus memang sangat radikal. Karena itu, Yesus mau agar orang yang ingin mengikuti-Nya memperhitungkan secara bijaksana apakah mampu memenuhi tuntutan radikal itu. Jangan hanya berjanji muluk-muluk padahal kenyataannya tidak sanggup, sehingga malah malu sendiri.

Sumber: Kata-kata susah bertuah- Surip Stanislaus OFM Cap – LBI

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s