Kamu Dipanggil Untuk Merdeka (Gal. 5:13)

Oleh Frater Imanuel Yudi P, SX

Setiap tanggal 17 Agustus kita merayakan hari kemerdekaan bangsa kita.  Oleh karena itu patutlah kita merenungkan apa arti kebebasan bagi kita sebagai umat beriman.

Ada dua jenis kebebasan.

Pertama, kebebasan yang tidak mengenal kekuasaan lahiriah. Misalnya seorang seorang anak merasa bebas kalau ayah yang ditakutinya sedang pergi dari rumah. Atau seorang  perantau yang sedang berada di negeri sebrang merasa bebas dari segala peraturan sukunya.

Kedua, kebebasan batin yakni kebebasan yang memberikan kemampuan untuk menyerah, untuk tidak terikat oleh kesukaan dan keinginan diri sendiri.

Jika melihat kedua jenis kebebasan ini  tentu kebebasan yang kita rayakan pada tanggal 17 Agustus adalah kebebasan jenis pertama. Kita memang bebas secara politis tetapi apakah kita juga sudah bebas secara batiniah?

Dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang sulit memperoleh kebebasan batin. Ini dikarenakan oleh  banyak hal yang membelenggu mereka. Celakanya lagi mereka tidak sadar bahwa mereka sedang terbelenggu.

Ada banyak jenis belenggu yang mengepung kita. Beberapa di antaranya ialah

  • Pertama, keinginan untuk diakui atau keinginan untuk dipuji. Orang-orang yang dibelenggu oleh keinginan untuk dipuji dan diakui akan berusaha semaksimal mungkin untuk menunjukkan dirinya kepada orang lain supaya ia diakui dan diperhitungkan keberadaannya. Kesenangannya ialah bekerja di depan banyak orang.
  • Kedua, ambisi untuk memperoleh harta dan kekuasaan. Mereka menyangka bahwa harta dan kekuasaan bisa mendatangkan kebahagiaan kekal. Padahal banyak orang yang karena harta dan kedudukan tidak bisa tidur karena hatinya tidak tenteram.
  • Ketiga, anggapan orang. Banyak orang yang suasana hatinya ditentukan oleh anggapan orang lain. Kalau orang lain memberikan pujian kepadanya dia akan merasa senang sebaliknya jika dicela ia akan merasa sedih. Oleh karena itu dia akan menyesuaikan dirinya dengan  ‘kata’ orang lain.

Lalu pertanyaannya, mengapa orang-orang itu bisa terbelenggu? Jawabannya ialah karena  mereka melupakan identitas diri mereka sebagai anak-anak Allah yang dikasihi.

Ketika Yesus dibaptis terdengarlah suara “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi kepada-Mulah Aku berkenan”. Rupanya kata-kata ini bukan hanya ditujukan kepada Yesus saja tetapi kepada kita semua. Kita tahu kelanjutan kisah itu bahwa setelah pembaptisan, Yesus berpuasa lalu dicobai oleh iblis. Iblis membujuk Dia supaya mengubah batu menjadi roti dengan demikian Dia tidak perlu lagi bekerja untuk mendapatkan roti. Kemudian Iblis menyuruh Yesus untuk menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi supaya jika itu dilihat banyak orang Dia menjadi tenar. Lalu Yesus ditawari kerajaan dunia. Kita juga tahu akhir kisah itu bahwa semua tawaran iblis ditolak oleh Yesus. Mengapa ditolak? Karena Yesus tahu dan sadar bahwa identitas diri-Nya adalah sebagai “Anak yang dikasihi dan kepada-Nyalah Bapa berkenan”.

Kita pun melalui pembaptisan telah menjadi anak yang dikasihi Bapa. Betapa pun besarnya dosa kita, Bapa tetap mengampuni kita. Mengapa? Karena identitas kita sebagai anak Allah yang dikasihi tidak pernah bisa pudar oleh apapun. Kita jika tidak perlu menunjukkan kehebatan kita kepada Bapa untuk memperoleh kasih-Nya. Kebenaran inilah yang akan memerdekakan kita. Oleh karena itu kita hendaknya setiap hari meluangkan waktu barang sejenak saja untuk mendengarkan suara Bapa yang mengasihi kita. Dengan cara inilah kita tidak akan mengalami krisis identitas seabagai anak Allah yang dikasihi.Tentu suara Bapa tidak berarti apa-apa bagi kita jika kita tidak mempercayainya.

merdeka 68

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s